
Tepat setelah Ken pergi untuk menerima telepon dari Ana, ponsel Sam juga ikut bergetar. Ia menerima pesan dari pengawalnya yang mengatakan bahwa Sarah dan Krystal memutuskan untuk melihat tahanan lebih dulu. Ia juga sudah menyampaikan hal ini pada Ken.
Kakaknya itu berpendapat jika tak masalah, toh semua pengawal sudah bersama mereka sekarang. Lalu orang yang memang mereka khawatirkan sekarang sudah berhasil ditangkap. Jadi tak ada lagi yang perlu dipikirkan saat ini.
Kecuali urusan dengan orang-orang ini. Ken memerintahkan Sam untuk segera menyelesaikan urusan dengan mereka. Presdir Ken yang terhormat itu sudah sangat enggan berlama-lama di tempat seperti itu. Dan Sam yang notabene adalah bawahannya, tentu saja harus menuruti apa kata bosnya. Huh! Ia jadi kesal sendiri sekarang!
***
"Baiklah, urusan selanjutnya sekretaris Anda bisa langsung menghubungi asisten pribadi Kakak saya!", dan akhirnya Sam pun menyelesaikan pertemuan itu dengan senyum ramahnya. Meskipun sebenarnya, dalam hati pria itu sedang mencibir tidak sabar.
"Baiklah kalau begitu! Kami akan menghubungi pihak Anda lagi besok!", balas salah satu di antara mereka dengan senyum yang tak kalah ramahnya.
"Senang bekerjasama dengan Anda, Tuan Ken, Tuan Sam!", orang-orang itupun mulai menjabat tangan Sam dan Ken secara bergantian.
"Ya, tentu saja!", Sam yang membalas ucapan mereka. Namun Ken tetap sopan dengan membalas jabatan tangan semua orang meski enggan.
"Kalau begitu kami permisi dulu!", Sam pun tersenyum seraya melangakah ke arah pintu membuntuti Ken yang sudah berjalan lebih dulu. Sambil menggelengkan kepala, ia menatap kakaknya itu tak habis pikir.
"Kau itu sombong sekali!", bisiknya seraya menyamakan langkahnya dengan langkah kakaknya itu.
Dan yang diajak bicara hanya menaikkan kedua bahunya. Sambil menipiskan bibirnya, Ken menatap Sam tak peduli. Lagi-lagi Sam harus menggelengkan kepalanya.
***
Setelah mengantar Presdir Ken yang terhormat dan adiknya itu sampai pintu, orang itu segera menelepon seseorang.
"Keduanya baru saja keluar, Tuan!", ucapnya setelah menyapa orang yang diteleponnya.
"Bagus! Mungkin setelah mereka sampai nanti, mereka akan memiliki penyakit jantung! Haha,,,, Apa yang aku rasakan, mereka juga harus merasakannya!", suara bariton seorang pria terdengar begitu ceria pada sambungan telepon itu. Bahkan sangat bahagia sampai-sampai ia tertawa lepas dan tak tertahan.
"Ikuti rencana selanjutnya!", lalu ia memerintahkan mereka semua dengan nada dingin yang menusuk.
"Baik, Tuan!", meskipun orang yang berada pada sambungan telepon itu tidak melihat, tapi orang itu tetap mengangguk dengan patuhnya.
***
__ADS_1
"Aku akan langsung pulang setelah ini!", ucap Ken acuh sambil terus berjalan.
"TIdak, Kakak! Kau harus menemaniku mengurus masalah ini. Aku janji tidak akan lama mengurus mereka!", Sam langsung berjalan mendahului Ken dan merentangkan tangannya di depan tubuh kakakya itu.
"Minggir!", Ken berusaha menyingkirkan tubuh adiknya yang membatu dengan wajah malas.
"Tidak mau! Kakak harus berjanji dulu, Kakak akan menemani aku! Aku tadi sudah membantu Kakak. Sekarang giliran Kakak yang membalas budi! Lagipula kita datang bersama, berarti pulang juga harus bersama!", Sam merengut, merayu kakaknya dengan paksaan.
"Cihh! Baiklah! Hanya sepuluh menit! Kuberi kau waktu sepuluh menit saja untuk menyelesaikan urusanmu!", akhirnya mau tidak mau Ken menyetujui hal itu dengan tidak ikhlas. Ini memang hanya karena urusan balas budi. Ia tidak benar-benar ingin menuruti kemauan adiknya itu.
"Lima menit! Aku akan menyelesaikannya dalam lima menit!", Sam malah seakan menantang Ken balik. Ia menaikkan dagunya, begitu percaya diri akan menyelesaikan semuanya dalam waktu cepat.
"Kita lihat saja nanti!", dengan paksaan yang dibarengi kekuatan yang cukup, Ken akhirnya mampu menyingkirkan Sam dari hadapannya. Dan ia pun meneruskan langkahnya menuju tempat dimana Megan Aira seharusnya sedang diikat.
"Hey, Kakak! Tunggu aku! Kenapa pria itu selalu seenaknya, sih?!", setelah berteriak memanggil kakaknya itu, Sam pun hanya bisa menggerutu sendiri. Mengeluhkan sikap kakaknya yang selalu seperti itu.
***
"Sam!", Ken berseru memanggil nama adiknya saat jaraknya hanya tinggal beberapa meter saja dari ruangan yang dituju.
"Ya, kau benar! Ini terlalu sunyi! Dimana para pengawalmu? Harusnya mereka ada yang berjaga di luar juga, kan?!", Ken menangkap dengar apa yang adiknya itu ucapkan. Lalu dia mempertanyakan dimana orang-orang yang Sam pekerjakan untuk menjaga Sarah dan Krsytal.
"Harusnya ada, Kak!", Sam mengernyitkan alisnya dalam-dalam. Kepalanya bergerak ke segala arah untuk menilai situasi di sekitar tempat itu.
ceklek
Pintu itu sudah tidak dikunci lagi saat Sam membukanya. Itu dapat dibuka dengan mudah.
"Kakak!", mata Sam melotot tak percaya saat melihat semua pengawal yang ia tugaskan untuk menjaga Sarah saat ini semuanya dalam kondisi pingsan dan terikat. Ada sekitar delapan orang dengan tangan terikat di belakang lalu didudukkan membuat sebuah lingkaran.
"Megan Aira itu juga tidak ada!", mata Ken teralihkan pada salah satu kursi tunggal yang kosong dan hanya menyisakan tali yang sudah terurai saja.
Namun pria di sebelahnya, yang Sam dan Ken pikir adalah orang yang dipekerjakan oleh Megan sebelumnya, pria itu masih tetap di posisi semula dalam kondisi tidak sadarkan diri juga.
"Sarah dan Krystal tidak ada, Kak!", wajah Sam kini mulai panik setelah menyadari dua orang itu tidak ada.
__ADS_1
Terutama wanita yang dicintainya itu, calon istrinya, Sarahnya, wanita itu tidak ada.
"Mereka menggunakan bom gas beracun yang membuat orang yang menghirupnya akan kehilangan kesadaran!", ucap Ken saat menemukan sebuah kaleng bekas yang mencurigakan di dekat sofa. Masih tercium juga bau-bau menyengat dari kaleng bekas itu.
"Siapa yang berani melakukan hal ini sebenarnya?!", Sam menggeram marah dengan tangan yang terkepal kuat.
Hari bahagianya dengan Sarah hanya tinggal beberapa hari lagi. Tapi selalu ada saja cobaan dan rintangan yang hadir dalam hubungan mereka. Sejak awal sangat tidak mudah bagi Sam untuk mendapatkan cinta Sarah dan menjalin hubungan dengannya. Dan kini, di saat angannya untuk bahagia sudah di depan mata, harus ada lagi cobaan yang datang menerpa mereka semua.
drret,,, drret,, drret,,,
Di tengah kebingungan mereka berdua, suara getaran ponsel milik Ken terdengar sampai ke telinga karena ruangan itu saat ini sedang begitu sunyi.
"Nomor yang tidak dikenal!", Ken menjawab pertanyaan yang adiknya layangkan lewat tatapan matanya.
"Halo!", suara Ken tetap tegas meski sebenarnya ia memnyimpan banyak keraguan kecurigaan saat ini.
"Tuan Ken, ini aku Louis Harris!", orang itu langsung memperkenalkan dirinya setelah Ken menjawab teleponnya.
"Louis Harris?!", sebenarnya Ken sudah mengenal siapa orang itu. Hanya saja yang Ken pertanyakan adalah mengapa nada suara pria itu terdengar begitu panik.
Dan hal ini masih tak luput dari pandangan adiknya itu. Sam pun ikut bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan raut wajah kakaknya itu?! Mengapa sangat aneh?!
"Ya, kau tentu tau siapa aku, bukan?! Aku temannya istrimu dan juga kekasih dari Krystal!", masih sabar Louis mau memperkenalkan dirinya lagi meski itu tidak perlu bagi Ken.
Dan mendengar nama kekasih pria itu pun wajah Ken berubah, sedikit menunjukkan gurat kepanikan.
"Ada apa, Kak?", Sam berbisik tidak sabar.
Dan Ken hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. Ia masih memikirkan cara bagaimana mengatakan kondisi Krystal yang hilang ini pada kekasihnya tersebut. Namun sebisa mungkin Ken tetap tenang.
"Lupakan tentang perkenalan! Sekarang ada hal yang sangat penting untuk aku sampaikan padamu, Tuan! Ini tentang Ana,,,".
"Ada apa dengan Ana?", seketika perasaan Ken langsung tidak nyaman sehingga pria itu segera memotongnya.
Sam pun nampak makin kacau pikirannya saat ini. Belum lagi ia menyelesaikan masalah Sarah sekarang. Lalu timbul lagi masalah baru, tentang kakak iparnya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?! Sam meraup wajahnya kasar lantaran frustasi.
__ADS_1