Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Ekstra Part 6


__ADS_3

Wajah dua orang wanita saat ini tengah diubah oleh dua orang wanita lainnya menjadi sosok yang lebih menarik perhatian orang dibandingkan dengan penampilan mereka sebelumnya.


Awalnya Ana dan Sarah sudah sangat geram dengan tingkah dan ucapan wanita yang bernama Rosi itu, yang kedengarannya mengada-ada. Rasanya tangan mereka sudah gatal ingin sekali memberi kedua wanita itu pelajaran dengan paling tidak satu bogem mentah. Dan untuk Ana yang sedang hamil, Sarah bersedia mewakilkannya.


Tapi kemudian kedua sahabat itu sama-sama berpikir dan saling mengingatkan. Ana sedang hamil sekarang, jadi tidak mungkin Sarah membiarkan sahabatnya itu mengotori tangannya. Dan Ana juga mengingatkan kepada Sarah tentang status mereka saat ini. Ada nama baik suami dan keluarga yang menyertakan nama mereka sekarang. Jadi Ana berpikir untuk menangani mereka tidak dengan cara kekerasan. Karena mereka akan terlihat sangat bar-bar dan tidak memiliki etika sebagai perempuan. Jadi ada satu cara yang terpikirkan oleh Ana untuk ia ajukan pada sahabatnya itu.


"Kalian tinggal pilih, ingin yang terbuka atau yang tertutup saja!", Ana mengajukan pilihannya setelah berdiskusi sesaat tadi. Kedua sahabat itu saling beradu pandang dan tersenyum misterius.


"Kami pilih yang terbuka saja", Rosi dan asistennya menjawab dengan kompak, meskipun sebenarnya mereka tidak tahu sama sekali maksus dari pertanyaan itu. Hanya saja firasat buruk hadir entah itu pilihan yang mereka pilih, keduanya pasti memiliki akhiran yang tidak baik. Maka dari itu, keduanya hanya bisa pasrah saja saat ini.


Ana dan Sarah memerintahkan Rosi dan asistennya itu untuk mengganti pakaian mereka dengan dua set piyama polkadot yang sudah Ana dan Sarah pesan pada pegawai wanita yang membantu Ana tadi.


Setelah pakaian mereka diubah, tentu tatanan rambut juga harus diubah juga. Harus disesuaikan dengan tema yang Ana dan Sarah ambil. Rambut artis dan asistennya itu dikuncir lebih dari tiga ikatan pada masing-masing kepala. Jika Ana bilang pada Sarah, bahwa itu namanya kuncir banyak.


"Kenapa? Kau tidak suka?", tanya Sarah pada Rosi yang wajahnya sudah murung dan bersedih. Tentu saja ia sedang berduka pada dirinya sendiri yang saat ini sedang dipermainkan oleh orang-orang yang tidak seharusnya mereka lawan.


"Kami akan membuat kalian menjadi lebih cantik daripada sebelumnya! Jadi kalian bisa dengan mudah mendapatkan kekasih dan bukan sembarangan lelaki. Apalagi lelaki yang sudah memiliki istri!", dengan sengaja Sarah menarik rambut Rosi agak kencang hingga wanita itu memekik kesakitan.


"Sakit?!", tanyanya tanpa rasa bersalah pada Rosi setelah mendengar wanita itu berteriak.


"Tidak!", yang ditanya menggeleng pelan karena ketakutan. Bagaimana tidak, yang menanyainya saat ini sudah seperti malaikat pencabut nyawa baginya. Begitu menyeramkan.


Sejak awal Ana dan Sarah sudah mengancam mereka berdua. Jika masih ingin selamat dan masih ingin dapat bekerja, maka kedua wanita itu harus menuruti apa pun perintah yang mereka berikan. Karena jika Rosi dan asistennya itu masih berani melawan, bayangkan saja nasib mereka tidak akan lebih baik daripada Megan Aira. Masih bisa hidup saja sudah sangat bersyukur. Meskipun sekarang wanita itu sudah menjadi gelandangan.


Tentu saja Rosi dan asistennya itu langsung mengiyakan saja ucapan Ana dan Sarah. Selain untuk menghindari kekejaman lainnya, mereka berdua juga masih harus mencari uang. Di dunia ini semuanya memerlukan uang. Dan mereka masih memerlukan uang untuk bertahan hidup di dunia yang keras ini.


Lalu Ana dan Sarah meneruskan kembali rencana mereka kepada dua wanita itu. Ada juga pegawai wanita yang tidak berhenti tertawa pelan di belakang. Meskipun sudah mendapatkan tatapan tajam dari Rosi dan asistennya itu, tapi ia tak peduli. Karena sejak awal ia berada di pihak yang benar. Lagipula mana berani artis dan asistennya itu marah-marah terhadapnya. Paling-paling nona-nona itu akan menambah hukuman untuk mereka berdua. Dan mereka itu memang pantas ditertawakan sejak awal.


***


Di tengah kesibukan para wanita, ternyata ada empat pasang mata sedang memperhatikan mereka semua entah sudah berapa lamanya. Ken dan Sam ternyata sudah kembali sejak tadi. Tapi langkah mereka terhenti saat mendengar keributan dari area tengah butik itu.


Sebentar kakak beradik itu sempat khawatir akan terjadi sesuatu pada istri-istri mereka. Karena dari suara yang mereka dengar, itu memanglah suara istri mereka. Tapi kenyataanya adalah, kedua pria itu lebih mengkhwatirkan nasib dua wanita di hadapan istri mereka. Karena memang kolaborasi dua wanita galak itu membuat seseorang merinding, yaitu Sam tentunya. Ia sangat tahu seberapa galak dan kejamnya dua wanita itu.


Ken dan Sam memperhatikan dari jarak yang cukup sehingga mereka dapat menangkap dengan jelas apa saja yang semua wanita itu perdebatkan. Terlihat istri mereka itu lebih mendominasi ketimbang dua wanita lainnya.


"Sepertinya kita tidak harus ke sana!", putus Ken lalu setelah terdengar satu tamparan keras lalu disusul oleh tamparan lainnya. Itu ketika Sarah berhasil memberi pelajaran pada Rosi.


"Sepertinya begitu!", Sam benar-benar girang saat melihat tindakan berani istrinya itu. Sangat keren.


"Kita tunggu sebentar lagi!", Sam mengangguk setuju dengan ucapan kakaknya itu. Sepertinya lebih menyenangkan jika mereka menikmatinya sampai pertunjukan itu selesai dibuat oleh kedua istri mereka yang bukan hanya galak tapi juga kreatif.


***


Setelah beberapa saat, mahakarya Ana dan Sarah pun selesai. Dua wanita itu baru saja di make over oleh dua sahabat itu. Wajah Rosi dan asistennya sudah dicoret-coret menjadi gambar kucing menggunakan lipstick merah terang yang kebetulan Sarah bawa di tasnya. Ada bulatan besar di sekitar mata mereka, bibir mereka, dan juga ciri khas seekor kucing, yaitu tiga garis kumis kucing yang Ana dan Sarah buat di pipi keduanya. Lalu ada kalung yang luar biasa menarik melingkar di leher mereka.


Sebelum mereka memulai kerjanya, Ana sudah membisikkan sesuatu pada pegawai wanita yang membantunya. Pegawai itu bahkan sedikit terkekeh setelah mendapatkan perintah dari nona besar itu. Dan sekarang yang mereka pakai sebagai kalung adalah sebuah papan dari kertas karton yang dihubungkan dengan tali rafia. Di tengahnya terdapat sebuah tulisan,,


Sedang mencari jodoh!

__ADS_1


"Selesai!", Ana dan Sarah tersenyum puas bersamaan.


"Nona-nona memang hebat!", pegawai wanita itu bertepuk tangan sendiri kegirangan. Ia begitu kagum dengan rencana cerdas yang agak licik yang dimiliki oleh kedua nonanya itu.


"Jangan lupa ambil foto mereka dulu!", Ana mengingatkan.


"Tentu saja!", dengan gesitnya Sarah mengabadikan hasil karya tangan mereka berdua dengan gaya seperti seorang profesional. Ia begitu senang karena hasil karya mereka begitu bagus. Haha,,


"Kami akan menyimpan foto ini! Jika kalian, terutama kau masih berani mengatakan kepada orang-orang bahwa suamiku itu adalah kekasihmu, maka tahu sendiri akibatnya! Reputasi, karir, bahkan hidupmu akan hancur seperti debu!", Sarah menunjukkan foto mereka berdua yang ada di ponselnya. Wajah dan nada mengancam itu cukup untuk membuat Rosi dan asistennya itu ketakutan dan paham.


"Ingat baik-baik! Gunakan kesempatan ini untuk bertaubat dan menjalani hidupmu dengan benar! Hukuman yang seperti ini masih sangat ringan bagi kalian!", ibu hamil itu maju untuk memberi nasihat bijak pada dua orang yang saat ini duduk rapih di lantai butik yang dingin itu.


prok,,, prok,,, prok,,, prok,,,


Tiba-tiba suara tepuk tangan datang mendekat ke arah mereka semua.


"Hebat sekali, istriku kamu memang sangat keren!", lalu Sam setengah berlari menghampiri lalu memeluk istrinya itu dengan suara manja.


Rosi dan asistennya itu saling berpandangan. Mereka kebingungan dengan perubahan sikap pria yang mereka tahu adalah bosnya. Dimana sisi keren dan wibawa pria itu?! Setelah bertemu istrinya, Tuan Sam mereka berubah seperti hewan peliharaan yang baru saja bertemu majikannya.


Ken berjalan di belakangnya dengan gaya acuh seperti biasanya. Tetap elegan dan tampan dengan tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya.


"Kenapa lama sekali?! Rasa hausku sampai hilang, tahu!", lalu Ana bergelayut manja pada lengan suaminya itu.


"Maaf!", Ken membelai lembut kepala istrinya itu dengan penuh kasih sayang.


Mata artis dan asistennya itu kembali beradu pandang. Mereka berbisik dan saling memberi informasi bahwa itu adalah Presdir Ken yang terhormat yang begitu disegani. Kakak dari Tuan Sam, orang yang paling disegani di kota ini.


"Matilah kita!", keduanya mendesah frustasi. Mereka memang sudah benar-benar salah karena sudah menjadikan dua wanita itu sebagai lawan. Keduanya pun tertunduk lesu sambil meratapi nasib mereka setelah ini.


Mendadak tubuh mereka terasa kedinginan, saking dinginnya sampai mereka tidak bisa bergerak dan mematung di tempat. Perlahan Rosi mengangkat kepalanya. Belum satu detik, dia sudah kembali menundukkan kepalanya lagi. Benar saja, Presdir Ken yang terhormat itu tengah berdiri di hadapan mereka dengan jumawanya. Sekilas Rosi dapat menangkap kilatan kekejaman di mata pria itu. Ia tidak berani sama sekali untuk mengangkat kepalanya lagi. Hanya dipandangnya sepatu mengkilat di hadapannya itu.


"Jangan sampai aku melihat wajah kalian lagi!", hanya sebatas kalimat itu saja yang Ken keluarkan. Namun sudah memiliki makna tersirat di dalamnya. Ia tidak berharap melihat kedua orang itu bahkan jika bayangannya saja. Sudah sejak awal ia tekankan, bahwa ia tidak akan mengampuni orang yang berani menyakiti istri tercintanya ini.


"Kami tahu apa yang terjadi hari ini! Tapi karena istri kami sudah mengampuni kalian, maka pergilah secepat mungkin! Aku tidak ingin melihat wajah kalian lebih lama lagi!", sungguh berubah total sikap manja Tuan Sam tadi pada istrinya itu dengan sekarang. Inilah Tuan Sam yang mereka tahu. Yang meskipun sering kali bersikap ramah, tapi tidak beda jauh kejamnya dengan kakaknya itu. Mereka pun menjadi saksi betapa menakutkannya Tuan Sam jika sudah marah.


Jelas saja Sam kesal. Sampai saat ini, masih ada saja wanita yang mengaku-ngaku sebagai kekasih atau pun wanita simpanannya. Ia sedang membangun rumah tangganya dengan Sarah sekarang. Jika wanita-wanita itu terus hadir, ia khawatir jika suatu saat Sarah akan mempercayai ucapan mereka.


Semuanya adalah masa lalu. Dimana dia terlalu ramah terhadap seorang wanita. Hingga bahkan ada lebih dari dua wanita yang menggandeng tangannya. Semuanya sudah berubah, ia hanya membutuhkan Sarahnya saja. Maka dari itu ia begitu marah jika hal seperti ini terjadi lagi. Ia sangat tidak ingin kehilangan Sarahnya lagi.


"Baik, Tuan!", Rosi dan asistennya itu mengangguk patuh tanpa berani menaikkan kepala mereka barang sedikit pun.


"Cepat!", perintah Ken tidak sabar dengan suara rendahnya.


Artis dan asistennya itu langsung berdiri dengan tergesa. Hingga mereka bertabrakan dan jatuh ke lantai kembali. Sarah, Sam dan Ana terkekeh bersama. Hanya Ken saja yang setia dengan sikap acuh dan wajah datarnya.


"Camkan baik-baik apa yang sudah mereka katakan untuk kalian!", suara Ken yang menakutkan kembali membuat Rosi dan asistennya itu gugup dan mengerem langkahnya mendadak, sehingga mereka harus bertabrakan lagi. Tapi beruntung mereka tidak jatuh lagi kali ini.


"Baik, Tuan!", keduanya mengangguk lagi lalu lari terbirit-birit ke arah luar butik itu.

__ADS_1


Terdengar dari dalam, ketika dua wanita itu lewat, hampir setiap orang menertawakan penampilan mereka yang super imut itu. Sebenernya mereka sekarang ini lebih seperti para pelarian dari dinas sosial ataupun rumah sakit jiwa. Dan tak jarang beberapa pengunjung lainnya mengabadikan penampakan aneh di mall terbesar ini.


"Jadi kalian sudah puas?", Ken berbalik dan bertanya pada dua wanita, yang satu adalah istrinya, dan yang satu merupakan adik iparnya saat ini.


"Tentu saja!", Ana berteriak kegirangan seraya merangkul lengan suaminya lagi.


"Puas sekali, Kakak ipar!", nampak jelas di mata Sarah jika saat ini suasana hatinya sedang sangat baik.


"Istri kita memang sangat cerdas, Kakak!", jika ia mengatakan hanya Sarah saja pasti kakaknya yang galak itu pasti akan memelototinya.


"Ya! Apa yang kami miliki adalah milik kalian juga! Jadi jika ada yang mengusik kalian lagi, gunakanlah kekuasaan kami. Karena itu juga merupakan milik kalian!", sebenarnya dalam hati Ken juga begitu bangga pada kedua wanita itu. Terutama istrinya, sejak mengenal Ana, ia sudah tahu jika istrinya itu sangat tidak suka dengan suatu ketidakadilan dan akan meluruskan sesuatu yang salah.


Tapi dengan adik iparnya ini, ia juga salut karena Sarah tidak termakan omongan wanita-wanita tidak penting itu begitu saja. Ia senang karena Sarah mau mempercayai adiknya yang sekarang. Karena Ken tahu seberapa besar cinta Sam kepadanya. Dan bagaimana adiknya itu berubah karena mengenal Sarah. Jadi ia tidak akan membiarkan siapa pun merusak kebahagiaan keluarganya ini.


"Kau terlalu berlebihan, Ken!", Ana memukul pelan dada suaminya itu sambil tersenyum malu. Disanjung seperti ini rasanya ia sudah ingin terbang saja.


"Terima kasih, Kakak ipar!", Sarah pun terharu dengan ucapan kakak iparnya itu. Begitu mudahnya orang biasa seperti dirinya ini diterima di dalam keluarga yang terpandang ini. Sarah sangat bahagia.


"Tapi kau tetap harus mendapatkan hukuman! Tidak ada jatah selama seminggu!", tatapan matanya yang semula lembut pun menajam. Melirik ke arah suaminya yang kini berada di sebelahnya itu. Sarah mengacungkan jari telunjuknya ke depan wajah Sam dengan suara mengancam.


"Sayang, tapi apa salahku sebenarnya?", Sam menangkap jari telunjuk Sarah dengan wajah memelas. Sungguh ia tidak ingin menerima hukuman itu. Hey! Mereka ini pengantin baru. Sedang giat-giatnya membuat anak setiap malam. Sam tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menahan diri dalam kurun waktu itu.


"Kakak, tolong aku!", lelaki itu pun berbalik ke arah Ken untuk meminta bantuan.


"Urus rumah tanggamu sendiri!", jawab kakaknya tak peduli. Dan ucapan kakaknya itu bagai jarum yang menusuk-nusuk tenggorokkannya saat ini. Sebuah kenyataan yang amat menyakitkan. Tapi memang benar, orang luar tidak dapat ikut campur di dalam rumah tangga yang lainnya.


"Ayo, sayang!", lalu Ken segera mengajak Ana meninggalkan tempat itu untuk melihat beberapa pakaian di sudut lainnya.


"Mana minumanku? Aku haus lagi sekarang!", setelah beberapa langkah, Ana pun menanyakan pesanannya lagi.


"Tunggu sebentar!", Ken berbalik ke arah Sam lagi karena memang minuman yang tadi mereka beli saat ini masih berada di tangan adiknya itu.


"Kakak! Kau berubah pikiran dan akan membantuku, kan?", wajah Sam berubah ceria saat melihat Ken mendekat lagi ke arahnya.


"Sini!", dengan sikap acuh dan sedikit kasar, Ken menyambar minuman pesanan istrinya itu dari tangan Sam. Lalu berbalik lagi tak peduli jika saat ini adiknya itu terus memanggilnya. Wajah yang tadinya sudah ceria pun kembali murung lagi.


"Ingat ya, se-ming-gu!", Sarah mengeja dengan nada peringatan. Sam tidak dapat melanggar keputusannya. Hari ini ia benar-benar kesal karena ulah wanita yang bernama Rosi itu.


-


-


-


**Selamat membaca 😊


Terima kasih semuanya πŸ™πŸ˜„πŸ₯°πŸ˜˜β˜ΊοΈ


Keep strong and healthy ya teman-teman semua πŸ₯°**

__ADS_1


__ADS_2