Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 242


__ADS_3

"Ken!", Ana memanggil nama suaminya dengan suara lemah tak berdaya. Kini dirinya sudah terjerat oleh hipnotis mata pria yang makin menarik kesadarannya itu.


Pria itu, Ken, tak menggubris panggilan Ana untuk dirinya. Ada sesuatu hal penting yang harus ia tuntaskan karena kini dia telah memilih untuk mengawalinya. Kemudian pria itu membuat tubuh istrinya itu berada di bawah kungkungan tubuhnya yang kekar. Tak bisa melawan, karena selisih kekuatan yang terlampau jauh. Cekalan tangan pria itu sangat kuat namun juga masih memiliki nilai-nilai kelembutan sehingga tidak menyakiti tangan istrinya itu.


"Ana! Berjanjilah untuk tidak mengatakan hal-hal aneh semacam itu lagi. Atau bahkan lebih baik lagi agar jangan pernah biarkan pikiran buruk seperti itu merasuki pikiranmu lagi. Pikirkanlah bagaimana agar kau dan anak kita menjadi sehat sampai waktu kelahirannnya kelak. Ana, aku sangat mencintaimu, dan kau tau itu. Entah nanti dirimu akan berubah seperti apapun, aku akan tetap mencintaimu sepenuh hatiku. Tak akan berubah sedikit pun, aku berjanji. Jadi bisakah sekarang kau berjanji padaku?!", tak melepaskan cekalan tangan atau bahkan tatapan panas Ken pada istrinya itu.


Suara berat suaminya itu menyerbu ke dalam indera pendengarannya. Dari kanan ke kiri lalu masuk menembus ke dalam benaknya sehingga ia nampak seperti tidak mampu mengatakan apapun dengan lidahnya yang kini terasa kelu untuk mennjawab dengan benar ucapan suaminya itu. Jadilah Ana hanya bisa mengangguk dengan tatapan kosong terhipnotis oleh suara Ken yang masih menggema di dalam benaknya itu.


Ken mendengus lalu terbitlah senyum kecil yang jika dilihat oleh Ana yang sedang normal pikirannya tentu seperti seorang raja singa yang tengah mendambakan mangsanya. Seolah mangsanya itu kini tak memiliki daya upaya dan hanya bisa menyerahkkan dirinya untuk menjadi pengorbanan bagi raja singa itu.


Pria itu memajukan tubuhnya, membuat lututnya sebagai penyangga pada pinggir ranjang dan terus merangkak naik hingga kini ia benar-benar memenjarakan Ana dengan kedua lutut yang mengurung kakinya yang masih enggantung di sisi kanan dan kirinya.


Melihat Ana yang makin tak berdaya pun, ia kini menerbitkan seringainya yang memabukkan. Ken bangkit dari posisinya dengan bertumpu pada lutut yang sekarang berada di sisi kaki istrinya itu. Setengah berlutut, Ken membuka kancing kemejanya satu persatu. Dan ia tetap mengunci tatapan penuh dambanya pada candu yang masih terus menatapnya itu.


Ia melempar asal kemeja putih miliknya itu hingga akhirnya nampaklah bongkahan-bongkahan kokoh yang membingkai tubuh Ken secara keseluruhan. Sungguh sangat menghibur mata Ana saat ini. Bingkai kokoh nan tegap itu kini seolah tengah merayunya untuk disentuh olehnya.

__ADS_1


Ana yang memang sekarang tengah terjerat hipnotis pandangan mata Ken yang menggoda itu pun tanpa sadar ia mengulurkan tangannya. Ia menyentuh bagian atas bongkahan itu dengan ujung jarinya. Terus menjalar hingga terus turun sampai ke bagian perut bagian bawahnya yang masih tertutupi celana.


"Heh!", akhirnya Ana tersadar saat ujung jarinya itu menyentuh bagian atas celana suaminya itu. Posisi apa ini? Kenapa dirinya sekarang sudah berada di bawah kungkungan suaminya begini? Bukankah tadi mereka tengah membicarakan mengenai masalah yang mengganggu pikiran Ana itu?


Ken tersenyum makin dalam setelah menyadari istrinya yang sudah bisa menguasai dirinya itu. Tapi sayang, Ana tak akan bisa bebas begitu saja saat ini. Semuanya sudah terlambat.


"Sentuh lagi jika memang kau belum puas, Sayang!", suara yang lembut mendayu-dayu itu mengusik telinga Ana sehingga ia harus menatap wajah suaminya itu.


"Bersihkan pikiran kotormu itu, Ken!", Ana berusaha bangun sambil mendaratkan pukulan pada dada bidang suaminya.


Ia sudah sangat malu sekarang ini. Apalagi saat ini ia hanya mengenakan handuk tanggung ini saja. Ia sudah pasti tau kemana arahnya kegiatan mereka nanti jika ia tidak segera melarikan diri dari sana. Tapi pertanyaannya adalah, apakah suaminya ini akan meleapskannya dengan mudah?! Pasti Ken akan menjawabnya dengan jangan harap.


Ana memundurkan tubuhnya ke belakang dengan senyum malu-malu. Ken pun ikut maju. Tapi sayangnya, handuk yang Ana pakai harus terlindas lutut suaminya itu dan akhirnya saat Ana bergerak lagi, jadilah handuk itu terlepas dari tubuhnya. Hingga tubuh polos istrinya itu nampak jelas oleh sepasang mata yang makin menatap penuh damba.


"Kau yang menggodaku, Sayang!", raja singa itu memiringkan kepalanya dengan seringai yang sebenarnya membuat bulu kuduk Ana meremang.

__ADS_1


Ken sudah menahan diri sejak tadi. Sejak Ana keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang hanya menutupi sebagian tubuh mulusnya saja, dengan rambut basah dan juga wangi shampoo yang menggoda indera penciumannya. Sungguh Ana telah menggodanya sejak awal. Dan pria itu sudah bertahan sejauh ini untuk tidak langsung menyergapnya sejak tadi.


Dan pria itupun mulai melancarkan serangannya. Ken segera memberikan serangan awal dengan sebuah ciuman yang begitu dalam pada pucuk kepala istrinya itu. Ana memejamkan mata merasakan ketulusan cinta yang selalu suaminya berikan kepadanya. Ia bahkan tersenyum karena suaminya itu selalu pandai dalam merayu membujuk Ana untuk hanyut dalam pemainannya.


Ciuman itu lalu turun ppada kening Ana. Wangi segar dari rambut Ana benar-benar membuatnya kian bersemangat lagi. Lalu turun lagi ia kecup pangkal hidung Ana sampai wanita itu harus memejamkan matanya tak kuasa. Dan turun lagi hingga ia labuhkan bibirnya itu pada bibir ranum Ana yang lembab dan sejuk untuk ia rasakan.


Keduanya pun terhanyut oleh penyatuan awal cinta mereka. Sudah begini, Ana mana bisa melepaskan diri dari jerat gairah suaminya yang selalu membara ini. Ia pun mengakui bahwa bukan hanya Ken, tapi dirinya juga sudah kecanduan oleh sentuhan-sentuhan menyenangkan yang biasa Ken lakukan untuk membujuknya.


Tubuh pria itu kian memanas. Kini Ken melepaskan tautan bibirnya pada bibir Ana. Lalu berpindah bibir yang masih terasa basah itu menyentuh sekitar leher Ana dan belakang telinganya. Sedangkan tangannya, tangan pria itu mulai bergerilya menyusuri setiap inchi kulit mulus milik istrinya itu dimulai dengan sentuhannya pada paha Ana hingga terus ke atas.


"Ken!", Ana membuka matanya setelah menyadari sesuatu.


"Ken!", ia berusaha mendorong tubuh suainya yang berat itu.


"Ken!", usahanya berhasil hingga kini suaminya itu menatapnya dengan tatapan putus asa. Matanya suaminya itu sudah berkabut dengan keinginan besar yang harus segera diselesaikan. Tatapannya bertanya, hal apa sebenarnya yan harus mengusik kesenangan mereka berdua saat ini.

__ADS_1


"Ingat pesan dokter! Kita tidak boleh sering-sering melakukannya. Dan kita baru saja melakukanya kemarin malam. Ingat?", kedua tangan Ana menahan di depan pria itu. Ia memperingati suaminya itu perihal pesan dokter yan mengenai hal ini. Dokter tidak melarang, hanya saja pada trimester awal inii dokter berpesan agar jangan terlalu sering ataupun terlalu bersemangat. Karena kondisi janin yang masih lemah.


Keduanya saling menatap dengan tatapan yang suit diartikan. Dan Ana tak dapat menebak isi pikiran suaminya saat ini. Yang jelas Ken belum berpindah dari posisinya saat ini. Ia masih mengurung Ana di bawah tubuhnya dengan tangan dan kaki di sisi kanan dan kirinya.


__ADS_2