
"Ken, apa nanti Ana akan ada di sana?", tanya Nyonya Rima pada putra sulungnya yang kini tengah duduk rapih di sampingnya.
"Harusnya ada, Bunda! Karena rencana kali ini juga melibatkan dia!", jawab Ken pada ibunya.
"Bunda gugup, Ken! Bunda malu bertemu dengan Ana", ucap Nyonya Rima jujur. Karena bagaimanapun juga mengingat dulu sikapnya yang begitu kasar pada Ana, membuat wanita paruh baya itu sedikit segan untuk mengawali pertemuan dengan wanita yang kini telah menjadi menantunya.
"Tenang saja, Bunda! Meskipun kelihatannya kakak ipar galak, tapi kakak ipar adalah seseorang yang berhati mulia", pria yang tengah duduk di kursi depan menjawab pertanyaan Nyonya Rima. Dia tak lain adalah Sam, putra bungsunya.
"Hey, kenapa kau yang jawab! Dia istriku, harusnya aku yang menjawabnya!", omel Ke pada Sam seperti biasanya. Ken tak pernah bisa berbagi dengan siapapun jika menyangkut Ana, meski itu hanya sebuah komentar. Hal sepele yang selalu saja dipermasalahkan, ckckk.
"Lihatkan, Bunda! Kakak sekarang selalu cemburu buta setelah memiliki kakak ipar!", ucap Sam sambil mendengkus kesal lalu ia dan juga ibunya tertawa bersama. Memang sekarang Ken telah berubah banyak. Nyonya Rima sendiri tak menyangka jika putranya itu akan bisa jatuh cinta yang teramat dalam pada seorang wanita. Padahal mengingat dulunya, ia bahkan tak tertarik untuk sekedar melirik pada wanita manapun.
"Bunda hampir mengira kakakmu ini tidak menyukai wanita, Sam!", Nyonya Rima menambah bumbu gurauan yang makin membuat gelak tawa di antara keduanya.
"Yang benar saja, Bunda! Ken ini putra Bunda, bagaimana mungkin Bunda berpikir begitu tentang Ken! Ken pria normal, Bunda!", seru Ken tak terima dengan ucapan ibunya itu.
"Hey, bodoh! Tutup mulutmu! Dan harusnya kau berangkat dengan mobilmu sendiri, tidak perlu dengan kami!", Ken menatap kesal adiknya lalu melempar pandangannya keluar jendela.
"Dasar pelit!", gerutu Sam di kursi depan.
"Baik! Besok pagi seluruh kunci mobil yang kau pegang harus sudah berada di rumahku. Dan kau juga harus keluar dari apartemen itu. Lalu serahkan surat pengunduran dirimu!", ucap Ken acuh.
"Astaga kakak, kau sama saja membuatku menjadi gelandangan!", Sam menangkup wajahnya dengan kedua tangan tak mampu membayangkan dirinya yang tak memiliki apapun esok hari.
"Tidak, itu tidak mungkin terjadi! Baiklah Presdir Ken yang terhormat, aku akan melakukan apapun perintahmu asal kau tidak membuat adik kesayanganmu ini menjadi gelandangan. Oke?", kali ini Sam memasang wajahnya yang paling manis ke arah kakaknya yang tak mau menatapnya lagi.
"Kalau begitu tutup mulutmu. Kau jahit jika perlu!", perintah Ken dengan sinis dan kejam. Ia tak peduli apapun lagi karena saat ini adiknya itu terlalu banyak bicara. Kepala Ken rasanya mau pecah mendengar celotehan adiknya yang tiada berhentinya.
Spontan Sam langsung membuat gerakan mengunci mulutnya dan langsung ke membuang kunci tersebut ke udara. Lalu ia menatap ke arah kakaknya, mengangkat kedua tangannya sambil bertanya dengan matanya 'apa kau puas sekarang'. Kemudian ia menghadap ke depan lagi, duduk manis tanpa bicara.
__ADS_1
"Cih!", Ken berdecak lalu tersenyum. Ia selalu tau hal apa yang paling ditakutkan adiknya itu. Nyonya Rima menggeleng pelan seraya tersenyum, ia bahagia sudah sampai seumuran ini, putra-putranya selalu bisa membuat suasana menjadi hidup.
***
Mobil yang mereka kendarai telah sampai pada butik yang biasa mereka datangi, Butik Aslan. Ken sudah membuat janji temu dengan Joice di sini sejak kemarin lusa. Dan sepertinya wanita itu masih belum sampai, karena setelah Ken menyapu area parkir tempat itu, ia tak menemukan mobil Joice terparkir di sana. Dan pria itu memang sengaja mempercepat keberangkatan mereka menuju Butik karena ia ingin mempertemukan istri tercintanya dengan ibunya untuk pertama kali setelah mereka menikah.
"Ken!", Nyonya Rima menggenggam tangan putranya begitu erat. Tangannya terasa dingin dan berkeringat, tak pernah ia merasakan segugup ini setelah sekian lama. Dan ini semua karena rasa bersalahnya terhadap Ana. Ken mengerti apa yang ibunya rasakan saat ini. Jadi ia mengulas senyumnya sambil mengelus lembut tangan ibunya yang menggenggam tangannya. Ia mencoba menenangkan perasaan ibunya saat ini.
Di sebuah ruang ganti di lantai tiga butik ini, Ana nampak tengah berbincang seru dengan Sarah sambil sesekali mereka tertawa. Tapi obrolan mereka harus terhenti ketika tiba-tiba pintu dibuka dari arah luar. Ketika Sam masuk pertama, Sarah membelalakkan matanya. Sungguh ia ingin melempar wajah pria konyol yang sedang menyeringai itu dengan bantal kecil yang sedang ia pegang. Lalu Ken menyusul di belakang dan Ana pun mengulas senyumnya. Tapi kemudian tangan Ken yang satunya masih tertinggal di balik pintu, seperti seseorang menahannya. Ken sempat mengehentikan langkahnya lalu tersenyum ke arah orang yang masih berada di balik pintu itu. Saat menoleh ke arah itu, Ken sempat menorehkan senyumannya. Jantung Ana tiba-tiba berdetak kencang. Ia tak pernah melihat Ken tersenyum manis seperti itu kecuali kepada dirinya. Tiba-tiba pikiran negatif merayap menjalar ke dalam benaknya.
"Apa dia membawa Joice ke sini? Awas saja jika itu Joice! Akan kuhabisi nyawa mereka berdua!", geram Ana dalam hatinya.
Sam yang melihat perubahan ekspresi pada wajah Ana pun sempat ia abadikan dengan kamera ponselnya.
"Wah,, singa betina ini memang menyeramkan! Sangat cocok dengan kakak!", gumam Sam pelan sambil terkekeh riang.
"Apa yang kau lakukan?", tanya Sarah pelan dengan bibir mencibir ke arah Sam yang ia lihat sedang melakukan sesuatu yang mencurigakan.
"Awas kau macam-macam!", ancam Sarah lagi dengan wajah garangnya.
Bukannya takut, Sam malah memberikan ciumannya lewat udara ke arah Sarah. Dengan tidak tau malunya, ia lalu menyeringai penuh kemenangan. Sarah langsung mendesis dan mengeluarkan ekspresi jijiknya, bantal yang ada di tangannya sudah ia angkat ke udara namun batal ia lempar karena Ken akhirnya menarik seseorang itu masuk ke dalam ruang ganti.
Baik Ana maupun Sarah tak mampu menutupi keterkejutannya. Mulut mereka sama-sama terbuka. Masih menatap ke arah Nyonya Rima dengan ekspresi tak percaya. Sedangkan yang ditatap sedang melempar pandangannya ke arah lain, lantaran ia belum bisa menguasai dirinya.
"Sarah, pukul aku!", perintah Ana datar masih menatap lurus ke arah Nyonya Rima.
bbukk
Sarah memukul punggung Ana dengan sedikit kekuatan.
__ADS_1
"Auuww!", Ana akhirnya yakin bahwa ini bukanlah khayalannya.
"Sekarang pukul aku!", kali ini Sarah yang meminta.
bbukk
"Auuuwwww!", kali ini Sarah menjerit karena Ana memukul punggungnya lebih keras daripada yang ia lakukan.
"Sakit Ana!", desisnya menahan sakit.
"Ini nyata Sarah!", gumam Ana pada sahabatnya masih dengan arah pandangan lurus ke arah Nyonya Rima.
Ken terkekeh melihat Ken tingkah kedua wanita yang berada di hadapannya saat ini. Tingkah mereka juga mengundang sekilas senyuman dari bibir Nyonya Rima karena sempat menangkap kegiatan Ana dan Sarah dari ujung matanya. Ken mendekat ke arah Ana lalu menarik tangan istrinya untuk menghampiri ibunya. Tapi,, Ana malahan menahan tangan Ken sambil menatap Ken ragu.
-
-
-
-
-
-
teman-teman jangan lupa ikutin terus ya akhir-akhir cerita ini,, dan ikutin juga ya ceritanya Ben dan Rose di sana..
🌹"Hey you, I love you!"🌹
__ADS_1
Dan aku ingetin sekali lagi,, jangan pernah lupa buat kasih like, vote sama komentar kalian di sana maupun di sini ya teman-teman 😘
keep strong and healthy ya guys 😉