Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 103


__ADS_3

Han menoleh ke arah Ana yang tengah menatapnya tajam, diikuti pula oleh Risa yang menatap Ana heran.


"Habislah riwayatku! Apa salahku kali ini? Harusnya Tuan Sam yang mendapat hukuman, tapi kenapa Nona malah melihat ke arahku dengan tatapan seperti itu?!", gumam Han takut dalam hatinya.


Sam menjulurkan lidahnya ke arah Han saat tatapan mereka sempat bertemu. Ia menyeringai puas karena kali ini ia tak mendapat hukuman apa pun dari kakak iparnya itu setelah sekian lama.


"Rasakan kau!", batin Sam ke arah Han.


Ana berjalan mendekat ke arah Han dan Risa dengan tatapan yang sulit ditebak. Ekspresi nya datar namun pandangannya tak lepas dari kata tajam.


Han melirik kepada Ken untuk bertanya ada apa sebenarnya. Dan salah apa sebenarnya dirinya ini. Namun Ken hanya mengedikkan bahunya, seolah tidak tahu-menahu mengenai apa yang sedang terjadi. Sontak punggung Han menegang, selain Ken masih ada Ana yang juga bisa membuat nyalinya ciut.


"Kakaaakkk!", seru Ana menghambur ke arah Risa. Ia memeluk Risa yang masih terduduk di kursi rodanya dengan begitu erat.


"uhukk,, uhukk!", Risa terbatuk karena hampir kehabisan nafas.


"Apa kau ingin aku kembali tak sadarkan diri, hah!", ucap Risa lemah seraya menepuk-nepuk punggung Ana supaya melepaskan pelukannya.


"Hehe,, maafkan aku, Kak!", Ana melebarkan senyumnya seraya melepaskan luapan rindunya terhadap Risa.


"Kau!", ucap Ana tajam. Ia mengacungkan telunjuknya ke arah Han yang wajahnya sudah menegang.


"Ya, Nona!", jawab Han takut-takut.


"Kenapa kau tidak mengatakan kepadaku kalau kakak sudah sadar? Dan lagi sekarang kau malah akan membawa kakak begitu saja tanpa membiarkan kami saling menyapa setelah sekian lama. Kau sangat keterlaluan, Han!", tegur Ana sambil berkacak pinggang.


"Maafkan saya, Nona! Sekali lagi saya mohon maaf!", Han membungkukkan badannya berkali-kali untuk mendapat pengampunan dari singa betina.


"Itu adalah aku yang menginginkannya, Ana!", selak Risa membela Han karena tidak tega.


"Aku yang meminta Han supaya tidak memberitahumu padahal dia sudah bersikeras untuk mengabari dirimu perihal aku yang baru saja siuman. Tapi saat mendengar ide Tuan Ken yang akan memberimu sebuah kejutan, maka aku juga memiliki ide untuk memberimu kejutan di momen yang sama", jelas Risa mencoba menenangkan Ana.


"Jadi jangan marah lagi, ya!", pinta Risa lagi seraya mengukir senyum manisnya kepada Ana.


"Emmhh", Ana menatap ke arah Ken sejenak dengan wajah yang sepenuhnya tengah berpikir.

__ADS_1


Ken menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ada baiknya memang jika Ana tak membesarkan masalah ini. Terlebih lagi ia sudah tidak tega melihat Han yang tak biasanya sedang menciut nyalinya.


"Baiklah, ini demi dirimu!", sahut Ana acuh yang mengacu pada Risa.


Keputusan Ana hanya mengendurkan sedikit ketegangan suasana makan malam itu. Semuanya masih nampak diam tak mengeluarkan kata sedikit pun. Hingga akhirnya Ana membuang muka sambil melebarkan seringainya.


"Kejutaaann!!", sorak Ana kegirangan.


"Lagipula siapa memangnya yang marah?! Aku hanya membalas kejutan yang kalian berikan kepadaku!", ucap Ana dengan santainya. Ia melenggang bebas bersama Ken di sampingnya mengacuhkan mereka yang tertinggal di belakang. Ana terkekeh sendiri, ia menutup mulutnya yang sedang tersenyum usil sambil berjalan. Dan Ken hanya bisa menggeleng sambil mengukir senyuman.


Han dan Risa menghela nafas bersamaan mendengar penuturan Ana. Sedangkan Sam, ia bergumam kecewa perihal kakak iparnya yang tidak jadi memarahi Han itu. Ia terus menggerutu tidak terima karena selalu hanya dirinya yang mendapat hukuman dari Ana.


"Anaaaa", seru Risa dengan gemasnya.


***


Kini ketiga pasangan itu sudah duduk bersama di sebuah restoran tak jauh dari pantai tadi. Perut mereka sudah berdemo meminta untuk diisi setelah menguras sedikit tenaga untuk membuat kejutan kepada Ana. Ana memilih untuk makan bersama mereka semua ketimbang makan malam romantis di pinggir pantai sana, karena berkumpul bersama orang-orang yang ia sayangi adalah yang lebih penting baginya.


"Ken, jika kita menikah nanti bagaimana dengan Paman Bram? Bukankah yang dia tahu bahwa aku memiliki hubungan dengan Bastian itu. Lalu jika aku tiba-tiba menikah denganmu, apa yang akan dia pikirkan?! Apa lagi dia juga sudah mempunyai obsesi untuk menjadikan dirimu menantunya dulu. Dia ingin sekali mempunyai pengaruh dan kekuasaan yang besar berkat dirimu, Ken?!", tutur Ana saat makan malam mereka mulai berakhir. Ia meletakkan peralatan makannya di meja dengan hati-hati, lalu memandang Ken dengan penuh harap agar diberi jawaban dari setiap ucapannya barusan.


"Cepat atau lambat kita memang harus menghadapinya, sayang!", ucap Ken lembut kepada Ana. Ia menggenggam tangan Ana begitu erat seraya menampilkan senyum manis yang menenangkan.


Ya, memang benar. Lambat laun seiring berjalannya waktu kenyataan ini akan diketahui oleh semua orang. Karena Ken pun tak ingin menyembunyikan pernikahannya nanti dengan Ana. Ia ingin semua orang bahkan seluruh dunia mengetahui tentang pernikahannya. Bahwa Ana adalah istrinya, satu-satunya wanita miliknya.


"Tapi Ken...", pria itu menajamkan matanya sehingga Ana menghentikan kalimat yang ingin ia ucapkan.


Suasana menjadi hening dan canggung. Semuanya enggan untuk memulai suatu obrolan yang akan memutus keheningan nan hampa di atas meja makan yang begitu kontras lantaran ramai dengan berbagai makanan.


"Eherm,, eherm,,", Sam berdehem untuk memulai sebuah kalimat.


"Ah iya, kakak ipar! Bagaimana keadaan paman Danu sekarang?", tanya Sam memecah kesunyian itu.


"Emmhh,, ayah semakin membaik!", jawab Ana begitu enggan. Dan obrolan kembali terputus.


Han dan Risa saling melempar pandangan. Ditatapnya Han penuh arti oleh Risa. Begitu pula Han yang mengutarakan pertanyaan dari sorot matanya.

__ADS_1


"*Apa yang harus lakukan?!", tanya Han dalam hatinya.


"Katakan apa saja yang dapat memperbaiki suasana ini!", Risa menjawab pertanyaan Han lewat matanya yang melirik ke arah Ken maupun Ana*.


Sam dan Sarah pun saling melempar pandangannya. Tapi bukannya sepakat untuk menyelesaikan masalah, mereka malah saling bertatapan dengan sengitnya. Lalu membuang muka ke arah yang berlawanan. Tapi Sam, ia lalu menguarkan senyumnya karena puas melihat wajah Sarah yang begitu menggemaskan menurutnya.


"Ana, percaya kepadaku! Oke!", ucap Ken begitu lembut. Ia menggenggam erat jemari Ana dengan sedikit kekuatan, namun tetap terasa lembut di sana. Ken memberi penekanan pada kalimatnya dengan senyuman lembut yang menenangkan. Ia ingin Ana percaya akan langkah-langkah yang ia ambil selanjutnya. Dan berharap tetap fokus pada rencana pernikahan mereka.


"Benar, Ana! Lebih baik sekarang kau fokus pada acara pernikahan kalian saja!", seru Sarah yang seolah isi pikiran Ken saat ini. Ia sudah memperhatikan situasi ini sejak tadi, hanya saja belum saatnya bagi dirinya untuk mengeluarkan suara. Tapi saat sahabatnya itu kembali meragukan sesuatu, membuat Sarah menjadi ingin sekali membuka mulutnya untuk meyakinkan sahabatnya itu.


"Aku rasa, kali ini aku setuju denganmu!", tambah Sam sambil memandang Sarah acuh.


"Benar kakak ipar! Jangan khawatir, kami semua akan selalu mendukung kalian!", tambahnya lagi.


"Jangan terus memandangiku! Nanti jika kau sudah terpesona, maka akan susah untuk menghilangkannya!", ucap Sam yang tiba-tiba menoleh ke arah Sarah.


Wajah Sarah langsung merona sejadi-jadinya. Ia meneruskan kegiatan makannya sambil menunduk malu. Sarah berusaha keras menutupi wajah merahnya yang sudah terasa menghangat.


"Dasar sial!", umpatnya pelan. Namun sayangnya hal itu terdengar oleh semua orang yang duduk bersamanya. Dan akhirnya ia menjadi bahan tertawaan mereka semua. Tapi Sam, ia sejenak melembutkan pandangannya ke arah Sarah.


***


"Katakan!", perintah Ken dengan nada dingin. Mereka sudah mengantar para wanita pulang. Sedangkan pria-pria itu tengah duduk berhadapan di kediaman Ken saat ini.


"Menurut informasi dari Yohan, Nona Krystal telah menjalin hubungan dengan Tuan Louis. Ia tak lagi mengejar anda, Tuan. Tapi hubungannya ini belum diketahui oleh ayahnya. Dan Tuan Bram sendiri masih berkutat dengan pikirannya tentang bagaimana mengambil Bastian untuk berada di sisinya, bahkan ia memerintahkan Krystal untuk mendekati Bastian", tutur Han.


"Setiap ada yang menguntungkan langsung saja ia terkam!", ucap Sam geram.


"Lanjutkan!", perintah Ken lagi tak ingin menanggapi apa pun. Ia ingin menyimak penjelasan Han secara keseluruhan.


"Yohan mengatakan bahwa ada orang lain yang membantu Tuan Bram sehingga bisa menguasai sebagian besar saham Winata Group", tambah Han lagi.


"Siapa?", tanya Ken singkat.


"Yohan juga belum mengetahuinya sampai sekarang. Tapi dia berpesan untuk berhati-hati, karena sepertinya dia merupakan orang yang sangat kuat", jawab Han.

__ADS_1


"Orang yang kuat?!", ucap Ken penuh penekanan. Matanya menajam, wajahnya berubah semakin dingin.


__ADS_2