Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 94


__ADS_3

"puk,, puk", suara tepukan sofa terdengar berbunyi dari dua arah.


Ben menepuk tempat di sebelahnya sedangkan Ken menepuk pegangan sofa di sisi tangannya. Mereka memperebutkan posisi dimana Ana akan duduk dan tak melepas tatapan sengit pada satu sama lain.


Ana menghela nafasnya begitu panjang. Ia menggeleng pelan melihat tingkah dua pria yang sangat kekanakan. Ana menarik sebuah kursi tunggal dari sudut lain ruangan, ia lebih memilih untuk duduk di tengah-tengah, di antara dua pria itu.


"Begini cukup adil, kan?!", kini giliran Ana yang mengambil keputusan. Ia menghindari perang di tengah pertemuan yang seharusnya berjalan tentram dan damai.


"cekk!", Ken berdecak kesal. Ia tidak menyetujui keputusan Ana. Karena yang ia inginkan adalah Ana duduk di sisinya untuk mengekspos status dan hubungan antara Ana dan dirinya pada Ben, pria eksentrik itu.


Ben terkekeh melihat Ken yang nampak kesal. Padahal batinnya juga merasa kesal karena Ana menjadi tak penurut. Tapi rasa kesalnya terbayar dengan tingkah Ken yang menurutnya menggelikan. Dan mulut Ben sudah gatal untuk menggodanya.


"Sepertinya kau sungguh tidak sabar untuk membawanya ke pangkuanmu", sindir Ben tajam.


"Tidak ada salahnya jika aku menginginkan hal itu dengan calon istriku sendiri, bukan?!", ucap Ken penuh penekanan. Ia melontarkan senyum mengejek pada Ben.


"Cehh!! Dasar tidak tahu malu!", hardik Ben kesal.


"Bukan masalah untukku!", sahut Ken angkuh.


"Masalahnya adalah jika kau menginginkan barang milik orang lain, itu baru dinamakan tidak tahu malu!", tambah Ken lagi dengan seringai seramnya.


"Kau,, kau,, benar-benar membuatku murka!", Ben telah tersulut emosinya. Dadanya naik turun dengan cepat, tanda ia sedang mengambil nafasnya pendek-pendek akibat amarahnya yang memuncak.


"Cukup!", seru Ana marah.


"Bbraakk!".


Ana membanting tangannya ke atas meja dengan sangat keras. Ia sudah tidak sabar untuk menghukum kedua pria di hadapannya itu.


"Kalian datang untuk bertemu denganku atau untuk bertengkar, hah!", bentak Ana yang sungutnya sudah menjulang tinggi.


"Dia yang mulai!" sahut Ken santai seraya membuang muka ke arah lain. Ia sedikit kesal karena Ana tidak berada di pihaknya, malahan membentak dengan emosinya sendiri. Padahal saat ini Ken sedang memproklamirkan status dan hubungannya kepada pria yang ia rasa menjadi saingannya itu.


"Kau benar-benar memiliki nyali rupanya!", Ben menggeram marah karena Ken telah menguji batas kesabarannya. Ia merogoh sebuah benda dibalik jasnya.


Ana yang sudah paham dengan apa yang akan Ben lakukan pun menjadi panik. Ia tak ingin terjadi sesuatu yang tidak seharusnya di sini. Berbanding terbalik dengan Ken yang masih saja tenang melihat apa yang Ben lakukan, meski ia paham benda apa yang akan Ben keluarkan. Dengan santainya Ken malah menguarkan senyum mengejeknya.

__ADS_1


Ana bingungnya bukan main. Apa yang ia harus lakukan saat ini tak tersirat sedikit pun dalam otaknya. Ia menoleh ke arah pintu berharap beberapa bodyguardnya datang untuk mengantisipasi jika sesuatu terjadi.


"Ermmhh!", Ben menggeram marah seraya mengeluarkan benda dibalik jasnya.


Ana hampir saja terhuyung melihat Ben yang ternyata mengeluarkan sebuah kantong es dan meletakkannya pada dahinya. Mulut Ana menganga menatap tak percaya.


"Aku harus mendinginkan kepalaku yang sangat panas ini. Karena jika tidak mungkin aku sudah mengeluarkan pistol yang berada di saku jas sebelah kiriku dan menodongkannya kepadamu!", ucap Ben dengan santainya pada orang-orang yang telah berpikir sangat jauh dari realita yang ada.


"Cekk!", Ken berdecak seraya membuang mukanya. Ia tersenyum penuh ironi tanpa menatap ke arah Ben. Ia sungguh tak percaya dengan tingkah konyol pria eksentrik ini.


"Haahh!", sedangkan Ana menghela nafasnya penuh kelegaan setelah kesadarannya kembali sepenuhnya. Akhirnya tak terjadi hal buruk yang sudah ia bayangkan.


"Bawakan minuman! Aku benar-benar haus sekarang!", perintah Ben arogan. Otak dan hatinya benar-benar panas saat ini, karena Ken telah memancing emosinya yang sangat mudah tersulut. Jika saja Ken bukan kekasih Ana, mungkin pria itu sudah menembuskan timah panas pada tengkoraknya.


"Baiklah, tunggu sebentar kak!", Ana segera beranjak untuk memanggil pelayan yang akan membawakan minuman untuk tamunya.


"Kau memiliki perasaan kepada Ana, bukan!", Ken berucap langsung ke intinya setelah merasa Ana sudah menjauh.


"Lalu apa urusannya denganmu?!", sahut Ben dengan sikap arogannya.


"Karena aku adalah calon suaminya!", ucap Ken tajam.


"Heh!", Ben pun ikut mencondongkan tubuhnya.


"Kau pikir akan semudah itu menikahinya!", sahut Ben tak kalah tajamnya. Ia melemparkan senyum yang begitu misterius untuk diartikan.


"Apa maksud ucapanmu?!", itu bukan pertanyaan. Melainkan sebuah peringatan dari Ken bahwa dia, Ben, tak diizinkan untuk berbuat macam-macam terhadap dirinya, Ana maupun rencananya. Ken tak akan membiarkan semua rencananya digagalkan oleh sesuatu apapun. Karena tekadnya sudah bulat untuk memiliki Ana seutuhnya supaya bisa melindungi dan membahagiakannya.


"Haha! Kau panik?!", kali ini Ben yang menguarkan senyum mengejeknya.


"Kau!", seru Ken seraya menegakkan punggungnya.


"Kenapa? Kau takut, heh?!", Ben menyukai jika lawannya mulai tersulut emosi. Lagi-lagi ia menguarkan seringainya.


"Takut?! Untuk apa?!", Ken kembali menyandarkan punggungnya sambil tersenyum remeh.


"Kami saling mencintai, sangat sangat saling mencintai. Dan kami saling mempercayai. Perjuangan macam apapun akan mudah terlewati", ucap Ken penuh percaya diri.

__ADS_1


Baru kali ini Ben kalah dalam kata-katanya sendiri. Ia menatap tak suka ke arah Ken dengan tajamnya. Tapi kemudian ia menyeringai seram, auranya juga berubah suram seketika. Jika itu anak buahnya maka mereka sudah mundur beribu langkah supaya tak mendapatkan dampak dari perubahan dari pimpinannya saat ini.


Namun yang duduk di hadapannya adalah Ken yang juga memiliki aura yang sama. Aura yang sama suramnya dan sama menyeramkannya. Ken tak bergeming, namun ia tetap menatap waspada pada lawan bicaranya ini.


"Hei! Ada apa ini?!", tegur Ana yang sudah kembali.


Ia merasakan hawa dingin yang mencekik saat memasuki ruangan ini kembali. Situasi yang sangat mencekam yang belum pernah ia temui. Dan ada aura yang sangat menyeramkan keluar dari kedua pria yang duduk saling berhadapan. Ana mendudukkan dirinya hati-hati sambil menatap awas kepada mereka berdua.


"tak! tak! tak!", suara sepatu mendekat. Tiga orang masuk ke dalam ruangan itu. Mereka adalah Manajer Toni, Sarah dan juga Sisil. Manajer Toni berjalan di depan, sedangkan Sisil berjalan beriringan dengan Sarah yang membawa nampan berisi minuman.


Mereka bertiga memasuki ruangan yang sedang dalam situasi menegangkan. Manajer Toni dan Sarah saling melempar pandang setelah mereka menghentikan langkahnya, kemudian bergidik ngeri bersamaan. Dua orang itu sadar betul bahwa saat ini mereka sudah masuk di waktu yang salah. Sedangkan Sisil, otaknya hanya sibuk untuk memikirkan cara untuk menggoda lelaki-lelaki tampan dihadapannya.


"*Bukankah itu Tuan yang waktu itu aku dan Ana papah ke kamar!", gumam Sisil dalam hati melihat ke arah Ken.


"Dan Tuan ini, boleh juga!", batinnya lagi sangat senang setelah melihat ke arah Ben*.


Pikiran Sisil saat ini adalah bagaimana caranya supaya tuan-tuan di hadapannya ini bisa tertarik padanya, sehingga ia bisa mendapatkan sesuatu yang lebih jika ia bisa melayani salah satunya. Ia masih belum sadar bahwa di ruangan ini masih ada satu orang lagi, yaitu Ana.


"Sarah! Sisil!", Manajer Toni mengisyaratkan kepada mereka untuk menyajikan minuman kepada para tamu. Meskipun ragu dengan perintahnya, namun memang itu tujuan mereka ke sini. Ia hanya berpikiran untuk menyelesaikan tugasnya sesegera mungkin dan pergi dari ruangan yang nampak tak aman baginya untuk berlama-lama.


Dengan percaya diri Sisil melangkah maju ke dekat meja sambil memandangi Ben dan Ken bergantian dengan senyum menggoda. Sesekali ia merapihkan rambutnya yang tak berantakan. Ia menebarkan pesonanya yang biasanya hanya dengan sekali saja ia mengedipkan mata maka pria-pria hidung belang akan luluh kepadanya.


"Sarah, cepat!", serunya begitu arogan saat dirasa Sarah masih tak bergeming dari tempatnya.


Ya Sarah masih berdiri di tempat semula. Ia mengerutkan keningnya, ia takut dan khawatir jika saja ia membuat kesalahan nanti. Sarah menatap Ana meminta persetujuan lewat isyarat matanya. Hanya Ana yang paham betul dari situasi saat ini.


Ana mengangguk setuju, mengiyakan apa yang sudah seharusnya Sarah lakukan. Sarah membulatkan matanya untuk memastikan, dan Ana kembali mengangguk dengan tatapan tenang. Sarah menipiskan bibirnya sebelum melangkah mendekati Sisil.


Sisil mengambil gelas pada nampan yang dibawa oleh Sarah. Kemudian ia meletakkan gelas itu di meja di hadapan Ben. Sisil sengaja membungkuk begitu dalam hingga memperlihatkan belahan dadanya pada Ben. Ia tersenyum nakal seraya mengedipkan sebelah matanya.


Dengan tidak tahu malunya Sarah tak bergeming pada posisinya selama beberapa saat. Bukannya tergoda, Ben malah mencibir seraya menatap jijik pada Sisil.


"Ambil kembali minuman ini! Aku ingin dia yang menyuguhkannya kepadaku!", Ben menunjuk Ana yang sedang duduk di kursi tanpa menoleh. Karena tatapannya masih ia tujukan pada Sisil dengan tatapan kejam.


Sisil kembali mengambil gelas itu sambil takut-takut. Tapi kemudian ia memandangi Ana dengan tatapan jijik dan meremehkan.


"Trik apa yang wanita cupu ini gunakan hingga tuan itu lebih tertarik kepadanya dibandingkan diriku", keluh Sisil dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2