
"Ana!", seru Sarah yang sama-sama memandangi kepergian dua orang itu dalam diam.
"Aku sedang tidak ingin ikut campur urusan orang lain! Nanti kita pasti akan tahu sendiri apa masalahnya!", ucap Ana sambil berlalu begitu saja.
Sarah meringis memandangi kakak iparnya itu. Memangnya dia akan bertanya apa?! Padahal ia akan bertanya mereka akan meneruskan langkah mereka menuju taman, atau kembali ke kamar Louis saja. Sebenarnya memang sahabat sekaligus kakak iparnya ini yang suka terlibat dengan urusan orang lain. Bukankah begitu?!
Melihat arahnya, sepertinya ibu hamil itu memutuskan untuk tetap pergi ke taman. Ia pun mau tidak mau mengikutinya. Sebagai adik ipar yang baik, ia tentu harus menjaga wanita hamil ini, bukan?! Sebab ia tidak ingin berurusan dengan kakak ipar lelakinya yang seram itu.
Melihat ke belakang, sebenarnya ia juga penasaran akan hubungan Nyonya Harris dengan wanita muda tadi. Sepertinya ada yang mencurigakan.
***
Angin dingin sudah menyusup ke sela-sela ventilasi jendela setiap ruangan. Langit di luar sana juga sudah bermetamorfosis menjadi gelap sejak tadi. Masa ini telah menghampiri tengah malam yang sudah melambaikan tangan kepada semua umat yang sudah beranjak untuk merehatkan jiwa raganya.
Di salah satu kamar tamu yangn disediakan oleh Tuan dan Nyonya Harris, masih ada penghuni yang masih belum memejamkan mata mereka meskipun waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam waktu setempat. Ada Sarah dan Sam yang matanya masih terjaga lantaran terlibat perbincangan ringan yang sudah lama tak mereka lakukan.
Sepasang suami istri itu duduk berdampingan dengan suasana hati riang. Jarang juga mood istri dari Sam itu sedang sebagus ini. Sampai tak ada kemarahan wanita itu di tengah perbincangan mereka sama sekali. Lantas Sam harus memanfaatkan momen ini untuk mengambil hati istrinya itu, supaya ia bisa menyelesaikan puasanya yang sudah berjalan selama satu minggu lebih ini. Sungguh, ia sudah berusaha keras untuk menahan diri. Membiarkan tenggorokannya dahaga sepanjang waktu, hingga kepalanya mengalami tornado setiap kali melihat istrinya yang cantik itu baru saja selesai mandi. Oh,, selama masa kemarin itu benar-benar menyakitkan baginya! Jadi, malam ini ia berencana untuk tidak melepaskan Sarah begitu saja.
"Sam!", tiba-tiba Sarah mengingat sesuatu, lalu ia menghadapkan tubuhnya ke arah suaminya.
"Ya!", pria itu melihat wajah istrinya yang sekarang nampak serius dan sedang berpikir. Ia jadi penasaran dengan topik apa yang akan di angkat oleh istrinya itu.
"Tadi setelah aku dan Ana keluar dari kamar Louis bersama dengan Nyonya Harris, tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampiri kami. Tidak, tidak,, lebih tepatnya dia menghampiri Nyonya Harris", Sarah mengingat-ngingat kejadian tadi sambil menggerakkan bola matanya ke atas. Seperti ada bayangan kilas balik kejadian tadi di rumah sakit di permukaan langit-langit kamar itu.
"Lalu? Dia cantik tidak?", Sam masih belum tahu arah perbincangan Sarah. Tapi ia lebih suka untuk menggoda istrinya. Ia tampakkan wajah penasaran yang luar biasa, seakan-akan ia ingin mengenal wanita yang sedang Sarah bicarakan itu.
"Mau ku pukul, ya, kepalamu?", setelah sekian lama, akhirnya muncul juga wajah garang khas Sarah yang ia tunjukkan kepada suaminya. Wanita itu menaikkan tinjunya ke samping kepala.
"Hiihh! Istriku menggemaskan sekali saat sedang cemburu begini!", Sam tertawa sambil mencubit gemas kedua pipi istrinya itu sampai kepalanya ikut bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Sakit, Saaaamm!", pekik Sarah seraya melepaskan tangan yang menyiksa wajahnya. Langsung saja pipi wanita itu berubah warna seperti bunglon, merah terang karena Sam mencubitnya terlalu kencang.
"Kau keterlaluan!", serunya lagi dengan nada kesal yang sedikit manja. Bibirnya meringis, tangannya mengusap-ngusap pipinya yang terasa panas.
"Habisnya kau gemas sekali saat sedang cemburu seperti itu! Aku jadi tidak tahan!", pria itu terkekeh, tidak merasa bersalah sama sekali dengan perlakuannya tadi. Tapi ia membantu Sarah mengusap pipi istrinya yang memang sedang kesakitan itu.
"Makanya jangan coba-coba menampakkan wajah mengesalkan itu lagi!", ancam Sarah sambil mengerucutkan bibirnya. Siapa juga yang akan suka jika suaminya amat penasaran dengan rupa wanita lain?! Masih untung ia tidak memukulnya! Jika moodnya sedang tidak bagus, mungkin sudah timbul satu gundukan di dahi suaminya itu.
__ADS_1
"Mana mungkin! Aku sudah tidak ada minat lagi terhadap wanita lainnya! Yang aku inginkan hanya dirimu saja, Sayang!", ia cubit kecil dagu istrinya itu dengan senyuman menggoda.
"Hemm! Dasar gombal! Entahlah, aku ini sudah wanita ke berapa yang kau gombali seperti itu!", buru-buru Sarah menghadap ke depan lagi seraya mengalihkan pandangannya ke samping.
"Sebenarnya aku juga lupa!", sedikit berpikir, Sam lalu menampilkan senyum konyolnya sambil menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal sama sekali.
"Kau,, !", seketika Sarah menoleh sambil mengetatkan rahangnya. Rambutnya yang tergerai langsung menampar wajah Sam tanpa sengaja. Tangannya langsung mencengkeram udara dengan wajah tidak sabar. Ia sudah ingin mencabik-cabik pria itu sekarang dengan serakah.
cup
Tapi pria itu malahan mendaratkan satu kecupan ringan pada bibir istrinya. Sarah sempat hilang kesadaran untuk beberapa saat.
"Wajahmu yang galak seperti ini yang membuatku selalu jatuh cinta!", ucap Sam seraya menegakkan tubuhnya lagi.
"Karena tidak ada wanita yang meskipun sudah tahu siapa diriku sebenarnya, tapi masih menunjukkan sifat aslinya. Semua wanita yang mengenalku kebanyakan munafik dan hanya menginginkan uang dan statusku saja!", tuturnya lagi seraya memperdalam tatapannya terhadap mata Sarah yang masih mengedip dengan polosnya.
eherm,, eherm,,
Sarah berdehem dengan keras untuk mengusir perasaannya yang tiba-tiba menghangat. Sebelum ia terbawa suasana dan masuk ke dalam perangkap suaminya yang jahil dan konyol ini, lebih baik ia menyadarkan diri. Lagipula ia masih ingat hukuman satu bulan untuk suaminya itu berpuasa. Dan saat ini Sam masih menjalaninya, kan!
Hah! Dalam hati Sam mendesah karena istrinya itu tidak dapat masuk ke dalam perangkap pernyataan cinta yang mendalam ini. Tidak tahukah istrinya itu, jika saat ini ia sudah sangat gatal untuk menyentuhnya di sana-sini! Sam memicingkan matanya dengan samar. Ia tidak akan berhenti begitu saja untuk mendapatkan jatahnya yang sudah tertunda selama seminggu lebih ini.
"Tidak masalah! Kau adalah istriku! Seperti yang kakak katakan waktu itu. Semua yang aku miliki adalah milikmu juga. Bahkan rahasiaku akan menjadi milikmu juga!", tak melepaskan pandangan intens itu kepada istrinya, Sam sekarang mengambil jemari Sarah untuk ia genggam dengan begitu lembutnya.
eherm,, eherm,,
Sarah kembali mengeluarkan suara keras dari mulutnya. Ia tak ingin masuk ke dalam perangkap manis kata-kata suaminya itu. Meski harus Sarah akui jika kemampuan merayu mantan playboy itu masih lekat di kepalanya. Heh! Manis sekali mulut suaminya itu! Lalu ia mengerutkan keningnya saat terlintas sesuatu di dalam benaknya.
"Tapi,, berbicara tentang rahasia! Mungkinkah ada yang disembunyikan oleh Nyonya Harris dari kita semua?! Aku jadi sangat penasaran siapa wanita muda itu sebenarnya. Karena dia terlihat sangat mengkhawatirkan Louis tadi", tangan yang tak digenggam ia gunakan untuk memegang dagunya sambil berpikir keras. Tidak mungkin juga jika itu merupakan adik atau kakak dari Louis, karena yang ia tahu lelaki itu merupakan anak tunggal.
"Biarlah! Jangan pikirkan hal itu! Kita pasti akan mengetahuinya cepat atau lambat!", ujar Sam sambil mengangguk kecil.
"Kenapa ucapanmu sama seperti Ana?! Menyebalkan sekali!", wanita itu langsung memalingkan wajahnya ke samping. Rasanya kesal, karena ia tidak dapat pencerahan sama sekali tentang masalah yang ia pikirkan saat ini. Sedangkan masalah ini sebenarnya juga menyangkut dengan urusan sahabatnya sendiri, yaitu Krystal.
"Daripada mencari tahu rahasia orang lain.Lebih baik kita membicarakan rahasia kita sendiri!", saat wanita itu lengah, Sam menangkap kedua pergelangan tangan Sarah kemudian pria itu langsung menjatuhkan tubuhnya.
"Sam, kau kan sedang dihukum untuk tidak menyentuhku selama sebulan ini! Dan ini baru saja berjalan satu minggu!", seru Sarah sambil berusaha melepaskan tangannya yang sudah diborgol oleh tangan suaminya.
__ADS_1
"Ralat, Sarah! Ini sudah berjalan satu minggu lebih! Sudah sembilan hari!", ucap pria itu yang sekarang sudah menindih tubuhnya.
"Ya, sama saja! Hanya beda dua hari saja, kan! Anggap saja baru satu minggu!", ujar Sarah tak mau kalah sambil cemberut.
"Itu selisih yang sangat besar, Sayang! Apakah kau tahu?! Tidak memelukmu, apalagi menyentuhmu selama satu hari saja rasanya sudah sangat menyiksa bagiku. Dan kau tahu, sudah berapa hari yang aku lewati dengan siksaan ini?! Sudah sembilan hari seluruh tubuhku sakit menahan siksaan ini sendirian!", jawabnya sambil mengusap wajah istrinya itu dengan lembut. Pandangan mata Sam berubah sendu sambil menampilkan wajah menyedihkannya.
"Benarkah?!", tanya Sarah sambil mengubah ekspresinya. Ia tidak menyangka jika suaminya akan merasa tersiksa seperti itu. Baginya yang seorang wanita, terasa biasa saja. Makanya ia tidak berpikir sampai ke situ. Jadi ia pikir puasa satu bulan itu bukanlah hukuman yang terlalu berat untuk suaminya.
Sam mengangguk beberapa kali sambil menampilkan wajah imutnya yang menyedihkan. Melihat perubahan pada wajah istrinya itu, ia yakin jika malam ini akan berhasil.
"Baiklah!", Sarah meniupkan nafas ketidakberdayaannya ke samping.
"Tapi,, pelan-pelan!", ujarnya lalu dengan suara manja. Ia bahkan sampai malu sendiri dengan suara yang ia keluarkan barusan. Sarah menoleh ke samping, menyembunyikan wajahnya di balik lengannya yang masih terangkat ke atas. Dan ia juga malu karena dia sendiri yang sudah mengakhiri hukuman untuk Sam yang ia buat sendiri. Bukan apa-apa,, ia hanya tidak tega setelah tahu jika suaminya itu sudah sangat tersiksa selama ini. Daripada Sam melepaskan siksaannya di luar, lebih baik ia saja yang melepaskan siksaan itu, pikirnya.
"Aku tidak sedang bermimpi, kan, Sayang?!", Sam langsung membuka cengkeraman tangannya yang memborgol tangan Sarah. Wanita itu sedikit lega karena tangannya tidak terasa pegal lagi. Tapi ia masih malu saat ini, jadi ia kembali memalingkan wajahnya yang bersemu ke samping.
"Terima kasih, Tuhan! Akhirnya hukuman ini berakhir juga!", Sam lalu menangkupkan kedua tangannya untuk memanjatkan rasa syukurnya. Jika tahu akan semudah ini, maka ia sudah akan berusaha dari kemarin-kemarin saja.
"Kau ini ada-ada saja!", Sarah memukul pelan tubuh suaminya. Lalu ia menutup wajahnya merasa malu yang tidak tertahankan, ditambah lagi dengan sikap konyol suaminya itu.
"Aku sangat senang, Sayang!", ucap Sam terkekeh seraya menautkan seluruh jemarinya ke jemari Sarah yang saat ini masih berada di bawahnya. Satu kecupan demi kecupan lainnya berlanjut setelah itu.
"Tapi,, pelan-pelan, Sam!", Sarah masih ingat untuk memperingati lelaki itu ketika keduanya melepaskan ciuman mereka.
"Maaf, Sayang! Untuk yang satu ini aku tidak janji!", Sam tersenyum konyol sebelum menyerang istrinya itu dengan ciuman yang lebih panas.
Sarah pasrah! Ia memang sedang memberikan makanan kepada serigala yang sudah kelaparan selama berhari-hari. Dan entah sejak kapan seluruh pakaiannya sudah ditanggalkan dan terhempas ke mana-mana. Kini yang ia rasakan adalah angin sejuk pendingin ruangan yang tidak menyejukkan mereka sama sekali. Keduanya terbakar di atas ranjang yang kini mulai berantakan. Hingga peluh-peluh bercucuran di atas permukaan kulit. Juga irama penyatuan cinta yang sungguh memabukkan.
-
akhirnya aku kembali teman-teman 😊
mohon maaf karena sudah libur menulis terlalu lama,, aku butuh rehat sejenak dari semua hal yang bikin otak aku penuh,, mohon pengertiannya ya semuanya 🙏
semoga kalian masih suka sama tulisan aku yang ecek-ecek ini 🤭
keep strong and healthy ya 🥰
__ADS_1