Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 39


__ADS_3

Kemudian dia kembali mengingat ucapan terakhir Ken. Pikirannya melayang mengingat-ingat sesuatu yang terjadi sebelumnya. Di bagian mana yang salah hingga Ken bisa semarah itu. Pikiran Ana masih terus menerawang sambil menatap cermin besar.


***


Ana mencoba flash back pada kejadian siang ini. Kemudian tiba-tiba dia tersenyum pada cermin besar di hadapannya.


"Apakah dia sedang cemburu?!", ucapnya sambil mengingat saat dia berpelukan dengan Louis tadi.


"Oh, astaga!", Ana tersenyum sendiri.


"Tapi dia sangat menyeramkan jika sedang cemburu. Aku tak boleh membiarkan hal ini terjadi lagi. Habislah aku jika dia nanti cemburu lagi. Ini saja hanya satu, mungkin nanti bisa dua, tiga atau sepuluh", racaunya sambil menunjuk bekas kissmark yang Ken tinggalkan di lehernya.


***


Ken keluar kamar mandi dan menekan tombol intercom yang menghubungkan dirinya kepada kepala pelayan di rumahnya.


"Ya tuan".


"Siapkan pakaian wanita beserta ...emmhh itu.. emmm itu ...", ucapan Ken terputus-putus karena dia malu untuk menyebutkannya.


"Ya tuan?", suara di sana berintonasi tanda tanya.


"Emmm itu... pakaian dalamnya", ucap Ken cepat dan segera mematikan tombol intercom.


"Hah, sungguh memalukan!", ucapnya sambil tersenyum. Ini pertama kalinya dia mengurusi hal-hal seperti ini. Ken sempat ragu, namun dia bisa menebak dengan pikiran logisnya benda itu pun saat ini pasti juga ikut basah akibat guyuran air dari shower tadi.


Ken keluar dari kamarnya dan memutuskan untuk mandi di kamar sebelah.


***


Ana mandi sesuai dengan perintah Ken. Saat ini sikap yang lebih tepat adalah menurut agar bisa menciptakan suasana damai nantinya. Ana melakukan mandi singkatnya dan sempat bingung untuk memakai apa setelah semua bajunya basah. Dia melihat piyama handuk tergantung di sana.

__ADS_1


"Kelihatannya ini bersih. Aku pakai ini saja dulu", ucapnya dan menyambar piyama handuk itu untuk ia pakai.


"Lalu bagaimana dengan mereka?! Masa aku harus polos seperti ini?!", ucapnya sambil memandang pakaian dalamnya yang juga ikut basah.


"Ahh, lebih baik aku keluar dan mengambil ponselku. Aku akan menelpon ayah agar mengirimkan seseorang untuk membawa pakaian ku", ucap Ana seraya melangkahkan kakinya keluar dari sana.


Saat Ana baru saja membuka pintu, dia melonjak kaget. Ken sudah berdiri di sana menunggunya keluar. Ana memaku wajahnya menatap Ken dari atas sampai bawah.


Rambutnya yang masih setengah basah dan berantakan. Membuat wajahnya nampak lebih segar dan lebih muda. Ken menggunakan celana kain untuk bekerjanya tapi dia masih mengenakan kaos hitam polos sebagai atasannya. Tampilan casualnya membuat mata Ana tak berkedip, Ana terpana pada penampilan Ken yang begini.


"Waahh", sebuah suara yang hampir tak terdengar keluar dari mulut Ken yang juga sedang terpana oleh tampilan Ana yang baru saja selesai mandi. Nalurinya hampir bangkit melihat Ana yang hanya memakai handuk piyama.


Wajah Ana langsung berubah seperti tomat. Dia mengerti maksud pandangan Ken saat ini. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri agar tak bertemu dengan tatapan Ken. Tapi Ken terus memandangi Ana dan tersenyum.


"Kau itu menggemaskan sekali!", ucap Ken sambil mencubit gemas pipi Ana hingga bertambah merah.


"Pakai ini, eemm,, semoga ukurannya pas", ucap Ken canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ken memberikan sebuah bungkusan berisi satu set pakaian pada Ana yang sedang mengelus pipinya akibat cubitan darinya.


"Jika dia terus menggemaskan begini, bagaimana aku bisa menahan diri, huh!", Ken menghembuskannya nafasnya kasar dan tersenyum.


***


Ana kembali berdiri di depan cermin besar. Dia memandangi wajahnya yang sudah merah, apalagi sebelah pipinya yang baru saja dicubit oleh Ken. Dia menyentuh dadanya yang di dalamnya terdapat jantung yang sedang berdetak sangat cepat.


"Jadi beginikah wajahku saat sedang merona!Dan setiap sedang merona wajahku akan seperti kepiting rebus begini! Aahh, aku malu!" racau Ana sendiri sambil melompat-lompat kecil.


Setelah puas dengan racaunya, akhirnya Ana menyadari dirinya sedang memegang sebuah bungkusan. Pikiran Ana teralihkan, dia membukanya dan mengeluarkannya satu per satu.


Ana mengambil sebuah dress berwarna kuning muda dengan bordir bunga kecil-kecil di seluruh bagiannya.


"Manis", ucapnya seraya mengangkat dress itu ke udara dan tersenyum.

__ADS_1


Kemudian Ana merogoh lagi isi bungkusan itu. Mata Ana terbelalak tak percaya saat merasakan apa yang sedang dipegangnya. Ana menariknya keluar dan mengangkatnya tepat di hadapan wajahnya. Pipi Ana menggembung mendapati satu set pakaian dalam wanita berwarna pink salur putih dengan pita di tengahnya. Ana menipiskan senyumnya.


"Jadi beginikah seleranya!", ucapnya sambil tersenyum lucu.


"Dia benar-benar hebat, bisa memprediksikan sampai hal sedetail ini", gumam Ana sambil terus tersenyum lucu.


***


Ken tengah menyibukkan diri dengan benda pipih di hadapannya sambil menunggu Ana selesai berpakaian. Ken sibuk mengecek beberapa laporan akibat dirinya tiba-tiba harus pergi meninggalkan kantor. Ken mendudukkan diri di sofa di sudut kamar. Sesekali dia melirik ke arah pintu kamar mandi, karena sudah 15 menit setelah terakhir Ken beranjak dari sana tapi Ana belum keluar juga.


"Baiklah! 5 menit lagi dia tidak keluar, maka akan aku dobrak pintunya. Apa harus begitu lama bagi wanita hanya untuk memakai baju saja", ucap Ken yang kembali mengalihkan perhatiannya pada laptopnya.


Tak berapa lama sebuah suara memanggilnya. "Ken", Ana memanggilnya canggung sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ana sangat malu, pasalnya ini adalah pertama kali baginya beraktifitas di dalam kamar seorang pria selain ayahnya sendiri. Apalagi saat ini mereka hanya sedang berdua saja dan dalam satu ruangan.


Ken memandang Ana takjub dengan penampilan segarnya yang sehabis mandi, tanpa make up dan kulit putih bersih yang membuatnya terlihat cantik alami. Ana memakai dress yang telah diberikan padanya dan rambutnya disanggul asal ke atas, menyisakan beberapa anak rambut di sekitar telinganya.


Merasa tak mendapat respon, Ana beralih memandang Ken. Dia ingin tahu alasan Ken tak menjawab panggilannya. Tapi betapa terkejutnya dia saat melihat raja singanya tengah menganga sambil memandanginya. Ana ingin tertawa tapi juga dia merasa malu karena Ken melihatnya seperti itu.


"Ken", panggil Ana lagi namun belum mendapat respon.


"Ken", panggil Ana sambil berjalan mendekat ke arahnya.


"Ken", panggil Ana yang kini sudah ada di hadapan Ken dan melambaikan tangannya di hadapan wajah Ken.


"i,, i,, iya", Ken gelagapan saat tersadar dari lamunannya.


"Air liurmu!", ucap Ana sambil menunjuk ke arah sudut bibirnya. Sebuah ide langsung terbesit dalam benaknya untuk menjahili Ken.


"Astaga!", Ken terperanjat dan segera membersihkan kedua ujung bibirnya. Dan Ana pun terkekeh saat tahu usahanya berhasil.


Ken menatap Ana tajam saat tahu ternyata sedang dijahili oleh Ana. Ana gelagapan melihat tatapan Ken, dia melangkah mundur dan menjadi waspada untuk kemungkinan yang akan dilakukan oleh si raja singa.

__ADS_1


Ken bangkit dari tempatnya duduk dan masih menatap Ana dengan tatapan tajamnya. Dia melangkah maju untuk terus mendekat ke arah Ana. Auranya suram dan siap menerkam mangsanya.


__ADS_2