
"Apa paman yang memasak ini untukku?", tanya Ana sambil menikmati nasi gorengnya.
"Kau tidak tuli, bukan! Bi Rani sudah mengatakannya padamu tadi", ucap Tuna Reymond tanpa melihat ke arah Ana. Ia melanjutkan kegiatan membaca korannya.
"Ya, ya, baiklah! Tapi masakan paman lumayan enak juga", ucap Ana sambil mengunyah makanannya.
"Lumayan? Hey kedua putriku sangat menyukai nasi goreng buatanku, tau", Tuan Reymond melipat korannya lagi. Ia sedikit kesal karena hasil karyanya hanya mendapat nilai lumayan.
"Ya, ya, ya! Baiklah nasi goreng paman, sangat enak. Sudah puas!", ucap Ana dengan senyum jengkel.
"Sudahlah, lekas habiskan sarapanmu! Lima belas menit lagi kita akan berangkat", Tuan Reymond bangkit dan berjalan ke arah depan.
"Cehh! Dia bilang Ken cerewet?! Lalu apa bedanya dengan dirinya sendiri?! Bukankah kalian para lelaki kelihatan lebih cerewet daripada kami!", gerutu Ana. Jika bukan ayahnya maka ada Ken, dan kali ini ada Paman Reymond yang juga tidak kalah cerewet dibandingkan ayahnya dan juga kekasihnya itu. Padahal dirinya yang seorang wanita bahkan tidak se-cerewet itu. Ana menggelengkan kepalanya sambil mengakhiri suapan terakhirnya.
***
Seseorang tengah sibuk memilih beberapa setelan jas di walkin closetnya. Beberapa jas melayang ke udara dan jatuh entah kemana. Dan sesekali jatuh pada wajah asisten pribadinya, Han.
"Han, apakah semua jas ku berwarna hitam?", teriaknya di depan lemari besar tempat deretan jasnya digantung rapi.
"Maaf Tuan! Tapi itukan Tuan sendiri yang memilihnya. Dulu Tuan tidak suka memakai jas warna lain selain hitam, abu-abu bahkan sangat jarang", jelas Han sambil memungut beberapa jas yang berserakan di lantai.
"Jadi kau menyalahkan diriku, hah!", Ken sudah berkacak pinggang di hadapan Han dengan hanya menggunakan celana boxernya.
"Astaga, Tuan! Saya masih normal!", melihat tampilan bosnya yang sedikit terbuka Han menutupi wajahnya dengan tumpukan jas yang berada di lengannya.
"Kau pikir aku apa, hah! Dasar kurang ajar!", ucap Ken gemas. Kepalan tangannya sudah melayang di udara seakan dirinya akan memukul asistennya itu.
"Sam!", nama itu terlintas dalam benaknya.
__ADS_1
"Segera hubungi, Sam! Perintahkan dia ke sini membawa beberapa set jas yang biasa ia pakai. Beri waktu lima belas menit untuk sampai. Jika dia terlambat, katakan padanya untuk segera membereskan barang-barangnya dan pergi dinas di negara A", perintah Ken dengan nada tenang. Namun dalam ucapannya merupakan sebuah perintah yang tak terelakan. Dan diakhiri dengan ancaman yang paling Sam takutkan. Jadi tentu saja Ken selalu bisa memaksa adiknya itu untuk melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya.
"Baik, Tuan!", Han segera menghubungi Sam. Sesaat ia menjauhkan ponselnya dari telinga karena sepertinya ia mendapat umpatan yang memekik di telinganya.
Lima belas menit berlalu, Ken sudah memberi isyarat pada Han untuk menelpon Sam supaya bisa mengetahui dimana keberadaannya sekarang. Han sudah melakukan panggilan.
"Tuan, ini sudah lima belas menit. Dimana posisi anda saat ini?", tanya Han tegas.
"Di sini!", Sam telah masuk ke kamar Ken dengan beberapa set jas berwarna. Ia menekuk wajahnya hingga beberapa lipatan.
Sam membanting barang-barangnya yang ia bawa ke atas ranjang dengan kasar. Begitu pula dengan dirinya, ia menjatuhkan dirinya di samping jas-jas yang ia bawa.
"Haahh!", Sam mendesah keras penuh kelegaan. Ia melepas lelahnya saat ini.
"Kau tau kak, aku mempertaruhkan nyawaku untuk sampai di sini. Kau tau kenapa? Karena aku mengendarai mobilku tanpa menggunakan rem!", ucap Sam mengeluh pada kakaknya. Ya, karena setelah menerima panggilan Han, ia langsung terperanjat dan bergegas menyambar asal setelan jas yang terlihat di matanya. Ia harus menuruti perintah kakaknya demi supaya ia tidak dikirim ke negara A, tempat yang paling tidak ingin ia singgahi.
"Lalu?", tanya Ken santai sambil memilih setelan mana yang akan ia kenakan.
"Adikmu ini hampir mati kak, dan kau hanya bertanya LALU!", ucap Sam sambil melempar tatapan sengit ke arah Ken.
"Ya memangnya aku harus bertanya apa lagi!", timpal Ken tanpa melihat ke arah Sam. Ia masih menimbang-nimbang jas mana yang akan ia pakai.
"Heh, kau tahu! Kau itu sungguh kakak yang kejam!", ucap Sam kesal seraya merebahkan diri lagi ke ranjang.
"Ya, dan kau adalah adik yang bodoh!", senyum Ken sudah terkembang setelah ia menemukan setelan yang paling cocok dengan gaya rambutnya nanti. Sebuah kemeja bermotif dipasangkan dengan jas berwarna maroon yang senada dengan celananya.
***
Kantor Winata Group, sebuah jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Beberapa karyawan sudah terlihat memulai aktifitasnya. Hari ini akan diadakan rapat bersama direksi yang akan membahas tentang pengesahan Tuan Bram sebagai Presiden Direktur selanjutnya. Rapat akan dimulai pukul sepuluh nanti. Tapi Tuan Bram yang merasa sebagai tuan rumah sudah datang sejak pukul delapan tadi.
__ADS_1
Ruang rapat telah ia sulap hingga sedemikian rupa hingga menjadi begitu meriah. Hiasan-hiasan di dinding dan langit-langit sudah terpasang di penjuru ruangan. Ruang rapat itu telah ia ubah layaknya ruang untuk ulang tahun seseorang, saking hebohnya. Ia menyeringai lebar setelah merasa puas mengecek tempat dimana ia akan disahkan menjadi pemegang perusahaan ini kembali.
"Apa yang seharusnya milikku, maka harus menjadi milikku!", ucap Tuan Bram seraya melangkah keluar ruangan.
***
Seorang berpakaian serba hitam turun dari sepeda motor. Wajahnya tak terlihat karena ia menggunakan masker hitam untuk menutupi wajahnya. Ia berhenti tepat di depan rumah Krystal. Orang itu mengeluarkan sebuah amplop dari dalam jaketnya. Ia berjalan ke arah pos keamanan rumah besar itu.
"Selamat pagi! Maaf pak, bisakah anda memberikan ini kepada Nona Krystal. Katakan pada Nona anda untuk membukanya segera", ucapnya sopan seraya menyerahkan sebuah amplop coklat. Suara itu seperti suara laki-laki.
"Ya baiklah!", ucap petugas keamanan sambil menatap pria misterius itu penuh selidik.
Pria itu pun pergi begitu saja tanpa menoleh lagi ke belakang. Petugas keamanan itu tak melepas pandangannya sampai pria misterius itu menaiki motornya dan pergi menjauh.
Bergegas ia mengarahkan langkahnya ke arah pintu rumah kediaman itu. Ia memasuki rumah dengan tergesa-gesa. Sempat rasa penasaran membakarnya hingga naluri untuk membuka amplop itu begitu besar. Akibat ia khawatir jika saja benda yang ia pegang merupakan benda yang berbahaya. Namun dengan cepat ia menguasai dirinya. Setelah ia meraba isi amplop itu yang merupakan beberapa lembar kertas, lebih seperti kertas foto. Maka ia urungkan niatannya untuk membuka amplop kiriman itu.
"Permisi, Nona!", ucapnya kepada Krystal yang tengah menyantap sarapannya.
"Emmh, ada apa?", tanya Krystal singkat.
"Ada seseorang misterius mengantarkan amplop ini untuk Nona. Dia mengatakan bahwa Nona harus segera membukanya", ucap petugas keamanan itu dengan hati-hati.
"Baiklah, letakkan di situ dan kau bisa pergi!", perintah Krystal.
"Baik, Nona!" Petugas keamanan itu menaruh amplop itu di samping lengan Krystal dan ia pun beranjak meninggalkan tempat.
Krystal masih menikmati sarapannya dan acuh pada amplop coklat yang diberikan orangnya tadi. Tapi entah datang perasaan apa, tiba-tiba matanya terarahkan dengan sendirinya ke arah amplop di sebelah lengannya itu.
Tangannya terulur dan mengambil amplop itu. Ia membolak-baliknya di udara dengan tatapan menyelidik. Kemudian rasa penasaran telah menjalar ke dalam benaknya. Perlahan ia membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Isi dari amplop itu yang merupakan beberapa lembar foto. Bukan foto dirinya tentu.
__ADS_1
Matanya terbuka lebar selagi tangannya bergerak melihat satu per satu foto di tangannya. Lama kelamaan wajahnya berubah merah padam dengan kobaran amarah di dalam matanya.