Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 100


__ADS_3

"Ana!", panggil Ken pada wanita yang tengah duduk manis di sebelahnya.


"Ana!", panggil Ken lagi setelah ia tak mendapat jawaban.


"Sayang!", panggil Ken dengan begitu manjanya agar dapat mengambil perhatian Ana.


"Emmh!", Ana menyahuti singkat. Ia sedang menyibukkan diri dengan melihat pemandangan di luar jendela mobil. Matanya menerawang entah kemana. Pikirannya penuh terisi oleh rancangan masa depan.


"Apa ada yang membuatmu tak nyaman?", tanya Ken hati-hati seraya menyentuh jemari tangan Ana.


"Tidak ada, Ken!", jawab Ana singkat.


"Aku minta maaf!", ucap Ken tiba-tiba yang sontak membuat Ana menoleh ke arahnya.


"Untuk?", Ana memiringkan kepalanya sedikit untuk memperjelas ekspresi apa yang berada di wajah pria itu.


"Aku minta maaf untuk bunda!", ucap Ken begitu tulus hingga ia menatap Ana begitu dalam.


"Tak ada yang perlu dimaafkan, Ken. Bundamu hanya menginginkan yang terbaik untuk putranya. Ia hanya menjalankan perannya sebagai seorang ibu dengan baik. Aku mengerti, hanya saja aku tak suka ketika ia mulai membanding-bandingkan diriku dengan orang lain", jelas Ana yang akhirnya mengerucutkan bibirnya mengingat nama Joice hampir saja ia sebutkan.


"Lihat saja, nanti! Huh!", Ana mendengus kesal sambil mencibirkan bibirnya saat terngiang lagi nama Joice.


Ken tak menanggapi ucapan Ana, ia hanya terkekeh melihat tingkah kekasihnya yang amat lucu dan menggemaskan. Di lain sisi ia bisa menjadi wanita yang rapuh dan butuh sandaran, namun di sisi lain ia bisa menjadi wonder woman yang bisa melindungi dirinya sendiri dan orang lain. Bagaimana bisa Ken tidak bangga memiliki calon istri seperti Ana. Sejujurnya Ken tak membutuhkan wanita hebat yang mampu menyaingi bahkan, ia hanya butuh wanita hebat yang mampu memberikannya segala kenyamanan di rumah saat ia lelah bekerja. Ken telah memiliki semuanya, harta dan kuasa sudah ada di tangannya. Saat ini yang ia butuhkan hanyalah istri yang sempurna.


"Ken!", panggil Ana dengan wajah yang sudsh berubah ceria.


"Emmh! Apa yang kau inginkan, sayang?", Ken membelai lembut rambut Ana .


"Aku ingin mendesain sendiri cincin pernikahan kita, apa boleh?", pinta Ana sambil bergelayut manja pada lengan prianya.


"Astaga, kau sedang mengujiku rupanya!", batin Ken.


Ia menggaruk alisnya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung. Betapa tidak, karena kini Ana sedang membuat permohonan dengan wajah yang sangat imut. Ken mengukir seringainya.


"Tidak!", ucap Ken tegas. Dari raut wajahnya terlihat Ken bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Ya, ya, ya!", pinta Ana lagi tak melepas ekspresinya yang begitu menggemaskan.


"Ti,,dak!", Ken tetap dengan keputusannya. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah jendela supaya lebih memastikan bahwa dirinya sedang serius.


"Yasudah!", Ana melepaskan lengan Ken dengan kasarnya. Ia melepaskan lengan Ken seperti membuangnya ke udara. Tak mau kalah, Ana juga memalingkan wajahnya ke arah jendela berlawanan dengan Ken. Ia mengerucutkan bibirnya sambil bergumam pelan.


Ken melirik Ana yang terlihat di ujung matanya sedang sibuk dengan rasa kesalnya. Pria itu mengepalkan tangannya untuk menutup mulutnya yang ingin sekali tertawa. Ken sungguh senang menggoda wanitanya ini yang sangat pandai merajuk.


"Kau ini ya!", Ken merengkuh Ana. Ia menggeser tubuh Ana yang terasa ringan baginya hingga menempel kepadanya.

__ADS_1


"Dengarkan aku!", perintah Ken seraya menangkup wajah Ana untuk menghadap ke arahnya.


"Apa?", tanya Ana yang masih dirundung rasa kesal.


"Aku mengerti kau memiliki bakat dan hasil desainmu sangat bagus. Tapi untuk kali ini bisakah kau mempercayakan hal ini padaku sendiri?! Aku adalah calon suamimu, sudah tugasku untuk mengurus hal ini", jelas Ken begitu lembut. Kemudian ia melepaskan tangannya yang menangkup wajah Ana dan memandang lurus ke depan.


"Lagipula aku sudah membuatnya kapan hari!", ucapnya acuh seraya menguarkan senyuman misterius.


"Heh! Optimis sekali kau bisa menikahiku!", sahut Ana.


"Wanita mana yang tidak menginginkan diriku untuk menjadi pendampingnya! Aku tampan, mapan dan rupawan. Semua hal yang wanita inginkan, aku memilikinya. Kau saja sudah menyukai ku sejak lama, bukan!", ucap Ken begitu percaya diri sambil menjentikkan telunjuknya pada dagu Ana.


"Ingat! Kau yang lebih dulu menyatakan cintamu!", ucapan Ana telak membuat Ken terdiam.


"Baiklah kali ini aku mengaku kalah. Aku memang mencintaimu, Ana. Sejak awal aku bertemu denganmu!", Ken mengecup pucuk kepala Ana.


"Aku juga mencintaimu, Ken!", balas Ana dengan memeluk tubuh lelakinya itu.


"Tapi Ken...", Ana mendongakkan kepalanya dengan raut wajah seirus.


"Emmh?", Ken menaikkan kedua alisnya seakan bertanya ada apa.


"Percaya dirimu tinggi sekali ya rupanya!", mereka tertawa bersama karena Ken juga merasa sedikit jijik dengan ucapannya.


Mobil itu terus melaju menuju kediaman Ana bersamaan dengan penumpangnya yang terus berbincang ceria.


***


Ken nampak begitu gelisah. Beberapa kali matanya bergerak ke arah jam tangannya. Rasanya ingin ia buang semua berkas yang ada di tangannya kini, agar ia bisa segera menjalankan rencana rahasianya.


"tok! tok! tok!", seseorang mengetuk pintu kantornya.


"Masuk!", sahutnya setengah kesal karena berani mengganggunya di saat dirinya tengaj sangat amat sibuk.


"Tuan!", ternyata Han yang masuk ke dalam.


"Katakan!", perintah Ken tanpa basa basi. Ia sangat tahu, pasti ada hal yang penting untuknya disampaikan kepads Ken. Pasalnya Ken telah berpesan untuk tidak mengganggunya jika bukan dalam kondisi yang mendesak.


"Kondisi Tuan Danu sudah membaik, jadi beliau telah diizinkan pulang oleh para dokter. Dan beberapa menit yang lalu Nona Ana beserta Tuan Danu telah sampai di kediamannya", lapor Han namun masih terdengar menggantung.


"Lanjutkan!".


"Semuanya sudah siap, Tuan. Tiga puluh menit lagi kita bisa berangkat", tambah Han.


"Tiga puluh menit? Tiga puluh menit katamu?", Ken bangkit sembari mengacungkan telunjuknya ke arah wajah Han. Wajahnya sudah memerah karena kesal.

__ADS_1


"Maaf Tuan?", Han mengernyitkan keningnya. Ia masih belum menyadari apa yang membuat bosnya ini terlampau kesal.


"Apa? Apa lagi? Apa kesalahanku sebenarnya?!", gerutu Han dalam hatinya.


"Lihat ini! Lihat berkas-berkas sialan yang masih harus aku periksa dan aku tanda tangani! Matamu tentu masih berguna, bukan?!", Ken menunjuk-nunjuk setumpuk berkas yang menjulang di atas mejanya.


Han terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia bingung harus berkata apa dikala bosnya tengah kesal seperti sekarang.


"Lalu apa yang harus saya lakukan, Tuan?! Apakah Tuan ingin saya membantu Tuan untuk memeriksa berkas itu?", tanya Han hati-hati.


"Atau Tuan ingin saya memeriksa sekaligus menandatangani berkas-berkas itu?", ya ide gila itu tiba-tiba muncul di dalam benaknya.


"Kau letakkan dimana otakmu, Han! Kenapa kau sekarang makin bodoh, hah!", cacian yang begitu semangat keluar dari mulut Ken yang sudah terlampau emosi.


"Hah, salah lagi kan!", batin Han lagi.


"Maaf Tuan, saya hanya bingung!", Han tersenyum canggung.


"Hah sudahlah! Kau itu terlalu banyak bergaul dengan Sam. Makanya otakmu itu jadi sama dengannya!", ucap Ken lagi masih saja kesal.


"Maaf Tuan!".


"Baiklah, aku tidak akan banyak bicara lagi dengan Tuan Sam agar aku tidak menjadi bodoh seperti dirinya", gumam Han dalam hati.


"Satu jam lagi kau datang ke sini. Dan pastikan semua berjalan dengan lancar. Aku sudah sangat kesal sekarang. Kau mengerti!", perintah Ken seraya mendudukkan dirinya kembali.


"Saya mengerti Tuan!", Han mengangguk. Ia sangat paham bahwa kali ini ia tak boleh membuat kesal bosnya lagi. Karena jika tidak, maka raja singa itu akan murka dan siap menghukum siapa pun yang tak menuruti perintahnya. Sebuah perintah mutlak bagi semua bawahannya. Han segera bergegas keluar ruangan.


***


Ken dan Han sudah berada di dalam mobil, dan mereka kini sudah berada setengah dari perjalanan mereka. Jalanan yang dituju adalah jalan menuju kediaman Ana. Jantung Ken sudah berdetak begitu kencang sejak tadi. Tapi sebisa mungkin ia tak menampakkan sisi lemahnya itu di hadapan Han. Meski sebenarnya sangat terlihat bahwa ia kini sedang menahan rasa gugupnya.


"Apa Tuan sedang gugup?", tanya Han dengan polosnya yang sedari tadi melihat tingkah bosnya yang sangat aneh. Ia sangat mengenal raut wajah yang Ken miliki.


"Apa aku terlalu kelihatan!", gumam Ken dalam hati.


"Kau cari mati, ya?!", ucap Ken sinis sambil merapatkan giginya. Ia kesal karena tertangkap basah oleh Han. Maka sebisa mungkin ia menutupinya.


"Maaf Taun! Saya hanya merasa Tuan sedikit gugup, jadi saya ingin memberi saran untuk anda, Tuan. Jika Tuan tidak berkenan untuk mendengarnya pun tidak apa-apa, Tuan!", ucap Han hati-hati.


"Apa.. apa yang ingin kau katakan?", tanya Ken kikuk. Akhirnya ia menyerah dengan gengsinya saat ini. Dirinya memanglah membutuhkan sebuah saran supaya bisa tenang.


"Tuan juga ingin tau, kan!", ucap Han dalam hati.


" Setiap kali Tuan merasa gugup, maka cobalah dengan menarik nafas dalam-dalam melalui hidung, kemudian membuangnya kembali dari mulut. Begitu lakukan terus hingga Tuan merasa lebih tenang", jelas Han.

__ADS_1


"Kau pikir aku akan melahirkan, hah! Sudah ku katakan jangan jadi bodoh, mengerti!", ucap Ken yang sudah bersungut-sungut.


__ADS_2