Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 224


__ADS_3

Ken yang baru saja turun, tak sengaja mendengar dan melihat hal ini pun tidak bisa tidak tersenyum. Awalnya ia khawatir tentang wartawan-wartawan itu. Tapi melihat kondisi mereka semua yang sudah kondusif, Ken menjadi lebih tenang sekarang. Apalagi melihat ayahnya yang duduk tenang seperti tidak terjadi apa-apa, ia yakin mereka pasti sudah menemukan solusinya.


"Kakak!!!", tiba-tiba Sam datang dengan suara hebohnya.


Pria itu menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Tadi, setelah keluar dari dalam tirai dimana Sarah tengah mencoba gaunnya, Sam tak sengaja mendengar keributan di luar gedung. Ia lalu mengintip lewat jendela, ia gorden transparan yang menghalangi pandangan matanya. Ini gawat, puluhan wartawan telah berkerumun di depan butik itu. Sam tidak ingin membuat Sarah panik. Meski dirinya sendiri kini dilanda kepanikan besar. Belum lagi ia memikirkan bagaimana keadaan calon mertuanya di bawah sana.


Kebetulan sekali, saat Sam menoleh ke arah tirai yang belum terbuka. Pegawai wanita yang tadi menangani Sarah masuk ke dalam ruangan itu. Sam segera menghampirinya, membisikkan sesuatu lalu bergegas untuk turun dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Telat!", tukas Ken sebelum adiknya itu mulai membuka mulutnya lagi.


"Tapi mereka banyak sekali, Kak! Aku tidak ingin mereka mengganggu Sarah nanti", Sam tak menyembunyikan kepanikannya. Tapi ia lebih khawatir bagaimana Sarah akan menghadapi ini semua. Wanita itu berbeda. Sarah tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ini.


"Ayah sudah mengerahkan orang-orang untuk mengamankan situasi. Saat ini mereka masih bersembunyi di sekitar gedung ini. Ketika nanti sudah saatnya kita keluar, maka hadapi saja. Bundamu memiliki kejutan untuk kau dan Sarah. Lagipula, cepat atau lambat Sarah memang harus menghadapi situasi seperti ini. Mengingat calon suaminya adalah seorang mantan playboy yang menaungi banyak artis di tangannya", tanpa melihat kedua putranya, Tuan Dion santai menjabarkan apa yang telah ia lakukan dan apa yang ada dipikirannya saat ini.


Pria paruh baya itu malahan terlihat serius membaca majalah yang ada di tangannya. Seakan-akan topik yang ada di dalamnya lebih menarik ketimbang masalah yang sedang dihadapi putra bungsunya itu


Memang benar, meskipun Tuan Dion sudah lama pensiun dari dunia bisnisnya. Tapi ia tetaplah Tuan besar keluarga Wiratmadja. Orang-orang yang bekerja sebagai pengawal atau semacamnya, sebagian masih berada di bawah tangan ayah dari Ken dan Sam itu. Ia mengerti jika kedua putranya sedang sibuk hari ini, maka ia memutuskan untuk turun tangan saja kali ini. Toh, ia juga ingin membuat istrinya senang dengan rencana yang telah lama mereka bicarakan itu.

__ADS_1


"Hah, syukurlah! Ayah memang yang terbaik!", dua jempol Sam berikan langsung kepada ayah tercintanya. Setelah sebelumnya ia mengelus dadanya merasa lega. Ia percayakan saja kali ini pada ayahnya itu.


"Ya, aku tau!", lagi-lagi tanpa melihat ke arah wajah putranya itu, Tuan Dion menaikkan kedua alisnya. Masih sambil membaca majalahnya, wajahnya santai namun terkesan memiliki kesombongan pada permukaan.


"Lebih baik kalian kembali ke atas saja! Ana dan Sarah pasti sedang mencari kalian saat ini. Urusan di bawah sini sudah terkendali. Lihat saja jika tidak percaya!", Sam lantas mengedarkan pandangannya setelah mendengar penuturan ayahnya itu. Benar saja, semua orang nampak sedang mengobrol santai seperti tidak terjadi sesuatu apapun di luar sana. Bahkan itu terjadi pada ibunya dan Ibu Asih, ibunya Sarah.


"Baiklah! Kami ke atas dulu, Ayah!", sempat berdecak karena kesal, Ken lalu menyeret paksa kerah kemeja adiknya itu hingga Sam sempat menjerit saking kagetnya. Ken kesal karena adiknya itu lamban.


"Dasar raja singa,, raja tega!!", Sam berseru dengan suara tersekat lantaran Ken makin mencengkeram kerah kemejanya sehingga ia jadi kesulitan bernafas.


***


"Perutku sakit, jadi tadi aku ke toilet sebentar! Bukannya aku sudah berpesan padanya!", Sam menjelaskan alasannya seraya menunjuk pegawai wanita di sebelah Sarah dengan dagunya.


"Iya, Nona ini sudah memberitahuku. Tapi kenapa lama sekali! Aku sudah gerah dengan gaun ini!", Sarah merengek dengan manjanya sambil menghentakkan kakinya beberapa kali ke lantai.


Ya ampun,, Sam merasa wanitanya sangat menggemaskan saat ekspresinya seperti itu. Pria itu segera mendekat sambil merapatkan giginya menahan gemasnya pada Sarah. Ia juga jadi melupakan melihat hasil gaun yang sudah dirancang untuk tuan puterinya itu.

__ADS_1


"Iya, sayangku yang paling cantik!", Sam mengapit pipi Sarah dengan kedua telapak tangannya hingga bibirnya maju seperti ikan. Tak sampai situ, untuk melampiaskan rasa gemasnya, Sam juga menggoyangkan wajah Sarah ke kanan dan ke kiri.


Melihat hal yang begitu romantis itu, pegawai wanita itu sampai memalingkan wajahnya ke samping. Mereka yang beradegan mesra, tapi malah dirinyalah yang memerah wajahnya. Ia juga sampai menutup mulutnya untuk menahan senyum-senyum anehnya.


"Baiklah, biar aku lihat!", Sam memutar tubuh Sarah hingga wanita yang tidak siap itu sedikit terhuyung terbawa arah begitu saja.


"Luar biasa! Sarahku memang luar biasa cantiknya!", Sam mengambil salah satu tangan Sarah untuk ia hadiahi sebuah kecupan pada punggung tangan itu.


"Gombal!", seru Sarah pura-pura kesal. Ia menutupi setengah wajahnya karena sudah dipastikan saat ini ia sedang merona. Ia merasakan hangat di sekitar pipinya. Belum lagi masih ada orang lain di sana, ia bertambah malu saat ini.


"Cepat ganti bajumu! Aku sudah tidak tahan melihat wajahmu yang menggemaskan itu! Yang jelas gaun ini makin sempurna bersama dirimu! Sangat cantik, oke!", ucap Sam cepat seraya mendorong Sarah menuju tirai tempatnya berganti pakaian tadi diikuti oleh pegawai wanita yang tak bisa menahan senyumnya.


Sarahnya yang biasa galak dan seram, sekarang menjadi sangat-sangat menggemaskan baginya. Ia tidak tahan untuk tidak menciumnya sekarang. Maka dari itu, sebelum ia melakukan hal yang membuat wanita itu semakin malu, lebih baik Sarah menyingkir saja dari pandangan matanya. Jangan tanya dirinya, Sam mau saja mencium wanita itu dimana pun. Hehe


***


"Bagaimana gaunmu? Apakah kau suka?", saat ini Sarah sudah berada di ruangan Ana. Karena sudah selesai berganti terlebih dahulu maka Sam dan Sarah memutuskan untuk menghampiri ruang sebelah.

__ADS_1


"Sangat suka! Gaun itu sangat indah, Ana!", jawab Sarah dengan antusias.


Kedua wanita itu tengah berada di dalam tirai. Sarah sedang membantu Ana mengganti pakaiannya. Ia juga mengagumi gaun yang Ana kenakan. Desainnya sangat cocok dengan kepribadian Ana yang sederhana tapi tetap elegan. Ia sudah mengenal sahabatnya itu sejak lama. Meskipun Ana merupakan dari kalangan berada, tapi wanita itu tidak pernah menyukai sesuatu yang mencolok dan norak menurutnya. Ana memiliki selera yang sama seperti dirinya dalam berpakaian, sederhana.


__ADS_2