
"Han,, sejak kapan kau mempunyai keberanian untuk menguji kesabaranku?!", Ken memiringkan kepalanya dengan tatapan tidak sabar.
"Han!", seru Ken lagi saat pria itu masih saja dengan kediamannya. Ekspresi tenang yang Han tampilkan membuat Ken makin tidak sabar.
"Tuan sudah yakin akan mendengarkan jawaban dari saya?", Han tersenyum dan membuat Ken semakin malas. Presdir Ken yang terhormat itu memutar bola matanya ke atas seraya menghela nafas dengan keras.
"Ya, tentu saja aku yakin!", Ken memajukan tubuhnya dengan ekspresi yang sangat amat serius.
"Tapi saya tidak yakin jika Tuan masih akan bersemangat seperti ini setelah mendengarkan jawaban saya nanti", lagi-lagi pria itu tersenyum. Dan lagi-lagi Ken menghembuskan nafasnya dengan keras.
"Han!", Ken makin memajukan wajahnya. Rasa tidak sabar ini sudah hampir mencapai batas. Sikap Han yang bertele-tele ini sungguh menguji kesabaran pria itu. Asistennya yang biasanya menurut, sekarang seperti memiliki kekuatan untuk melawan auranya yang menekan.
"Baiklah, Tuan! Saya tidak akan menguji kesabaran Tuan lagi", lalu tersenyum dengan begitu lebar.
Ken hampir tersedak saat sedang menghilangkan dahaganya dengan segelas air putih di mejanya. Han ini sudah benar-benar keterlaluan.
"Saya mendapatkan buku nikah Tuan tentu dari kantor catatan sipil", Han menjelaskan.
"Tidak, bukan seperti itu. Bukankah Bunda memerintahkan dirimu untuk mengambilnya dari rumahku?!", Ken ingat apa yang Nyonya Rima katakan tentang bagaimana dua buku sakral itu ada di tangan ibunya itu.
"Jika memang sudah ada di rumah Tuan tidak mungkin kemarin bisa berada di tangan Nyonya Rima. Pasti saya akan meminta izin dulu pada Tuan. Karena tidak mungkin bagi saya untuk mengambil buku itu tanpa izin dari Tuan", Han melanjutkan penjelasannya. Dan Ken merasa kalimat yang Han ucapkan masih seperti teka-teki.
"Apa maksudmu?", Ken mengerutkan alisnya dalam-dalam. Sangat menantikan alasan apa yang akan Han pakai sekarang.
"Mungkin Tuan tidak ingat, jika Tuan pernah menitipkan buku nikah Tuan pada saya. Untuk menghindari banyaknya mata-mata orang tua Tuan di rumah, maka Tuan memilih untuk mengamankan buku nikah Tuan pada saya saat Tuan dan Nona Ana menikah waktu itu", Han berhenti untuk memberi jeda pada atasannya itu agar bisa berpikir dengan jernih.
Mata Ken menerawang ke sana-sini mengingat-ingat penjelasan yang baru saja Han ucapkan. Akhirnya,, pria itu menahan nafasnya di tengah-tengah setelah menyadari sesuatu. Adalah benar, bahwa dirinyalah yang memerintahkan Han untuk menyimpan buku nikahnya sementara waktu. Tapi juga setelah itu, masalah itu lewat begitu saja karena sebenarnya mereka semua lupa akan hal ini.
eherm,,, eherm,,,
Ken berdehem untuk mengurangi rasa malunya. Sial! Pantas saja jika wajah Han bisa setenang itu. Jadi ini semua memang kesalahannya karena menjadi,,, lupa.
"Tapi kenapa kau serahkan buku itu pada Bundaku?! Harusnya kan kau memberitahu diriku dulu!", tidak, Ken tidak bisa dikalahkan begitu saja. Dalam hal ini Han masih bersalah karena melakukan sesuatu hal tanpa izin darinya.
"Jika Tuan ingin menyalahkan saya, silahkan! Tapi sejujurnya saya tak ragu menyerahkan buku itu pada Nyonya Rima. Karena saya yakin dengan maksud yang ibu Tuan miliki, pasti semua demi kebaikan Tuan dan Nona Ana", Han mengakui kesalahannya. Dan ia sudah siap menerima hukuman.
Benar juga apa yang asistennya ini katakan. Memang benar, apa yang ibunya itu lakukan dengan buku nikahnya membuat semua keraguan mengenai pernikahannya dan juga tentang istrinya itu menjadi terselesaikan. Lalu apa dengan hal ini ia harus menyerah untuk marah pada Han?! Tidak, tidak bisa! Ia harus marah pada asisten yang sudah menguji kesabarannnya itu.
"Tapi,,, tapi dalam hal ini kau tetap bersalah!", sergah Ken tetap tak mau mengalah. Ia akan tetap pada pendiriannya untuk melanjutkan kemarahnnya.
"Sayang,,,,", sebuah suara yang Ken kenal terdengar dari ruangan itu.
Tiba-tiba Han mengeluarkan ponsel yang sedari tadi ia letakkan pada saku jasnya. Ia tersenyum dengan wajah tenang. Selain fakta yang ada, ia juga masih memiliki satu lagi senjata yang membuat bosnya ini tak akan berani menyentuhnya.
"A,, Ana!", Ken mengenal suara itu. Alisnya berkerut menatap ponsel milik Han yang tengah disodorkan ke arahnya.
"Bagaimana bisa!", gumamnya lagi dengan tubuh yang tiba-tiba lemas.
#FLASHBACK ON
🎶🎶🎶🎶
Sebelum Han memasuki ruangan bosnya itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Keningnya berkerut saat mengetahui siapa yang meneleponnya di saat seperti ini.
"Selamat Pagi, Nona Ana!", sapa Han setelah menggeser tombol jawab pada ponselnya.
__ADS_1
"Pagi, Han! Apa Ken sudah sampai?", Ana langsung bertanya.
"Sudah, Nona! Saya bermaksud untuk menemui Tuan di kantornya", Han menjawab apa adanya.
"Oh, benarkah?! Apakah dia sudah membahas mengenai buku nikah milik kami?", Ana juga langsung menanyakan maksud dan tujuannya menelepon Han saat ini.
Tadi, perasaannya mengatakan agar Ana mengecek bagaimana keadaan antara Ken dan juga Han. Entah mengapa ia merasa kali ini ia tidak bisa mempercayai ucapan suaminya itu begitu saja. Mengingat bagaimana Ken begitu konyol kemarin hingga bertengkar dengan adiknya untuk masalah sepele. Maka Ana meyakini bahwa suaminya itu pasti akan bertindak konyol lagi nanti. Entah mengapa, akhir-akhir ini suaminya itu menjadi konyol seperti adiknya yang sudah konyol dari sananya. Mungkin karena bawaan anaknya, pikir Ana begitu.
Jadilah dia meminta nomor telepon Han pada Kak Risanya. Lalu setelah mendapatkannya, Ana langsung menghubungi Han tanpa ragu.
"Sepertinya akan, Nona!", sebenarnya Han sedang tersenyum kecil saat ini. Sudah terbayang ia akan mendapatkan pendukung yang kuat sekarang.
"Akan? Jadi maksudmu Ken memanggilmu ke kantornya karena akan membahas masalah ini?", terdengar suara Ana mulai agak emosi. Lalu suara beberapa orang wanita terdengar seperti memerintahkan Ana agar tetap sabar. Toh belum ketahuan juga apa yang sebenarnya akan Ken lakukan dengan Han.
"Iya, Nona!", lagi-lagi Han menjadi tersenyum mendengar suara nyaring Nonanya itu.
"Han, dengarkan aku sekarang! Jangan tutup telepon ini, tapi kau nyalakan loudspeakernya. Aku ingin mendengar langsung apa saja yang akan suamiku katakan. Mengerti?", perintah Ana terdengar sangat tegas tak beda jauh saat Ken sedang memberikan perintahnya seperti biasa. Suami-istri ini memang memiliki aura kepemimpinan yang sama.
"Mengerti, Nona!", segera Han menjauhkan ponselnya dari telinga. Lalu ia mengaktifkan loudspeaker yang Ana maksud dan memasukkan ponselnya itu pada kantung jasnya yang terletak di dada. Tanpa berpikir lagi, Han kembali melanjutkan langkahnya untuk menemui bosnya itu.
#FLASHBACK OFF
Gawat, ini sudah siaga satu bagi Ken. Ia terpergok sedang mengingkari janjinya pada Ana. Janjinya untuk tidak marah pada Han dan hanya memberi hukuman pada asistennya itu untuk segera menikah jelas akan Ken ingkari saat ini. Dan sudah pasti Ana telah mendengarnya sejak tadi.
"Sayang, kau masih di situ?", suara Ana terdengar begitu manis sebenarnya. Tapi Ken merasa suara itu seperti memiliki racun yang mematikan. Ia bisa menundukkan siapa saja lawan bisnisnya. Tapi seorang Presdir Ken yang terhormat ini tidak akan berani menundukkan istrinya. Ya,,, kecuali dalam hal urusan ranjang saja ia akan menang. Hehe
Sekilas Ken melemparkan tatapan penuh permusuhan pada Han yang saat ini masih terlihat tenang. Tapi dengan sikap tenang yang Han miliki sekarang, ditambah lagi dengan adanya suara Ana yang mendampinginya, Ken merasa Han sedang memiliki kesombongan bersamanya.
Dan yang ditatap menyembunyikan senyumnya di dalam hati. Hanya mengedutkan sudut bibirnya secara samar dan hampir tak terlihat. Ia tak ingin memprovokasi bosnya lebih banyak lagi. Han masih memilih kedamaian di sekitarnya.
"Han, berikan ponselmu pada Ken! Aku ingin berbicara langsung dengannya!", perintah Ana terdengar semakin tegas dan tak terbantahkan. Wanita itu seolah tak sabar untuk mengungkapkan semua kalimatnya yang tertahan.
Singa betina ini tak ada yang bisa melawan. Dan bahkan si raja singa yang biasanya mengaum dengan begitu gagahnya, saat ini pun ia bahkan tidak dapat menunjukkan satu giginya pun pada singa betinanya itu. Terlihat sekali bosnya itu sedang berpikir banyak untuk menyelamatkan diri dari auman singa betina yang akan memekakkan telinganya nanti.
"Baik, Nona!", Han melangkah mendekat ke arah meja kerja Ken lalu menyerahkan ponselnya dengan wajah tenang yang Ken benci saat ini.
Pria itu mendengus sambil meraih benda pipih dimana suara istrinya itu masih bertahan di sana. Ia masih menatap Han dengan wajah kesal. Awas saja kau nanti! Begitulah arti tatapan Ken pada asistennya.
"Halo sayang!", Ken tak lupa mematikan loudspeaker yang tadi masih menyala. Ia tak ingin harga dirinya makin runtuh lagi jika Han mendengarnya sedang dimarahi oleh Ana. Gagal semua rencananya untuk memarahi Han dan memberi hukuman padanya tanpa sepengetahuan Ana. Hah, sungguh sial sekali!
Han melempar pandangannya ke sekitar ruangan. Ia tak ingin terus menatap lurus ke depan dimana Ken saat ini sedang mengatakan seribu alasan pada Nonanya yang terdengar sedang memarahi bosnya itu, layaknya seorang ibu mengomel pada anaknya.
Sungguh, jika diperbolehkan Han ingin sekali tertawa sekarang. Selalu, hanya Nonanya yang bisa mengalahkan buasnya raja singa yang menjadi bosnya itu. Sama seperti sekarang ini, Presdir Ken yang terhormat terlihat mengangguk berulang kali meskipun sebenarnya Nona Ana tidak akan bisa melihatnya.
"Baik, Sayang! Aku berjanji! Iya Sayang, aku benar-benar berjanji kali ini. Yasudah aku tutup dulu ya teleponnya. Sebentar lagi akan ada rapat penting. Nanti sore aku akan menjemputmu, oke!", Ken sudah tidak tahan lagi dengan omelan dan ancaman Ana yang luasnya sudah seperti lapangan sepak bola. Jadilah ia membuat alasan lagi agar sambungan ini dapat segera terputus dan berhenti.
"Iya, iya baik Sayang, aku mengerti! Nanti aku akan menghubungimu lagi saat makan siang, ya! Aku mencintaimu", selesai sudah ceramah yang Ana berikan padanya dari A sampai Z hingga membuat telinganya terasa sedikit bermasalah. Istrinya itu memang tak terkalahkan, huh!
"Sudah puas tertawanya?", Ken menyindir sambil menyerahkan ponsel milik asistennya itu.
"Terimakasih, Tuan!", Han menerima ponselnya seraya tersenyum.
"Untuk apa kau berterimakasih padaku?!", Ken sangat amat kesal sebenarnya. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya tanpa melepaskan tatapan kesal pada asistennya itu.
"Karena Tuan tidak akan mengukum saya", Han tersenyum sambil mundur beberapa langkah.
__ADS_1
"Hey, darimana kepercayaan diri itu muncul?! Kau ini benar-benar, Han!", perhitungannya benar, Ken melempar beberapa berkas ke arahnya. Untung saja dia sudah menjauh dari meja kerja itu, jadi beberapa map yang terbang melayang itu hanya bisa mendarat sampai di bawah kakinya saja.
"Hah! Sudah, kembali bekerja sana!", daripada ia tambah kesal melihat wajah Han saat ini, maka lebih baik jika ia mengusirnya saja.
"Anda tidak berbohong, Tuan. Setelah ini memang akan ada rapat penting dengan seluruh divisi", ucap Han yang sedang membungkuk membereskan map-map yang tadi terjatuh oleh ulah bosnya itu.
"Jadwal selanjutnya akan saya infokan setelah rapat selesai nanti. Saya permisi, Tuan!", Han meletakkan berkas-berkas itu kembali di atas meja kerja bosnya. Lalu dia membungkuk hormat dan membalikkan tubuhnya untuk melangkah meninggalkan kantor bosnya itu.
"Ana memerintahkanmu untuk lekas menikahi Risa! Itulah hukuman yang dia berikan padamu", suara Ken menghentikan langkah Han.
"Tolong sampaikan rasa terimakasih saya kepada Nona Ana, Tuan! Kami sedang mempersiapkannya. Jadi kami mohon doanya dari Tuan dan Nona Ana agar persiapan kami diberi kelancaran", Han berbalik. Ia mengangguk lalu tersenyum setelah mengungkapkan rasa terima kasihnya. Lalu ia kembali melanjutkan langkahnya ke luar ruangan untuk mempersiapkan rapat yang akan mulai beberapa saat nanti.
"Dia itu benar-benar!", Ken menggeleng pelan seraya tersenyum.
Pria itu menanggah dagunya dengan jemari yang saling bertautan. Memandangi punggung pria yang akan menghilang di balik pintu ruangannya. Ia memang tidak salah memilih orang. Terlepas dari emosi sesaatnya yang ingin sekali memarahi pria itu, Han selalu tau yang terbaik untuk dirinya.
Sudah lagi dia sedang berhadapan dengan Ken yang sedang kesal, tapi Han tetap sabar dengan memunguti berkas yang telah Ken lempar tadi. Hanya Han yang bertahan dan cocok dengannya sampai sejauh ini. Dan KEn juga selalu suka dengan etos kerja pria itu.
***
Hari sudah mulai sore setelah Ken menyelesaikan seluruh ururan pekerjaannya. Matahari perlahan juga mundur dari tahtanya di atas langit sana. Mobil telah siap di depan lobi gedung megah itu. Sang supir juga sudah bersiap di samping pintu kursi penumpang tempat tuannya akan duduk nanti.
Dari luar pintu kaca itu, terlihat dua pria tampan tengah menyusuri lantai dasar yang luas dengan langkah yang begitu elegan. Ken berjalan di depan, sedangkan Han berjalan di sampingnya. Hanya saja asistennya itu memilih untuk mundur satu langkah ke belakang, memberi jarak demi kesopanan. Seperti biasa, itu hal yang Han lakukan.
"Maaf, saya tidak bisa mengantar Anda sampai ke rumah, Tuan!", Han berucap sopan saat mereka menunggu si supir membukakan pintu untuk Ken. Bosnya itupun menoleh dengantanda tanya di wajahnya.
"Saya akan menjemput Risa di kantornya. Kami memiliki janji untuk makan malam bersama", terdengar malu-malu saat Han mengutarakan alasannya. Kini bahkan pria itu tengah melipat bibir bawahnya dengan wajah kaku yang canggung.
"Ajak Risa ke restoran yang paling mahal. Berikan dia momen romantis yang tak akan pernah ia lupakan! Tapi jangan dihabiskan! Besok kau harus menyerahkannya lagi padaku!", Ken menyerahkan salah satu kartu kreditnya pada Han. Tanpa menoleh dengan aura penuh kesombongan.
"Terimakasih, Tuan!", Han tak ragu untuk memanfaatkan momen berharga ini. Kapan lagi ia bisa menikmati kartu sakti milik bosnya itu. Ia pasti akan menggunakannya dengan baik untuk menyenangkan hati tunangannnya. Meskipun terdengar Ken cukup perhitungan, tapi sebenarnya bosnya itu selalu perhatian. Lagipula bagaimana mungkin ia akan menghabiskan limit kartu kredit yang limitnya sangat fantastis itu. Han tidak serakah seperti itu. Dia sudah sangat bersyukur, karena dengan ini gajinya menjadi utuh.
"Hemmh!", Ken hanya berdehem untuk menanggapi ucapan asistennya itu. Lalu ia merunduk dan memasuki mobil untuk terduduk di dalam sana.
Han membungkukkan sedikit tubuhnya untuk memberi hormat saat mobil yang dinaiki bosnya itu melaju meninggalkan dirinya di belakang.
Segera setelah mobil mewah itu pergi meninggalkannya, datang lagi mobil sedan mewah milik Han beserta supir di dalamnya. Mobil yang Han miliiki adalah hasil jerih payahnya selama bekerja bersama Ken selama beberapa tahun ini. Ia sangat bersyukur karena salah satu impiannya akhirnya bisa terpenuhi.
"Aku jalan sekarang!", ucapnya pada sambungan teleponnya kepada Risa.
Hanya itu saja, lalu ia meletakkan kembali ponselnya di saku jasnya. Ia memang tidak bisa seromantis bosnya. Ia masih sangat kaku untuk memperhatikan seorang wanita. Beruntung Risa mau menerima dan memakluminya. Jadi ia akan berusaha untuk memanjakan wanita itu ke depannya. Agar hubungan mereka bisa lebih baik lagi dari tahap ini. Karena bagaimanapun juga, Han selalu iri dengana kemesraan yang bosnya itu miliki dengan istri tercintanya.
Sambil menikmati pemandangan jalanan di ibukota, Han menghubungi beberapa rekannya yang bisa membantunya untuk memberikan sebuah kejutan romantis untuk tunangannya itu.
"Terimakasih, Tuan!", gumam Han dengan senyum paling tulus yang pria itu miliki.
-
-
Episode ini menghabiskan 2300 kata lebih ya teman-teman ☺️
Buat yang kangen sama Ken dan Ana, aku kan buat pada episode selanjutnya 😉
Selamat membaca ya semuanya😘
__ADS_1