
Krystal sudah selesai merias wajahnya dengan dandanan lembut menyesuaikan gaun yang dipakainya. Rambutnya ia buat bergelombang, seperti ombak di lautan yang tenang. Ia buat rambutnya terjun bebas di belakang punggungnya, sehingga tidak menutupi satu senti pun wajahnya yang cantik rupawan.
Wanita itu memegang ujung gaunnya sambil menghadap ke arah kaca. Ia berputar di tempat sambil menilai penampilannya malam ini. Sepatu hak silver ia kenakan untuk menunjang keanggunannya.
"Good job!", Krystal mengacungkan kedua jempolnya ke arah cermin. Ia memuji hasil kerja dirinya sendiri dengan bangga.
Mengingat wajah menyebalkan nenek sihir berambut pendek itu, ia langsung mengubah wajahnya dengan ekspresi jelek. Malam ini, ia akan merusak momen yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh si Alleta itu. Jika harus hancur, maka lebih baik hancur bersama. Krystal tidak ingin sakit sendirian. Jadi baik Louis maupun wanita itu, harus merasakan apa yang ia rasakan juga.
Amarah ini, sakit hati ini, perasaan dikhianati, orang-orang itu harus turut berempati kepadanya. Merasakan hal yang sama, sampai ia bisa mengubah badai di hatinya menjadi kumparan kabut yang tidak terlalu mengganggu.
Mata wanita itu sudah dipenuhi tekad malam ini. Semakin membara ketika mengingat berita yang menyatakan bahwa malam ini Louis Harris akan melamar Alleta Sanchez, kekasih kecilnya. Bola matanya berubah menjadi bola api tatkala bayangan sosok kekasihnya itu sedang digandeng dengan begitu mesra oleh Alleta. Dan bahkan mereka tersenyum bersama.
"Kalian berdua harus merasakan kemarahanku!", angin malam yang dingin menerpa dirinya. Membuat kemarahannya menjadi semakin menyala.
Ia sambar tas kecil yang berkilau indah di atas tempat tidurnya. Wanita itu mendekapnya di perut sambil berlalu ke arah pintu. Tampilan menawannya saat ini lebih seperti seorang jenderal perang yang sudah siap melawan musuhnya di medan tempur.
Krystal berhasil menutup pintu kamar hotelnya dan memasukkan kartu pass itu ke dalam tas kecilnya. Wanita itu membawa langkahnya dengan begitu percaya diri. Namun sayang, ia tidak memperhatikan sekitar. Sebuah tangan berhasil membekap mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diberikan obat bius. Menghirup obat itu terlalu banyak, Krystal pun tidak dapat meronta lagi dan berakhir tidak sadarkan diri. Tubuhnya terkulai lemas dalam dekapan sosok tak dikenal.
***
"Kak Louis! Apakah Kakak sudah siap?", Alleta masuk setelah dibukakan pintu oleh bawahan Louis. Ia langsung berjalan lurus ke arah pujaan hatinya.
Mereka akan mengadakan acara lamaran di sebuah hotel mewah malam ini. Sebuah acara lamaran romantis yang akan dihadiri oleh banyak tamu penting dan juga para jurnalis. Momen yang sudah sangat dinantikan oleh Alleta sepanjang hidupnya. Jadi saat ini masing-masing dari mereka, sedang mempersiapkan diri di kamar hotel yang sudah dipersiapkan.
Wanita dengan rambut sebahu itu menata rambutnya sangat rapi jatuh ke bawah. Gaunnya berwarna hitam, dengan bentuk v di bagian dada sampai ke bahunya. Ada belahan panjang dari ujung kaki sampai ke pahanya. Penampilan wanita itu terkesan seksi dan anggun malam ini.
"Wajah Kakak terlihat lelah!", wanita itu langsung menyentuh pipi Louis yang sedang merapikan pakaiannya sendiri.
Pria itu tengah duduk di pinggir ranjang sambil mengancingkan lengan kemejanya. Jas hitamnya belum dikenakan, masih tersampir di sampingnya. Ada sapu tangan biru laut terselip pada saku depan jas itu. Alleta sempat memperhatikannya, namun tak berlangsung lama, karena ia pikir itu bukanlah apa-apa.
Ia mendudukkan dirinya di sisi Louis dengan begitu rapat. Memperhatikan wajah pujaan hatinya yang terlihat kurang bersemangat. Tangannya kemudian menangkup kedua sisi wajah pria itu dan mengarahkan kepadanya.
"Kakak!", serunya lagi agar Louis mau menjawab dirinya.
"Maaf! Tadi begitu banyak pekerjaan di kantor! Makanya sekarang aku lelah sekali!", Louis kemudian mengurai senyumnya sambil berbicara lembut.
"Apakah Kakak sakit? Bagaimana jika kita undur acara malam ini sampai Kakak merasa baik-baik saja dan lebih sehat?", Alleta melepaskan wajah Louis dan berpindah dengan memegangi lengan pria itu begitu erat. Terlihat jika wanita itu sangat khawatir kepada dirinya.
Cih! Seenaknya sekali! Louis berdecak dalam hati dengan ucapan yang ia dengar barusan. Memang seorang tuan putri tidak akan pernah memikirkan yang lain. Hanya memikirkan apa yang diinginkannya saja. Apa wanita itu tidak memikirkan bagaimana lelahnya semua orang untuk menyiapkan acara malam ini?! Sungguh tidak dapat menghargai orang lain!
"Jangan,,, maksudku kita tidak perlu mengundur acara malam ini! Aku hanya sedikit kelelahan saja. Dan rasa lelah ini tidak bisa menghalangi impianmu yang sudah sangat menantikan acara paling romantis ini! Aku tidak ingin mengecewakanmu!", Louis mengusap pipi wanita itu seraya tersenyum teduh namun palsu.
"Terima kasih, Kakak! Aku merasa sangat bahagia sekali malam ini! Impianku selama ini akhirnya akan menjadi nyata!", Alleta pun langsung menghambur ke pelukannya. Ia memeluk pria itu dengan begitu erat dengan perasaan haru luar biasa. Tanpa terasa, pelupuk matanya pun terasa hangat oleh perasaan harunya ini. Alleta menyeka sudut matanya yang basah oleh air mata bahagia.
Louis tak dapat menjawab ucapan Alleta itu, karena memang ia tidak melakukan apa pun untuknya malam ini. Agar tak dicurigai, lelaki itu menepuk-nepuk punggung Alleta dengan gerakan kaku. Namun wanita di pelukannya tidak menyadari apa pun saat ini.
duk,, duk,,
Sebuah suara membuat mereka saling melepaskan diri. Terutama Alleta yang langsung memperhatikan ke arah sumber suara dengan wajah penasaran. Suara itu berasal dari arah kamar mandi. Dan ia pun mulai bergerak ke arah sana.
"Aku mendengar sesuatu di sana!", serunya pelan dengan wajah penuh selidik menatap ke arah pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.
"Alleta, apa yang akan kau lakukan?!", Louis berteriak panik sambil menarik wanita itu menjauh tatkala ia melihat Alleta berniat membuka pintu kamar mandi itu.
__ADS_1
"Kakak! Aku mendengar suara dari dalam sana! Aku hanya ingin memastikan sesuatu!", jawab wanita itu lugu.
"Atau mungkin ada yang Kakak sembunyikan dariku?", Alleta menyipitkan matanya curiga.
"Apa?! Memangnya aku bisa menyembunyikan siapa?!", Louis tertawa hambar sambil menutupi bunyi dadanya yang berdebar.
"Ada orangku yang sedang berganti pakaian di dalam sana. Jika kau tidak keberatan kau bisa melihatnya ke dalam!", pria itu pun memainkan bakat perannya dengan memasang wajah yang sedang menggoda.
"Mana mungkin!", Alleta langsung berwajah merah sekarang. Yang ia pikir adalah ada seorang pria yang sedang menanggalkan pakaiannya di dalam kamar mandi itu.
"Kalau begitu bisakah kau kembali ke kamar dulu! Aku ingin istirahat dulu sebentar tanpa diganggu oleh siapa pun!", ucap Louis sambil diam-diam menghela nafas lega karena Alleta mau mempercayai ucapannya. Ia menggiring wanita itu secara halus menuju pintu.
"Baiklah kalau begitu! Masih ada waktu, Kakak beristirahatlah dulu!", Alleta mengusap lengan Louis dan menatapnya dengan penuh kasih sayang. Wanita itu pun pergi meninggalkan kamar itu.
"Jangan biarkan siapa pun masuk! Mengerti!", perintahnya pada orang yang berjaga di depan pintu kamarnya. Karena situasinya sangat mendesak, maka ia mau tak mau harus berwaspada dengan menempatkan orang di luar pintu kamarnya.
Kemudian Louis pun memudarkan wajah seriusnya setelah menutup pintu kamar. Ia berjalan cepat ke arah kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka.
"Sayang, kau tidak apa-apa?!", serunya seraya membuka pintu itu.
"Menurutmu bagaimana?! Hah! Melihat kekasihnya bermesraan dengan wanita lain, menurutmu aku harus bagaimana?", Krystal menyandarkan sebelah bahunya pada dinding kamar mandi mewah itu sambil melipat tangannya di depan dada. Wajah galaknya pun tak lupa ia sematkan juga.
"Baik, baik! Kau bisa menyalahkan aku sepuasnya! Ini memang salahku!", pria itu bermaksud mengusap lengan Krystal yang terlipat, namun wanita itu segera menepisnya.
"Ya, ya! Salahkan saja anak itu!", di sisi Krystal, Nyonya Harris dan suaminya nampak sedang menahan tawa.
"Mama, Papa!", seru Louis tidak suka karena orang tuanya malahan lebih mendukung Krystal ketimbang putra mereka sendiri.
"Kau harusnya melihat betapa menggemaskannya dia saat sedang menahan cemburunya tadi?!", Nyonya Harris menyenggol siku calon menantunya itu.
"Mama!", Krystal berharap calon mertuanya itu tidak membuka mulutnya.
"Dia kesal sampai menendang pintu! Oh, menggemaskan sekali menantu Mama!", wanita paruh baya itu pun memeluk Krystal dari samping dengan begitu eratnya. Sedangkan yang dipeluk kini sedang menahan wajahnya yang kian memerah.
"Oh, jadi kau yang sudah membuat suara tadi karena saking cemburunya?!", Louis pun jadi ikut menggoda kekasih hatinya itu.
"Diam! Aku masih marah, tahu!", dibentak dengan wajah galak itu pun Louis akhirnya memilih untuk menutup mulutnya kembali. Lelaki itu sangat tahu alasan mengapa kekasihnya masih memasang wajah cemberut kepadanya.
Tadi, begitu mendapat kabar dari Ana dan juga ibunya. Louis segera bergegas dan turun tangan langsung untuk menjemput Krystal. Maksud hati ingin menemuinya secara baik-baik, namun di tengah semua kesalahpahaman yang sudah terlanjur di telan oleh Krystal, Louis yakin jalannya tidak akan semulus itu untuk bisa menemuinya. Maka dari itu ia memilih untuk menculiknya. Kemudian menjelaskan situasi dan keadaan yang ada setelah Krystal sadar. Ia juga meminta orang tuanya segera datang untuk membantunya menjelaskan duduk permasalahan ini kepada kekasihnya itu. Dan kini, kesalahpahaman pun terselesaikan, hanya saja Krystal masih kesal.
***
"Sayang, maaf kami harus meninggalkanmu di sini sendirian!", Nyonya Harris pun pamit pada Krystal yang harus menunggu beberapa saat sebelum ia melakukan bagiannya.
"Tidak apa-apa, Ma!", wanita muda itu tersenyum. Ia mengerti situasi ini. Lagipula ia tidak sendirian, di bagian belakang aula tempat diadakannya acara, ia memang disembunyikan. Namun Louis telah menempatkan dua orang untuk menemani dan menjaganya. Jadi ia merasa cukup aman sekarang.
"Aku menunggumu di sana!", Louis merendahkan tubuhnya untuk berlutut di hadapan Krystal. Kemudian ia mengecup punggung tangan wanita itu.
"Semoga berhasil!", senyuman indah menjadi penyemangatnya saat ini. Mereka pun melepaskan pegangan tangan mereka masing-masing.
Semua orang memiliki tugasnya sendiri-sendiri. Dan karena Krystal sudah hadir di sini, ia pun akan mengambil bagiannya malam ini.
***
__ADS_1
Serangkaian kalimat pembuka sedang dilantunkan oleh seorang pembawa acara. Acara lamaran ini sudah siap sedia dimulai lantaran tamu-tamu penting dari berbagai kalangan sudah hadir memenuhi aula. Tuan dan Nyonya Harris duduk dalam satu meja bersama dengan Tuan dan Nyonya Sanchez. Mereka saling tersenyum bahagia pada satu sama lain. Sayangnya, Tuan dan Nyonya Harris memiliki makna senyumnya tersendiri.
Sepanjang pembawa acara itu terus berbicara, Louis benar-benar tidak dapat fokus lantaran pikirannya terbagi saat ini. Ia mengkhawatirkan kekasihnya yang berada di belakang sana. Sedangkan ia juga memikirkan bagaimana akhir dari peperangannya ini. Matanya bertemu pandang dengan ayahnya. Tuan Harris tersenyum teduh seraya memberi semangat dan keyakinan kepda putranya itu. Semua pasti akan berjalan sesuai rencana.
Ketika tiba saatnya bagi Louis untuk memberikan beberapa patah kata. Jantungnya berdegub kencang. Sambil melangkahkan kaki ke atas panggung, ia terus merapalkan doa agar semuanya berjalan lancar. Beberapa patah kata ia ucapkan sebagai sambutan kepada seluruh hadirin yang telah hadir dalam acara penting ini.
"Sejujurnya aku sudah pernah melamarnya. Hanya saja aku belum pernah melamarnya secara resmi", tawa renyah keluar dari para hadirin mendengar pengakuan jujur Louis.
"Maka dari itu aku gunakan kesempatan ini untuk melakukannya!", sambungnya lagi setelah riuh itu mulai sunyi.
Alleta yang masih berdiri di bawah panggung sebenarnya tidak mengerti maksud dari ucapan Louis. Karena ia merasa belum pernah dilamar oleh kakaknya itu sama sekali. Namun, karena terlalu hanyut dalam suasana gembira, ia pun ikut tertawa. Ia masih berpikir jika Louis mungkin hanya membuat lelucon saja.
Pasangan wanita pun dipanggil naik ke atas panggung. Alleta bersiap-siap dengan penuh percaya diri. Dirinya merapikan gaun hitam yang menjuntai agar tak mengganggu langkahnya. Namun, betapa terkejutnya wanita itu ketika muncul sosok wanita lainnya dari balik tirai panggung. Sosok yang sangat ia ketahui.
"Bagaimana bisa,,, ", suaranya tertahan di tenggorokan dengan campur aduk perasaan marah, kecewa dan benci.
"Kurang ajar! Apa-apaan ini?!", Tuan Sanchez pun murka, ia menggebrak meja itu dengan kencangnya, sehingga istrinya itu harus menenangkan dirinya. Tapi Tuan dan Nyonya Harris tetap berwajah tenang di tempat duduk mereka.
Para tamu yang datang pun menjadi saling bertanya kepada satu sama lainnya. Pun juga dengan para jurnalis yang tak ingin ketinggalan mengambil setiap detail momen berharga dari keluarga ternama ini. Semuanya diabadikan tanpa terlewat satu ekspresi pun dari mereka.
Krystal dan Louis saat ini sudah berdiri di atas panggung dengan serasi. Alleta memperhatikan sapu tangan biru laut yang berada di saku jas pria itu. Ia membekap mulutnya setelah menyadari jika itu dipadu-padankan dengan gaun yang Krystal kenakan malam ini, agar mereka terlihat serasi. Dan sepertinya kakaknya itu sudah mempersiapkan hal ini. Namun Alleta tak dapat menerimanya, ia berjalan dengan gagah sambil mengangkat gaunnya yang berserakan di lantai.
"Baca!", ucap Tuan Harris dengan tenang pada Tuan Sanchez yang baru saja diberikan sebuah map berisikan beberapa halaman kertas.
"Kakak! Mengapa Kakak melakukan ini semua kepadaku?!", teriak Alleta marah sambil berjalan mendekati Louis di atas panggung.
"Kakak sudah berjanji akan menikahiku, kan?!", wanita berambut sebahu itu terus berteriak marah meluapkan seluruh emosinya.
"Aku tidak pernah mengatakan apapun kepadamu! Aku tidak pernah menjanjikan apapun kepadamu, Alleta! Kau yang larut dalam impianmu sendiri! Sudah sejak awal aku katakan, jika wanita yan akan aku nikahi hanyalah Krystal seorang!", Louis menggenggam tangan Krystal dengan erat seraya menjelaskan kepada wanita yang begitu keras kepala itu.
"Tidak, Kak! Aku tidak akan pernah menerima hal ini!", Alleta berteriak histeris. Wajahnya yang frustasi benar-benar menjadi incaran para awak media.
Di meja para orang tua, suasana mencekam namun masih dapat dikendalikan. Saat ini Tuan Sanchez sedang membaca halaman demi halaman berkas itu dengan wajah yang semakin marah.
"Darimana kau mendapatkan ini semua?!", tanyanya seraya menggebrak meja di hadapannya dengan map yang tadi ia baca.
"Kau tidak perlu tahu darimana aku mendapatkannya! Yang harus kau tahu adalah untuk menjaga dan mendidik putrimu dengan baik. Jangan usik keluargaku lagi! Karena jika tidak, aku akan membuka semua kebusukanmu itu ke depan publik. Dan kau pasti tahu konsekuensinya jika hal itu sampai terjadi. Keluargamu akan jatuh sampai ke jurang yang paling dalam, hingga kau tak dapat menemukan cara untuk memanjat ke atas lagi", di bawah meja Nyonya Harris menggenggam tangan suaminya yang sedang memperingati Tuan Sanchez dengan berani.
"Mempertimbangkan karena kita masih bersaudara, maka kami menyerahkan semua keputusannya kepadamu. Bawa putrimu pulang dan kami akan menjaga hal ini. Atau kau lebih memilih membiarkan putrimu tetap berada di sini dan semuanya kami ungkapkan ke hadapan publik?!", Tuan Harris mengedipkan matanya sekali dengan ekspresi yakin.
"Papa!", seru Nyonya Sanchez pelan untuk memperingati suaminya yang sedang ditelan api amarah.
"Sial! Aku akan membuat perhitungan kepada kalian! Lihat saja nanti!", orang itu bangkit, berlalu pergi seraya berteriak marah pada Tuan dan Nyonya Harris.
"Kerja bagus, Pa!", Nyonya Harris memuji suaminya yang sudah bertindak dengan berani. Meskipun begitu ia mengetahui betapa gugupnya Tuan Harris tadi. Maka sekarang ia memberikan segelas air putih kepada suaminya itu agar lebih tenang.
"Bawa Alleta pergi!", perintah Tuan Sanchez kepada orang-orangnya. Dia dan juga istrinya lalu menerobos kumpulan wartawan yang tak henti mengambil gambar setelah dibukakan jalan oleh para pengawalnya.
"Tidak! Aku belum selesai bicara! Aku tidak mau pergi dari sini! Aku tidak mau!", dan putrinya itu pun meronta saat harus dibawa dengan paksa oleh dua pengawal ayahnya. Alleta terus meronta sambil terus menghardik Louis dan juga Krystal.
Memandangi wanita itu, sebenarnya Krystal turut prihatin sebagai wanita. Sayang sekali cintanya tak terbalaskan. Dan bahkan harus melalui semua hal ini. Entah ia akan bertemu lagi dengan cinta atau tidak.
"Selesai!", Louis berucap padanya dengan senyum lega.
__ADS_1