Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 142


__ADS_3

Joice keluar dari mobilnya masih dengan setelan yang sama seperti yang ia gunakan kemarin. Ia tak sempat berganti pakaian karena jadwalnya hari ini memang cukup padat. Mengingat bahwa dua hari lagi ia akan cuti untuk melangsungkan pernikahannya dengan Ken, maka ia harus segera menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tak bisa ditunda.


"Hai, sayang!", sapa Nyonya Rima riang seakan ia tak mengetahui apapun.


"Jadi dia masih menggunakan pakaian yang sama dengan yang di foto?! Berarti kejadian itu terjadi kemarin atau pun semalam", Nyonya Rima menerka dalam hatinya.


"Wah,, Tante datang!", seru Joice seraya berjalan mendekat ke arah calon ibu mertuanya itu dan memberi pelukan seperti biasanya.


Sam yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa mencibirkan bibirnya melihat wajah polos wanita licik itu. Matanya beberapa kali melirik ke arah jam tangannya dengan perasaan was-was.


"Dasar pengantin baru! Apa mereka tidak bisa menahan diri sedikit saja, heh!", gerutu Sam dalam hati.


Tak lama Ken datang ke dalam ruang ganti itu. Sam yang pertama melihatnya pun segera menghampirinya dan membuat posisi supaya kedua wanita yang sedang mengobrol itu tidak melihat ke arah kakaknya.


"Bagaimana jika Nona Joice mencoba gaun pengantin yang telah kakak persiapkan. Lalu aku akan membantu kakak mengganti jasnya agar serasi dengan Nona Joice nanti", ucap Sam tergesa-gesa sambil menghalangi Ken agar tak melangkah lebih jauh lagi ke dalam.


"Ken! Kau kah itu?!", seru Joice dari tempat duduknya. Ia sangat ingin bertemu dengan calon pengantin prianya itu.


Ken mengernyitkan alisnya saat Sam terus memberi isyarat dengan matanya yang terus membulat besar. Ken mengedikkan kedua bahunya dengan wajah tak bersalah ketika ia tak juga menemukan ide dengan maksud isyarat adiknya itu. Hampir putus asa, akhirnya Sam memutar tubuh kakaknya itu dengan paksa hingga Ken dapat melihat pantulan dirinya pada pintu ruangan yang terbuat dari kaca. Sam memajukan bibirnya berulang kali berharap kakaknya mengerti. Namun tetap saja Ken melemparkan pandangan penuh tanda tanya padanya. Sam menepuk keningnya frustasi.


"Bibirmu berantakan!", bisik Sam ke telinga kakaknya sambil menggeram tak sabar.


"Oh! Hehe", dengan wajah tanpa dosa Ken mengusap sedikit bibirnya yang ternyata terdapat sisa lipstick Ana menempel di sana.


"Iya, aku akan mengganti pakaianku dulu!", seru Ken ke arah dalam.


Lalu ia dan juga Sam melangkah menuju ruang ganti lainnya. Sambil berjalan Sam tak henti-hentinya mengomel dan menggerutu pelan.


"Bisa-bisanya ia tidak menyadari jika bibirnya berwarna merah sepenuhnya! Aish, aku benar-benar frustasi melajang seperti ini! Apa sebegitu nikmatnya mempunyai seorang istri?! Dasar pengantin baru, sebelum dan sesudah menikah kalian selalu saja membuatku merana", gumam Sam frustasi.

__ADS_1


Ken tetap berjalan dengan tenang, memasang wajah datarnya dan tidak mempedulikan apapun yang ia dengar dari mulut adiknya itu. Karena saat ini moodnya sedang sangat baik. Setelah puas menikmati bibir wanitanya itu, ia kembali bersemangat untuk melakukan aktifitasnya. Apalagi jika ia diperintahkan meneruskan kegiatan mereka tadi di atas, tentu ia tidak akan menolaknya. Haha, Ken benar-benar menyeringai sepanjang kakinya melangkah ke ruang ganti lainnya.


***


"Astaga Ana, apa yang terjadi dengan bibirmu?!", Sarag berdecak kesal. Tangannya segera mengambil tisu dan memberikannya kepada Ana dengan kasar. Tanpa bertanya pun ia sebenarnya tau apa yang baru saja terjadi hingga membuat riasan sahabatnya ini berantakan. Tapi tidak harus di sini, kan! Tidak bisakah mereka menahan diri sebentar saja, apa mereka tidak memiliki hati sedikit pun pada para lajang lainnya. Isi pikiran Sarah tepat seperti apa yang Sam keluhkan di bawah sana kepada Ken.


"Kau iri kan, heh! Terlihat sekali di wajahmu!", Ana membuat pernyataan yang membuat Sarah tak mampu menjawab ucapannya. Tepat, seperti apa yang ada di dalam benaknya kini.


"Cepatlah menikah! Besok aku akan memerintahkan Sam untuk melamarmu!", gurauan Ana terdengar serius bagi Sarah. Ia membulatkan matanya dengan wajah kesal yang dibuat-buat.


"Jangan macam-macam, Ana! Siapa memangnya yang mau menikah dengan pria konyol dan bodoh itu!", sergah Sarah dengan cepat.


"Tentu saja kau, siapa lagi memangnya!", Ana benar-benar mampu membuat Sarah diam. Entah karena malas atau karena benar apa yang ia ucapkan. Sarah sepertinya hanya sedang menyangkal apapun yang Ana ucapkan. Karena mulai dari wajahnya saja pun sudah mengatakan 'iya'. Hanya sikap keras kepalanya saja yang terus menyangkal bahwa ia memang suka pada adik iparnya Ana itu.


"Sudah! Sini aku bantu merapikan riasanmu!", Sarah mengalihkan topik pembicaraan karena tak ingin terus digoda lebih jauh. Biar dia yang meyakini bagaimana dengan perasaannya itu sendiri.


***


Ia kini berdiri di depan cermin besar. Menatap dirinya bangga karena kelihatan begitu cantik dan menawan. Ia sangat yakin jika setelah melihatnya Ken akan luluh dengan kecantikannya. Tapi Joice salah besar, justru tepat saat ia menatap diri di cermin, Ken masuk ke dalam ruangan dengan setelan jas dan celana dengan warna senada. Ia benar-benar sangat tampan, pikir Joice. Tapi sayangnya sejak awal pula, Ken tak meliriknya sedikitpun.


Saat ini Butik Aslan terlihat sepi pengunjung. Hal itu terjadi karena Ken sudah membooking seluruh tempat itu khusus untuk menjalankan rencananya. Namun sepertinya Joice tidak menyadari hal itu karena ia tengah sibuk berbangga diri, setelah sekian lama akhirnya ia akan segera menikah dengan Ken yang sudah lama didambakannya.


Ken tau tatapan mata Joice saat ini adalah tatapan lapar dan haus pujian. Maka dari itu ia lebih baik acuh. Ia muak melihat wanita licik itu nanti akan menyombongkan diri dengan penampilan yang ia miliki. Padahal jelas-jelas bagi Ken dan memang kenyataannya Ana lebih cantik daripada tampilan Joice saat ini.


"Ini perasaanku saja atau memang Ana yang lebih cantik daripada Joice ya!", gumam Nyonya Rima pelan.


"Ada apa, Tante?", Joice mendengar wanita di sebelahnya ini bergumam.


"Tidak ada Joice! Mari Tunggu di sini, Tante akan memanggil fotografernya dulu", sesuai rencana mereka harus meninggalkan Joice sendirian di ruangan itu.

__ADS_1


"Aku akan mengambil sepatu yang cocok untukku!", ucap Ken tiba-tiba seakan menimbang-nimbang dengan mata yang melihat ke arah sepatunya.


"Baiklah, aku akan menunggumu, Ken!", Joice mengangguk dan tersenyum manis. Sepertinya wanita itu tidak mencurigai apapun saat ini.


Setelah hanya tinggal sendirian, Joice kembali menatap cermin besar itu sambil sesekali menyibakkan ujung gaun itu ke kan dan ke kiri. Terlihat sekali bahwa ia sedang amat senang hati. Tapi kegiatannya menatap diri terhenti saat tiba-tiba lampu ruangan yang lumayan besar itu tiba-tiba mati. Hawa dingin menusuk seperti terakhir kali datang lagi membuat Joice berjongkok dan meringkuk ketakutan. Firasat buruk datang menghampiri benaknya.


Lampu ruangan itu tiba-tiba berkedip-kedip. Remangnya pencahayaan saat itu membuat Joice sedikit memberanikan diri untuk bangkit, kembali berdiri meskipun lututnya terasa lemas. Apalagi saat ia benar-benar berdiri dan menatap ke arah cermin itu lagi. Betapa terkejutnya, pantulan yang ada di sana bukanlah bayangan dirinya, melainkan sosok Ana dengan riasan dan gaun yang tepat sekali sama dengan dirinya. Ana yang berada di sana seolah-olah berada di dalam cermin, tengah menyeringai seram. Jantung Joice berpacu begitu cepat.


"Tidak,, tidak mungkin!", ucapnya gemetar.


"Tidaaakk!!!!", kini Joice kembali jatuh tersungkur ke bawah sambil berteriak histeris dan tubuh gemetar ketakutan.


-


-


-


-


-


-


-


teman-teman jangan lupa ikutin terus ya akhir-akhir cerita ini,, dan ikutin juga ya ceritanya Ben dan Rose di sana..


🌹"Hey you, I love you!"🌹

__ADS_1


Dan aku ingetin sekali lagi,, jangan pernah lupa buat kasih like, vote sama komentar kalian di sana maupun di sini ya teman-teman 😘


keep strong and healthy ya guys 😉


__ADS_2