
"Pakai ini lagi agar lebih tebal!", Sam menyodorkan lipstik yang masih berada di tangannya setelah ia melepaskan dekapannya pada Sarah.
"Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan, Sam?", sedikit mengomel tapi Sarah tetap menuruti permintaan Sam. Dengan sendirinya ia menyapukan lagi lipstik yang ia pegang ke bibirnya. Dan itu menjadi terasa tebal di bibirnya. Ia masih menatap kebingungan ke arah Sam.
"Cium aku di sini, dan di sini! Juga di sini!", Sam memberikan perintah agar Sarah menciumnya di bagian dadanya dekat dengan dasi, di bagian kerah dekat lehernya dan di kerah belakangnya. Pria itu hanya memasang wajah santainya seakan permintaannya itu sangatlah mudah.
"Sam! Apa rencanamu sebenarnya? Bukankah itu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri, nanti!", Sarah benar-benar tak habis pikir dengan apa yang pria gila ini pikirkan.
"Beri aku tanda kepemilikanmu, Sarah! Dan semua orang akan tau bahwa aku sudah memiliki wanita yang tak bisa diganggu. Karena bahkan wanita itu telah berani menunjukkan otoritasnya agar wanita lain berpikir ulang untuk mendekatiku lagi", begitu Sam menjelaskan idenya yang cukup rasional. Hanya saja ide itu juga cukup ekstrim dengan mengorbankan dirinya sendiri.
"Apa kau tidak punya malu?! Hah!", Sarah bersungut-sungut memandangi wajah pria gila ini. Ia rasa Sam memang benar-benar gila. Dan harus segera dibawa ke rumah sakit jiwa.
***
Keduanya kini tengah berjalan keluar dari kamar Sam. Pria itu terlihat sangat tampan dengan setelan jas dan celana berwarna coklat susu senada. Dasi merahnya terlihat mencolok di tengah. Tapi setelah mereka benar-benar mendekat, ada yang lebih mencolok lagi. Cetakan bibir pada kemeja yang Sam kenakan di dada dan lehernya. Dan satu lagi, wanita dan sampingnya yang tengah memalingkan wajahnya sambil menahan malu di depan orang tua pria itu sendiri.
"Sam! Kenapa kau lama sekali?", Nyonya Rima menghampiri keduanya.
"Ada yang harus dikerjakan, Bunda!", Sam mengangkat alisnya sambil tersenyum ke arah Sarah.
"Dasar tidak tau malu!", wanita itu mendaratkan satu pukulan ringan pada lengan Sam. Ia mengumpat sambil menahan malu saat ini.
Pasalnya selain Nyonya Rima, ketiga orang di hadapannya kini tengah memasang senyum meledek ke arah dirinya dan juga Sam. Sedangkan wanita paruh baya itu hanya memasang wajah polosnya.
"Ayo duduk dulu! Makan ini, kalian belum sarapan, kan! Atau mungkin sudah?", Tuan Dion menunjuk beberapa makanan yang sudah disiapkan Nyonya Rima di depan meja. Ia menggunakan senyumannya untuk kembali meledek Sarah. Sedangkan untuk putranya, ia yakin bahwa pria itu tak akan terpengaruh sedikitpun. Dasar anak tidak tau malu!
"Te,, terima kasih, Tuan!", Sarah gugup diserang godaan yang begitu banyak di hadapannya kini.
"Hey, aku ini ayahmu mulai sekarang!", sambung lagi Tuan Dion mengoreksi panggilan Sarah untuknya.
"I,,i,,iya, Ayah!", lagi-lagi ia harus dibuat canggung saat ini.
"Kenapa kau lama sekali? Apa yang sudah dilakukannya padamu?", bisik Ana yang duduk di sebelah dirinya. Tak luput senyum yang menggoda hadir di bibirnya.
"Ana! Berhenti menggodaku!", balas Sarah memperingati Ana dengan berbisik juga. Sahabatnya ini sungguh tidak setia kawan, apa dia tidak tau jika dirinya sedang sangat malu saat ini. Dan sahabatnya itu hanya terkekeh dibuatnya.
"Hey, apa petugas laundry pakaianmu tidak becus mengerjakan tugasnya! Lihat Ayah, Bunda, bahkan masih ada noda lipstik di kerahnya! Entah cetakan bibir siapa itu, heh!", Ken yang duduk di pinggiran sofa tak sengaja menemukan noda berwarna merah muda pada kerah kemeja yang Sam pakai. Ia sampai memegangi kerah kemeja itu untuk ia perlihatkan ke arah Nyonya Rima dan Tuan Dion. Tak peduli jika tubuh adiknya itu ikut terbawa secara paksa.
__ADS_1
"Kakak, kau mencekik aku!", pekik Sam sambil berusaha melepaskan tangan Ken dari kerah bajunya.
"Uhukk,, uhukk,, uhukk! Ini aku punya yang lebih mudah dilihat!", setelah menuntaskan batuknya akibat lehernya yang ikut terjerat. Sam merapikan kemeja dan jasnya seraya membusungkan dada.
Bersamaan itu pula Sarah segera menyambar sebuah majalah dari kolong meja di depannya. Lalu ia berusaha menenggelamkan wajahnya di sana. Sudah merona, ditambah tingkah orang gila itu membuat wajah Sarah menjadi sangat matang pasti. Masa bodoh jika pria itu sudah tidak punya urat malu, tapi bagaimana dirinya ini. Sarah tentunya masih punya stok malu yang sangat banyak untuk cukup tau diri. Rasanya ia ingin sekali mengecil dan bersembunyi di sela-sela lipatan sofa itu agar tak terlihat oleh yang lainnya lagi.
"Aku punya di sini dan di sini! Bagaimana, bagus kan!", seru Sam dengan bangganya sambil menunjukkan noda bibir pada kemejanya di bagian dada dan juga leher depannya.
"Bodoh! Apa kau tidak memikirkan perasaan Sarah?!", Ken memukul kepala Sam terlebih dahulu sebelum istrinya itu mulai marah karena tingkah bodoh adiknya.
Ana sudah berkacak lingkungan di hadapannya. Sedangkan Nyonya Rima beserta Tuan Dion, matanya seakan siap menghukum pria itu. Karena kedua orang tua itu telah berjanji, jika Sam menyakiti Sarah lagi, maka mereka sendiri yang akan turun tangan.
"Sam, jelaskan!", bentak Nyonya Rima dengan begitu galaknya. Ia tidak rela jika calon menantunya tersakiti lagi oleh putranya yang playboy ini.
"Tenang! Tenang! Aku bisa menjelaskan!", Sam mulai panik karena semua orang mulai menyerangnya. Bukan begini kan, keadaan yang diinginkannya.
"Katakan, atau tamat riwayatmu sekarang!", kali ini Ana yang mengancamnya dengan wajah yang paling garang yang dimilikinya. Bahkan wanita itu menodongkan sebuah garpu yang awalnya sedang ia gunakan untuk memakan buah segar.
"Kenapa kau selalu tidak bisa diandalkan, Sam?!", Tuan Dion ingin mengumpat. Tapi ia lebih merasa bersedih dan menyesal saat ini. Harusnya mereka tak perlu saja membantu Sam untuk mendapatkan hati Sarah jika akhirannya akan seperti ini lagi. Sarah pasti akan terluka lagi.
Dan setelah Sarah menerka-nerka, sepertinya senyuman meledek yang mereka keluarkan tadi lantaran dirinya dan juga Sam yang terlalu lama di kamar. Dan bahkan Ana yang sempat memergoki mereka berdua saat akan berciuman. Tapi ya sudahlah, hal itu memang sudah harus ia hadapi. Godaan orang-orang itu pasti tak akan ada hentinya nanti. Tapi saat ini yang membuatnya bahagia adalah pria gila itu tengah dibully karena ulahnya sendiri. Sungguh ia tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa saat ini.
Wajah Sam terlihat pucat pasi. Bagaimana bisa berakhir seperti ini?! Bukan begini tanggapan yang ia inginkan. Sam harap mereka semua mengatakan dirinya itu keren dengan idenya ini. Bukannya malahan membully dirinya secara bersamaan. Apalagi melihat sorot mata ibu dan kakak iparnya yang sama galaknya, nyali Sam dibuat menciut sekarang juga.
"Nona Sarah! Sepertinya majalahmu terbalik!", seru Sam dengan nada tidak suka. Ia yakin saat ini pasti wanita itu sedang tersenyum puas melihat dirinya sedang diserang dari berbagai penjuru.
"Ah ya! Terimakasih!", Sarah sempat tersentak kaget saat Sam menyebutkan namanya. Ia pikir Sam akan membawanya ke dalam situasi itu. Tapi nyatanya pria itu malah hanya menyebut perihal majalahnya saja. Hal sepele itu juga sudah cukup membuatnya malu karena pandangan semua orang menjadi tertuju padanya. Dengan cepat ia membenarkan posisi majalahnya dan tetap menutupi wajahnya lagi.
"Apa tidak ada yang ingin dijelaskan bersama denganku, heh?!", Sam menyeringai saat kembali mengajukan pertanyaannya kepada Sarah.
Wajah Sara mematung tiba-tiba saat mendengar pertanyaan yang Sam keluarkan. Tidak,,, tidak,, ia tak ingin terjerumus bersama. Biar saja, Sam yang menanggung sendiri akibatnya sekarang. Dan melihat Sam yang dihukum oleh mereka semua itu sepertinya akan seru.
"Tidak ada!", jawab Sarah santai sambil terkekeh di balik majalahnya.
"Sarah!", Sam memohon untuk diselamatkan dari situasi yang memburuk baginya kini.
"Sam!", semua orang menggeram dan menatapnya seakan ingin sekali memakan pria itu.
__ADS_1
"Ampun! Ampun Bunda! Ampun kakak ipar! Jangan sakiti aku lagi! Aku tidak bersalah! Sungguh aku tidak bersalah! Kalau tidak percaya tanyakan saja pada Sarah!", Sam meminta pengampunannya di tengah momen Ana dan ibunya yang sedang memukuli tubuhnya.
"Jangan mengelak lagi! Dasar tidak tau malu! Anak kurang ajar!", hardik Nyonya Rima sambil terus memukuli putranya.
"Kau memang tidak tau diuntung!", Ana juga tak kalah gemasnya dengan Nyonya Rima.
Sedangkan Tuan Dion dan juga Ken hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat putra bungsu dan adiknya itu tengah diberi hukuman oleh para wanita.
"Sudah cukup! Tolong dengarkan aku dulu!", pinta Sam dengan nada sangat memohon. Tapi sayangnya kedua wanita itu seakan tak peduli dengan teriakan Sam.
Sarah masih sibuk tertawa di balik majalahnya. Puas, ia sangat puas melihat Sam seperti ini. Tapi tawanya segera hilang tiba-tiba.
"Ini bekas bibir Sarah!", teriak Sam yang sudah tidak tahan dengan amukan kedua wanita itu.
-
-
-
-
-
baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya
πΉHey you, I Love you!πΉ
Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan π
jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya π
terimakasih teman-teman π
love you semuanya π
keep strong and healthy ya
__ADS_1