
Irene kembali tersadar dan mendapati dirinya ada di kamar perawatan rumah sakit.
"Apa kamu merasa lebih baik?" tanya Alan yang sejak semalam selalu menjaga Irene di sampingnya.
Irene mengangguk. Kondisi tubuhnya sudah jauh lebih baik dibandingkan semalam. "Sepertinya yang semalam itu ada yang sengaja ingin membakar gudang milik Kak Alfa," ucap Irene.
"Iya, kamu benar dan itu masuk rencana pembunuhan."
"Apa pelakunya punya dendam padaku? Atau pada Kak Alfa?"
"Entahlah, aku juga belum bisa menyimpulkan. Aku menyuruh Alfa untuk mengurus semuanya. Kamu juga tidak perlu memikirkan apa-apa, fokus saja pada kesembuhanmu," ucap Alan sembari mengusap kepala Irene.
Klek!
Dengan terburu-buru Alfa masuk ke ruangan menghampiri Irene. "Syukurlah kamu sudah sadar, Ren," ucap Alfa.
"Bagaimana? Sudah tahu siapa pelakunya?" tanya Alan.
"Sudah. Ada sekitar 6 orang yang sengaja menyiramkan bensin dan membakar gudangku. Aku sudah menyerahkan rekaman CCTV pada pihak kepolisian. Tapi, dugaan sementara mereka orang-orang suruhan."
"Pokoknya, siapapun pelakunya, jangan ambil cara damai, Fa! Mereka harus dipenjara!" tegas Alan.
"Iya," kata Alfa.
"Memangnya siapa yang jadi dalang pembakaran itu, Kak?" tanya Irene penasaran.
__ADS_1
Alan dan Alfa saling berpandangan.
"Pelakunya Sovia," jawab Alan. Ia merasa Irene juga berhak tahu.
"Apa?" Irene tidak bisa percaya Sovia tega melakukan hal yang bahkan menjurus pada pembunuhan.
"Semua bukti sudah aku serahkan ke polisi, Ren. Aku yakin kali ini Sovia akan masuk penjara. Aku sangat heran dengannya kenapa terlalu nekad melakukan hal berbahaya seperti itu," gumam Alfa.
***
Setelah pulih, Irene kembali masuk kuliah. Di kampus ada Miranda yang menunggu di luar kelas saat jam perkuliahannya selesai.
"Aku mau bicara denganmu, Ren," katanya.
"Bicara masalah apa? Kakak sepupumu?" tebak Irene.
Miranda tampak kikuk berhadapan dengan Irene. "Apa tidak bisa kamu membantu Kak Sovia terbebas dari tuduhan? Lagian kalian kan baik-baik saja," ucapnya.
Irene rasanya ingin tertawa. Padahal nyawanya hampir melayang karena kelakuan Sovia, tapi Miranda malah seakan menyepelekan perbuatan sepupunya.
"Aku sama sekali tidak ada urusan dengan dia. Kalau mau meminta maaf, temui saja pemilik gudang yang ia bakar!"
Setelah memberikan jawaban yang tegas, Irene lantas berjalan pergi mengabaikan Miranda.
Setibanya di area parkiran, ada Arvy yang tengah menunggunya di sana.
__ADS_1
"Kakak kenapa ada di sini?" tanya Irene heran. Seharusnya Alan yang menjemputnya.
"Aku sudah bilang pada Kak Alan kalau hari ini ada urusan denganmu. Jadi, dia mengijinkanku untuk menjemputmu," kata Arvy.
"Urusan apa ya, Kak?" tanya Irene heran.
"Ikut aku saja, nanti kamu akan tahu!"
Irene lantas masuk ke dalam mobil Arvy sesuai kemauan lelaki itu. Ia diajak ke suatu daerah yang terletak di pinggiran kota. Bahkan mereka harus melewati hutan yang sepi untuk menuju tempat itu.
Di depan sebuah rumah bergaya kuno, Arvy menghentikan mobilnya. Rumah itu dari luar terlihat horor meskipun di siang hari. Apalagi jarak rumah itu dengan rumah lainnya cukup jauh.
"Ini rumah siapa?" tanya Irene.
"Masuklah, kamu akan tahu!"
"Katakan saja, kita mau apa?" desak Irene tidak sabar.
"Di dalam ada Adila," kata Arvy.
"Benarkah?" Irene melebarkan mata. Ia kaget dengan berita gembira yang Arvy sampaikan.
Arvy mengangguk.
"Jadi, dia sudah ingat semuanya?"
__ADS_1
"Belum. Dia belum ingat semuanya. Tapi, anehnya dia memaksa ingin bertemu denganmu. Jadi, aku harap kamu bisa membuat ingatanya kembali."