Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 241


__ADS_3

"Ken, ada apa denganmu sebenarnya? Aku merasa ekspresimu ini terlalu berlebihan untuk rasa bersalah pada luka sekecil ini!", Ana tak menyembunyikan perasaannya. Ia menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya saat ini.


"Ana,,,!", Ken menatap Ana sebentar lalu melanjutkan lagi membereskan kotak obat di tangannya. Setelah mengesampingkan kotak itu, barulah ia menatap istrinya itu lekat-lekat.


"Maafkan aku, Ana!", tangan lelaki itu menyentuh lembut pipi wanitanya yang masih terasa lembab.


Matanya mengunci pandangan mata Ana. Sungguh tak kuasa ia menahan rasa bersalah akibat niatannya yang tidak buruk juga sebenarnya. Beribu kasih sayang Ken sampaikan lewat tatapan matanya yang mendalam kepada Ana. Ia mengingat alasan perubahan sikap istrinya itu tadi.


"Ada apa, Ken?! Bicaralah!", pinta Ana. Ia mengambil telapak tangan suaminya yang lebar itu untuk ia arahkan ke mulutnya. Ia kecup dengan perlahan permukaan kulit yang hangat milik Ken itu. Ana berusaha mengusir kekhawatiran yang juga terlihat jelas pada tatapan mata suaminya. Ada apa sebenarnya? Ana sungguh bertanya-tanya.


"Bisakah kau memberitahuku hal apa yang tadi membuatmu menjadi diam?", Ken tersenyum menerima penyambutan Ana padanya. Namun ia jadi mengernyitkan alisnya ketika wanita itu memilih melepaskan pegangan tangannya kemudian memalingkan wajah.


"Sayang?!", tatapan pria itu memohon penuh harap agar Ana mau mengatakan yang sesungguhnya kepada dirinya. Meskipun sebenarnya ia sudah tau apa alasannya, tapi ia ingin mendengar lanngsung dari mulut istrinya itu. Ken mengambil dagu Ana untuk ia arahkan ke wajahnya.


"Sayang?!", tatapan penuh harap yang merayunya itu berhasil membuat Ana mau mengarahkan bola matanya pada mata suaminya.


"Ken,,,!", Ana berusaha mengeluarkan suaranya yang sebelumnya malu-malu untuk ia kumandangkan di hadapan suaminya itu.


Awalnya ia ingin menyimpan masalah ini sendiri saja. Sebelumnya Ana berpikir untuk mencari solusi sendiri saja untuk hal yang tengah mengganggu pikirannya ini. Atau mungkin, ketika ia sudah tidak tahan untuk menyimpan segala sesuatunya sendiri, maka lain waktu saja ia baru akan mengatakan isi pikirannya yang menyebalkan ini kepada Ken.

__ADS_1


Memang benar,,, jika ada pikiran normal Ana yang berbisik untuk menghiraukan omongan Krystal dan Sarah tadi. Tapi,,, karena saat ini dirinya sedang mengandung, maka hatinya lebih sensitif lagi untuk menanggapi ucapan-ucapan mereka yang sebenarnya tidak serius itu. Ana jadi membenarkan hal itu di dalam pikirannya saat ini.


Besarnya cinta yang Ana miliki untuk suaminya ini menjadi kewajaran baginya untuk merasa waspada dengan masalah yang mungkin akan terjadi nanti.


"Bisakah kau berjanji apapun perubahan yang terjadi padaku nanti maka kau tidak akan pernah meninggalkan aku ataupun memiliki wanita lain selain diriku?!", bibir Ana gemetar saat menyampaikan isi hatinya yang mengganggu ini. Ia menatap Ken dengan banyak harapan bahwa pria itu akan menjawab dengan hal yang memuaskan hatinya.


Campur aduk perasaan Ken saat ini. Geli sendiri menghadapi singa betinanya yang biasanya percaya diri namun tiba-tiba menjadi merasa rendah bergini. Tapi juga kesal dengan pemikiran gila istrinya itu. Mana mungkin ia memiliki pemikiran seperti itu. Setitik pun tidak. Dalam hidupnya, ia hanya akan mencintai Ana. Hanya Ana satu-satunya wanita yang akan mengisi seluruh hatinya sampai penuh dan tidak menyisahkan ruang kosong sedikitpun untuk orang lain.


"Apa maksud ucapanmu, Sayang?", Ken hanya perlu mengikuti permainan ini saja. Karena seharusnya Ken belum mengetahui apa-apa. Ia kembali mengusap lembut pipi istrinya itu. Ia masih menantikan apa yang akan istrinya itu ucapkan lagi.


"Mungkin,,, mungkin setelah kehamilanku bertambah besar nanti, aku akan menjadi gemuk dan jelek. Mungkin pada saat itu aku akan terlihat tidak menarik lagi bagimu, Ken. Lalu apakah pada saat aku tidak indah lagi di matamu seperti itu, kau akan memalingkan wajahmu dariku?", Ana benar-benar serius wajahnya. Tatapannya pun tak berubah sejak tadi. Masih penuh harapan bahwa jawaban yang akan Ken berikan tidak akan menyakiti hatinya.


"Emmhh,,,, bagaimana ya,,,?", tiba-tiba Ken berdiri. Salah satu tangannya ia gunakan untuk mengusap dagunya sambil menatap ke arah lain an terlihat sedang berpikir keras.


Ana menahan nafasnya. TIndakan tiba-tiba Ken dan juga sikapnya yang sekarang ini membuat matanya basah. Air mata sudah menggenang di pelupuk. Bibirnya sudah gemetar menahan tangis yang sudah siap untuk meledak saat ini.


Ken mencuri pandang ke arah wajah istrinya itiu. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Ana saat ini. Tapi sungguh bukan ini yang Ken harapkan. Tadi ia sudah melukai istriya itu, lalu sekarang ia hampir saja melukai hatinya.


"Hey, kenapa kau menangis?!", pria itu kembali bersimpuh. Kedua tangannya membelai penuh kelembutan pada pipi Ana.

__ADS_1


"Habisnya kau,,, kau,,, kau malahan,,,", sebelum tangis Ana pecah, Ken sudah terlebh dahulu melabuhkan bibirnya pada kedua mata Ana yang sudah basah itu.


"Ssssstttthh!", ia berdesis memperingati istrinya itu untuk tidak menangis sambil menggeleng pelan. Ia sempatkan juga untuk memberikan senyumannya yang menenangkan.


Pelan-pelan Ana menetralisir perasaannya juga nafasnya yang kini menjadi terengah akibat tangisannya yang tidak jadi. Ia menghirup nafas melalui hidungnya lalu ia keluarkan lewat mulut agar perasannya jauh lebih tenang saat ini.


"Keana Winata, ia adalah seorang wanita yang akan mengisi hidup Keanu Wiratmadja untuk saat ini dan selamanya. Kau adalah wanitaku yang pertama dan terakhir, Ana. Bukankah aku sudah pernah mengungapkan hal ini kepadamu?! Lalu sekarang kenapa kau malahan meragukan aku? Ditambah lagi dalam beberapa bulan ke depan, kau akan memberikan aku hadiah terindah di dalam hidupku, Sayang. Jadi alasan apa yang masih bisa aku gunakan untukku meninggalkan dirimu, Istriku?!", Ken mencubit kedua pipi istrinya itu dengan gemasnya sampai wajah Ana terbawa ke kanan dan ke kiri.


"Tapi,,,", Ana tak diberi kesempatan untuk berbicara sama sekali.


"Apa? Kau takut karena kau makan banyak begini kau akan jadi gemuk?! Itu juga belum tentu, Sayangku!", Ken kembali mencubit salah satu pipi Ana yang sudah merah itu.


"Wanita saat sedang mengandung akan bertambah cantik karena aura keibuannya mulai keluar. Begitu juga dengan dirimu, Sayang. Kau pasti akan berambah cantik. Seperti sekarang ini, di awal kehamilan saja kau sudah tambah cantik. Apalagi jika kau sudah hamil besar, entah bagaimana aku akan melukiskan kecantikanmu nanti".


"Dan lagi, asupan nutrisi yang masuk itu untukmu dan juga anak kita, Ana. Walaupun nanti berat badanmu akan meningkat secara drastis, tapi setelah melahirkan juga akan kembali normal lagi! Kalau tidak kembali lagi juga tidak apa-apa, kan! Istriku pasti akan semakin menggemaskan jika tubuhnya sebesar ini!", Ken tertawa geli membayangkan tubuh Ana melebihi berat badan dirinya. Bahkan ia juga sampai menggambarkan tubuh lebar Ana nanti dengan kedua tangannya yang ia buka sampai melewati lebar tubuhnya sendiri.


"Keeennn!", Ana berseru seraya memberi cubitan pada pinggang suaminya itu.


Sambil tertawa, Ken juga mengaduh kesakitan karena Ana terus saja mencubit pinggangnya dengan kencang. Tapi matanya menatap teduh pada istrinya yang kini sudah bisa tertawa lepas itu. Sudah tidak ada kesedihan lagi di mata istrinya itu.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup apa yang Ana berikan padanya. Maka kini giliran dirinya yang akan memberikan sesuatu pada istri tercintanya itu. Ken menangkap kedua pergelangan tangan Ana dengan wajah serius. Wanita itu awalnya sedang asyik memberikan suaminya itu hukuman. Tiba-tiba terperangah dan harus menatap balik mata suaminya itu yang memancarkan tatapan panas menggelora.


__ADS_2