
"Tenang dulu, sayang! Maksudku begini, tempat itu memulai operasionalnya malam hari, dan itu berbahaya untuk seorang wanita. Jika kau masih ingin bekerja, maka aku bisa memberimu pekerjaan apapun yang kau inginkan. Asal, tidak malam hari waktu bekerjamu", Sam kembali menggenggam kedua tangan Sarah lalu menghirup nafasnya dalam-dalam.
"Sejujurnya, selama ini aku sangat mengkhawatirkan dirimu, sayang! Apalagi ditambah dengan adanya kasus Megan Aira, membuatku tak bisa bekerja dengan tenang. Wanita itu bisa melakukan apa saja untuk merusak hubungan kita. Dan club malam tempatmu bekerja adalah tempat yang sangat beresiko. Wanita itu akan sangat mudah membuatmu dalam masalah di sana. Kuharap kau mau mengerti maksudmu, sayang", Sam tak menyembunyikan gurat kekhawatirannya pada Sarah.
Ia berusaha menjelaskan maksudnya setenang mungkin agar calon istrinya itu mau menerima ucapannya. Dan ia juga ingat peringatan dari Krystal yang disampaikan oleh Sandi tadi malam mengenai wanita itu. Bertambah khawatirlah ia pada Sarahnya.
Benar apa yang Sam katakan! Wanita itu memang sudah seperti siluman rubah yang licik dan memiliki tubuh yang licin untuk melesat menerkam mangsanya. Sarah juga menyadari betapa keras dan kelamnya kehidupan di club malam itu. Belum lagi ada teman kerja macam Sissy yang genit dan dengkinya bukan main. Benar, Sarah harus mempersempit kemungkinan yang akan terjadi ke depannya. Tapi,,,
"Tapi Sam! Aku bekerja di sana atas rekomendasi Ana. Ana yang membawaku bekerja di sana hingga aku bisa naik jabatan seperti sekarang ini. Aku merasa tidak enak hati pada Ana jika tiba-tiba saja mengundurkan diri. Ana sudah percaya kepadaku untuk mengurus club malamnya itu!", Sarah menundukkan kepalanya. Punggungnya yang semula tegang juga sudah mengendur sekarang. Wanita itu sudah lebih rileks, hanya saja memang ada hal yang ia pikirkan.
Awalnya Sarah pikir, Sam akan mengatakan bahwa ia bekerja di tempat yang tidak pantas dan nista. Pria itu akan berbicara mengenai derajat dan martabat. Tapi ternyata yang Sam maksudkan adalah bagaimana keselamatannya dan juga bagaimana menjaga serta melindungi hubungan mereka ini, dari segala kemungkinan termasuk kelicikan Megan Aira. Jika karena alasan ini maka Sarah akan setuju. Tapi bagaimana caranya menyampaikan masalah ini kepada sahabatnya itu?!
"Jika itu yang kau khawatirkan, maka tenanglah, sayang! Aku yang akan berbicara langsung pada kakak ipar. Aku yakin kakak ipar pasti akan mengerti dengan hal ini", Sam lega karena akhirnya Sarah mau menyetujui ucapannya tadi.
Dan ia sangat yakin, meski kakak iparnya itu sangat galak, tapi sebenarnya istri dari kakaknya itu memiliki hati yang sangat lembut pada orang-orang di sekitarnya.
"Jadi,, mulai hari ini kau tidak udah bekerja lagi, ya!", pria itu membuat barisan yang begitu lebar dengan gigi putihnya dan juga wajah yang penuh harap.
"Apa?! Kenapa jadi secepat ini, Sam?! Tidak,, aku tidak mau!", Sarah segera melipat kedua tangannya di depan dada sambil memalingkan wajahnya.
"Ayolah, sayang! Tadinya aku berpikir untuk menunda satu atau dua hari lagi. Tapi memikirkan bagaimana si Megan itu akan melakukan berbagai cara, maka ada baiknya jika kita juga memulai rencana perlindungan ini lebih cepat!", Sam melepas lipatan tangan wanita itu lalu menggenggamnya kembali.
"Baiklah! Kalau begitu kau bicara pada Ana sekarang. Baru aku akan setuju! Setelah ini kami akan berkumpul di rumah Krystal, bagaimana jika kau mengantarku ke sana sebelum berangkat kerja lalu kau bisa langsung berbicara pada kakak iparmu itu!", Sarah yakin pria itu tidak akan berani berbicara langsung pada Ana yang sangat ia hindari.
"Baik! Ayo kita berangkatlah sekarang!", Sam segera berdiri dengan ekspresi meyakinkan.
"Eh?", Sarah menengadah menatap Sam dengan heran. Yakin sekali sepertinya pria ini! Baiklah! Karena Sam juga sudah bersedia, jadi tak ada alasan lagi baginya untuk menolak atau menunda.
"Tunggu aku taruh piring ini dulu!", Sarah pun berdiri dan berjalan ke belakang dengan piring kotor di tangannya.
Cekk! Ya ampun, bagaimana bisa ia berbicara tanpa berpikir dulu?! Sam memijit kecil keningnya yang terasa pening. Tindakan impulsif yang ia ambil benar-benar tak terpikirkan sama sekali. Resiko yang ia ambil untuk berbicara langsung dengan kakak iparnya yang super galak itu sangat besar. Apakah Ana akan menyetujui permintaannya nanti atau tidak, Sam benar-benar tidak mengetahuinya. Bahkan membayangkan bagaimana nanti pertama kali ia akan membuka mulutnya di depan Ana pun pria itu sudah gemetar saat ini.
Sam menggigit jarinya dengan ekspresi ketakutan dan khawatir yang menjadi satu. Memandang ke arah luar sambil berpikir untuk merangkai kata-kata yang bagus agar nanti kakak iparnya itu tidak marah padanya karena permintaannya ini.
"Ayo kita berangkat sekarang!", seru Sarah tiba-tiba dari arah belakangnya. Wanita itu sudah siap dengan tas kecil di tangannya.
"Hah!! Iya,, ayo!", sedetik ia gugup karena suara Sarah begitu mengejutkannya. Semoga wanitanya itu tidak melihat ekspresi anehnya tadi. Lalu ia ulurkan tangannya kepada Sarah. Dan ketika wanita itu menyambutnya, mereka pun keluar sambil bergandengan tangan.
Sarah memperhatikan Sam dari samping. Ada yang aneh saat tadi ia memanggil pria itu. Tapi,, entah apa! Yasudah biarlah, mungkin itu hanya perasaannya saja.
***
Dua mobil datang bersamaan di halaman sebuah mansion mewah. Itu adalah mobil milik dua kakak beradik Wiratmadja, Ken dan Sam. Mobil milik Ken berhenti lebih terdahulu. Lalu disusul kemudian dengan mobil milik Sam.
__ADS_1
Keringat dingin mengucur deras pada kening pria yang kini masih duduk di sebelah Sarah. Jangan ditanya ia gugup atau tidak! Tentu saja iya, dan pria itu sedang menahan gugupnya setengah mati. Berhadapan dengan kakak iparnya langsung, astaga, Sam belum pernah membayangkan hal itu. Semoga saja, semoga semua akan baik-baik saja.
"Ayo turun!", ajak Sarah yang sudah membuka pintu terlebih dahulu.
"Eh, iya iya. Ayo!", pria itupun membuka pintu mobil di sebelahnya.
***
"Jangan lupa apa yang aku pesankan tadi!", Ana mengingatkan suaminya tentang pembicaraan mereka mengenai Han.
"Iya, aku akan mengingatnya, sayang! Hukum Han untuk segera menikah. Hanya itu saja, kan?!", Ken mengulangi permintaan istrinya tadi supaya Ana yakin jika Ken benar-benar mengingatnya. Tapi ia tidak berjanji untuk tidak kesal pada asisten pribadinya itu, kan?! Jadi ia masih memiliki hak untuk memarahi orang itu.
"Ana!", seru Sarah dari arah belakang. Ana dan Ken yang sedang berjalan menuju teras rumah besar itupun disusul oleh Sam dan Sarah.
"Kau baru datang?", Ana merangkul Sarah yang sudah mensejajarkan langkahnya.
"Seperti yang kau lihat!", Sarah mengedikkan bahunya seraya tersenyum.
Sedangkan para pria kini berada di belakang barisan wanita mereka. Ken melihat gelagat adiknya itu agak mencurigakan. Seperti remaja gugup yang akan menyatakan cinta. Tapi tidak mungkin, mau menyatakan cinta pada siapa?! Jelas-jelas Sam dan Sarah kini sudah bersama, kan.
"Ada apa denganmu?", Ken tak tahan untuk tidak bertanya. Ekspresi gugup dan khawatir sangat jelas tersirat pada wajah adiknya itu.
"Ini mengenai Sarah! Aku ingin meminta izin pada kakak ipar untuk memperbolehkan Sarah berhenti dari pekerjaannya. Aku selalu mengkhawatirkannya yang selalu bekerja di malam hari. Apalagi sekarang ada kasus Megan Aira, takutnya wanita itu akan cari masalah di sana. Tempat itu sangat rawan. Kakak juga tau sendiri, kan!", Sam bercerita pelan tentang kegelisahannya ini.
"Lalu, apa yang kau khawatirkan? Katakan saja pada Ana!", Ken mengerti duduk permasalahannya.
"Itu dia masalahnya!", Sam mendesah dengan wajah memelas dan pasrah.
"Jadi maksudmu Ana adalah penyebab masalahnya?!", Ken meninggikan suaranya hingga kedua wanita di depan mereka menoleh dengan wajah heran.
"Tidak ada apa-apa! Kami hanya sedang mendiskusikan masalah perusahaan. Ayo silahkan kakak ipar, dilanjutkan saja obrolannya dengan Sarah!", Sam tersenyum seperti kuda. Giginya yang putih dan berbaris panjang membuatnya menjadi semakin terlihat kikuk.
"Kau benar-benar aneh, Sam!", Sarah yang berkomentar sedangkan Ana masih mengernyit heran. Wajah Ana yang terkesan dingin dan seram seperti kakaknya itu membuat Sam semakin gugup.
Tak ada lagi yang bisa Sam lakukan selain kembali melebarkan senyumannya hingga kedua wanita itu menghadap ke depan lagi dan melanjutkan obrolannya. Dan untuk kakak laki-lakinya ini, dia sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya dan memiliki ekspresi kesal di sana.
"Dengarkan aku, Kak! Kakak ipar bukanlah penyebab masalahnya. Melainkan masalah bagiku. Kenapa? Karena aku takut kakak ipar tidak akan menyetujui permintaanku ini. Aku takut kakak ipar malahan akan marah padaku. Secara tidak langsung, aku mengambil orang kepercayaannya di club itu. Makanya aku menjadi sangat gugup seperti sekarang ini!", Sam berkeluh kesah sedangkan Ken merasa lega di sampingnya.
Kakak dari Sam itu mengusap dadanya beberapa kali. Ternyata hal yang ia pikirkan tidak benar. Sam bukan ingin menyatakan cintanya, melainkan ingin mengungkapkan permintaannya pada Ana. Tapi awas saja jika adiknya itu berani dekat-dekat dengan istrinya. Ken tak akan membiarkan hal itu terjadi. Untuknya, uang masih bisa memiliki saudara. Tapi jika menyangkut wanitanya itu, maka saudaranya sendiri pun tak akan ia biarkan untuk mendekat walau hanya satu langkah pun. Heh! Jangan harap!
"Apa yang Kakak lakukan?!", Sam merasa aneh karena kakaknya itu malahan terlihat lega. Ada apa memangnya dengan pria itu?! Sam tidak dapat menebak isi otak kakaknya yang pintar namun kadang juga dangkal.
"Oh! Aku? Ini,, aku sedang merapikan jas ini. Tadi terlihat agak kusut karena aku terlalu duduk di dalam mobil", dengan wajah datarnya Ken sembunyikan rasa malunya karena ketahuan sedang mengelus dadanya. Sedangkan sekarang, ia ulangi kegiatan yang sama dengan alasan yang telah ia buat lagi barusan.
__ADS_1
"Benarkah?!", Sam melirik tajam. Sepertinya ia tidak akan dengan mudah percaya dengan apa yang diucapkan kakaknya itu. Ia yakin pasti kakaknya sedang memikirkan hal yang konyol.
***
Ketiga wanita sudah duduk di teras belakang. Krystal, Sarah dan juga Ana sudah memulai obrolan mereka. Karena Sam belum berbicara juga, maka Sam memberinya isyarat dengan lirikan mata yang galak ke arah Ana di sebelahnya yang sedang tertawa. Sam memaksakan senyumannya sambil mengangguk setuju, meski sebenarnya ia belum siap.
"Sayang! Sam sepertinya ingin mengatakan sesuatu padamu!", tak sabar, akhirnya Ken mendorong tubuh adiknya itu hingga hampir tersungkur ke depan.
Obrolan ketiga wanita itu terhenti. Hening dan semua mata jadi menatap ke arah Sam. Makin kikuk dan guguplah ia saat ini. Krystal dan Ana jelas memiliki pertanyaan di wajah mereka. Sedangkan untuk Sarah dan Ken punya rasa ketidaksabaran menunggu Sam membuka suaranya.
"Ada apa, Sam?", Ana memecah kesunyian di antara semua orang.
"Emmhh iya kakak ipar! Jadi begini,,,", Sam maju selangkah sambil menggaruk tengkuknya. Wajah ragu dan belum siap sangat jelas. Namun tangannya sudah berusaha bergerak seakan ingin menjelaskan sesuatu.
Sarah menghembuskan nafasnya dengan kasar. Menipiskan bibirnya hingga membentuk garis lurus. Sarah pikir, setelah tadi Sam menyetujui ucapannya dengan begitu mudah, berarti pria itu sudah mempersiapkan mentalnya untuk menemui Ana saat ini. Siapa sangka jika wajah pria yang tadi terlihat sangat optimis, kini menjadi seperti seorang pengecut yang bahkan belum ikut berperang.
Tapi Sarah tak ingin ikut campur ataupun membantu. Ini adalah keputusan yang Sam ambil untuknya. Memintanya untuk berhenti kerja dari club malam milik Ana adalah keinginan pria itu. Jadi Sarah akan membiarkan pria itu bertanggung jawab atas apa yang telah ia katakan sebelumnya, berbicara langsung dengan Ana.
"Katakan!", sedikit ekspresi gemas, Ken mendorong bahu adiknya itu. Ia sudah tidak sabar dengan lambannya Sam.
"Iya, sabar, Kakak!", Sam menoleh ke arah kakaknya dengan tatapan kesal. Kenapa jadi kakaknya yang tidak sabaran, sih?!
"Jadi begini kakak ipar,,,", Sam menjelaskan duduk permasalahannya. Ia mengatakan apa yang ia ungkapkan pada Sarah maupun kakaknya. Semuanya sama tak ada yang Sam tambahkan sedikitpun. Mengenai kekhawatirannya dengan pekerjaan Sarah yang mengharuskan ia berangkat mulai sore hari. Lalu juga mengenai masalah baru yang timbul tentang siluman rubah yang licin bernama Megan Aira.
"Baiklah kalau begitu, masih ada Manajer Toni di sana!", jawab Ana dengan santainya sambil memasukkan satu potongan buah pir yang agak besar ke dalam mulutnya. Tak ada ekspresi keberatan sama sekali pada wajah kakak iparnya itu.
plak
Sam menampar pipinya sendiri. Apakah ini mimpi?! Mengapa kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang ia perkirakan?! Dan kakak iparnya itu malahan menjawab dengan santai pun tanpa emosi sedikitpun padanya. Ekspektasinya yang akan mendapatkan beberapa serangan dan juga ceramah panjang, tidak terjadi sama sekali. Ya Tuhan, ia merasa seperti mendapatkan sebuah keajaiban.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?!", seru Ken yang penasaran tapi juga kesal.
"Benarkah kakak ipar?! Benar, kakak ipar akan mengizinkan Sarah untuk tidak bekerja lagi di sana?!", Sam meminta jawaban ulang agar ia bisa jadi lebih percaya.
"Benar! Kau ini cerewet sekali, Sam!", Ana jadi mengomel karena Sam.
"Kita memang harus memperkecil kemungkinan Megan Aira itu membuat masalah!", akhirnya Krystal membuka suara untuk menengahi keadaan.
"Yap! Dan aku setuju akan hal itu! Keselamatan sahabatku adalah yang paling penting saat ini!", Ana tersenyum lembut pada wanita yang duduk di sebelahnya.
Sarah membalas senyuman Ana dengan segala rasa terimakasih yang ia punya meski tak cukup untuk membalas kebaikan sahabatnya itu.
"Bolehkah aku memeluk kalian?!", Krystal sudah berdiri sambil merentangkan tangan ke arah Ana dan Sarah.
__ADS_1
Artis papan atas itu sungguh bangga dengan persahabatan yang sepupunya miliki. Ketulusan dan kebaikan yang Ana punya, ia sangat bersyukur karena kini ia telah merasakannya. Dan ia juga harus berterimakasih pada Sarah, karena wanita itu telah berbagi ibu dengan dirinya.
"Jika ada kabar tentang si Megan itu, aku akan langsung menghubungi kalian!", Krystal menyapu pandangannya kepada seluruh orang yang ada di sana. Tak terkecuali kepada Ken dan Sam yang sudah pasti akan turun tangan pertama kali jika terjadi masalah.