
"Kam,, kami,, kami sedang tersesat. Sarah ingin pergi ke toilet tadi, lalu dia ingin aku menemaninya. Setelah Sarah selesai, kami memutuskan untuk berkeliling sebentar. Siapa sangka malahan sampai di sini! Hehe,,, ", Sam berlagak dengan senyum selebar kuda. Meski awalnya kikuk, tapi makin lancar setelah keluar setengah ucapannya.
Di sampingnya Sarah hanya bisa membenarkan hal itu. Namun batinnya sudah menjerit ingin sekali memukul suaminya dengan keras. Bisa-bisanya dia yang dijadikan alibi bagi mereka berdua agar tidak dicurigai. Ia menggertakkan giginya diam-diam.
Oh sungguh memalukan! Kenapa juga dia harus mau mengikuti langkah suaminya yang jelas-jelas akan salah jalan?! Sarah memandang sahabatnya balik dengan perasaan bersalah.
Krystal pun menyipitkan matanya dengan tatapan sinis. Mereka pikir ia akan percaya dengan ucapan itu begitu saja?! Heh! Memangnya sudah berapa lama dia mengenal mereka berdua?! Tentu saja ia tahu jika suami dari sahabatnya itu memiliki kelakuan yang amat konyol! Sudah pasti kalimat-kalimat itu hanya sebuah bualan belaka.
***
Suara deru mobil nan halus melewati pagar besi yang menjulang tinggi, memasuki halaman luas, pekarangan sebuah rumah mewah. Hitam mengkilap cat mobil itu, sampai cahaya mentari memantul dari sana.
brak
Seorang wanita muda keluar, lalu membanting pintu mobil itu dengan sangat keras. Suaranya bagai guntur dari langit, memekak telinga beberapa orang yang masih berada di sana. Terutama supir pribadi yang masih duduk manis di dalam mesin bergerak itu. Si supir sampai berjingkat di tempat lantaran kerasnya suara itu. Ia mengelus dadanya lega setelah dentuman keras itu menghilang.
Alleta Sanchez, keluar dari mobilnya dengan perasaan marah. Rambut pendeknya melompat-lompat kecil, sebab wanita itu melangkah sambil menghentakkan kakinya ke lantai dengan begitu bersemangat. Semangat yang membara untuk segera memuntahkan lahar panas amarah di dadanya.
"Alleta, kau sudah pulang, Sayang!", sapa Nyonya Sanchez yang sedang berjalan dari arah belakang.
"Iya!", jawabnya ketus kepada ibunya itu. Alleta tidak mengurangi kecepatan langkah kakinya sedikit pun. Dengan wajah cemberut ia meneruskan langkahnya menuju tangga melingkar di sudut ruangan.
"Alleta,,, ", sapaan Tuan Sanchez terhenti saat mendapat isyarat sebuah gelengan kepala dari istrinya. Pria paruh baya itu baru saja akan memanggil putrinya yang sudah mulai mendaki anak tangga. Sedangkan dirinya datang dari arah yang berlawanan dengan istrinya. Ia baru saja keluar dari ruang kerjanya yang berada tak jauh dari tangga.
"Ada apa?", tanya Tuan Sanchez pada istrinya sambil memandang Alleta yang terus merangkak naik. Dari posisi mereka yang lebih rendah, nampak jelas wajah putrinya itu ditekuk dalam.
"Entahlah! Yang aku tahu, dia baru saja pergi untuk menemui Louis. Anak itu baru saja keluar dari rumah sakit!", jawab Nyonya Harris memandang ke arah yang sama.
"Bukannya kemarin dia sudah menjenguk Louis di rumah sakit?", tanya Tuan Sanchez sambil mengerutkan alisnya.
"Kemarin Alleta sudah pergi untuk menjenguk Louis ke rumah sakit, tapi dia mengatakan jika sepupuku sudah menghadangnya bahkan ketika dia belum sampai di ruangan Louis. Karena kemarin dia tidak dapat bertemu dengan Louis, Alleta jadi semakin merasa khawatir. Makanya pagi ini ia berinisiatif datang ke rumah sepupuku langsung agar bisa bertemu dengan anak laki-laki itu!", tambah Nyonya Sanchez lagi seraya menurunkan pandangannya ke arah suaminya.
"Berarti Alleta seperti ini, pasti berkaitan dengan mereka! Berani sekali mereka memperlakukan putri kita dengan cara seperti ini! Apa mereka tidak memandang diriku sama sekali?! Memangnya siapa yang membantu ketika dulu mereka sedang mengalami kesulitan?!", Tuan Sanchez membusungkan dada sambil terbakar emosinya. Fluktuasi suaranya kian meninggi dari awal sampai ke akhir.
"Sudah! Jangan bahas ini lagi, Papa! Lagipula kau juga sudah menarik semua bantuanmu pada mereka, kan?!", Nyonya Sanchez mengusap dada suaminya itu untuk meredam amarahnya dengan percikan kasih sayang.
"Itu ku lakukan agar dia tahu bahwa mereka tidak bisa apa-apa tanpa diriku! Jadi mereka tidak berpikir untuk menyia-nyiakan putri kita lagi! Mereka harus diberi pelajaran agar lebih tau diri!", bukannya mereda, murkanya Tuan Sanchez kian membara.
Ia kembali mengingat pertemuan terakhirnya dengan Tuan Harris sebelum lelaki itu sakit. Tuan Harris meminta agar perjodohan putra dan putri mereka dibatalkan saja. Dan apapun akan ia lakukan agar keinginannya bisa dipenuhi. Bahkan jika taruhannya adalah perusahaannya sendiri.
Kalimat yang menyatakan bahwa Tuan Harris lebih mementingkan kebahagiaan putranya daripada apa pun malahan membuat Tuan Sanchez semakin marah dan murka. Itu terdengar seperti sebuah keluhan tak berdasar. Mengapa tidak sejak dulu saja Tuan Harris mengatakan hal itu kepadanya?! Tidak sekarang ketika perusahaan itu sudah berkembang, dan itu adalah berkat bantuan darinya. Sungguh ia merasa dimanfaatkan selama ini!
"Sudahlah, Sayang!", Nyonya Sanchez tidak ingin memperpanjang hal ini. Karena akan semakin memperburuk suasana hati suaminya saja.
"Apapun yang Alleta inginkan, harus terjadi!", janjinya sambil menghunuskan bilah-bilah pedang kasat mata ke arah lantai dua dimana bayangan putrinya itu menghilang. Tak ada yang boleh mengganggu apapun keinginan putri kesayangannya.
__ADS_1
***
Detik berganti menit, berganti jam, kemudian berganti hari. Kondisi kesehatan Louis sudah lebih baik setelah beristirahat total selama satu hari penuh. Dan kini sudah saatnya Krystal dan keluarga kembali pulang. Untuk Ken, Sam dan Adam, banyak pekerjaan yang menanti mereka dengan tidak sabar untuk diselesaikan. Tentu saja, itu karena ketiganya merupakan seorang pemimpin di masing-masing perusahaan mereka. Terutama Ken yang menaungi banyak sektor. Jadi banyak yang menunggunya untuk ditelisik dengan tangan dinginnya.
Mereka sudah bersiap di halaman depan rumah Louis. Belum juga jadi berangkat karena mereka masih menanti kedatangan Krystal yang sedari tadi memang tidak menjawab ketika diketuk pintu kamarnya.
"Ana, bagaimana ini?! Sudah hampir satu jam, tapi anak itu belum keluar juga dari kamarnya! Kita sudah terlambat!", keluh Sarah menguap dari mulutnya sembari melihat ke arah jam bulat kecil di pergelangan tangannya.
"Kalau begitu kita susul dia sekarang!", seru Ana sigap sekaligus melirik ke arah Ken untuk meminta izin kepada suaminya itu. Pria itu mengerti, dan langsung memberikan sebuah anggukan persetujuan
Terlihat pula Louis yang sedang berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Ia menyugar rambutnya berulang kali dengan perasaan tak karuan. Sebenarnya ada apa dengan kekasihnya?! Semalam mereka masih baik-baik saja. Semalam bahkan mereka bersenda gurau seperti biasanya. Namun pagi ini kenapa wanita itu menjadi begitu misterius?! Sebenarnya ada apa?! Lelaki itu melepaskan bimbangnya melalui helaan nafas kasar lewat mulut.
"Anu,, maaf, Nona!", suara itu membuat langkah Ana dan Sarah berhenti mendadak. Ken dan Sam yang masih memiliki jarak di antara kedua wanita itu pun lantas menoleh ke asal suara. Begitu juga dengan Louis yang sedang memasang sinyalnya kuat-kuat atas setiap kemungkinan yang ada. Seorang petugas keamanan rumah itu menyerukan suaranya kepada Ana dan Sarah dengan wajah gugup.
"Ada apa?!", tanya Sarah dengan nada tidak sabar. Tidak tahukah orang itu jika mereka sedang terburu-buru sekarang?! Ana hanya diam, namun wanita hamil itu bertanya melalui tatapan matanya.
"Sebenarnya Nona Krystal sudah pergi tadi pagi-pagi sekali! Beliau berpesan, akan ada di bandara tepat waktu! Katanya Nona Krystal ingin jalan-jalan sebentar!", orang itu memang bertugas di pos depan gerbang rumah besar itu. Dengan kaku dan gugup ia menyampaikan laporannya. Terlintas sebuah ketakutan di wajah petugas keamanan itu. Nyatanya memang ia tidak tahu yang ia lakukan adalah benar atau salah dengan membiarkan Nona Krystal pergi tadi pagi.
"Kenapa kau baru bilang!", omel Louis sambil berjalan mendekat. Wajahnya benar-benar frustasi sekarang. Kemana kekasihnya itu pergi?! Apa sebenarnya yang wanita itu lakukan?! Ia takut dan khawatir jika kekasihnya itu tersesat. Seingat dirinya, Krystal tidak memiliki kenalan di negara ini. Jadi kemana sebenarnya dia pergi?!
"Maaf, Tuan! Saya tidak berpikir jika yang ditunggu-tunggu adalah Nona Krystal. Dan saya pikir, Nona Krystal mungkin sudah memberi kabar kepada Tuan atau yang lainnya!", petugas keamanan itu menundukkan kepalanya penuh penyesalan.
"Kau,,, ", Ken lalu maju untuk menghentikan Louis berbicara lagi. Ia menarik petugas keamanan itu mundur di belakangnya. Menurut Ken, marah-marah pun tidak ada gunanya. Lebih bak memikirkan solusi yang tepat saat ini.
"Sebaiknya kita segera berangkat ke bandara! Jika memang benar apa yang dikatakannya, mungkin di juga sudah dalam perjalanan menuju ke sana", ujar Ken seraya melihat jam tangannya. Ana dan Sarah mengangguk setuju, begitu pun dengan Sam yang berada di sebelahnya. Mereka percaya dengan perhitungan Presdir Ken yang terhormat itu. Perhitungannya tidak pernah meleset. Louis pun mau tak mau mengikuti ide yang Ken ucapkan. Masalahnya, saat ini otaknya sedang tidak dapat berpikir dengan jelas.
"Kau tenanglah, Sayang!", Nyonya Harris menepuk lembut bahu putranya yang terlihat sangat gelisah. Ia begitu tidak tega melihat putranya seperti ini, maka dari itu ia memberikan energi positif sebagaimana ia bisa.
"Aku hanya takut rencanaku gagal lagi!", jawab Louis apa adanya. Mimik di wajahnya penuh harap dan juga kewaspadaan. Ia tidak ingin kejadian sebelumnya terulang lagi, dimana Krystal benar-benar menghilang dan tak dapat ia cari. Rasanya seluruh dunia akan runtuh, jika ia tidak dapat menemukan kekasihnya itu.
Louis menggunakan mobil terpisah, dan ia juga menyetir sendiri. Berjaga-jaga jika ada informasi mengenai Krystal, jadi ia bisa langsung bergerak dengan cepat. Sambil mengemudikan mobilnya, ia terus mencoba menghubungi Krystal. Sudah berulang kali mencoba, nomor itu tetap tidak dapat dihubungi juga. Bola matanya menatap ke arah aspal dan langit secara bergantian, doa ia panjatkan di dalam hati supaya wanitanya itu baik-baik saja saat ini.
***
Di mobil terpisah, Ana tak dapat menyembunyikan kegelisahanya dari suaminya itu. Ia menggigiti kuku jarinya sambil menatap keluar jendela. Ken pun ikut melihat ke arah yang sama, tapi bukan pemandangan di luar yang ia perhatikan, melainkan istrinya yang terus gelisah. Pria itu pun menipiskan bibirnya seraya menggeleng tak berdaya.
"Apakah suamimu sudah tidak menarik lagi, sehingga kau lebih memilih menatap keluar?", tanya Ken seraya merapatkan dirinya ke Ana.
"Ken!", seru Ana seraya menghadapkan tubuhnya ke arah suaminya. Tapi ia tidak menyangka jika suaminya itu sudah berada sangat dekat dengannya.
"Aku tidak suka diacuhkan!", ucap Ken pelan namun tersirat sebuah kekecewaan. Ana sempat tertegun melihat hal itu.
"Aku juga ingin berbicara dengan anakku! Ibunya tidak mau bicara, mungkin saja anakku mau mengajakku mengobrol bersama!", tambahnya lagi seraya menurunkan pandangan ke arah perut buncit istrinya itu. Telapak tangan Ken yang hangat, dapat Ana rasakan ketika sudah menyentuh dinding perut yang membalut rahimnya. Pria itu membuat gerakan halus teratur di perut Ana sambil tersenyum.
"Maafkan aku!", tutur Ana penuh penyesalan. Ia menyadari bahwa dirinya sudah terlalu lama tenggelam dengan pemikirannya sendiri. Padahal Ken sudah mengatakan kepadanya untuk tidka banyak berpikir lagi. Ia letakkan telapak tangannya di atas tangan Ken, lalu mereka megusap perut Ana yang sudah membesar itu bersamaan. Ken pun tersenyum tatkala istrinya itu dengan cepat merespon apa yang sebenarnya ia inginkan.
__ADS_1
"Jangan khawatir! Aku yakin sepupumu itu pasti baik-baik saja saat ini!", tutur Ken kemudian sambil mengulas senyum yang menenangkan, yang bisaa membuat Ana menyelam ke dalam pesona damai senyuman itu.
"Ya, ku harap juga begitu!", Ana mengangguk seraya tersenyum kecil. Tangan mereka masih bergerak dengan lembut di atas perut itu.
"Sayang, dia bergerak!", seru Ken tiba-tiba setelah merasakan sebuah gelombang kasar dari dalam perut istrinya itu. Mereka berdua jadi berhenti mengusap, dan kini menatapi gelombang yang terus bergerak tak beraturan, seperti sedang mengajak kedua orang tuanya untuk berinteraksi. Pandangan kedua calon orang tua itu penuh rasa takjub. Dan hal ini berhasil membuat Ana sedikit melupakan masalah Krystal yang menghilang secara tiba-tiba.
***
Suara keras di atas kepala mereka menandakan jika saat ini mereka semua sudah sampai di bandara. Mobil-mobil itu berhenti di lobby bandara untuk menurunkan penumpangnya. Semua orang keluar dari mobil, tak terkecuali satu orang pun. Menyadari belum adanya kabar dari Krystal, semua orang berwajah murung saat ini.
"Apakah Krystal masih belum dapat dihubungi?", tanya Ibu Asih khawatir pada Adam, selaku kakak dari orang yang mereka nantikan.
"Belum!", jawab Adam lemah. Wajah lesunya tak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya saat ini.
Nyonya Harris bertukar pandang dengan suaminya dengan tatapan resah yang sama. Mereka tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa calon menantu mereka.
...ting...
TIba-tiba sebuah pesan masuk, dan membuat ponsel Ana menyala. Dari layar depan ia dapat melihat jika itu adalah pesan dari Krystal, sepupunya. Wajahnya langsung berubah antusias.
"Ada pesan dari Krystal!", seru ibu hamil itu pada semua orang dengan wajah yang ia paku menghadap ke arah layar ponsel. Semua orang langsung bergegas mendekat untuk mengerubungi wanita itu. Saking pikiran dan hati mereka dibalut oleh rasa penasaran yang tinggi.
Namun,,, sebelum istrinya terdesak oleh semua orang, Ken sudah dengan sigap meletakkan lengannya di depan Ana sebagai tameng. Dengan tatapannya yang berkilat-kilat, ia melarang semua orang untuk bergerak lebih dekat lagi. Siapa yang mendekat, akan merasakan amukan raja singa ini! Orang-orang pun mundur perlahan dengan tatapan waspada. Sedangkan Ana, ia hanya bisa mengulum senyumannya. Tak ada yang bisa melawan raja singanya, memang!
pesan dari : Krystal
Kalian lama sekali! Aku sudah bosan menunggu kalian di sini!
Pesan itu dibarengi sebuah foto permen lolipop yang dipegang Krystal di atas kakinya yang menyilang. Memang tak ada penampakan wajah dari wanita yang mengirim pesan itu. Namun Ana sangat yakin, jika itu memanglah foto sepupunya sendiri. Dilihat dari lantai yang berada di dalam foto itu, benar, jika Krystal memang sudah berada di bandara. Karena corak lantai itu sama dengan yang mereka pihak saat ini.
Ana menunjukkan pesan itu kepada Ken dan Louis bergantian. Wajahnya sudah yang semula khawatir, sekarang sudah menampakkan wujud asli singa betina ketika akan murka. Mereka semua merasa khawatir sampai gelisah begini. Kenyataannya wanita yang mereka cari malahan santai dengan permennya sendiri.
"Benar, bukan, apa yang aku katakan tadi?!", ujar Ken pada Ana dan Sarah dengan wajah acuh dan sedikit menyombongkan diri.
"Aku pasti akan memukulnya ketika bertemu nanti!", geram Ana marah pada sepupunya yang terlihat dari foto itu tidak memiliki beban sama sekali karena sudah membuat semua orang saling mencurigai dan khawatir.
Yang lain masih menikmati kekesalan mereka terhadap Krystal yang baru saja membuat semua orang panik. Tetapi Louis, pria itu segera berlari ke arah dalam untuk menyusul wanita yang memenuhi benaknya sejak tadi.
"Louis!", seru Adam seraya menyusul pria itu di belakangnya. Sebagai kakak, ia juga sama khawatirnya dengan orang itu. Karena di sini, ia berperan menggantikan orang tua mereka untuk menjaga dan melindungi adik perempuannya itu.
-
-
Maaf ya kalo ceritanya rada belepotan atau banyak typo dimana-mana,, auhtor ngerjainnya sambil ngantuk-ngantuk soalnya,, harap maklum ya ðŸ¤
__ADS_1
ngiming-ngiming,, bab ini aku buat 2300 kata lebih ya manteman,, semoga sukak 😉