
"Hanya perlu menjadi tidak tahu malu untuk menghadapinya!", ucap Sam begitu percaya diri seraya mempercepat langkahnya. Sehingga kini ia berada dua langkah di depan Adam.
Pantas saja jika orang itu sering kali bertindak konyol di hadapan istrinya. Ternyata sikap tidak tahu malunya itu yang ia gunakan untuk menaklukan Sarah. Tapi jika itu dirinya, Adam tidak akan memilih untuk menjadi konyol sepanjang waktu seperti apa yang Sam biasa lakukan. Ia menghirup udara begitu banyak, lalu ia hembuskan perlahan seraya menggelengkan kepalanya.
"Tapi ada apa sebenarnya dengan Krystal?", gumamnya pelan seraya berpikir. Sebagai kakak, tentu saja ia mengkhawatirkan kondisi adiknya yang seperti itu. Karena tidak ada ayah mereka, jadi Adam memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi adik perempuannya itu. Ia menggosok dagunya berulang kali sambil berpikir keras.
***
"Sudah jangan menangis lagi! Sekarang lebih baik kau tenang dulu, ya!", dengan sabar Sarah terus mengusap punggung Krystal yang masih terus menangis di pelukannya itu.
"Tapi kenapa harus seperti ini, Sarah? Kau tidak tahu betapa bingung dan menyakitkannya ini bagiku!", Krystal terus mengaliri wajahnya dengan air mata yang banyak. Sambil sesegukan ia mengungkapkan keluhannya itu.
"Karena aku tidak tahu makanya kau harus memberitahuku!", masih sambil terus mengusapi punggung wanita itu, Sarah sabar.
"Bagaimana aku mau memberitahumu jika aku saja tidak bisa menghentikan tangisanku!", makin kencang pula tangisan Krystal.
Sarah memutar bola matanya. Ingin rasanya ia memukul kepala wanita itu. Sudah besar, sudah dewasa, katanya sudah tahu cinta, tapi masih bisa juga dia mengeluh seperti anak kecil begini. Mau berhenti menangis ya berhenti saja! Kenapa malahan tambah kencang suara rengekan itu!
Tapi tidak! Ia harus tetap sabar menghadapi sahabatnya yang sedang sedih itu. Karena ia belum tahu pasti apa alasan sebenarnya, jadi ia harus menenangkan betina ini dari tangisannya yang semakin menggema di dalam kamar ini. Ia tidak boleh kesal! Harus sabar!
"Kau mau berhenti menangis?", tanya Sarah seraya melepaskan pelukannya.
"Iya!", Krystal mengangguk dengan polosnya sambil menyeka air matanya.
Saat ini mereka duduk berhadapan. Sarah memerintahkan Krystal untuk menarik nafasnya melalui hidung lalu mengeluarkannya melalui mulut, sambil terus berusaha menghentikan tangisannya sendiri. Begitu terus Sarah memintanya sampai perlahan tangisannya mereda.
"Aku kan, bukannya mau melahirkan! Bisa-bisanya aku dikerjai olehmu", ucap Krystal di akhir tangisannya seraya tawa yang sedikit terpaksa. Ia memukul kecil lengan sahabatnya itu, sehingga Sarah pun ikut tertawa.
"Bukannya memang kau mau melahirkan! Melahirkan masalah,,, ", baru saja Krystal tertawa, tapi mendengar ucapan Sarah ia pun kembali menundukkan kepalanya. Dengan begitu pun Sarah segera mengunci mulutnya rapat-rapat, sepertinya ia telah salah bicara.
"Maaf! Aku tidak bermaksud begitu!", ia menyesali ucapannya tadi lalu buru-buru membuat sebuah permohonan maaf.
"Tidak apa-apa!", Krystal menaikkan wajahnya sambil memaksakan sebuah senyuman. Jelas hanya untuk membuat hati sahabatnya itu nyaman saja, tapi tidak dengan dirinya.
Tapi sungguh Sarah tidak bermaksud untuk menyakiti hati sahabatnya itu. Ia tidak memiliki maksud lain, tapi memang mulut mereka saja yang suka berucap seenaknya tanpa berpikir. Sarah sungguh jadi tak enak hati, karena bukannya menghibur, ia malahan membuat Krystal semakin murung.
__ADS_1
Sesungguhnya Krystal sungguh mengerti apa yang menjadi beban pikiran sahabatnya itu. Memang benar jika ucapan itu mengena ke hatinya. Tapi bukan berarti kesedihan ini datang karena sahabatnya itu. Maka dari itu, mulailah Krystal menceritakan masalah apa yang sebenarnya sedang ia hadapi saat ini.
"Ayah Louis sakit keras baru-baru ini dan perusahaannya sedang dalam kondisi krisis. Louis merupakan anak tunggal dan ahli waris satu-satunya perusahaan milik ayahnya itu, maka dari itu ia diperintahkan oleh keluarganya untuk mundur dari dunia hiburan dan memegang kendali perusahaan", Krystal mulai bercerita sambil menundukkan kepalanya. Ia memilin-milin ujung pakaiannya untuk menekan perasaan sedihnya saat ini.
"Wah hebat sekali! Selain menjadi artis terkenal, Louis ternyata memiliki latar belakang yang luar biasa!", mata Sarah memandang takjub ke arah Krystal. Mulutnya menganga lebar dengan senyumannya. Karena bagaimana pun juga ia adalah salah satu fans berat seorang Louis Harris.
"Aku sedang bersedih kenapa kau kelihatan bahagia!", Krystal menegur Sarah sambil menarik beberapa rambutnya sampai wanita itu tersadar dari khayalannya mengenai artis kesukaannya itu.
"Iya,, iya! Baiklah, teruskan!", Sarah terkekeh sambil menarik kembali rambutnya yang masih berada di tangan Krystal. Tidak ingin dijambak lebih banyak lagi.
"Hebat ya hebat! Aku juga merasa beruntung akan hal itu! Masalahnya adalah, perusahaannya itu berada di negara F. Dan dengan begitu jadi Louis harus menetap di sana selamanya. Lalu jika seperti itu bagaimana dengan aku?! Bagaimana dengan semua rencana pernikahan yang sudah kami pikirkan?! Bagaimana?!", Krystal kembali meloloskan air matanya sehingga membasahi sprei yang membungkus tempat tidurnya itu.
"Kenapa hal itu jadi masalah besar?! Kan kau bisa ikut dengannya setelah menikah nanti!", sambil memberi nasehat, Sarah mengusap lengan Krystal sembari menenangkannya.
"Okeh! Aku bisa ikut dengannya setelah menikah nanti! Tapi bagaimana dengan pekerjaanku saat ini? Bagaimana dengan waktu yang tersisa sebelum kami memutuskan untuk menikah? Bagaimana dengan urusan perusahaannya yang sedang krisis itu? Semuanya membutuhkan waktu, Sarah! Dan aku tidak bisa memberikan waktuku untuk orang yang keberadaannya saja tidak pasti!", Krystal menjelaskan isi hatinya dengan sedikit emosional.
"Apa! Apakah ini masalah kepercayaan? Atau jarak yang akan memisahkan kalian untuk beberapa waktu ke depan?", tanya Sarah seolah tahu apa yang berada di dalam pikiran sahabatnya itu.
"Aku belum pernah menjalani hubungan jarak jauh, Sarah! Aku tidak yakin bisa menjalani hubungan yang seperti itu. Aku tidak bisa memberikan sluruh kepecayaanku pada orang yang jelas-jelas tidak ada di sisiku. Hubungan jarak jauh selalu memiliki resiko yang tinggi dan juga celah yang banyak untuk diselubungi kesalahan. Aku tidak bisa menjalani hubungan yang seperti itu", semula wanita itu tegar menuturkan penjelasannya. Tapi selanjutnya ia menundukkan kepalanya seraya menjatuhkan air mata.
"Meskipun hanya sebentar? Meskipun hanya beberapa waktu saja? Apakah kau tidak bisa menunggunya?", tanya Sarah pelan dan lembut. Ia mengambil satu telapak tangan Krystal untuk ia genggam. Wanita itu mengerti bimbang yang dirasakan sahabatnya itu. Tapi sungguh sangat disayangkan jika hubungan sahabat dan artis kesayangannya itu harus kandas begitu saja seperti ini. Sarah masih berharap kepada hubungan mereka.
"Ini bukan lagi saatnya untuk mencoba, Sarah!", pertanyaan itu membuat Sarah terdiam sejenak. Benar memang, karena sebenarnya mereka itu seumuran. Sarah juga tahu bagaiamana keinginan Krystal yang sudah sangat tidak sabara untuk menyusul ia dan Ana untuk menikah.
"Tapi tidak ada salahnya kan untuk mencoba?! Atau kau sudah tidak mencintai Louis lagi?".
"Tidak! Mana mungkin aku tidak mencintainya! Justru karena aku sangat mencintainya makanya aku jadi kacau begini!", Krystal langsung menyambar dengan nada emosionalnya. Wanita itu juga langsung menangis histeris lagi.
Sarah tidak tega untuk meneruskan pembicaraan ini lagi. Ia lantas memeluk Krystal dan menenangkannya. Meskipun ia berharap antara dia dan Louis masih bisa bersatu. Tapi ia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Krystal yang kokoh pada pemikirannya. Biarlah sahabatnya ini tenang dulu. Yang jelas, ia akan segera melaporkan hal ini pada Ana. Agar Ana bisa menginterogasi Louis dari sisi pemikirannya sebagai lelaki.
***
Dua buah cangkir kopi berjajar berdampingan di atas sebuah meja. Cairan pekat itu sudah hampir habis pada kedua cangkir. Menyisakan dua pria yang duduk termangu sambil menyangga dagu mereka masing-masing.
"Ini sudah lebih dari satu jam!", Sam menggerutu dengan wajah cemberutnya. Ia sungguh tidak sabar menanti istrinya itu turun dari kamar wanita yang tadi sedang menangis itu.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa?", Adam bertanya sediri. Sebagai kakak, dialah yang lebih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan adiknya itu. Lelaki itu sungguh mengetahui jika Krystal itu memang manja dan keras kepala. Tapi adiknya itu tidak cengeng, dia tidak akan menangis jika memang hal itu tidak benar-benar menyentuh atau melukai ke dalam hatinya. Jadi Adam benar-benar ingin tahu penyebab tangisan Krystal itu.
"Kau meniru gayaku!", tegur Sam lalu setelah menolehkan kepalanya. Tangannya masih menjadi tiang pondasi untuk menyanggah wajahnya, hanya kepalanya saja yang bergerak memutar ke samping.
"Heh?!", Adam menarik alisnya dalam-dalam, mencoba mencerna teguran yang mendadak itu. Apanya yang sama pikirnya!
Setelah melihat kedua alis Sam yang naik turun, juga bola matanya yang bergerak-gerak itu, akhirnya Adam menyadari bahwa mereka memiliki pose yang sama saat ini. Tapi memang ia benar-benar tidak sadar membuat gaya yang sama seperti pria itu. Lagipula untuk apa menirunya?! Apa pula untungnya?!
"Aku tahu! Aku ini memang sangat tampan, bahkan ketampanan kakakku saja tidak bisa dibandingkan!", Sam menoleh ke depan lagi lalu bersuara santai.
"Cih!", buru-buru Adam menjauhkan tangannya dari wajahnya. Ia menegakkan tubuhnya seraya berdecak tak percaya. Bicara apa pria itu sebenarnya?!
"Tapi maaf ya, aku hanya para wanita yang boleh terpesona kepadaku!", Sam menolehkan kepalanya ke samping lagi dengan pandangan polos yang merendahkan. Sungguh membuat Adam kesal! Ingin rasanya ia menyiram wajah kurang ajar itu dengan sisa kopi di cangkirnya.
***
"Whaattt!", suara teriakan histeris langsung memekak telinga dua pria di dalam mobil itu.
Ana membelalakkan matanya ke arah benda pipih yang saat ini tengah dipegangnya. Sedangkan suaminya baru saja selesai mengernyitkan alisnya, menahan sakit di telinga akibat teriakan istrinya itu. Dan supir mereka hampir saja mengerem mendadak saking kagetnya mendengar teriakan nonanya di belakang.
"Ada apa?", tanya Ken seraya menghela nafas tak berdaya di sebelah Ana. Ia menundukkan wajahnya berusaha mengintip hal apa yang membuat istrinya itu sampai bersuara kencang sekali.
"Tunggu sebentar!", tapi dengan semena-mena, tangan Ana terulur menahan wajah Ken untuk mendekat. Ia sedikit mendorong hingga kepala pria itu kembali ke tempatnya semula.
"Louis! Kurang ajar kau, ya! Apa yang sudah kau lakukan pada sepupuku? Apa yang terjadi di antara kalian? Hah! Aku beri waktu setengah jam dan kau sudah harus sampai di restoran yang aku pilih! Kau harus menjelaskannya dengan benar kepadaku! Jangan sampai aku murka! Mengerti!", suara Ana sudah terdengar nyaring lagi dengan ponsel yang menempel di telinganya.
Wajah wanita itu sangat marah saat ini. Sepertinya ia tidak memberikan waktu untuk menjawab kepada pihak lawan bicaranya. Karena setelah itu ia langsung membuang ponselnya ke samping begitu saja. Dan kebetulan mendarat di pangkuan suaminya.
Sebenarnya saat ini mereka dalam perjalanan pulang. Tapi sepertinya harus ditunda karena Ana segera mengeluarkan perintah untuk menuju sebuah restoran langganannya. Dengan hati-hati Ken mengambil ponsel milik istrinya itu dan membuka pesan apa yang membuat istrinya itu sampai marah besar.
Setelah mengetahui isinya, Ken mengangguk pelan. Itu adalah pesan dari Sarah yang mengabarkan renggangnya hubungan antara Krystal dan Louis. Ia ingin bertanya, tapi sepertinya tidak perlu, karena melihat wajah merah istrinya saja sudah memupuskan niatannya. Ia tidak ingin jadi bahan pelampiasan dari singa betinanya ini. Jadi lebih baik ia cari aman saja. Dengan diam!
-
-
__ADS_1
mohon maaf teman-teman sekalian karena tidak update lebih dari seminggu ini 🙏 sekali lagi aku mohon maaf yang sebesar-besarnya ya 🙏🙏
kalo kalian follow instagram aku pasti kalian tahu penyebabnya,, anak aku yang kedua sakit selama beberapa hari terus akunya nyusul ngedrop juga,, makanya ga ada daya upaya buat nulis kemarin-kemarin itu,, sekali lagi aku mohon maaf ya karena udah bikin teman-teman menunggu lama 🙏