
Krystal termangu di atas tempat tidurnya sejak kepulangannya dari bertemu dengan Ana dan Sarah tadi. Senja telah berganti menjadi malam pun bahkan sepertinya ia tidak menyadarinya. Wanita itu terlalu dalam hanyut dalam pusaran pikirannya saat ini.
Pesan dari Ken yang Ana sampaikan kepadanya mengenai Louis, membuatnya tak dapat berhenti berpikir. Wanita itu melamun terus sudah beberapa jam lamanya.
"Memangnya apa yang dia lakukan sehingga Tuan Ken mengatakan aku harus terus mempercayainya?! Dan kenapa dia tidak mengatakan satu hal pun tentang rencananya?! Jika aku memang tidak bisa membantu, paling tidak dia bisa berbagi beban kan denganku?!" Kenapa dia tidak menjelaskan apa-apa kepadaku?!, Krystal memiringkan kepalanya menatap kosong ke depan. Terjerat dalam kumpulan pertanyaan yang mesti ia jawab sendiri. Akan tetapi jawaban-jawaban itu justru yang menjadi teka-teki baginya saat ini
"Dengan begini aku bukannya tenang, tapi malahan semakin penasaran dengan apa yang dilakukannya di sana!", ia membanting bantal yang sedari tadi ia gunakan untuk menyangga tangannya ke samping. Namun pandangan matanya masih lurus ke depan. Berbeda dengan tadi yang kosong, kini pandangan mata wanita itu sudah dipenuhi tekad dan rencana.
"Halo!", sapanya ketika sambungan telepon yang ia inginkan sudah terhubung. Krystal segera mengambil ponselnya tadi.
"Hey, Tuan Manajer! Apakah aku memiliki jadwal untuk dua hari ke depan?", dan ia bertanya langsung kepada Manajer Felix, orang yang ia hubungi saat ini.
"Bagus! Ada yang harus aku lakukan! Tolong pesankan aku tiket ke negara F!", tak menunggu jawaban dari manajernya lagi, Krystal langsung menutup sambungan telepon dimana tadi dia yang memulainya.
Penasarannya yang mengganggu ini harus ia tuntaskan. Entah itu hal buruk ataukah hal baik yang akan ia terima di sana, itu urusan belakangan. Krystal ingin mengetahui apa yang dilakukan Louis di sana secara langsung. Hal apa yang membuat orang itu sampai mengacuhkannya begini dan lagi sampai seseorang berpesan kepadanya untuk menyimpan kepercayaan lebih terhadap kekasihnya itu! Krystal mesti mengetahui hal ini secara jelas.
Wanita itu bangkit dari tempat dia bermeditasi sejak tadi, dari tempat tidurnya yang kini terasa hangat bekas bokongnya yang menempel erat. Krystal berangkat ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dan isi kepalanya yang terasa mengepul saat ini.
***
🎶🎶🎶🎶🎶
Sebuah telepon mengganggu tidur nyenyak sepasang suami istri yang masih terbalut selimut tebal. Keduanya mengumpulkan kesadaran mereka yang masih halulalang di alam bawah sadar.
"Jam berapa ini?", Sarah bertanya sendiri sambil melepaskan diri dari dekapan suaminya. Ia melongok ke arah jam beker yang duduk manis di atas nakas. Sembari begitu tubuhnya menggeliat meregangkan otot-otot yang terasa kaku.
"Astaga, sudah siang!", wanita itu segera mendudukkan dirinya seraya menarik selimut sampai ke dada. Tubuhnya masih polos tanpa busana, begitu juga dengan Sam. Wajahnya memerah mengingat jika suaminya itu tak pernah bisa melepaskannya meski hanya semalam saja. Namun mengingat jika waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi, ia pun segera memukul suaminya yang malahan meneruskan tidurnya kembali.
"Bangun, Sam! Sudah jam berapa ini?! Haduh!", seru Sarah frustasi, sebab dengan begini suaminya itu jadi terlambat berangkat ke kantor.
"Hemm,, angkat dulu teleponnya, Sayang! Berisik sekali!", jawab Sam sambil meregangkan kedua tangannya ke atas dan juga mata yang masih terpejam malas.
"Oh, iya!", wanita itu pun mengambil ponselnya yang sedang terbaring manja di atas nakas di sebelahnya.
"Ada apa, Ana?", sapanya setelah melihat nama pemanggil pada benda pipihnya itu.
"Lama sekali kau mengangkat teleponnya!", omel Ana begitu kencang, sehingga Sarah harus menjauhkan ponsel itu dari telinga dengan mengerutkan seluruh wajahnya.
"Iya,, iya,, maaf, Kakak ipar! Kami terlambat bangun pagi ini! Ada apa?", Sarah tetap bersabar meladeni ibu hamil yang suaranya terdengar panik ini.
"Ya ampun, kalian!", di sana terdengar Ana mengembuskan nafasnya dengan kasar.
"Apakah Krystal memberi tahumu kemana dia pergi?", kemudian Ana melanjutkan pertanyaan yang semula sudah berada di ujung lidahnya.
"Krystal? Memangnya kemana anak itu pergi?", Sarah malahan bertanya balik. Di sampingnya Sam menggeliat kemudian memeluk tubuh polosnya dari samping.
"Jika aku tahu, lalu untuk apa aku bertanya padamu, Sarah?! Kenapa kau sekarang sama bodohnya seperti suamimu, sih!", teriak Ana marah.
"Iya,, iya,, maaf! Nyawaku belum terkumpul semua, Kakak ipar! Mataku saja baru terbuka! Baiklah, sebenarnya ada apa? Kenapa kau suaramu terdengar panik sekali? Memangnya apa yang sudah anak itu lakukan?", Sarah bertanya dengan nada penasarannya.
__ADS_1
"Pagi-pagi sekali Kak Adam menghubungiku, dia menanyakan keberadaan Krystal padaku! Karena saat ibumu ingin membangunkan dia, anak itu sudah tidak ada di kamarnya!", benar, Ibu Asih masih tinggal bersama dengan Sandi di sana. Krystal dan Adam tak membiarkan ibunya pergi dari rumah itu, sehingga ia tak berdaya untuk mengatakan tidak pada dua orang yang kekurangan kasih sayang seorang ibu.
"Kabur?! Apakah sekarang hobi anak itu adalah kabur dari rumah?! Haish,, merepotkan saja! Krystal tidak mengatakan apapun kepadaku! Terakhir kali aku berbicara dengannya hanya saat kita makan siang kemarin saja!", jelas Sarah dengan suara yakin.
"Ya ampun! Kemana perginya anak itu?!", Ana mendesah frustasi di seberang saluran sana.
"Masalahnya nomor teleponnya tidak bisa dihubungi sejak tadi!", tambah Ana masih dengan suara frustasi yang sama.
"Baiklah, kalau begitu aku akan ke tempatmu setelah ini! Kita cari tahu sama-sama!", Sarah sudah ikut merasakan kekhawatiran yang sudah Ana rasakan sejak tadi.
"Baiklah, aku tunggu!", Sarah pun menyimpan ponselnya ke samping setelah mengakhiri panggilan itu.
"Dia kabur lagi?", Sam mendongakkan kepalanya ke atas bertanya kepada istrinya.
"Iya!", Sarah mengangguk singkat. Kemudian matanya membulat setelah mengingat sesuatu.
"Kenapa kau masih seperti ini?! Ayo mandi sana! Sudah siang! Kau harus segera berangkat ke kantor!", Sarah berusaha keras melepaskan tangan suaminya yanng merekat seperti lem di sekitar pinggangnya.
"Tidak mau! Nanti saja! Lagipula tadi malam aku sudah mengirim pesan kepada sekretarisku bahwa aku akan datang ke kantor di siang hari!", tapi Sam malahan mengeratkan pegangan tangannya. Sambil menyembunyikan wajahnya di sisi tubuh Sarah, ia bersuara dengan manja. Enggan sekali melepaskan istrinya itu pergi.
"Kau itu seenaknya sekali!", gerutu wanita itu menanggapi sikap suaminya.
"Kalau begitu biar aku yang mandi duluan! Setelah itu aku akan membuat sarapan untuk kita! Ayo cepat minggir! Lepaskan aku, Sam!", Sarah kembali melepaskan tangan suaminya yang merekat seperti dilem dengan lem abadi.
"Baiklah! Kalau begitu kita mandi bersama untuk menghemat waktu!", dari suaranya yang malas-malasan, kini pria itu berubah menjadi lebih bersemangat.
"Sam!", pekik Sarah kaget karena tubuhnya mendadak diangkat oleh suaminya.
Dan ritual mandi itu pun berlangsung lebih lama daripada yang seharusnya. Bukannya menghemat waktu, tapi mereka malah menghabiskan lebih banyak waktu di dalam sana.
***
Seorang wanita menggunakan hoodie putih untuk menutupi kepala dan sebagian wajahnya dengan tambahan kacamata hitam besar. Mulutnya sibuk mengulum permen lolipop berwarna merah. Ia melenggok, melintasi lantai bandara sambil menyeret koper kecil di tangan yang satunya.
"Akhirnya aku kembali lagi ke sini!", gumamnya setelah mengeluarkan permen lolipop itu dari mulutnya sebentar. Kemudian ia memasukkan kembali permen itu ke dalam mulutnya lagi dengan sikap acuh.
Detak jantungnya berpacu lebih cepat daripada biasanya. Ada perasaan gugup bersemayam di dalam dirinya saat ini. Ia akan menemui kekasih hatinya yang selalu ia rindukan. Namun rasanya seperti ia akan melakukan operasi untuk menggerebek sebuah aksi perselingkuhan.
Krystal menjinjing tas kecil di tangannya. Satu tangannya merogoh tas itu untuk mengambil benda pipihnya. Ia harus menghubungi seseorang lagi untuk memastikan kepergiannya ini benar-benar dirahasiakan dari semua orang. Tentu saja Manajer Felix yang menjadi bantalan dari tindakan yang diambilnya ini.
***
Krystal memilih tinggal di hotel demi menjaga privasinya. Ingin sekali ia menghubungi Nyonya Harris memberitahukan orang tua itu mengenai keberadaannya di sini. Tapi ia tidak yakin jika Nyonya Harris akan mau diajak bekerja sama dengannya. Dan belum tentu juga beliau akan mengatakan rencana apa yang sedang putranya itu jalankan sehingga seperti ini ia tidak dapat mengetahuinya. Daripada merasakan kekecewaan, lebih baik Krystal memilih caranya sendiri untuk mengorek hal yang menjadi alasan kedatangannya ke sini.
Pintu kamar hotel dibuka oleh petugas yang melayaninya. Setelah mengucapkan salam sebanyak beberapa kata, petugas itu pergi meninggalkan kamar itu dengan Krystal seorang diri.
Ia kemudian meletakkan kopernya sembarangan. Langkah kakinya ia lajukan menuju teras luar yang menyajikan pemandangan indah kota tersebut. Krystal merasakan angin sepoi membelai wajahnya, wanita itu pun menutup matanya untuk merasakan lembut yang menyapa. Perasaannya begitu tenang saat ini.
Namun,, di detik berikutnya, ketika Krystal membuka matanya, sesuatu yang mencolok tertangkap oleh pandangan matanya. Beberapa blok dari tempatnya berada, Krystal dapat melihat sebuah billboard besar yang menampakkan sebuah berita. Dua pemeran utama pada layar raksasa itu Krystal sangat mengenalnya. Kedamaian yang tadi datang, sepertinya hanya hiburan semata, sebelum badai yang sebenarnya akan datang.
__ADS_1
***
"Tapi, Krystal,,, ", Nyonya Harris hendak berbicara lagi namun sambungan telepon itu sudah ditutup terlebih dahulu oleh yang meneleponnya.
Wanita paruh baya itu menatap suaminya yang tengah duduk di kursi roda dengan wajah khawatir. Nyonya Harris mengukir sudut bibirnya ke bawah. Hatinya menjadi gelisah tak menentu saat ini.
"Dia belum mendengarkan penjelasanku!", ungkapnya dengan suara dan wajah yang benar-benar khawatir. Wanita paruh baya itu mondar-mandir kebingungan. Ia tidak tahu apakah benar atau salah memberitahukan hal ini kepada Krystal.
"Kita berdoa saja, semoga tidak akan terjadi apa-apa!", Tuan Harris berusaha untuk menghibur dan menenangkan hati istrinya yang sedang kalut. Sebab tak ada yang mampu ia ucapkan lagi selain harapan dan doa agar rencana putranya itu berjalan dengan lancar. Sedangkan ia tetap mendoakan yang terbaik untuk hubungan Krystal dan putranya itu. Nyonya Harris menoleh sebentar, namun perasaannya belum juga membaik, jadi beliau meneruskan langkahnya yang bolak-balik di atas lantai ruangan itu.
***
"Untung saja aku ingat untuk membawa gaun terbaikku! Entah kenapa aku merasakan firasat untuk membawanya?! Benar saja, siapa sangka aku akan menggunakannya di saat seperti ini!", Krystal memandangi dirinya di depan cermin. Tangannya sedang merentangkan sebuah gaun berwarna biru laut di depan tubuhnya. Gaun yang ringan walau memiliki beberapa lapisan, dan dengan begitu ia seperti sedang berenang di tengah birunya lautan. Berkilau ketika disorot sinar, tapi tidak mencolok dan menyakiti mata semua orang. Sungguh gaun yang sangat indah.
Wanita itu tersenyum sinis sambil menatap pantulan gaun itu di cermin. Harusnya ia kenakan gaun ini pada momen indah dan romantis. Bukannya seperti ini, kan?! Hatinya benar-benar dibuat kesal sekarang.
"Aku tidak menyangka akan merasakan sakit sampai seperti ini!", wanita itu menggelengkan kepalanya dengan senyum penuh ironi.
Kemudian ia berbalik pergi, mengibaskan ujung gaunnya sampai helai demi helainya terbang di udara. Krystal pun meninggalkan bayangan lukanya pada cermin itu. Hatinya terasa nyeri bagai cermin yang dilempar batu kerikil. Hancur berkeping-keping.
***
"Apa?! Krystal menghilang?", Louis tak dapat mengontrol intonasi suaranya ketika mendapat kabar dari Ana melalui sambungan telepon itu.
"Ya! Dan kami sudah tahu kemana anak itu pergi!", di sisi lain Ana sedang berkumpul dengan yanng lainnya. Di sampingnya ada Manajer Felix yang sedang duduk dengan ketakutan di bawah dominasi semua orang.
Beberapa saat yang lalu, Ken berhasil menemukan jejak Krystal di bandara. Ia memberitahukan informasi ini kepada istrinya. Lalu nama Manajer Felix langsung tersemat di pikiran ibu hamil itu. Intuisinya sangat kuat layaknya seekor singa betina. Hingga akhirnya, mereka semua dapat mengetahui kemana aktris ternama itu pergi.
"Sepertinya Krystal sudah sampai di sana sejak siang tadi!", Ana menjelaskan namun segera dipotong oleh Louis dengan tidak sabar.
"Di sana maksudmu adalah di sini? Dia terbang ke ini?", pria itu masih belum menurunkan volume suaranya. Mimik wajahnya dipenuhi ekspresi keterkejutan.
"Iya!", Ana lalu menjelaskan kronologi bagaimana sepupunya itu bisa memiliki pikiran untuk terbang ke sana. Ibu hamil itu turut menyesal karena Krystal pasti begitu memikirkan hal yang ia sampaikan sehingga nekat untuk mendatangi Louis secara langsung.
"Tidak apa-apa, Ana! Aku yang bersalah karena tidak mengatakan apa pun kepadanya", Louis sedikit menghela nafas sambil mendudukkan dirinya di meja kerjanya yang lapang.
"Aku akan mengirimkan alamat hotel tempatnya menginap. Dan setelah ini, semua bergantung pada usahamu sendiri Louis. Maaf, kami tidak dapat banyak membantumu di sana!", ujar Ana penuh perhatian terhadap masalah yang menimpa teman juga sepupunya itu.
"Baik, Ana! Terima kasih! Tenang saja, kalian bisa mengandalkan aku di sini!", pria itu pun menutup sambungan teleponnya. Ia memijit pelipisnya dengan wajah lelah.
Ini memang salahnya! Dengan masalah yang ada terakhir kali seharusnya bisa ia jadikan pembelajaran. Komunikasi adalah hal penting dan krusial dalam suatu hubungan. Tentang apa pun langkah yang akan diambilnya ini, meskipun memiliki resiko yang tinggi, seharusnya ia dapat mengkomunikasikan hal ini dengan Krystal terlebih dahulu. Toh, belum tentu wanitanya itu akan tidak setuju. Namun sayang, ia terlalu khawatir untuk melibatkan kekasih hatinya itu dalam pertempuran sengit ini. Ia tidak ingin kekasihnya itu berada dalam bahaya.
🎶🎶🎶🎶🎶
Ponselnya pun kembali berdering. Di tengah raut wajahnya yang lelah dan khawatir, dahinya mengernyit melihat tampilan di layar ponselnya.
"Ya, Ma! Ada apa?", tanyanya langsung setelah menggeser tombol jawab. Ia buat suaranya tenang, agar orang tuanya itu tidak mengetahui masalah ini.
"Bagaimana ini, Louis?! Maafkan Mama! Maafkan Mama, Sayang! Krystal sudah mengetahui apa yang akan kau lakukan! Mama belum selesai menjelaskan tapi Krystal sudah menutup teleponnya! Mama harus bagaimana, Sayang?! Tolong maafkan Mama, ya!", parau suara Nyonya Harris seperti sedang menahan tangisnya.
__ADS_1
Louis yang semula diam pun membelalakkan matanya. Namun itu hanya sesaat, karena ia tahu jika cepat atau lambat kekasihnya itu pasti akan mengetahui kenyataan ini. Wajah pria itu kini sudah tidak terlalu panik lagi. Hanya saja, sudut bahunya yang siku kini turun dengan lemasnya.
"Louis tidak marah, Ma! Mama tenang saja, aku pasti akan mengurus semuanya! Tolong jangan khawatir lagi, ya!", pria itu dengan setulus hati menenangkan ibunya yang terdengar begitu menyesal dari suaranya. Ia memang harus menghadapi hal ini sampai titik darah penghabisan.