
Pagi itu Ana dan Ken sudah siap di halaman mansion milik Ken yang mereka putuskan untuk menjadi rumah tinggal mereka. Sedangkan mansion milik mendiang Tuan Danu biar dirawat dan dijaga oleh Bi Rani dan yang lainnya. Keduanya sudah akan memasuki mobil yang telah disiapkan oleh Han. Nanti, Ken akan berangkat ke rumah sakit lebih dulu dengan Ana untuk menjenguk Sam. Barulah dia pergi bekerja.
"Benar tidak apa-apa Ken jika kita ke rumah sakit lebih dulu? Bagaimana dengan pekerjaanmu nanti?", Ana sedikit khawatir dan tidak enak hati kepada suaminya.
"Tenang saja, sayang! Semua sudah terkendali. Tanyakan saja Han jika tidak percaya!", jawab Ken berusaha meyakinkan istrinya itu.
"Benar Nona! Tenang saja, semua jadwal Tuan Ken sudah saya undur beberapa jam ke belakang, jadi tak ada masalah", Han mengangguk pasti dengan penuh keyakinan.
"Baiklah! Lalu,,,, lalu apa kau juga akan mengundur pernikahanmu dengan Kak Risa seperti jadwal presdirmu ini?", ia sedikit mengangkat masalah ini ke atas karena merasa kasihan dengan Han dan Risa yang masih belum juga merencanakan pernikahan mereka lantaran terlalu sibuk di perusahaan.
Sampai saat ini memang baik Ana maupun Ken belum memutuskan siapa yang akan mengurus perusahaan mendiang Tuan Danu yaitu, Winata Group. Maka dari itu, sementara ini Risa yang Ana percayakan untuk memegang kendali di perusahaan itu. Sedangkan selama beberapa waktu ini, Presdir Ken yang terhormat tengah sibuk mengurus kepentingan yang menyangkut istrinya. Maka dari itu pula, sementara ini Glory Coorporation dipercayakan kepada Han.
Sepasang pria dan wanita itu, yang padahal telah bertunangan lebih dulu, sampai sekarang belum ada kepastian masa depannya. Dan Ana menjadi prihatin akan hal itu. Meski mereka berdua tak pernah mempermasalahkannya, tapi karena Ana juga tau hal itu disebabkan oleh dirinya dan juga Ken, maka Ana menjadi tak enak hati kepada mereka.
"Kami bisa memikirkannya nanti, Nona!", jawab Han sopan.
"Jangan terlalu sungkan begitu, Han. Panggil aku Ana saja. Kau adalah tunangan Kak Risa. Dan Kak Risa sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri. Jadi nanti ketika kau sudah menjadi menikah dengan Kak Risa, maka kau akan jadi kakak iparku. Benar begitu kan, Ken?", tutur Ana polos dan manja sambil bergelayut di lengan suaminya di kursi belakang.
Han bingung harus menjawab apa, pasalnya saat ini ia sedang mendapat hunusan tajam sepasang mata elang dari bosnya itu. Sangat jelas terlihat dari spion tengah, karena Han saat ini duduk di samping supir.
"Berani kau memanggil istriku begitu?! Hanya aku yang boleh memanggilnya seperti itu! Bonus hangus, cuti tahunan juga hangus! Menikah undur tahun depan!", ancam Ken dari sorot matanya.
"Maaf Nona, saya tidak berani. Emm,, emm,, maksud saya, saya sudah terbiasa. Akan aneh jadinya jika saya mengubah panggilan untuk Nona", Sam buru-buru berkilah dan memperbaiki alasannya agar lebih tepat dan tak mendapat jawaban lagi dari Ana. Ia tak ingin berurusan dengan suaminya yang super posesif itu.
__ADS_1
"Yah, baiklah terserah kau saja!", Ana mengalah. Ia tak ingin berdebat lebih lanjut.
"Berapa lama lagi kita akan sampai?", tanya Ana pada Ken.
"Mungkin sekitar satu jam lagi!", jawab Ken sambil mengusap lembut kepala istrinya ditambah lagi dengan senyum mempesona yang menghangatkan.
"Baiklah, kalau begitu aku tidur dulu saja!", Ana menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya. Lalu ia segera mencari kenyamanan di sana, hingga akhirnya matanya terpejam dan terbawa mimpi indah.
Ken kembali mengusap-usap kepala istrinya itu dengan penuh kasih sayang. Tapi matanya jelas menatap tajam ke arah luar jendela kaca. Mengingat kejadian semalam, mendengar percakapan semalam, pria itu seperti sedang memikirkan sesuatu tentang adiknya. Bagaimanapun dinginnya sikap yang Ken tunjukkan, dia tetaplah kakak yang baik yang selalu memperhatikan adik dan keluarganya. Rasanya pria itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Sam di sana. Sesuatu yang penting ini harus ia bahas secepatnya.
***
Mereka bertiga sudah akan sampai di kamar dimana adiknya Ken itu dirawat. Beberapa meter dari pintu, terdengar suara beberapa orang yang saling berdebat. Dan ada suara Sam di antaranya.
"Ohh, halo sayang! Kau juga kemari, Ana!", sapa Nyonya Rima lembut kepada putra dan menantunya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa ribut sekali?", tanya Ken setelah melepaskan pelukan ibunya. Matanya bergerak menyapu seluruh ruangan itu, begitupun dengan melihat Sam, ayahnya kemudian berakhir dengan melihat ke arah ibunya.
"Ada apa dengannya?", jelas sebuah tanda tanya besar ia ajukan melihat kondisi adiknya yang sedikit kacau. Wajah kusut dan lingkar mata yang menghitam, jelas menandakan pria ini tidak tidur semalaman.
"Adikmu bersikeras untuk pulang. Padahal dokter bilang tunggu observasi berikutnya. Paling tidak sore ini dia bisa pulang. Tapi bocah ini tetap keras kepala dan ingin pulang sekarang juga!", jelas Tuan Dion sambil melayangkan tatapan dingin ke arah putra bungsunya. Sedangkan yang ditatap tak kalah mengeluarkan ekspresi sengitnya. Dan yang lainnya, masih berusaha menerka-nerka. Termasuk Ana dan Ken tentunya.
"Ayah tau sendiri masalahnya, bukan?! Untuk apa berdebat lagi denganku!", seru Sam terdengar sengit. Sam yang biasanya ceria, Sam yang biasanya terlihat konyol, kini hanya ada Sam dengan wajah kesal dan kusutnya.
__ADS_1
"Biarkan kondisimu benar-benar membaik dulu, Sam. Lagipula dokter bilang paling cepat sore ini kau sudah diperbolehkan pulang, nak!", Nyonya Rima berucap lembut berusaha menjelaskan. Bukannya ia juga tidak tau duduk permasalahannya, semalam begitu kembali ke kamarnya, Tuan Dion segera memberitahukan kejadian itu kepada istrinya yang tiba-tiba terjaga dari tidurnya. Hanya saja sebagai orang tua, baik Tuan Dion dan juga Nyonya Rima merasa khawatir dengan kondisi Sam saat ini. Belum lagi semalaman pria itu terjaga dan benar-benar tidak memejamkan mata barang sedetikpun. Apa jadinya nanti jika kedua orang tua itu mengizinkan putra bungsunya untuk tetap pergi, kemungkinan buruk pasti akan terjadi. Dan mereka berdua berusaha mencegah hal itu terjadi.
"Kau bahkan belum menyentuh sarapanmu!", tambah Tuan Dion lagi sambil melirik ke arah satu set sarapan yang masih utuh di atas nakas.
"Ayah, Bunda, lebih baik beristirahat dulu. Biar anak ini kami yang mengurusnya", Ana berusaha menengahi hal ini. Ia menggenggam tangan Tuan Dion dan Nyonya Rima bersamaan sambil menatap ke arah mereka penuh keyakinan.
"Baiklah! Aku serahkan bocah ini kepadamu, sayang!", Nyonya Rima membalasnya dengan anggukan kecil dan senyuman.
"Kami keluar dulu!", ucap Tuan Dion sambil lalu kemudian disusul oleh Nyonya Rima dibelakangnya.
Tiba-tiba aura dingin merebak ke seluruh penjuru ruangan itu. Tapi bukan dari Ken, melainkan dari tubuh istrinya yang saat ini sedang berkacak pinggang dengan wajah khas garangnya.
-
-
-
-
-
maaf ya baru bisa update 🙏
__ADS_1
sebagai tanda buat nebus kesalahan, author kasih crazy up tapi ga terlalu banyak ya 😁