Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 247


__ADS_3

Petang telah lewat satu jam yang lalu. Kini malam mulai menjelang dengan gelap yang ditaburi bintang-bintang. Seorang wanita sedang memilih pakaian yang akan ia kenakan untuk pergi nanti.


Di samping tempatnya berdiri, ponsel miliknya sedang menyala dengan penampkan seorang pria pada layarnya. Itu ponsel Sarah yang ia letakkan di atas nakas karena saat ini ia sedang melakukan panggilan video dengan calon suaminya.


Tadi ia sudah mendapatkan izin untuk pergi dengan Krystal ke Dragon Night. Sarah juga memiliki tujuannya sendiri untuk berbicara mengenai pengunduran dirinya. Meskipun Manajer Toni sendiri pasti sudah mengetahui hal ini dari Ana langsung. Tapi Sarah masih memiliki etika untuk berpamitan langsung dengan atasannya tersebut.


Dan untungnya sekali Sam mau mengerti dan memberinya izin. Dengan berbagai syarat tentunya. Pakaian tidak boleh terbuka, jika bisa Sarah mengenakan celana saja. Bawa pengawal beberapa untuk berjaga-jaga. Dan mereka pergi tidak boleh lewat dari tengah malam.


Sebenarnya Sam ingin ikut dengannya. Pria itu merasa khawatir membiarkan Sarah pergi ke tempat itu tanpa dirinya. Dengan situasi seperti sekarang ini, dimana Megan Aira bisa melakukan hal liciknya kapan saja, Sam sungguh setengah hati memberi izin pada Sarah. Sayangnya pekerjaan banyak sekali hari ini, dan bahkan sampai untuk beberapa hari ke depan. Jadilah ia terpaksa membiarkan calon istrinya itu pergi sendiri tanpa dirinya.


"Ganti!", suara Sam keluar dari ponsel Sarah yang sedang berdiri di atas nakas itu.


"Jadi aku harus pakai baju yang mana? Masa iya aku harus memakai kaos oblong dan juga celana training panjang untuk pergi ke tempat seperti itu?! Kau ini benar-benar menyebalkan!", Sarah berteriak kesal setelah membobol seluruh isi lemarinya dan belum menemukan satu baju pun yang bisa ia pakai untuk pergi. Sedangkan sebentar lagi Krystal akan datang untuk menjemputnya.


"Menurut atau tidak usah pergi!", wajah pria itu menjadi serius dan lebih tegas daripada biasanya.


"Iya,, iya,, baiklah!", Sarah kembali mencari-cari di dalam lemarinya.


Pria itu pun kembali tersenyum di balik meja kerjanya. Senyum penuh kemenangan karena kali ini ia yang memegang kendali atas diri calon istrinya itu. Dan tersenyum senang karena calon istrinya itu sedang menurut meskipun mulutnya tak berhenti menggerutu sejak tadi.


"Sejak kapan sih pria konyol itu menjadi begitu cerewet dan pengatur?! Dan bisa-bisanya pula aku menurut saja padanya! Padahal kan bisa saja sejak tadi aku bohongi saja dia, menunjukan baju apa lalu apa pula yang aku pakai nantinya! Iyakan? Bisa saja kan begitu?! Akunya saja yang terlalu polos dan lugu! Huh!", mulut wanita itu merengut sambil terus merapalkan segala kekesalannya.


Bagaimana tidak kesal, sudah satu jam mereka melakukan panggilan video setelah Sarah selesai mandi tadi dan pria itu juga sembari meneruskan memeriksa beberapa laporan. Tapi sampai saat ini belum juga ia mendapatkan pakaian yang sesuai dengan keinginan pria itu.


"Sudahlah! Aku ke sana pakai kebaya saja, ya!", bibirnya mengerucut sambil menunjukkan setelan kebaya lama bekas Sarah wisuda dulu saat lulus sekolah. Itu lengkap beserta kain dan juga selendangnya.

__ADS_1


Sam otomatis terpingkal dengan ulah calon istrinya itu. Sudah wajah cemberut yang menggemaskan membuatnya tidak tahan. Ditambah lagi pakaiann yang ia tunjukkan di depan dadanya. Sam menggeleng keras sambil menuntaskan tawanya.


"Kurasa itu ide yang bagus!", pria itu masih tertawa dan membuat Sarah semakin kesal saja.


"Tertawa saja terus sampai gigi dan bibirmu kering selamanya! Lalu aku tidak akan mau dicium olehmu lagi! Huh!", cepat-cepat wanita itu membuang mukanya yang saat ini sedang sangat kesal.


deg


Sam langsung menghentikan tawanya seketika. Bahkan pria itu segera mengunci bibirnya rapat-rapat. Ia tidak mau hal itu sampai terjadi. Membayangkannya saja ia enggan. Tidak, pokoknya jangan sampai hal itu terjadi. Ia masih ingin terus menciumi calon istrinya itu selamanya.


"Kenapa diam?", Sarah menatap layar ponselnya dengan satu tangan di pinggang. Berwajah galak yang menantang.


"Emmhh,, emmhh", pria itu menggeleng cepat dengan bibir yang masih tertutup rapat.


Sarah tersenyum samar. Ujung bibirnya terangkat sedikit dengan mata yang juga menyipit. Sepertinya saat ini ia sudah tau hal apa yang bisa ia pakai untuk mengancam pria itu.


"Emmhh,, emmhh,,!", pria itu menganggguk. Wajahnya sekarang memelas seperti anak kucing yang minta diberi makanan.


"Kalau begitu biarkan aku memilih pakaianku sendiri!", Sarah memiringkan kepalanya memberi sebuah penawaran.


"Tapi,,,", segera saja Sarah menyela lagi sebelum Sam meneruskan ucapannya.


"Tidak ada tapi!" tentu saja penawarannya bersifat mutlak. Dan Sam tidak dapat membantahnya.


"Tap,,,", baru setengah nafas bahkan tapi Sarah tidak membiarkan pria itu membuka suaranya.

__ADS_1


"Iya atau tidak?!", wajah wanita itu sudah tidak sabar. Membuat nyali Sam sekarang menjadi hilang.


"Iya!", pria itu menjawab dengan suara yang teramat lirih. Kali ini Sam yang mengerucutkan bibirnya kesal. Kalah lagi,, kalah lagi. Kapan sebenarnya ia bisa menang melawan wanitanya itu?!


"Tenang saja, Sayang! Aku masih cukup tau diri untuk memilih pakaian yang sesuai untuk pergi ke sana. Percaya saja padaku, oke!", wanita itu berucap dengan nada manja. Juga dengan kerlingan mata sebelum ia benar-benar menutup panggilan video itu.


Akhirnya wanita itu kegirangan karena telah terlepas dari Sam yang menyebalkan. Tapi kemudian wajahnya berubah kesal saat melihat ke sekeliling dimana banyak sekali pakaiannya yang berserakan di lantai. Wajah Sarah berubah merah padam.


"Saaamm!", ia pun berteriak sangat kesal di dalam kamarnya sendiri. Kekacauan ini memang karena ulah lelaki konyol itu.


***


Sedangkan pria yang kini masih duduk di belakang mejanya, saat ini masih memiliki ekspresi wajah yang sama. Rahangnya jatuh ke bawah dan matanya masih tertuju pada layar ponselnya yang kini sudah berubah hitam semua.


sayang


Selalu ia anggap sebagai sebuah keajaiban jika calon istrinya itu memanggilnya dengan kata sayang. Hal itu selalu menjadi hal yang menakjubkan dan memberi semilir angin sejuk bagi indera pendengarannya. Dimana biasanya telinga pria itu selalu menikmati teriakan-teriakan Sarah saja.


Seperti orang bodoh, pria itu tersenyum lebar sekali dengan pandangan lurusnya. Otak dan hatinya sedang disandera oleh wanita itu saat ini. Panggilan sayang itu terus terngiang-ngiang di telinganya.


ttok,,, ttok,,, ttok


Suara ketukan pintu yang bersambut terus menerus pun mengganggu lamunan indahnya.


bbrraakk

__ADS_1


Lalu tiba-tiba pintu ruangan miliknya yang kokoh itu ditendang dari arah luar dengan tidak sabar. Hingga menimbulkan suara benturan ke dinding yang sangat keras. Bahkan Sam pun sampai melonjak dari tempat duduknya.


__ADS_2