
Sam tentu langsung menyetujuinya. Itu bukan permintaan yang sulit. Dan ia juga membenarkan opini yang Sarah ucapkan. Kebaikan hati Sarah membuat Sam tambah mencintai wanita itu. Sam pikir, mungkin karena mereka berasal dari kalangan yang berbeda, jadi Sarah menjadi lebih peka terhadap yang lainnya. Dan merekapun menikmati makan siang mereka sambil meneruskan jalur menuju Butik Aslan dimana yang lainnya sudah menunggu di sana.
***
Semua keluarga sudah datang dari Butik Aslan. Nyonya Rima dan juga Ibu Asih terlihat mengobrol bersama sambil menunggu yang muda mencoba pakaian seragam untuk mereka para orang tua. Di sana juga turut hadir Krystal dan Louis, juga ada Adam di sana. Mereka sudah seperti keluarga bagi Sarah. Dan jangan lupakan Sandi, karena ia merupak adik kandung Sarah sendiri.
Siang ini, Keluarga Wiratmadja khusus menyewa satu butik ini untuk mereka gunakan sendiri. Begitu banyak orang yang harus ditangani, jadi Nyonya Rima menyarankan untuk melakukan hal ini demi kenyamanan mereka bersama.
Jika keluarga yang lainnya sedang mencoba pakaian mereka di lantai bawah, maka untuk kedua pasangan beda status ini memiliki ruangan sendiri di lantai dua. Sebelumnya kedua calon mempelai wanita telah mengutarakan model gaun pengantin yang mereka inginkan. Karena baik Ana maupun Sarah memiliki selera yang sama, yaitu sederhana. Maka designer yang menangani gaun untuk mereka pun tak kesulitan.
Ana dan Sarah ditempatkan di ruangan yang berbeda agar designer mereka lebih teliti lagi dalam memperhatikan kurang lebihnya gaun yang akan mereka kenakan nanti. Dan dengan itu pula, Ken dan juga Sam sebagai pasangannya setia menunggu di ruangan mereka masing-masing untuk ditangani juga setelan jas agar sesuai dengan tubuh kekar pria-pria itu.
***
Di ruangan Ana, Ken nampak tengah mengenakan setelan jas putih dengan celana senada. Ia sedang menunggu istrinya yang sedang hamil itu mengenakan gaun pengantin yang sudah dipilihnya. Ia jalani teringat kejadian tempo hari dimana mereka telah melaksanakan hal yang sama sebanyak dua kali.
Pertama, ketika mereka benar-benar sedang mempersiapkan pernikahan mereka dan melakukan sesi foto prewedding di sini. Itu sebelum kecelakaan na'as kala itu terjadi. Lalu kedua, adalah saat mereka tengah melakukan aksi balas dendam mereka terhadap wanita licik, si Joice Alexander itu. Kedua kejadian itu memiliki kesan tersendiri bagi Ken.
Pria itu tersenyum sendiri sambil memandangi pantulan dirinya sendiri di cermin besar di hadapannya. Dia memang selalu tampan. Haha! Ken tertawa di dalam hati, merasa puas dengan penampilannya sendiri. Dan ia juga betapa cantiknya Ana, ia jadi membayangkan bagaimana rupawannya nanti anak mereka.
"Ken!", sebuah suara lembut mendayu-dayu menyerukan namanya dengan begitu merdu.
"Sayang!", mata pria itu tak bisa menyembunyikan betapa takjub penampilan Ana saat ini. Bahkan setelah hamil, istrinya ini memiliki aura yang semakin menguar sehingga Ana makin nampak mempesona. Ibaratnya saat ini Ken sedang melihat Ana dengan kupu-kupu terbang di sekelilingnya. Juga wanita itu memiliki kemilau yang membuat matanya harus menyipit.
Dengan tidak sabar Ken menghampiri Ana yang masih berdiri tak jauh darinya. Tirai yang menutupi tempat Ana mengganti gaunnya pun telah terbuka sepenuhnya. Kini ia bisa kembali melihat sosok cantik dengan gaun putih menjuntai untuk ke sekian kalinya. Kalau dipikir-pikir mungkin mereka adalah pasangan yang sangat beruntung karena dapat memiliki pengalaman menikah lebih dari satu kali. Tapi bukan dalam artian yang sesungguhnya dimana-mana orang lain memiliki pengalaman pahitnya.
__ADS_1
"Tidak bagus, ya?", tanya Ana seraya menggerakkan bagian bawah gaunnya ke kanan dan ke kiri. Wajah wanita hamil itu terlihat kurang percaya diri.
"Tidak ada yang tidak bagus jika sudah menyatu denganmu, sayang! Sayangku adalah yang paling cantik sedunia!", Ken tersenyum menggoda lalu mencubit gemas hidung istrinya.
"Cih! Lihatlah, sayang! Ayahmu sekarang pintar sekali merayu! Untung saja dia sudah menikah dengan ibu. Jika belum, entah ada berapa wanita yang akan dirayunya!", Ana mengerucutkan bibirnya sambil mengusap perutnya yang masih rata. Mengungkapkan kecemburuannya dengan cara yang sangat menggemaskan bagi Ken.
cup
Ken menaikkan dagu Ana, lalu memberikan ciuman hangat pada bibir merah muda yang selalu membuatnya tergiur untuk menyentuhnya di sana. Keduanya sempat terpejam menikmati sentuhan cinta dari hati satu sama lainnya.
"Aku menjadi seperti ini karena dirimu, sayang! Dan wanita yang aku rayu tentu hanya dirimu seorang. Bahkan Bunda saja tidak pernah mendengar kata-kata manisku! Hanya kau seorang Ana yang pantas menerima segenap cinta yang aku miliki. Seumur hidup ini, aku janji!", lalu pria itu menghadiahkan satu kecupan lagi pada kening Ana setelah mengucapkan kalimat yang menyejukkan hatinya.
"Ingat, masih ada anak-anak kita! Bagi juga cintamu untuk mereka kelak", Ana tersenyum seraya membenamkan dirinya ke dalam pelukan suaminya yang selalu membuatnya nyaman.
"Sebelumnya aku hanya anak tunggal, Ken. Aku begitu kesepian. Maka dari itu aku tidak akan membiarkan anakku nanti merasakan hal yang sama. Aku ingin dia memiliki banyak saudara sehingga dia bisa merasakan hangatnya sebuah keluarga", Ana menatap Ken dengan begitu banyak harapan di matanya.
"Itu terdengar seperti sebuah impian!", Ken menerbitkan senyuman hangatnya. Namun matanya mulai menyiratkan hal yang lainnya.
"Ya, bisa dibilang begitu! Memiliki keluarga besar, kurasa itu akan sangat menyenangkan!", Ana menampilkan senyuman polosnya dengan wajah begitu bahagia. Matanya sampai menyipit hingga ia tidak menyadari sebuah seringai mulai muncul pada bibir suaminya.
"Menyenangkan? Keluarga besar? Haishh,,, sepertinya aku harus berusaha keras untuk mewujudkan impianmu, sayang!", Ken nampak berpikir dengan wajah memelas.
"Tentu saja harus!", jawab Ana tegas. Wanita itu berpikir ke arah dimana Ken harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya dan juga dirinya kelak. Ana dengan naifnya berpikiran positif tanpa melihat senyum licik yang terkembang pada bibir suaminya saat ini.
"Ya, tentu saja harus! Berarti setelah anak ini lahir, aku harus berkonsultasi dengan dokter untuk program anak selanjutnya. Lalu aku juga akan meminta suplemen agar staminaku selalu kuat setiap saat. Karena istriku tercinta ini menginginkan anak banyak dariku!", dengan wajah polosnya Ken mengusap lembut perut Ana. Lalu wanita itupun mulai mengerti kemana arah dan tujuan ucapan suaminya ini saat Ken mengangkat kepalanya dengan lengkungan indah pada sudut bibirnya.
__ADS_1
"Kau ini, apa tidak hal lain yang kau pikirkan selain ke arah sana!", Ana memukul ringan bahu pria itu sambil tersenyum malu.
Kenyataannya adalah bahwa dirinyalah yang menggali lubang untuknya sendiri. Sudah tau suaminya ini tidak akan berpikiran normal jika sudah menyangkut ke arah sana. Tapi kenapa dia dengan polosnya memikirkan hal lain dengan sewajarnya. Hah! Ana benar-benar ingin menepuk kepalanya sendiri saat ini.
"Jangan malu-malu, sayang! Katakan saja kau ingin jika kita selalu menjadi mesra seperti itu, kan!", Ken menaik-turunkan alisanya dengan senyuman menawan yang tak tertahankan.
"Ken! Sudah hentikan! Kau selalu saja suka menggodaku! Lihat saja aku akan melaporkanmu!", Ana memalingkan tubuhnya membelakangi pria itu sambil melipat kedua tangannya di depan.
"Lapor? Pada siapa? Laporkan saja, aku tidak takut!", Ken berusaha keras menahan senyumnya di belakang punggung Ana.
"Pada anakmu! Jika mereka memiliki ayah mesum!", Ana membalikkan tubuhnya lalu memandang pria itu dengan wajah yang sedikit garang. Ya, Ana sedikit kesal sekarang karena Ken selalu saja menggodanya jika menyangkut hal seperti ini. Ia menaikkan dagunya serta mencebik kesal.
"Katakan saja! Aku juga akan mengatakan pada mereka jika itu adalah keinginan ibu mereka!", Ken benar-benar tertawa puas sekarang. Sungguh menyenangkan menggoda wanita hamil ini.
Tapi yang lebih menyenangkan adalah saat Ana mengatakan ingin memiliki anak banyak darinya. Tentu itu adalah hal yang paling membahagiakan yang pernah ia dengar selain ungkapan cinta Ana padanya. Memiliki sebuah keluarga saja sudah bahagia, apalagi mempunyai keluarga yang berisi begitu banyak anak di dalamnya. Pasti sungguh sangat menyenangkan mendengar rumahnya nanti akan selalu ramai setelah ia pulang bekerja, lalu disambut oleh istri dan anak-anaknya. Membayangkannya saja membuat hati Ken berdebar tak karuan. Ia terlalu senang sekarang.
cup
"Terimakasih, sayang! Karena kau mempunyai impian seindah itu", ucapan tulus Ken mengisi rongga telinga Ana setelah ia memberikan saat kecupan untuknya. Pria itu berjanji akan memenuhi dan mengabulkan impian istri tercintanya itu.
"Terimakasih juga, sayang! Karena kau telah dan akan memberikan keluarga untukku", Ana pun mengalungkan tangannya pada leher suaminya. Mereka tersenyum saat wajah mereka makin dekat. Lalu tau sendiri apa selanjutnya, penyatuan cinta mereka melalui kecupan-kecupan nikmat yang membuat keduanya merasa bahwa dunia hanya milik mereka berdua.
Ana menginginkan hal itu karena ia merasakan kesepian selama hidupnya. Meskipun ia tak kekurangan perhatian dan kasih sayang dari ayahnya, tapi itu hal yang berbeda. Lalu setelah ayahnya tiada, ia makin merasakan yang namanya kesendirian. Lalu dengan restu dan kasih sayang yang ia punya dari kedua mertuanya saat ini, ia jadi merasa memiliki orang tua yang lengkap. Dan Ana sangat bersyukur karena hal itu. Tapi,,, tetap saja, ia tidak ingin apa yang dialaminya terjadi pada anaknya. Ia ingin anak-anaknya memiliki banyak saudara, sehingga nanti anaknya tidak akan kesepian seperti dirinya dulu.
"Eherm!", seseorang datang dan menghentikan kegiatan dua orang itu.
__ADS_1