Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 88


__ADS_3

Teman-teman readers sekalian, setelah sekian lama akhirnya aku akan menampilkan visual yang menurut aku cocok dengan tokoh dalam novel ini. Sekali lagi ini hanya menurut aku ya. Jika kalian memiliki pendapat sendiri maka silahkan, aku tidak akan melarang kalian untuk berkomentar. Dan sudah sejak awal aku katakan bahwa kiblat visual yang akan aku berikan antara latin atau korea. Nah, mari kita lihat hasil ekspedisi aku mencari mereka-mereka ini.


Cast wanita :


Keana Winata (Ana)



Sarah Maheswari (Sarah)



Anrisa Juli (Risa)



Krystal Winata (Krystal)



Cast pria :


Keanu Wiratdmaja (Ken)



Samuel Wiratmadja (Sam)



Hanry Praja (Han)



Louis Harris (Louis)



***


FLASHBACK ON


Sesaat setelah keluar dari kantornya, ponsel Ken bergetar cukup lama. Ia merogoh benda pipih itu di saku celana seraya berjalan dengan tergesa-gesa menuju tempat parkir. Han melakukan panggilan untuknya.


"Ada apa Han?", tanya Ken langsung setelah panggilan tersambung.


"Saya sudah menemukan orangnya Tuan. Saat ini saya sudah bersama dengannya. Orang itu mengatakan bahwa ada hal yang ingin ia sampaikan langsung kepada Tuan", tutur Han dengan laporannya.

__ADS_1


"Siapa dia berani memerintah diriku!", umpat Ken kesal.


"Baiklah, kirimkan letak posisimu saat ini", perintah Ken dan langsung menutup teleponnya dengan tidak sabar. Dengan segera ia melakukan panggilan lain.


"Halo, Sam!", ternyata Ken menghubungi adiknya.


"Emmh, ya! Ada apa?", jawab Sam malas-malasan.


"Saat ini kondisi Tuan Danu tengah kritis. Bawa Sarah ke rumah sakit bersama denganmu. Tenangkan Ana untuk sementara!", perintah Ken langsung tanpa basa-basi.


Sam yang saat ini sedang sibuk dengan beberapa tumpuk berkas pun langsung terperanjat dengan kabar dan juga perintah kakaknya yang mendadak. Otaknya segera bekerja. Tapi ia tak tau apakah Sarah sedang bekerja atau tidak.


"Tapi kak, aku tidak tau Sarah sedang bekerja atau tidak. Jika ia sedang bekerja, bagaimana bisa aku membawanya!", ucap Han dengan lugunya.


"cekk!", Ken berdecak frustasi. Ia menjambak sedikit rambutnya sambil bertumpu pada stir mobil, karena saat ini Ken sudah berada di dalam mobilnya. Ia berencana menyetir mobil sendiri.


"Ayolah Sam, gunakan otakmu! Jika sampai setengah jam aku tidak mendapat kabar kau sudah bersama dengan Sarah, maka kau akan tau akibatnya", perintah Ken mutlak dengan sedikit kesal. Tanpa mempedulikan sahutan dari adiknya, ia langsung menutup teleponnya dan langsung melajukan mobilnya.


***


Sedangkan Sam, ia melempar ponselnya dengan kasar ke atas meja.


"Dasar raja singa sialan!", umpatnya begitu kesal. Pekerjaan yang sudah menumpuk membuatnya cukup pusing, ditambah lagi perintah kakaknya yang tak dapat ia tolak membuatnya sungguh merasa frustasi.


"uuppss! Semoga kamera-kamera itu tidak mendengar ucapanku! Bisa-bisa aku dikirim ke negara antah berantah olehnya" Sam bergidik ngeri.


***


Sebuah rumah kosong yang sudah lama tak ditinggali yang berada jauh dari keramaian kota K menjadi tempat Yohan ditangkap. Ia merupakan asisten Tuan Bram. Ia diikat pada sebuah kursi dengan posisi duduk. Tangan dan kakinya diikat kencang sedangkan matanya ditutup dengan kain hitam. Tak lupa mulutnya juga telah dibekap dengan lakban hitam yang membuat dirinya tak dapat berkutik sedikit pun.


Ruangan itu nampak sudah sangat lama tak terpakai. Bongkahan-bongkahan kayu tergeletak di salah sudut ruangan yang lembab itu. Dengan atap yang setengah roboh dan juga dinding-dinding kusam mengelilinginya. Yohan nampak tenang di kursi pesakitannya itu.


"krreett", pintu renta ruangan ia disekap terbuka dari arah luar.


Ken melangkah masuk dengan wajah garangnya, diikuti oleh Han di belakangnya. Beberapa anak buahnya berjaga di luar ruangan. Kemarahan yang sudah memuncak tergambar jelas pada wajah pria tampan itu. Begitu pula dengan Han yang tak jauh beda penampilan wajahnya dengan Ken.


"Buka penutup mata dan mulutnya!", perintah Ken yang sudah mendudukkan diri beberapa langkah di hadapan Yohan.


Perintah itu langsung dituruti oleh Han tanpa dijawab. Ia langsung mempraktekkan apa yang diperintahkan kepadanya. Walau sudah geram ia kali ini, namun sebisa mungkin ia mengontrol emosinya. Han membuka penutup mata itu dengan hati-hati. Kemudian ia membuka lakban pada mulutnya dengan cepat agar tak terlalu meninggalkan rasa sakit. Yohan hanya diam, menerima dan menikmati apa yang dilakukan kepadanya kini. Ia sadar betul bahwa apa yang dilakukannya adalah salah, dan alasan dirinya selalu menurut pada rubah tua itu hanyalah karena adik dan juga ibunya yang nyawanya berada di tangan Tuan Bram. Hal itulah yang membuatnya selalu menurut dan tunduk.


"Katakan yang ingin kau katakan! Waktu ku tidak banyak", ucap Ken tenang namun tersirat nada yang begitu tegas.


Bukannya menjawab, Yohan malah menyeringai lebar.


"Kau punya waktu lima menit!", Ken tak mempedulikan tingkah Yohan saat ini. Yang ia ingin adalah orang itu segera menyelesaikan kata-kata yang akan disampaikan kepadanya.


"Sungguh sebuah kehormatan bisa bertatap muka langsung dengan anda, Presdir Ken yang terhormat!", ucap Yohan dengan senyum mengejek.

__ADS_1


"Lihatlah betapa hebatnya dirimu hingga bisa menemukan aku. Oh tidak, lebih tepatnya kau telah memakan umpanku", ucap Yohan tenang.


Ken menautkan kedua alisnya dan masih menatap orang di hadapannya dengan penuh selidik.


"Singkirkan rubah licik itu!", wajah Yohan telah berubah menjadi serius lagi. Tatapan tajamnya tak terelakan.


"Katakan dengan jelas, apa maksudmu?", tanya Ken ingin memperjelas keadaan. Karena setau mereka, Yohan ini adalah asisten kepercayaan Tuan Bram. Bisa saja bukan bahwa kali ini merupakan sebuah jebakan yang telah dipersiapkan secara matang oleh pamannya Ana itu.


"Ibu dan adikku ditahan olehnya supaya membuat aku harus selalu tunduk pada perintahnya. Aku sadar siapa yang sedang kami hadapi saat ini, cepat atau lambat aku yakin kami pasti akan kalah. Oleh karena itu aku membuat skenario agar kalian dapat menemukan aku. Rubah tua itu memerintahkan aku untuk segera menghabisi nyawa Tuan Danu. Tapi saat itu, aku tak pernah menyakiti Tuan Danu sedikit pun, saat itu aku datang ke ruangannya hanya untuk berbicara sesuatu padanya. Dan mengenai suntikan yang aku buang, itu hanyalah taktik agar kalian menjadikan aku sasaran. Sehingga aku bisa bertemu langsung dengan dirimu", tutur Yohan secara gamblang.


"Bagaimana kami dapat mempercayai kata-kata mu?", tanya Ken dengan tatapan tajam sambil menyelidik keseluruhan ekspresi wajah orang yang sedang berbicara padanya.


"Aku tak akan bermain-main dengan nyawa ibu dan adikku. Dan satu hal lagi, aku tau siapa Tuan Bastian Adelard itu sebenarnya", Yohan tersenyum.


"Apa maksud ucapanmu? Siapa itu Bastian Adelard?", Ken berucap tenang.


"Tentu saja anda sendiri, Tuan", Yohan menyeringai sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Tapi tenang saja, Tuan Bram belum mengetahui kebenaran ini. Di hanya menyangka bahwa Nona Ana memiliki hubungan dengan pria yang bernama Bastian Adelard yang tak lain adalah diri anda sendiri, Tuan", jelas Yohan dengan tenang.


"Lalu apa maumu?", tanya Ken singkat langsung ke pokoknya.


"Selamatkan ibu dan adikku dari tangan rubah tua itu, lalu singkirkan ia hingga menjadi debu. Aku akan menjadi senjata maupun umpan untuk anda. Aku juga bersedia menerima hukuman apa pun atas kesalahan yang telah aku lakukan atas kecelakaan yang menimpa Tuan Danu dan juga sekertarisnya. Tapi hanya satu permintaanku yang paling utama, selamatkan nyawa ibu dan adikku, Tuan", Yohan mengakhiri kalimatnya dengan wajah sendu seraya menundukkan kepalanya.


Ada emosi yang ia tahan saat ini. Ia tak ingin mempertontonkan kelemahannya kepada orang lain. Namun dengan kondisinya yang sedang diikat seperti ini membuatnya hanya bisa menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahnya.


Ken menangkap sebuah ketulusan dari ucapan Yohan. Tak ada satu kebohongan pun yang tertangkap oleh mata awas Ken. Ia menimbang-nimbang keputusan apa yang akan ia buat.


"Baiklah, aku setuju!", ucap Ken seraya menegakkan punggungnya.


Yohan sudah akan tersenyum lebar, tapi ia menghentikan niatannya setelah Ken melanjutkan kalimatnya di udara.


"Tapi dengan satu syarat!", ucap Ken lantang. Sedangkan Yohan menanggapinya dengan santai masih sambil tersenyum penuh ironi.


***


Terima kasih yang sebanyak-banyak ya kepada seluruh teman-teman readers sekalian yang sudah setia selalu menunggu update episode yang tak teratur ini. Maafkan pula author yang belum bisa menepati janji untuk bisa crazy up lagi.


Dan untuk dukungannya, author selalu tunggu mulai dari like, komentar maupun vote kalian buat novel aku ini. Meskipun awalnya author memang tak terlalu memperhatikan masalah ranking novel ini. Tapi kalau lihat rankingnya ada jauh di bawah kok rasanya nyeri juga ya 🤭


Ayo, ayo author tunggu ya dukungan kalian lainnya. Sekali lagi author ingatkan ya untuk like, komentar dan votenya jangan sampai kelupaan.


Marhaban Ya Ramadhan,,


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan ya 😊


Stay at home aja ya teman-teman dan selalu jaga kebersihan,, semoga kita selalu diberi nikmat kesehatan.. Amiin

__ADS_1


__ADS_2