Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 101


__ADS_3

Ken dan Han telah sampai di sebuah mansion yang tentunya tak asing bagi mereka. Ken terlebih dahulu keluar dari mobil dengan tidak sabarnya. Ia bergegas mempercepat langkahnya menuju pintu rumah tersebut meninggalkan Han di belakangnya.


"Hah, aku ditinggalkan! Tuan selalu tidak sabaran jika menyangkut Nona!", gumam Han dalam hati.


Di teras rumah itu telah berdiri Bi Rani menyambut kedatangan mereka.


"Selamat sore, Tuan!", sapa Bi Rani sopan pada Ken yang baru saja tiba.


"Apa kabar Bi? Dimana Ayah Danu sekarang? Bagaimana kondisinya?", tanya Ken beruntun.


"Ayah? Sudah ada kemajuan, rupanya. Tuan Danu pasti bangga memiliki putra seperti dirimu, Tuan", batin Bi Rani seraya tersenyum.


"Bi?", panggil Ken yang tak kunjung ditanggapi ucapannya.


"Ah iya, maaf Tuan! Tuan Danu sudah membaik, saat ini beliau sedang beristirahat di kamarnya", jelas Bi Rani.


"Dan Nona Ana juga sedang beristirahat di kamarnya Tuan, mungkin dia kelelahan!", tambah Bi Rani seolah tau hal utama apa yang harus disampaikannya.


"Itu lebih bagus jika dia tertidur sekarang!", Ken tersenyum misterius.


"Sekarang aku akan menemui ayah dulu", tambahnya lagi.


"Silahkan Tuan!", Bi Rani menghela tangannya mempersilahkan Ken masuk ke dalam rumah dan berjalan di belakangnya mengantarkan pria itu menuju kamar Tuan Danu.


"ceklek!", pintu kamar Tuan Danu terbuka oleh Ken.


Di ranjangnya nampak Tuan Danu tengah membaca koran sambil mendudukkan diri dan menyandarkan punggungnya dengan santai.


"Saya permisi", ucap Bi Rani setelah Ken sampai di ambang pintu kamar itu.


"Terima kasih, Bi!", ucap Ken ke arah Bi Rani yang mulai undur diri dari sana.


"Apa ayah sudah lebih baik sekarang?", sapa Ken seraya berjalan menuju sisi ranjang.


"Ya, seperti yang kau lihat!", Tuan Danu menutup koran yang ia baca sebelumnya. Kemudian ia meletakkan kaca mata baca yang baru saja ia pakai di atas nakas sebelah ranjangnya.


"Tumben sekali kau datang sore hari begini! Ada rencana apa?", tanya Tuan Danu.


"Aku ingin membawa Ana, ayah! Rencananya masih ku rahasiakan", Ken tersenyum namun tak terbaca ekspresi nya saat ini.


"Dia mungkin tertidur sekarang. Aku akan memerintahkan Bi Rani membangunkannya", Tuan Danu sudah memegang ponselnya untuk memanggil Bi Rani yang berada entah di bagian rumah sebelah mana.

__ADS_1


"Tidak perlu, ayah! Jika dia tertidur itu akan lebih baik", lagi-lagi Ken mengucapkan sebuah teka-teki.


"Apa yang kau rencanakan sebenarnya?", tanya Tuan Danu heran. Ia mengerutkan keningnya dalam-dalam.


"Jangan berpikir terlalu jauh, ayah! Hanya sebuah kejutan, oke! Ayah beristirahatlah, jangan melewatkan makan malam dan obatnya, oke! Aku pinjam putri ayah dulu, ya!", ucap Ken terdengar menenangkan calon ayah mertuanya yang terlihat sedikit khawatir.


"Baiklah, hati-hati Ken!", Ken mengangguk sambil tersenyum kepada Tuan Danu, mengiyakan apa yang dikatakan oleh ayahnya Ana itu.


"Dasar bocah itu! Selalu saja punya cara untuk memberi putri kesayangan ku sebuah kejutan. Aku memang tidak salah menitipkan Ana padanya", gumam Tuan Danu pelan sambil menatap Ken yang mulai menutup kembali pintu kamarnya.


Ken berjalan menyusuri lorong lantai dua rumah itu menuju kamar Ana. Ia terus tersenyum membayangkan wajah Ana yang sangat imut jika sedang tertidur. Ken menggelengkan kepalanya dengan senyum yang masih melekat di bibirnya.


"Silahkan masuk, Tuan!", ucap Bi Rani yang baru saja keluar dari kamar Ana.


"Apakah dia masih tertidur?", tanya Ken seraya melangkah ke dalam kamar.


"Masih, Tuan! Sepertinya belum lama Nona tertidur. Saya permisi dulu, Tuan!", Bi Rani beranjak dari sana.


Ken mengangguk mengerti ke arah Bi Rani dan melangkah ke arah Ana yang sedang tertidur pulas di ranjangnya. Ia duduk di bibir ranjang menghadapkan dirinya ke arah wajah Ana yang terlihat polos dan damai. Ken menyingkirkan sedikit rambut yang menutupi wajah Ana. Kemudian ia mengusap lembut pipi putih nan lembut itu.


"Cantik!", gumam Ken yang dihiasi oleh senyumannya.


Segera Ken menelusupkan lengannya ke bawah tengkuk leher Ana, membuat tangannya sebagai bantalan tidur wanitanya itu. Ia membaringkan dirinya dan merapat menempel ke tubuh Ana. Satu tangannya lagi ia lingkarkan ke pinggang hingga perut Ana, ia memeluk Ana dari arah belakang. Mendekapnya erat, Ken menghirup aroma wangi dari setiap helai rambut Ana yang selalu menjadi candu untuknya.


"Sudah waktunya!", ia melihat ke arah jam tangannya.


Segera Ken merengkuh tubuh Ana untuk ia gendong. Dengan sangat hati-hati Ken mengangkat tubuh Ana agar wanita itu tidak terbangun. Sejenak Ana menggeliat saat Ken berhasil menempatkan tubuh Ana pada kedua tangannya. Ia menggosokkan kepalanya pada ceruk leher Ken untuk mencari kenyamanan di sana.


"Hemm,, nyamannya!", gumam Ana sambil terpejam.


"Dia mengigau rupanya!", Ken menggeleng sambil tersenyum. Ia pun membawa Ana menuju mobilnya.


***


"Hey,,, mengapa di sini gelap sekali!", gumam Ana setelah bangun dari tidurnya.


"Apa mati lampu ya?!", gumamnya lagi.


Tapi ia merasakan ada suatu yang membebat di matanya dan sebuah tangan hangat melingkar di bahunya, memberi perlindungan kepadanya. Dengan hati-hati Ana menyentuh bagian matanya yang ternyata ditutupi oleh sehelai kain lembut.


"Apa ini?", Ana bertanya-tanya saat menyentuh matanya yang tertutup.

__ADS_1


"Dan ini?", Ana menyentuh tangan hangat yang ia rasa adalah tangan seorang pria. Perlahan ia meraba tangan pria itu menuju pangkal lengannya. Ana mengendus di sekitar ketiak pria itu untuk menghirup aroma yang mungkin saja ia kenal.


"Ken!", seru Ana setelah mengenali wangi parfum yang sangat dikenalinya itu.


Ken, pria itu sedang tersenyum melihat tingkah konyol Ana. Ia membiarkan saja Ana melakukan hal sesukanya hingga menciumi sekitar ketiaknya. Ken ingin sekali tertawa hingga terpingkal-pingkal, namun ia urungkan karena tujuan utamanya belum lah terlaksana.


"Keenn!", seru Ana begitu manja sambil menggoyang-goyangkan lengan Ken.


"Ken! Aku tau itu kau! Berhenti tertawa dan lepaskan ikatan ini. Berhenti bermain-main, Ken!", seru Ana yang mulai kesal karena Ken belum juga menanggapinya.


"Iya, iya, baiklah!", ucap Ken sambil menahan tawanya.


"Tapi aku tidak bisa membuka matamu sekarang. Sebentar lagi, kumohon bersabarlah sebentar lagi, oke!", tambah Ken memohon supaya Ana mau menunggu untuk membuka matanya.


"Ada apa, Ken? Kenapa mataku harus ditutup begini? Hampir saja aku berpikir kalau ternyata aku di culik. Hah, kau memang benar-benar menyebalkan!", gerutu Ana sambil mengerucutkan bibirnya. Hal itu membuat Ken makin kesulitan menahan tawanya yang akan pecah saat itu juga. Ia sampai menyeka air matanya yang sudah berair akibat menahan tawa.


Setelah beberapa saat, mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah tempat yang tampak asing.


"Ayo turun!", Ken mengulurkan tangannya untuk membantu Ana keluar dari mobilnya.


Semilir angin membuat rambut Ana berkibar ke udara. Dan lagi dress rumahan yang dipakainya ikut tersibak, namun Ana masih sempat menahannya. Suara deburan dan gemericik air masuk ke rongga pendengarannya. Dan aroma khas dari tempat itu mengorek indera penciuman Ana untuk menerka suatu jawaban dalam benaknya.


"Ken, apa kita berada di pantai?", tanya Ana yang sedang berjalan beriringan dengan Ken. Pria itu menggandeng tangannya supaya Ana terus mengikuti langkahnya.


"Emmhh, menurutmu?!", ucap Ken misterius.


"Ken,, kenapa kau suka sekali membuat kejutan sih!", ucap Ana yang mulai memegangi erat lengan Ken dengan satu lagi tangannya yang tak digenggam.


"Memangnya siapa yang ingin memberimu kejutan?! Kau terlalu percaya diri, sayang!", timpal Ken menahan tawanya.


"Ken,, aku serius!", Ana hanya pasrah mengikuti langkah Ken yang ia sendiri tak mengetahui dimana dan apa yang sebenarnya terjadi.


Ana tak berhenti menggerutu di setiap langkahnya. Dan Ken mencoba menahan diri untuk tidak bicara maupun tertawa. Saat tiba-tiba Ken menghentikan langkahnya, Ana ingin sekali bertanya namun ia urungkan niatnya karena ia sudah terlanjur kesal dibuat penasaran begini.


"Buka matamu!", perintah Ken lembut.


"Buka ikatanku, bukannya buka mataku, huh!", ucap Ana kesal. Ia berpaling membelakangi Ken dengan sikap keras kepala tak bergeming untuk membuka ikatan matanya. Ana malah melipat kedua tangannya di depan perut sambil terus mengerucutkan bibirnya dan menggerutu di sana.


Ken terkekeh sendiri setelah menyadari ucapannya yang salah. Memang benar saat ini mata wanitanya ini masih tertutup kain satin hitam. Sampai sejauh ini ia sudah berusaha keras untuk tidak memakan wanitanya yang sangat menggemaskan sedari tadi itu.


Dengan sangat lembut Ken memegangi bahu Ana dan menghadapkan tubuh Ana untuk membelakanginya. Ken membuka kain yang menutupi mata Ana dan membuangnya sembarangan.

__ADS_1


Pandangannya buram saat pertama kali ia membuka matanya. Namun setelah beberapa kali ia mengerjapkan matanya, akhirnya pandangannya jernih dan benar-benar jelas. Dan Ana sontak membungkam mulutnya dengan satu tangannya ketika berhasil menangkap keseluruhan tempatnya berdiri saat ini.


__ADS_2