
"Panggil saja, Ben!", ucap Ben dingin seraya melepaskan tangannya pada prosesi perkenalan itu.
"Tapi maaf, sepertinya aku sudah memesan semua tempat ini untukku sendiri. Jadi kau tidak diterima di tempat ini!", tambahnya dengan gaya congkak.
Ken menatap sengit ke arah Ben yang juga sedang melempar pandangan yang sama. Baru kali ini ada seseorang yang begitu berani meremehkan dirinya. Biasanya orang-orang akan segan dan menghormati keberadaan dirinya, tapi kini tiba-tiba muncul pria dengan dandanan luar biasa memandang rendah dirinya begitu saja. Tapi ia tak ingin mempermasalahkan hal ini karena ia masih menghargai Ana. Bagaimana pun juga pria ini terlihat penting di sisi Ana.
"Hey kakak, sejak kapan kau jadi begitu pelit! Lagipula dia itu kekasihku, jadi anggap saja dia itu tamuku. Dan lagi sekarang aku adalah pemilik tempat ini, jadi aku bebas mengundang siapa pun!", ucap Ana sedikit keras sambil berkacak pinggang di hadapan Ben. Tentu saja ia harus membela Ken kali ini, karena jika tidak maka hanya akan ada perang di antara mereka semua.
Ken yang semula tak bergeming menjadi terkekeh saat mendengar penuturan Ana yang begitu lantang membelanya. Kemudian ia tersenyum menang ke arah Ben yang sedang menatap kesal ke arahnya. Meskipun ia belum mengetahui apa status yang disandang pria eksentrik itu bagi kekasihnya, paling tidak saat ini ia berada di atas angin karena sudah secara resmi menjadi kekasih Ana bahkan calon suaminya.
"Baiklah, terserah kau saja!", ucap Ben acuh seraya mengibaskan satu tangannya. I melangkah meninggalkan mereka berdua di sana. Ben memasuki Dragon Night dengan santai layaknya ia yang memiliki tempat itu.
"Kau berhutang penjelasan kepadaku, sayang!", bisik Ken gemas sambil mengeratkan giginya.
Ana membulatkan matanya saat merasakan hembusan nafas hangat di sekitar telinganya. Namun sensasi yang menyenangkan itu berubah jadi rasa ngeri saat suara Ken yang terdengar menahan geram sampai pada gendang telinganya. Ia menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, mengumpulkan energi sebanyak yang ia bisa untuk merayu kekasihnya yang sangat pandai merajuk jika sedang dilanda rasa cemburu.
Ia menoleh ke arah Ken dengan melebarkan senyumnya hingga deretan gigi putihnya terlihat semua.
"Jangan marah, sayangku! Pria gila itu adalah pengganti ayah saat ayah memutuskan untuk mengambil alih perusahaan. Dia menjadi pemimpin harimau putih sekarang. Kami memang sudah saling mengenal sejak lama, tapi dia hanyalah seorang kakak untukku", ucap Ana begitu lembut seraya menangkup kedua pipi Ken sehingga wajah mereka menjadi begitu dekat. Ia sedang berusaha melunakkan hati raja singanya agar tak meluluh lantakkan dirinya.
"Karena yang aku cintai hanya kamu!", ucap Ana begitu pelan sambil menahan malu. Kemudian ia membiarkan bibirnya mengecup lembut di sana.
"Kau selalu bisa menggoda ku, sayang!", Ken meraih tengkuk Ana dan mulai memainkan bibirnya di sana.
"eherm!", Sarah sengaja berdehem untuk menghentikan aktifitas sepasang kekasih itu yang baru saja dimulai.
__ADS_1
"Lupakan saja kami yang masih berada di sini, Tuan dan Nona!", sindir Sarah kesal.
Sejak tadi ia dan Manajer Toni setia menjadi penonton drama yang telah mereka bertiga buat. Hingga Sarah kesal karena sepasang kekasih itu selalu saja tak melihat waktu dan tempat saat sedang bermesraan. Ditambah lagi dengan status dirinya yang masih sendiri, membuatnya bertambah iri. Sedangkan Manajer Toni, ia lebih memilih memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia enggan untuk berkomentar atau pun melihat ke arah pertunjukan yang amat memabukkan itu.
Ana dan Ken menghentikan kegiatan mereka dan menoleh bersamaan ke arah Sarah. Mereka terkekeh bersama. Dan Ana tentu melempar senyum mengejek kepada sahabatnya itu.
"Jika kau mau, aku bisa memanggil Sam untukmu!", ucap Ken datar. Dengan tak tau dirinya, ia mengusap bibirnya yang basah akibat ulahnya barusan. Ken tetap memasang wajah datarnya seakan tak pernah terjadi sesuatu apapun.
"Tidak perlu! Dan terima kasih atas tawarannya, Tuan!", ucap Sarah sopan. Ia tak mungkin bersikap arogan kepada orang yang amat menyeramkan itu baginya.
"Apakah kau yakin?!", Ana makin menjadi. Ia sedang ingin menikmati ekspresi jengkel dari sahabatnya, agar ia bisa mengawasi sejauh apa perasaan yang Sarah miliki terhadap Sam yang tentunya sudah terlihat jelas sangat menyukai wanita itu.
"Berhenti menggodaku, Ana!", ucap Sarah dengan penuh peringatan.
"Bagaimana jika kita masuk lebih dulu, Tuan Manajer?!", ajak Sarah yang sudah melangkah di depan. Ia sudah jengah dan tak ingin digoda lagi oleh Ana.
"Dasar nakal!", Ana mencubit kecil pinggang Ken sambil tersenyum malu mengingat ada dua pasang mata menyaksikan tingkah mereka.
"Kau yang lebih dulu menggodaku!", jawab Ken seraya mengarahkan tubuh Ana agar menghadap ke arahnya.
"Apalagi dengan dandanan mu yang seperti ini", Ken menggantung ucapannya sambil menatap Ana dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
"Membuatku semakin ingin memakan mu!", Ken berbisik di telinga Ana dan langsung melangkah meninggalkan Ana yang masih terpana oleh hembusan nafas yang menerpa kulitnya.
Ken tak memungkiri bahwa ia mulai tertarik pada Ana saat dulu ia dengan dandanan cupunya. Dan setelah sekian lama akhirnya Ken melihat lagi tampilan Ana yang menurutnya amat menggemaskan itu. Memang ada sedikit rindu melihat Ana yang tampil apa adanya seperti saat ini. Ken mengulas senyumnya sambil terus melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Keenn!", seru Ana dan segera berlari menyusul prianya yang mulai menjauh.
***
Benny Callary
Seorang pria berumur 32 tahun, ia memiliki wajah tampan namun memiliki dandanan eksentrik yang membuatnya mudah untuk diingat. Pria kekar itu sudah menjadi bagian dari Geng Harimau Putih semenjak remaja. Dan ia telah menjadi orang kepercayaan Tuan Danu sejak umurnya menginjak 20 tahun. Dia memiliki wawasan yang luas dan juga tubuhnya yang kekar berotot ia dapatkan dari latihan fisik yang keras dan disiplin. Hingga akhirnya Tuan Danu memilih untuk meninggalkan dunia bawah dan memerintahkan Ben yang memang pantas untuk menggantikannya.
Sejak mendiang istri Tuan Danu tiada, beliau mulai mengajak Ana untuk ikut bersamanya kemanapun dia pergi. Tentu saja termasuk dalam setiap kegiatannya saat menjadi pemimpin Geng Harimau Putih. Dan semenjak itu pula Ana mulai mengenal Ben, begitu pria itu biasa di panggil.
Ana sering menghabiskan waktu bersama, bisa dibilang mereka sangat dekat. Namun seorang Ana yang baru saja menginjak masa remaja, ia hanya menganggap Ben sebagai kakaknya saja. Sedangkan Ben yang lebih dewasa memiliki perasaan lain pada Ana. Ia menutup dirinya untuk wanita lain hingga saat ini hanya untuk Ana. Meskipun ia tau Ana tak pernah menaruh perasaan padanya.
***
Di sudut ruangan VIP Ben sudah duduk dengan gaya elegannya pada sebuah sofa panjang. Ken yang terlebih dahulu datang langsung mendudukkan dirinya pada sofa tunggal. Ia menjaga jaraknya agar terus bisa mengawasi Ben yang nampak tak bersahabat padanya. Ken juga mendudukkan diri dengan gaya yang sama. Mereka melipat tangan mereka di depan dada sambil menyandarkan diri pada punggung sofa, mereka juga sama-sama menyilangkan kaki mereka. Juga menatap dengan tatapan yang sama tajamnya.
Aura suram mencuat di sekitar mereka. Tak ada yang bersuara, namun dari mata mereka seolah telah berkobar perang yang entah sejak kapan dimulai.
"*Jadi ini pria yang Ana pilih, heh!", Ben mencibir dalam hati.
"Siapa pria ini?! Mengapa dia selalu menatap Ana dengan cara yang sama seperti diriku?! Apakah dia juga memiliki perasaan yang sama denganku?!", batin Ken kesal*.
Ken mendengus kesal dengan pemikirannya sendiri. Kini ia merasa memiliki seorang pesaing berat karena bagaimana pun juga Ben sudah mengenal Ana sejak lama. Akhirnya mereka hanya terus saling melempat tatapan sengit.
"Kakak,, Ken", panggil Ana hati-hati karena melihat kedua pria itu sedang bersitegang dengan tatapan mata mereka.
__ADS_1
"Duduklah!", perintah kedua pria itu bersamaan.
Ana memaku wajahnya, ia hanya melirik ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Mengawasi dengan hati-hati apa yang sebenarnya sedang terjadi di antara mereka berdua.