Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 96


__ADS_3

"Aku pergi!", hentakkan kaki Ben menggema di seluruh ruangan saat ia bangkit dari posisi duduknya.


"Tapi kau baru saja sampai, kakak!", kali ini Ken membiarkan Ana lepas dari pangkuannya.


"Aku ke sini untuk bertemu denganmu, bukan dengannya!", Ben melirik Ken tajam.


"Tapi sudah terlalu lama kita tidak bertemu, kak! Apakah kau tidak ingin sedikit mengobrol denganku?!", Ana akan menghampiri Ben namun ia hanya berjalan di tempat karena Ken menahan sweater yang ia kenakan.


"Aku ingin sekali, Ana!", ucap Ben dalam hati.


"Hah, sudahlah!", Ben mengibaskan tangannya ke udara. Ia tak ingin mendengar satu kata lagi dari Ana. Kedatangannya ke tempat ini memang karena ia ingin melihat Ana, ia ingin sekali berbincang dengannya. Rasa rindu yang terlalu besar sudah membuncah dalam hatinya. Tapi, Ben tidak ingin berlama-lama merasakan hatinya yang panas juga emosinya yang membara menyaksikan langsung kemesraan yang tak ingin dilihatnya.


Ben mendekat ke arah Ana, alarm kewaspadaan pada diri Ken pun menyala. Ia bangkit dan menjadi tameng, berdiri di antara Ana dan Ben. Mereka bersitatap dengan tajam lagi.


"Jaga dia baik-baik! Jika kau tak bisa menjaganya maka aku akan mengambilnya darimu!", bisik Ben penuh peringatan.


Ana, adik kecil yang selalu ia jaga dan ia sayangi, kini telah memilih lelakinya. Sebagai seorang pria ia memang memiliki perasaan lebih dari sekedar sayang saja dan tak bisa melepaskan Ana begitu saja, tapi sebagai kakaknya ia harus merelakan apa pun keputusan yang adiknya buat itu. Dengan siapa Ana nantinya, biar ia yang memutuskan sendiri. Dan tugas Ben adalah mengawasinya dari kejauhan.


"Apakah kau tak ingin sekedar menemui ayah?", tanya Ana hati-hati.


"Secepatnya. Memang ada hal yang perlu aku sampaikan pada ayahmu. Jaga dirimu baik-baik!", Ben mengacak-acak rambut Ana sambil tersenyum gemas.


"Cekk!", Ken berdecak tak senang. Namun ia tak bisa menghalau tangan Ben yang telah sampai terlebih dahulu di atas kepala Ana. Dan lagi ia merasa sedikit tenang lantaran Ana memang tak memiliki perasaan sedikit pun pada Ben yang ia akui sebagai kakaknya.


"Ahh!", Ben ingat sesuatu. Ia kembali berbisik di telinga Ken. Entah apa yang ia katakan, tapi hal itu sukses membuat Ken menggeram sambil menyipitkan matanya tajam. Ben menepuk sebelah bahu Ken seraya mengakhiri ucapannya yang benar-benar tak terdengar. Ia melangkah pergi dari ruangan itu, sambil menyisir rambut klimisnya yang sebenarnya sudah tertata rapi.


"Ken, apa yang kakak katakan?", Ana menggoyang-goyangkan lengan Ken yang setelah Ben menghilang tak mengucapkan sepatah kata pun.


"Tidak penting!", ucap Ken datar seraya menatap tajam lurus ke depan.


"Yang paling penting adalah bagaimana caranya aku menikahimu secepatnya", Ken menarik tangan Ana supaya mereka duduk di sofa panjang. Ia telah melembutkan wajah dan tatapannya kepada Ana, berusaha mengalihkan perhatian Ana pada apa tang Ben katakan barusan.

__ADS_1


"Astaga! Maaf aku lupa sayang?!", Ana menggaruk kecil pelipisnya dengan jari telunjuk sambil tersenyum canggung.


"LU..PA?", rahang Ken mengeras. Ia sudah menampakkan wajah kesalnya.


"Sabar dulu sayang! Aku hanya terlalu gembira karena ayah sudah siuman", Ana bergelayut pada lengan Ken sambil mengelus-elus manja di sana.


Ken menampik tangan Ana dan berbalik membelakanginya. Ia kesal karena Ana malah melupakan rencana penting yang sudah mereka sepakati. Sebuah perencanaan masa depan yang telah ia dambakan sejak pertama kali memutuskan telah jatuh cinta pada wanita ini. Wanita yang menurut Ken hanya dia yang pantas untuk berada di sisinya. Tapi kali ini bagaimana dirinya tidak kesal, saat rencana sudah di depan mata tapi Ana malah melupakannya.


Ana mengerti dirinya memang bersalah kali ini. Ia sangat tau betapa Ken ingin sekali mempercepat pernikahan mereka. Tapi karena tiba-tiba ayahnya sadar dari pembaringannya, belum lagi ia yang juga harus segera belajar menguasai segala sesuatu tentang pekerjaan ayahnya, membuatnya sedikit melupakan tentang rencana pernikahan mereka. Ana sempat memasang wajah sedihnya, namun bukan itu yang harus ia lakukan sekarang. Ia sangat tau bagaimana harus membujuk raja singanya ini.


Ana melangkah, memposisikan dirinya berada di hadapan Ken. Ia mengulas seringainya sejenak sebelum akhirnya memilih untuk mendekap tubuhku kekar prianya itu. Ana menggerak-gerakkan kepalanya di sana sambil menikmati aroma maskulin yang keluar dari tubuh Ken. Kemudian ia mendongakkan kepalanya menatap Ken sambil memasang wajah semanis mungkin.


"Sayaang!", panggil Ana dengan nada yang teramat manja.


Ken masih kesal, saat mendapati Ana mendekapnya ia memalingkan wajahnya ke arah lain agar tak melihat ke arah Ana dengan wajah kesalnya. Tapi saat Ana mulai menggerakkan kepalanya, apalagi dari sudut matanya, ia dapat melihat kekasihnya itu sedang membujuknya dengan senyuman termanis yang sangat ia sukai. Kekesalan itu perlahan memudar. Ken mengulum bibirnya menahan diri untuk tidak tersenyum.


"Kau memang paling bisa meluluhkan diriku", batin Ken.


"Aku belum menyerah! Kau pasti akan mengaku kalah denganku, sayang!", batin Ana gigih.


"Aku mencintaimu, Ken!", mata Ken membulat lebar ketika menyadari kulit di sekitar lehernya diterpa hangatnya nafas Ana dan dibarengi dengan seruan kalimat yang begitu indah untuknya.


Pria cerdik ini selalu memiliki cara. Secepat kilat ia memalingkan wajahnya ke arah Ana dan mendaratkan bibirnya di sana, di pinggiran bibir Ana yang masih terasa manis. Namun Ken masih memasang wajah datarnya seolah-olah dia belum selesai dengan perasaan kesalnya, padahal dalam hatinya ia sangat gembira karena selalu berhasil membuat kekasihnya merona.


Wajah Ana yang tak bisa dikondisikan lagi pun sudah menyemburatkan rona merah di sekitar pipinya. Ia mengendurkan pegangannya pada bahu Ken dan mulai merosot kembali pada posisi berdirinya.


Lagi-lagi dengan cepat Ken mempertahankan tubuh Ana dengan mendekapnya erat. Posisi wajahnya yang sangat dekat bisa melihat langsung betapa masih gugup Ana saat mereka sedang berada di posisi sedekat ini. Ken mengulas senyumnya.


Sama halnya dengan Ana, ia dapat melihat dengan jelas betapa tampan kekasihnya ini dan ia juga dapat merasakan betapa ia sangat mencintainya. Tanpa izin, bibirnya telah mendarat pada bibir Ken yang nampak seksi itu. Ana membulatkan matanya namun segera mereka tersenyum bersamaan. Ken teramat senang hingga ia membalas ucapan Ana tadi di telinganya.


"Aku juga sangat mencintaimu, Ana!", bisik Ken di sana dengan lembutnya tanpa memberi jarak pada bibir mereka.

__ADS_1


Kedua insan itu tersenyum bersamaan dengan bibir mereka yang mulai bergerak konstan memagut perasaan cinta di antaranya. Sepasang manusia yang terhanyut oleh situasi yang mendukung mereka untuk melakukan gerakan-gerakan memabukkan di sekitar bibirnya.


Ana kehabisan nafasnya, ia mengigit kecil bibir Ken untuk menghentikan aktifitas mereka.


"Oksigen! Aku butuh oksigen!", dadanya bergerak naik turun dengan cepat seakan udara di dalam paru-parunya hampir saja habis. Ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya berharap makin banyak oksigen yang berkumpul untuknya.


Ken tersenyum melihat tingkah wanitanya ini. Ia meraih tangan Ana yang masih bergerak dan melingkarkan tangan itu ke tubuhnya, sambil kembali membawa Ana masuk ke dalam pelukannya. Ia mengusap lembut kepala Ana.


"Memang hanya kau yang mampu meluluhkan kemarahanku!", Ken menempelkan bibirnya pada pucuk kepala Ana.


"Tentu saja itu harus! Harus hanya aku!", batin Ana kesenangan.


"Maaf, Ken! Bukan maksudku melupakan rencana kita untuk menikah. Hanya saja setelah ayah siuman dan beberapa hal yang harus aku pelajari membuat pikiranku tersita. Tolong jangan salah paham, oke!", Ana memainkan telunjuknya pada dada Ken memberi penjelasan dengan hati-hati agar Ken tak marah lagi.


"Iya aku mengerti!", ucap Ken. Kemudian tangannya bergerak mengangkat dagu wanitanya mengarahkan wajah mereka untuk saling menatap.


"Ana, aku sudah meminta restu pada ayahmu. Aku ingin kita menikah secepatnya, entah besok atau pun lusa. Menurutmu bagaimana?", tanya Ken meminta pendapat Ana dengan santainya. Ia tak berpikir hari itu hanya tinggal beberapa jam lagi.


"Ken!", seru Ana yang sudah membulatkan matanya lantaran terkejut dengan penuturan prianya yang sangat mendadak ini. Seperti bom waktu, rencananya seperti bom waktu yang dapat meledak kapanpun ia mau.


"Bahkan ibumu belum menyetujuiku!", Ana teringat tentang Nyonya Rima yang belum bisa menerima keberadaan dirinya sebagai pendamping putranya.


"Bagaimana jika kita ke rumah besar besok?! Han akan mengatur jadwalku supaya kita bisa makan malam di sana", ide yang terdengar bagus keluar dari mulut pria cerdik nan tampan itu.


"Tapi Ken...", Ana ingin menyanggah namun ia urungkan. Ia tak berani menentang keputusan Ken yang sudah bulat. Ia takut nantinya Ken malah akan meragukan cintanya. Tapi masalahnya bukan itu, bagi Ana restu orang tua adalah hal terpenting untuk menjalani sebuah pernikahan. Akhirnya ia hanya menundukkan wajahnya sambil memainkan jarinya pada kancing jas milik Ken.


Ken paham, ia mengerti apa yang Ana pikirkan saat ini. Ia menaikkan dagu Ana dengan satu tangannya. Ia kembali menghadapkan wajahnya dengan wajah Ana.


"Aku pernah jatuh cinta sekali dan itu adalah kau, Ana. Bahkan kurasa hatiku sudah mati untuk wanita lainnya. Kau yang pertama, maka kau pula yang terakhir. Jadi wanita yang akan aku nikahi adalah hanya dirimu. Tak ada wanita yang lebih pantas untuk mendapatkan cintaku dan untuk mendampingiku selain kau, Ana. Jika bukan kau, maka aku tak akan pernah menikah dengan wanita manapun. Meskipun bunda atau siapa pun memaksaku, tak akan pernah bisa", Ken berucap sangat lembut namun tetap terasa penekanan pada setiap kalimat yang membuat Ana tersentuh.


Ana merasakan hatinya kembali bersemangat untuk menambah cinta yang begitu dalam untuk pria hebat di hadapannya ini. Ia menatap dalam kedua bola mata indah untuk menggali sebanyak mungkin keyakinan yang bisa ia gunakan untuk meyakinkan dirinya sendiri. Ana mengangguk pelan seraya tersenyum, ia telah mendapati sebuah keyakinan yang begitu besar dari mata Ken. Dan pria itu kembali memeluk Ana.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu lusa kita makan malam di rumah besar untuk meminta restu dari bunda dan ayah".


"Tapi tadi kau bilang, kita akan menikah besok atau lusa?!", tanya Ana heran. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat ekspresi Ken saat ini.


__ADS_2