Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 146


__ADS_3

Mobil yang Ana dan Ken kendarai telah memasuki gapura besar rumah tahanan dimana Tuan Bram berada. Setelah mobil terparkir, Ken keluar terlebih dahulu lalu ia mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya itu keluar dari sana. Ken sengaja tak membawa supir karena kali ini ia ingin hanya berdua saja dengan Ana. Pekerjaan kantor juga sudah ia serahkan sepenuhnya kepada Han, hari ini dan besok ia sudah mulai cuti rupanya. Karena besok adalah final dari apa yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Jadi hari ini, Ken memutuskan untuk menghabiskan hari dengan Ana, istri tercintanya.


Ana dan Ken berjalan berdampingan, saling bergandengan tangan. Tangan Ana jelas berkeringat di dalam genggaman tangan itu. Ya, ia sedikit gugup untuk bertemu kembali dengan musuh yang juga merupakan keluarganya. Bahkan orang tua satu-satunya yang ia miliki saat ini. Entah nanti bagaimana reaksi orang tua itu, sedihkah, senangkah, bahagiakah, atau malahan akan marah saat bertemu lagi dengan Ana. Ana berusaha untuk tidak mempedulikan hal itu, hanya saja beberapa rasa itu mengusik ketenangan batinnya saat ini.


"Kau baik-baik saja?", tanya Ken meyakinkan lagi niatan Ana untuk bertemu dengan rubah tua licik itu.


"Ya, aku baik-baik saja!", jawab Ana berusaha terdengar meyakinkan dengan senyum yang diusahakan lebar dan tidak dipaksakan. Karena sedikit saja ia mengeluh, maka Ken akan langsung menyeretnya keluar dari tempat ini. Kerja kerasnya semalam dengan menyenangkan suaminya itu akan sia-sia. Keinginannya ini benar-benar butuh pengorbanan pikir Ana, tubuh yang pegal-pegal bahkan hampir tak mampu bangun dari ranjangnya itu membuat Ana mengingat untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Hah, lelaki ku memang luar biasa!", gumam Ana sambil mendesah pasrah dalam hatinya.


***


Mereka nampak tertahan di depan ruang kunjungan karena tahanan yang akan mereka temui sedang menerima kunjungan lainnya. Tak memakan waktu sampai lima menit, pengunjung itu keluar. Mata kedua pengunjung itu langsung melebar setelah mendapati Ana berada di hadapannya kini.


"Ana!", seru Krystal maupun Louis bersamaan. Mereka benar-benar terkejut hingga tak mampu berkata-kata. Bahkan Krystal tengah membungkam mulutnya yang masih menganga. Cerita papanya yang mengatakan bahwa Ana masih hidup ternyata memanglah benar, bukan karangan yang seperti Krystal pikirkan.


"Kau benar-benar Ana, kan?!", Louis maju satu langkah lalu mengguncang lengan Ana kemudian memutar tubuh Ana dengan paksa. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Ana yang ada di hadapannya ini memanglah nyata.


"Eherm!", Ken berdehem di sebelah Ana merasa tak suka karena tubuh istrinya itu tengah disentuh oleh pria lain yang notabene adalah sahabat istrinya sendiri.


"Maaf! Aku terlalu antusias!", Louis segera mengangkat kedua tangannya ke udara. Ia paham Presdir Ken yang berada di hadapannya ini memanglah sangat posesif bila menyangkut Ana.


"Jadi orang yang waktu itu aku lihat di pemakaman adalah benar dirimu?!", ucap Krystal hati-hati dengan mata yang berkaca-kaca sambil mengingat saat pemakaman Tuan Danu beberapa waktu lalu. Sudah jelas saat itu ia sangat yakin bahwa itu memanglah Ana, tapi tak ada yang mau mempercayainya.

__ADS_1


Ana tak bergeming, tak menjawab pula. Ia juga masih mencerna ekspresi yang Krystal keluarkan untuknya. Raut wajah yang berbeda ketika terakhir kali Ana bertemu dengannya. Krystal yang kini ia temui sudah jauh lebih dewasa dan lebih tenang dalam mengambil sikap. Entah karena waspada, atau memang dia yang telah benar-benar berbeda. Ana mencoba menerka-nerka.


"Terima kasih karena kau masih hidup, Ana!", Krystal segera menghambur ke arah Ana. Ia memeluk sepupunya itu dengan begitu erat.


Ana terkejut disergap begitu saja. Matanya melebar menatap ke arah Louis yang berada beberapa langkah di belakang Krystal. Ana seolah bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada artis terkenal ini. Mengapa tiba-tiba wanita ini berubah sikapnya, pikir Ana melayang mencari tau. Loui yang ditanya malahan hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia juga melirik ke arah Ken yang berada di sampingnya, namun Ken juga melakukan hal yang sama dengan Louis, ia mengangguk seraya tersenyum pada istrinya itu.


"Terima kasih karena kau masih hidup!", Krystal mengulangi kalimatnya seraya melepaskan pelukannya dari Ana. Tangannya bergerak dengan cepat untuk menghapus jejak air mata yang masih tertinggal di ujung matanya.


"Karena dengan begitu aku masih punya kesempatan untuk meminta maaf kepadamu atas nama diriku dan juga papaku. Saat itu aku akan menjenguk Paman Danu untuk meminta maaf kepada beliau atas semua sikap dan perlakuanku yang buruk terhadap kalian, namun waktunya tidak tepat karena Paman sudah dipanggil oleh Yang Kuasa. Saat di pemakaman aku melihatmu di dalam mobil pergi meninggalkan area pemakaman, aku sangat yakin itu dirimu. Aku mengejarmu sampai keluar, tapi sia-sia karena mobil itu melaju makin cepat sedangkan aku hanya menggunakan kakiku saja. Lalu tak ada seorang pun yang mempercayaiku bahwa itu memanglah dirimu. Sekarang, sekarang, aku benar-benar sangat bahagia, Ana. Terimakasih,, dan aku mohon maaf yang sebesar-besarnya kepadamu. Apalagi aku juga tau jika sebenarnya papaku yang menyebabkan kecelakaan Paman Danu tempo hari. Maaf Ana,, maaf,, Maafkan kesalahan papaku juga!", Krystal ambruk di kalimat terakhirnya. Ia bersimpuh sambil memegangi kedua kaki Ana. Ia sudah menangis sejadi-jadinya. Tak ia hiraukan lagi statusnya yang seorang selebriti, tak peduli jika seseorang tiba-tiba mengambil momen ini. Ia sudah tak peduli. Yang ia inginkan saat ini adalah kata maaf dari Ana, hanya itu saja.


"Jangan seperti ini, bangunlah!", Ana berusaha membantu Krystal berdiri karena ia tidak enak jika nantinya malah menjadi bahan tontonan banyak orang.


"Tidak Ana, dengarkan aku dulu sampai akhir!", Krystal tetap menahan diri dengan posisinya sambil berderai air mata.


"Aku bukan meminta pengampunan darimu atas kesalahan papaku. Aku hanya meminta maafmu, Ana. Karena dia tetap harus bertanggung jawab atas kesalahannya. Jadi, tolong maafkanlah papaku, Ana!", pinta Krystal dengan tulus yang wajahnya mendongak ke atas. Wajah cantik selebriti itu sudah basah kuyup oleh air mata dan cairan di hidungnya. Sudah amat berantakan, Ana menahan senyumnya membayangkan jika saja Krystal melihat ke cermin bagaimana rupanya saat ini.


"Uupss! Di saat seperti ini aku malah berpikiran yang aneh-aneh!", Ana tertawa sendiri dalam hati.


Ken melotot, matanya membulat besar saat tatapan matanya bertemu dengan mata Ana. Lelaki itu seperti paham apa yang istrinya itu pikirkan saat ini. Ana langsung mengalihkan pandangannya tak berkutik saat tatapan tajam itu terasa akan menembus ke dalam matanya.


"Bisa-bisanya di saat serius seperti ini dia malah memikirkan hal konyol!", gerutu Ken dalam hatinya.


-

__ADS_1


-


-


-


-


-


**Jangan lupa ya ikutin kisah Ben dan Rose di novel aku yang satunya dengan judul


🌹"Hey you, I Love you!"🌹


Dan terutama jangan lupa juga buat tinggalin like, vote sama komentar kalian,, okeh 😉


Love u teman-teman 😘


Stay strong and keep healthy ya 🥰


oh iya follow ig aku ya di @adeekasuryani


nanti aku folback kalian lagi,, tambah banyak temen tambah bagus kan 😊**

__ADS_1


__ADS_2