
"Apakah aku pantas menjadi pasangannya?", tanya Ana tiba-tiba yang raut wajahnya terlihat datar tak terbaca.
***
Sarah belum menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Ia masih mengawasi gerak-gerik Ana dari samping. Sarah merasa pasti Ana sedang terbawa oleh ucapan Nyonya Rima tadi. Ia menatap Ana sendu. Kemudian ia menangkup pipi Ana dengan kedua tangannya, menghadapkan wajah Ana padanya.
"Hey, kau ini kenapa! Hanya kau yang pantas menjadi pendamping Tuan Ken!", ucap Sarah lembut untuk meyakinkan Ana.
"Tapi aku tidak ada apa-apa nya jika dibandingkan dengan Nona Joice itu!", Ana makin menundukkan kepalanya.
Ia merasa lebih rendah dari Joice, ia tak memiliki prestasi apa pun untuk dibanggakan. Ia hanyalah seorang Ana, seorang wanita biasa yang mencintai Presdir Ken yang terhormat. Seharusnya yang mendampingi Ken adalah wanita luar biasa dengan segala talenta yang ia punya. Ana merasa ia tak memiliki hal itu saat ini. Maka dari itu, dirinya tak bisa dibandingkan dengan Joice yang berada jauh di atasnya.
"Ana cukup! Cukup merendahkan dirimu sendiri. Lihatlah kau ini adalah Nona Keana Winata. Kau adalah seorang tuan putri terhormat yang tidak manja dan mandiri. Jika kau merasa memiliki mimpi, maka raihlah mimpimu tunjukkan pada orang-orang bahwa kau ini bahkan tidak bisa dibandingkan dengan siapa pun sehingga hanya kau yang pantas menjadi pendamping untuk Presdir Ken yang terhormat itu!", tutur Sarah yang terus menyemangati sahabatnya.
Entah bisikan darimana Sarah bisa mengatakan semua hal itu. Instingnya mengatakan bahwa Ana memiliki kemampuan dan bakat yang belum pernah orang banyak tau. Ia akan menjadi orang hebat kelak, ditambah lagi dengan kebaikan hati Ana yang sangat tulus setiap membantu orang lain tentu akan menjadikannya seseorang yang disegani.
"Hah!", Ana menghembuskan nafasnya sangat panjang.
"Maukah kau menemaniku malam ini? Rasanya aku belum ingin pulang", Ana merasa membutuhkan sedikit waktu untuk menjernihkan pikirannya.
"Hey, ini sudah jam berapa?! Ayahmu pasti akan khawatir padamu!", ucap Sarah.
"Kalau masalah itu tenang saja, ayah pasti akan memonitor ku lewat pria-pria itu. Tapi jika kau tak ingin menemaniku, baiklah aku sendiri saja", Ana berpura-pura memasang wajah menyedihkan. Sesekali dia melirik ke arah Sarah untuk memastikan jurusnya berhasil.
"Hah, kau ini! Yasudah baiklah, aku milikmu malam ini", ucap Sarah dengan nada menggoda. Ia menjentikkan telunjuknya pada dagu Ana sambil mengedipkan sebelah matanya.
Ana refleks menjauhkan tubuhnya dari Sarah. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Seolah menjadi tameng bagi tubuhnya. Ana menatap Sarah sambil bergidik ngeri.
"Maaf nona, aku masih normal. Sebaiknya kau jaga jarak dariku, pergi sana pergi!", Ana mengusir Sarah dengan menghempaskan tangannya di udara.
"Benarkah?!", tanya Sarah menggoda. Ia makin mendekatkan tubuhnya ke arah Ana yang berlawanan makin menjauhkan dirinya dari Sarah. Hingga Ana terpojok sampai ke pintu mobil, Sarah langsung menerkam Ana dan menggelitiki pinggang nya lagi. Begitu bergantian mereka saling menggelitiki hingga tawa mereka memekik di telinga si pengemudi.
***
__ADS_1
"Kemana mereka pergi?", tanya Ken yang melihat pelacak itu bergerak tidak ke arah kediaman Ana.
"Mana aku tau, kakak! Tugasku adalah menyetir bukan menebak-nebak. Aku bukan peramal, malahan aku ingin diramal", ucap Sam sambil terus melihat ke arah depan dan ia tersenyum konyol ke arah Ken.
"Plakk", satu pukulan Ken hadiahkan di kepala Sam.
"Aduh!", Sam mengaduh kesakitan sambil mengelus bagian kepalanya yang sakit.
"Kenapa setelah bertemu kakak ipar kau jadi suka memukul ku sih, kak! Tidak jantannya, tidak betinanya, sama-sama menyeramkan. Hiihh!", Sam bergidik ngeri di tengah kegiatan menyetirnya.
"Isi kepala mu supaya lebih berguna! Jika kepalamu selalu kosong, aku akan terus memukulmu", ucap Ken datar.
"Huh!", Sam mengerucutkan bibirnya sambil melirik sebal ke arah kakaknya itu.
"Ikuti mereka!", perintah Ken.
"Iya aku tau! Tidak usah memerintahku! Memangnya kau saja kak yang khawatir, aku juga!", ucap Sam ketus tapi kali ini ekspresinya tak dapat dibaca.
"Aku tidak buta, Sam. Aku tau isi pikiranmu saat ini, heh!", ucap Ken dalam hati.
***
Mobil Ana berhenti di pinggiran sebuah danau yang luas. Ana mengajak Sarah keluar dari mobil. Waktu yang sudah hampir tengah malam ini tentu saja membuat angin menusuk kulit mereka. Terlebih lagi kedua wanita itu masih menggunakan gaun yang sama untuk makan malam tadi.
Ana sudah memprediksi hal ini, jadi saat di perjalanan ia memerintahkan bodyguardnya untuk membelikan mereka selimut untuk mereka pakai saat ini. Kedua wanita itu sudah duduk sebuah bangku panjang dengan selimut yang menutupi bagian atas tubuh mereka.
"Sarah!", panggil Ana.
"Emmh", jawab Sarah singkat ia masih sibuk membenarkan belahan gaunnya agar menutup rapat pada kakinya.
"Pernahkah kau jatuh cinta?", tanya Ana sambil menatap luasnya danau itu.
"Hey, tentu saja pernah! Berapa umurmu sekarang? Mengapa kau menanyakannya hal itu? Itu merupakan pertanyaan seorang bocah remaja!", bukannya menjawab Sarah malah meledek Ana sambil tertawa ringan.
__ADS_1
"Hey, apa susahnya menjawab hah!", Ana menaikkan intonasi suaranya. Ia kesal belum apa-apa Sarah sudah mengejeknya.
"Baiklah, baiklah! Aku akan menjawab sekarang. Aku pernah jatuh cinta beberapa kali. Tapi kemudian aku jatuh dan patah hati. Intinya jika kau sudah jatuh cinta dan siap menjalin hubungan berarti kau harus siap untuk sakit, Ana. Tapi tenang saja, kurasa Tuan Ken mu itu sepertinya tidak akan menyakitimu", tutur Sarah dengan santainya.
"Bagaimana kau tahu dia tidak akan menyakitiku? Kau baru saja mengenalnya, bahkan baru pertama bertemu dengannya bukan!", timpal Ana heran dengan penuturan Sarah yang terdengar mengada-ada menurutnya.
"Tentu saja aku tau! Saat kau bertengkar dengan ibunya tadi, bahkan ia berusaha tenang dan tetap membelamu. Dari sorot matanya, dapat dilihat bahwa ia begitu mencintaimu Ana. Ia tak akan rela bahkan nyamuk sekalipun untuk menyakitimu", ucap Sarah dengan gerakan-gerakan yang di dramatisir.
"Heh, kau ini mengapa sejak tadi ku dengar pendapatmu seperti orang yang sok tau!" ucap Ana kemudian memberi jeda sebentar untuknya mengambil nafas.
"Aku ini lebih berpengalaman dibandingkan dirimu, Nona!", Sarah menjentikkan telunjuknya ke dagu Ana.
"Haaah!", Ana menghela nafas panjang. Ia kembali menghadapkan wajahnya ke arah danau. Ia mencoba menelaah setiap ucapan Sarah barusan.
"Masalah akan timbul bukan hanya berasal dari diri kalian. Bisa saja timbul dari lingkungan, tempat kerja maupun keluarga. Ya contohnya, seperti yang baru saja kita alami!", Sarah melanjutkan ucapannya dan ikut menghadap ke arah danau.
"Maaf!", ucap Ana tulus.
"Untuk apa kau meminta maaf?", tanya Sarah heran.
"Maaf karena kau diperlakukan kasar tadi", jawab Ana sedih. Ia kembali merasa tidak enak hati saat mengingat kejadian dimana dirinya tak bisa melindungi sahabatnya itu.
"Ana, yang seharusnya minta maaf itu mereka. Bukan dirimu, memangnya kau salah apa padaku, hah?!", ucap Sarah menoleh ke arah Ana yang sudah menundukkan kepalanya.
"Ayolah, Ana! Kau mengajak ku ke sini untuk mengembalikan semangatmu kan! Bukannya untuk membuatmu menjadi murung", ucap Sarah begitu gemas.
"Iya, iya baiklah! Kau cerewet sekali seperti seorang nenek tua!", ucap Ana sambil terkekeh riang.
Ana sendiri juga berusaha memulihkan semangatnya, mengembalikan energinya dan juga menjernihkan pikirannya yang lagi-lagi akan merendahkan diri sendiri. Mereka berbincang, bercanda tawa hingga tanpa sadar mereka terlelap dengan kepala saling menyanggah satu sama lain.
Ketiga bodyguard Ana berjaga dari jarak yang tidak terlalu jauh. Mereka masih mengawasi Ana dan Sarah yang masih tertidur berdua. Mereka tak melakukan tindakan karena Ana yang sebagai nonanya tidak memberikan perintah apa-apa. Jadi tugas mereka saat ini adalah memastikan bahwa nonanya itu tetap aman.
Hingga terdengar suara langkah kaki mendekat. Ketiga orang itu berdiri menegang, mereka mulai waspada pada siapa seseorang yang datang ini.
__ADS_1