Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 55: Alenta


__ADS_3

Alan menjadi salah satu tim seleksi untuk mencari penerjemah bahasa yang diinginkan kakeknya. Beberapa orang yang datang dan telah melakukan wawancara, tidak ada yang ia loloskan. Menurutnya, mereka tidak terlalu cakap dalam berbahasa Persia secara lisan.


"Pak, ada beberapa pelamar online yang telah kami wawancarai kemarin." Salah seorang tim HRD yang bertugas mendekati Alan dengan membawa laptop miliknya.


"Kenapa mereka tidak datang secara langsung untuk interview?" tanya Alan.


"Pengumuman ini cukup mendadak, Pak. Mereka yang terpaksa mengikuti wawancara secara online dengan alasan sedang berada di luar kota, bahkan ada yang berada di luar negeri."


"Tapi, kami juga telah melakukan prosedur yang sama dengan peserta wawancara yang bisa datang langsung."


Alan baru tahu kalau sistem perekrutan pegawai dilakukan dengan dua cara. "Baiklah, siapa saja kandidat yang menurut kalian kompeten melaksanakan tugas ini?"


Alan mendekat ke arah staf HRD untuk melihat profil pelamar yang masuk dan telah lolos seleksi awal.


"Ada empat orang yang menurut kami menjadi kandidat terkuat sementara. Pertama, Dony Alamsyah yang sekarang sedang berada di Singapura. Basic pendidikannya di bidang public speaking dan merupakan lulusan salah satu kampus ternama di negeri ini."


Alan memperhatikan profil kandidat pertama. Dari fotonya tampaknya juga masih sangat muda.


"Kandidat kedua, ada Tiara Mandalika lulusan manajemen bisnis yang pernah berpengalaman sebagai penerjemah bahasa mandarin di kedutaan besar. Tapi, dia juga cukup fasih bahasa Persia."


"Ketiga, ada Seina Manaf yang masih menempuh pendidikan S2 di Mesir. Tapi, kalau diterima, ia akan mundur dari pekerjaannya."


"Ah, yang ini skip saja. Dia harus menyelesaikan pendidikannya lebih dulu," sela Alan.


"Yang terakhir, sebenarnya yang paling bagus saat kami mewawancarai. Namun, karena identitasnya yang tidak jelas, sepertinya kami akan mengeliminasinya."


Alan mengerutkan dahi. "Siapa? Coba tampilkan profilnya!" pintanya.


Saat profil kandidat keempat itu muncul, Alan semakin penasaran setelah melihat namanya. Alenta, nama yang sepertinya tidak asing baginya. Ia terus berpikir, kenapa nama itu sangat familiar.


"Coba putarkan hasil wawancaranya!" pinta Alan.


"Tapi, orangnya tidak mau menghidupkan kamera, Pak. Hanya ada rekaman suaranya saja."


"Tidak apa-apa, putarkan saja!"


Alan mendengarkan secara seksama suara rekaman seorang wanita saat diwawancara staf HRD. Suaranya terdengar lembut, Bahasa Persia yang digunakannya juga sangat lancar, bahkan lebih baik daripada yang mewawancarai. Seolah wanita itu memang lahir dan besar sengan bahasa itu.


"Miss A?" gumam Alan


"Kenapa, Pak?" tanya pegawai HRD itu bingung.


"Tidak apa-apa."

__ADS_1


Alan kembali mendengarkan suara wanita itu. Sembari menutup mata, ia semakin yakin jika Aleta adalah Miss A, wanita yang berpura-pura menjadi hantu itu. Ia heran, kenapa sepertinya wanita itu selalu ada di sekitarnya. Tidak mungkin hanya sebuah kebetulan.


"Aku ingin dia yang menjadi penerjemah kita!" kata Alan mantap.


"Tapi, Pak ... dia tidak mau identitasnya tidak mau diketahui." staf HRD begitu heran, nama yang niatnya ingin dicoret malah terpilih.


"Hubungi dia sekarang!"


"Baik, Pak!"


Staf tersebut segera menghubungi kontak yang dicantumkan oleh kandidat bernama Aleta. Sementara, Alan meminta satu laptop kepada staf lain untuk dihubungkan dengan perangkat yang dipakai staf di sebelahnya. Ia sibuk mengutak-atik monitornya.


"Halo, Selamat siang?" terdengar suara seorang wanita dari laptop milih staf HRD.


Alan semakin yakin jika wanita yang sedang ditelepon adalah Miss A.


"Apa benar kami sedang berbicara dengan Nona Aleta?" tanya staf HRD.


"Iya, benar. Saya Aleta."


"Sudah tahu kalau Anda telah dinyatakan lolos seleksi perusahaan kami?"


"Sudah, Pak."


"Bisa kamu hidupkan kameramu?" sahut Alan.


Alan menggigit bibirnya. Ia heran kenapa wanita itu mengajukan syarat yang mengherankan. Karyawan mana yang tidak mau diketahui oleh atasannya sendiri di perusahaan. Ia yakin wanita itu tidak begitu membutuhkan pekerjaan tersebut.


Alan berusaha melacak alamat IP yang Aleta gunakan lewat laptop di hadapannya. Ia ingin tahu, sebenarnya dimana ia tinggal. Akan tetapi, ternyata Aleta menyembunyikan alamat IP sehingga Alan tidak bisa melakukan pelacakan. Alan jadi semakin yakin jika Aleta bukan wanita sembarangan. Wanita itu juga sepertinya seorang hacker.


"Kenapa kamu menyembunyikan alamat IP-mu?" tanya Alan.


"Apa itu menjadi masalah? Sebenarnya kalian ingin mencari seorang penerjemah atau seorang istri?" ledek Aleta.


Staf HRD yang ikut mendengar tersenyum-senyum sendiri.


"Kami hanya ingin mengetahui siapa calon karyawan dengan jelas. Bisa saja kamu berniat buruk kepada perusahaan."


"Hahaha ... kalau ragu, sebaiknya jangan menerima saya. Karena saya hanya bisa melakukan penerjemahan secara online dan tidak akan menampakakkan identitas saya."


Alan terkekeh mendengar jawaban dari wanita itu yang terdengar sangat percaya diri. Membuat ia semakin ingin menemukannya.


"Anda tidak perlu meragukan kemampuan dan kesetiaan saya terhadap perusahaan. Tapi, kalau memang identitas sangat penting, saya tetap akan memilih mundur."

__ADS_1


Alan berpikir sejenak tentang keputusannya. Ia sangat yakin bahwa wanita itu adalah Miss A yang pasti sudah mengenal dia dan keluarganya. Memang menyebalkan ada orang yang begitu paham tentang kehidupannya, namun ia tidak tahu apapun tentang wanita itu.


"Baiklah, kamu diterima!"


"Pak ...." Staf HRD tidak bisa berbuat apa-apa setelah sang bos mengambil keputusan.


Alan semakin bersemangat untuk membongkar identitas wanita menyebalkan itu.


"Benarkah? Apa sekarang saya resmi menjadi bagian dari perusahaan? Oh, senangnya ...."


Alan menyunggingkan senyum. "Berapa gaji yang kamu mau?" tanyanya.


"Saya rasa 30 juta pantas."


Alan membulatkan mata. Wanita itu begitu percaya diri meminta gaji sebesar itu. Sama seperti staf HRD yang gajinya tentu jauh dari angka yang disebutkan.


"Untuk selevel karyawan baru, angka itu terlalu besar."


"Pekerjaan saya bukan main-main. Ini menyangkut hubungan antara dua negara. Gaji sebesar itu bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan keuntungan yang akan didapatkan oleh perusahaan."


"Kenapa perusahaan sangat pelit menggaji karyawan? Padahal berkat kerja keras para karyawan perusahaan bisa semakin berkembang dan tentunya kalian semakin kaya. Kasihan karyawan yang harus bekerja dengan memeras otak dan tenaga hanya dihargai rendah."


Ucapan Aletha seperti memberikan sindiran secara langsung kepada Alan sebagai salah satu calon pewaris. Staf di sampingnya tampak menutup mulut karena menertawakannya.


"Baiklah, aku sepakat untuk memberikanmu gaji 30 juta per bulan."


"Oh, terima kasih."


"Bekerjalah dengan serius. Kami tidak akan melepaskanmu jika berani menggagalkan kerjasama yang akan perusahaan bangun."


"Baik, Pak. Saya akan bekekerja dengan baik sesuai dengan kemauan perusahaan."


Alan menutup sesi wawancara. Ia menghela napas setelah menghadapi calon karyawan baru yang tampaknya sangat keras kepala. Ia memutuskan untuk kembali ke ruangannya.


Di dalam ruang kerjanya, ia kembali menghela napas saat melihat Irene ada di sana sedang asyik bermain game dengan makanan yang berhamburan mengotori ruangan. Ingin rasanya ia kembali marah-marah. Kenapa semua orang jadi kelihatan menyebalkan di matanya.


"Mau ikut aku ke luar?" ajak Alan.


Irene yang sedari tadi asyik memainkan game menoleh ke arah Alan. "Kemana, Kak?" tanyanya.


"Aku mau makan oden."


Seketika mata Irene langsung berbinar. "Mau!" serunya seraya melompati sofa dan berlari ke arah Alan. Ia memang paling suka kalau jalan dengan Alan maupun Alex, karena mereka pasti akan membuat perutnya kenyang.

__ADS_1


❤❤❤❤❤



__ADS_2