
FLASHBACK ON
Tuan Bram baru saja akan keluar dari ruang rapat. Ia akan berjalan menuju lift. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia melihat Bastian Adelard alias Ken menarik paksa tangan Ana dan memasuki lift khusus presdir. Bahkan ia sempat melihat Bastian memojokkan Ana di dalam lift sana.
"Sialan! Dasar wanita ******! Ternyata kalian sudah saling mengenal, hah! Lihat apa yang akan aku lakukan! Bagaimana pun juga perusahaan ini adalah milikku seorang!", ucap Tuan Bram emosi. Ia mengepalkan tangannya di samping dengan gemetar menahan amarah yang siap meledak.
"Ya Tuan", jawab Yohan setelah sambungan telepon tersambung.
"Kita lakukan rencana B. Kau segera datang ke sana dan urus sisanya. Aku percayakan semua kepadamu, Yohan!", ucap Tuan Bram seraya tersenyum licik.
"Baik Tuan", ucap Yohan dan sambungan telepon pun terputus. Tuan Bram meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Kalian akan melihatnya, bagaimana jika kalian mulai mempermainkan aku!", ucapnya penuh dengan ambisi yang sangat berbahaya. Air mukanya bak hewan buas yang siap menangkap buruannya.
***
Di sebuah ruangan dingin di rumah sakit kota K, ruangan VVIP dimana Tuan Danu terbaring tak sadarkan diri. Beberapa alat medis masih terpasang pada tubuhnya. Aroma khas rumah sakit menyeruak bagi siapa aja yang menginjakkan kaki di sana. Tiba-tiba jemari pasien itu bergerak, Tuan Danu membuka matanya perlahan. Pandangannya kabur dan tak jelas. Pelan-pelan ia mengerjapkan matanya hingga penglihatannya menjadi jelas. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang ia tempati saat ini.
"Ahh, aku di rumah sakit rupanya!", batinnya.
"Ana, aku harus bertemu Ana!", ucapnya lagi dalam hati.
Ia berusaha menggerakkan tangan dan kakinya yang terasa kaku akibat beberapa hari tak sadarkan diri. Pintu ruangan itu terbuka, Tuan Danu menatap waspada ke arah sana. Ternyata Han yang memasuki ruangan itu, ia terkesiap saat melihat Tuan Danu yang sudah membuka matanya.
"Tu,, Tuan!", ucap Han yang masih terkejut seraya membulatkan matanya.
"Ha,, Han!", ucap Tuan Danu begitu lemah. Ia mengulurkan tangannya ke udara supayan Han mendekat dan menggapainya.
Han menghampirinya dan meraih tangan Tuan Danu. Kemudian ia mendudukkan dirinya di pinggir ranjang.
"Apakah Tuan baik-baik saja?", tanya Han sedikit awas sambil memperhatikan wajah Tuan Danu. Ia mencari ekspresi kesakitan pada wajah orang tua itu. Ia khawatir jika sesuatu hal buruk terjadi, karena ia merasa saat ini adalah kewajibannya menjaga Tuan Danu di saat Ken dan Ana tidak ada.
"Aku sudah tidak apa-apa!", jawab Tuan Danu dengan suara lemah seraya menggeleng pelan.
__ADS_1
"Ana,, aku ingin bertemu Ana!", ucapnya lagi. Suara lemahnya tak menutupi nada perintah mutlak yang harus Han turuti.
"Baiklah, aku akan segera mengabari Tuan Ken dan Nona Ana. Tapi sebelum itu, biarkan dokter memeriksa anda terlebih dahulu, Tuan", ujar Han.
"Baiklah", Tuan Danu mengangguk setuju.
Han telah menekan tombol darurat untuk memanggil dokter ke ruangan itu. Tak berapa lama beberapa dokter datang dan memeriksa kondisi Tuan Danu setelah sadar saat ini.
"Bagaimana?", tanya Han pada salah satunya.
"Kondisi Tuan Danu sudah stabil, tapi saya sarankan agar beliau banyak beristirahat dulu. Kami akan terus memantau perkembangan kondisi selanjutnya", Han mengangguk. Ia mempersilahkan mereka untuk kembali ke ruangan dan Tuan Danu dapat beristirahat kembali.
"Istirahatlah, Tuan! Saya akan keluar sebentar untuk memberi kabar kepada Tuan Ken dan Nona Ana. Sekalian saya harus melihat kondisi Risa hari ini", ujar Han dengan tenang.
"Risa? Bagaimana keadaannya sekarang?", Tuan Danu baru ingat bahwa saat itu ia bersama dengan Risa di dalam mobil. Raut wajahnya berubah khawatir.
"Tak lebih baik dari anda, Tuan. Risa masih belum sadarkan diri", Han sudah bangkit dari duduknya. Ia menundukkan kepalanya dalam ketika menjelaskan kondisi Risa saat ini.
"Baik, saya permisi Tuan! Saya harus menjenguknya sekarang", Han menundukkan sedikit tubuhnya memberi hormat kepada Tuan Danu sebelum berbalik pergi.
"Tu,, Tunggu! Apa hubunganmu dengan Risa?", tanya Tuan Danu yang dilanda penasaran meski ia masih cukup lemah saat ini. Karena tak biasanya Han yang ia kenal begitu peduli pada seorang wanita.
"Dia calon istri saya, Tuan!", jawab Han berbalik kembali menghadap Tuan Danu.
"Maafkan aku, Han", Tuan Danu benar-benar menyesal setelah mendengar fakta ini. Kali ini ia sangat berharap kondisi Risa cepat membaik.
"Anda tidak perlu minta maaf, Tuan! Ini adalah musibah. Dan lagi bukan anda yang seharusnya bertanggung jawab atas kejadian ini. Tapi dia, mereka yang harus mempertanggung jawabkan ini semua", ucap Han menatap lurus ke depan dengan wajah suram.
"Apa maksudmu, Han? Dia, mereka? Dia siapa, mereka siapa Han?", pertanyaan Tuan Danu menyadarkan Han bahwa ia sudah banyak bicara kali ini. Tidak seharusnya ia menyebutkan hal ini pada Tuan Danu. Kondisinya baru saja membaik, ia baru saja sadarkan diri, tak seharusnya Han menceritakan hal yang akan membebani pikirannya. Han sungguh menyesali hal ini.
"Maaf Tuan, saya permisi dulu!", dengan cepat ia membungkukkan diri dan berlalu pergi begitu saja sebelum ia mendapatkan pertanyaan lagi.
Ia melangkah keluar ruangan seraya merogoh ponselnya di saku celana. Ia berniat menelpon bosnya untuk melaporkan kondisi terkini Tuan Danu. Sampai di depan lift, Han telah memegang ponselnya dan akan melakukan panggilan terhadap bosnya. Tiba-tiba alarm dari ruangan Tuan Danu berbunyi, alarm yang menandakan pasiennya mengalami kondisi kritis berbunyi nyaring di telinga semua orang. Ia segera berlari dan berpapasan dengan beberapa dokter yang memeriksa Tuan Danu. Mereka memasuki ruangan itu bersamaan. Semua yang baru saja datang terkejut saat mendapati Tuan Danu kembali tak sadarkan diri dengan wajah pucat pasi.
__ADS_1
Para dokter berusaha keras menstabilkan kondisinya sementara ini. Han pun keluar ruangan setelah dirasa situasi mulai terkendali.
FLASHBACK OFF
Gelap sudah menyelimuti hari, hingga rembulan muncul menjadi salah satu penerangnya. Seorang pria paruh baya tengah duduk santai di halaman belakangnya menikmati cerutu yang menyala. Tuan Bram nampak berdendang dengan gumaman yang tak jelas.
"drret, drret, drret", ponselnya bergetar.
Ia meraih ponselnya di atas meja. Masih bersenandung dengan riangnya.
"Ya!", jawabnya setelah meletakkan ponselnya di dekat telinga.
"Semua sudah beres, Tuan!", ucap Yohan memberi laporan pada bosnya itu.
"Baiklah! Kita tunggu permainan selanjutnya", jawabnya lagi sambil menghisap cerutunya.
"Baik, Tuan!", sambungan telepon terputus. Mereka berdua telah mengakhiri pembicaraan itu.
Tuan Bram menyeringai puas, ia tersenyum penuh kemenangan. Awalnya ia sudah akan memutar otaknya untuk mendapatkan simpati dari Bastian itu agar orang itu mau berpihak kepadanya. Tapi betapa murkanya ia setelah mengetahui bahwa ternyata Bastian dan Ana saling mengenal. Bahkan Tuan Bram berpikiran bahwa Ana telah menggoda Bastian. Pikiran buruk tentang keponakannya itu telah tersemat dalam pikirannya saat ini.
***
Denting jam berbunyi begitu nyaring pada dinding rumah sakit. Beberapa orang berlalu lalang di sekitar lobby rumah sakit itu. Sebuah mobil melewati mobil dan bergerak menuju tempat parkir di lantai basement.
Dua orang keluar dari sana, Han sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi. Ken dan Ana berjalan beriringan. Ken merangkul bahu Ana, menopangnya yang masih begitu lemah akibat berita yang tadi mereka dengar. Baru saja ia akan bahagia mendengar ayahnya sudah siuman, namun sedetik kemudian kabar buruk menyusulnya. Kini malah ayahnya berada pada kondisi kritis.
"Ana!", panggil Ken untuk memastikan bahwa wanitanya baik-baik saja.
Ana tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum yang dipaksakan. Ia menundukkan kepalanya kembali untuk menyembunyikan rona kesedihan pada wajahnya dari Ken.
Saat ini mereka bertiga, bersama dengan asisten Han sudah masuk ke dalam lift. Ken dapat melihat wajah Ana yang murung pada pantulan dinding lift itu. Lantas ia mengeratkan rangkulannya dan mendekapnya supaya ia bisa memberikan sebuah ketenangan untuk Ana.
"Apa ayah akan baik-baik saja?", Ana mendongakkan kepalanya dan menatap Ken dengan begitu sendu.
__ADS_1