
Sebuah mobil baru saja memasuki pekarangan yang lumayan luas. Tak lama mobil itu berhenti dan keluarlah dua orang dari bangku penumpang. Mereka adalah Sarah dan Sam yang begitu keluar dari mobil langsung bermain kejar-kejaran.
Rupanya sepanjang perjalanan pulang mereka, Sam masih tidak mau menyerah untuk mendapatkan keringanan dari hukuman yang tadi telah divonis oleh Sarah untuknya. Sungguh ia tidak bisa menerima hukuman itu. Bahkan mungkin semua lelaki sama seperti dirinya, tidak sanggup untuk berpuasa dalam waktu yang begitu lama.
"Sayang! Tolonglah, Sayang! Kau jangan terlalu kejam kepadaku!", pria itu terus mengejar langkah Sarah yang sengaja dipercepat.
"Tidak!", pungkasnya dengan cepat. Dan wanita itu tidak memalingkan wajahnya sama sekali ke arah suaminya itu.
"Satu hari saja ya!".
"Tidak!".
"Dua?".
"Tidak!". jawaban Sarah tetap tegas.
"Tiga?".
"Tidak!".
"Empat?", Sam sudah membuat wajah yang paling menyedihkan yang ia bisa.
"Tidak! Tidak! Tidak!".
"Kau tidak diperbolehkan untuk mengajukan keringanan atas hukuman yang telah ku berikan!", tambahnya lagi seraya menoleh dengan wajah tegasnya.
"Sayang, kau ini sudah sepeti hakim yang kejam saja! Kau sungguh tidak berperikesuami-an! Kau tidak mengerti bagaimana tersiksanya kami para lelaki jika tidur tidak memeluk istri kami!", Sam menghentikan langkahnya seraya merajuk. Pria itu pun menghentakkan kakinya ke tanah dengan keras. Kelakuan lelaki itu persis seorang anak yang sedang marah.
"Aku ini adalah istri! Jika kau ingin dimengerti, maka pahamilah arti berperike-istri-an!", Sarah pun menghentikan langkahnya lalu memutar balik tubuhnya ke arah Sam yang tertinggal beberapa langkah di belakangnya.
"Lagipula aku tidak bilang kau tidak boleh tidur sambil memelukku! Yang aku katakan adalah, kau harus berpuasa selama seminggu!", wanita itu menambahkan lagi dengan nada dinginnya.
Sam tampak berpikir sejenak, ia mengusap-ngusap dagunya seraya berpikir keras. Pria itu seperti sedang mempertimbangkan suatu proyek besar. Untung dan ruginya harus ia perhitungkan dengan betul. Apalagi ini menyangkut dengan masalah aktifitas malamnya yang harus dikurangi. Aksinya untuk giat membuat anak jadi ditunda karena hal ini.
"Baiklah, kalau begitu! Tapi aku tetap boleh memelukmu, kan?", tanya Sam memastikan lagi. Mata pria itu menyipit seraya memperhitungkan tindakan yang akan ia ambil.
"Iya!", jawab Sarah sambil memutar bola matanya malas. Wanita itu pun langsung membalikkan badannya lagi untuk melanjutkan langkahnya menuju dalam rumah.
__ADS_1
"Ibu!", serunya kemudian setelah beberapa langkah. Ia mendapati ibunya baru saja sampai di depan pintu rumah besar itu.
"Ibu mendengar ribut-ribut dari luar. Makanya Ibu penasaran ingin melihat sebenarnya apa yang terjadi. Eh, ternyata kalian yang datang! Sebenarnya apa yang kalian ributkan, sih?", Ibu Asih meneruskan langkahnya mendekat ke arah putrinya yang baru saja menginjak teras rumah.
"Tidak apa-apa, Ibu!", jawab Sarah seraya tersenyum. Ia ingin menenangkan ibunya agar tidak bertanya lebih jauh lagi. Masalah ini tidak sepatutnya diketahui oleh orang lain, terlebih lagi itu adalah orang tuanya sendiri. Sarah tentu saja akan sangat malu jika orang lain mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya. Dimana suaminya itu tengah memohon pengampunan atas hukuman yang tadi ia berikan. Hal ini terlalu fulgar untuk diketahui orang lain, menurutnya. Apalagi orang tua. Sarah memaksakan senyumnya sehingga terlihat kaku.
"Ibu!", saat mendengar suaminya itu mendekat dan menyapa ibunya. Jantung Sarah berpacu semakin cepat. Jangan sampai suaminya itu kelepasan bicara. Ia menoleh ke arah Sam dengan tatapan mengancam.
Ditatap seperti itu oleh istrinya tidak membuat takut sama sekali. Pasalnya saat ini ada ibu mertuanya bersama mereka. Ia tahu, segalak-galaknya Sarah terhadap dirinya, wanita itu tidak akan mempermalukan suaminya sendiri di depan orang lain. Terkecuali di depan Ana dan Ken yang memang sudah mengetahui kelakuannya sejak awal dirinya dan juga Sarah berkenalan. Jadi ia melenggang saja dengan langkah ringannya. Tentu saja ia harus tersenyum kepada ibu mertuanya.
"Ibu sehat-sehat saja, kan?!", Sam menyalami tangan Ibu Asih lalu memeluk ibu mertuanya itu.
"Ya, Ibu selalu sehat! Kalian tenang saja!", jawabnya seraya melepas pelukan dari menantunya itu.
"Ya sudah, jangan ribut-ribut lagi! Ayo, masuk ke dalam! Hari ini Krystal tidak ada jadwal. Seharian dia hanya malas-malasan saja di kamarnya. Kau temanilah dia, Ibu merasa anak itu sedang menyembunyikan sesuatu!", Ibu Asih lalu mengajak keduanya untuk masuk. Ia memimpin di depan seraya berbicara kepada putrinya itu.
"Ayo, Sayang!", Sam memeluk pinggang istrinya itu seraya menampilkan senyum menggodanya. Bola matanya bergerak ke depan meminta Sarah untuk mulai melangkah ke dalam. Karena istrinya itu masih sibuk memelototi dirinya yang dengan sengaja meremas pinggangnya itu.
"Jika kau tidak mengizinkan aku memelukmu seperti ini, maka aku akan mengatakan kepada Ibu, hal apa yang kita ributkan tadi!", Sam berbisik seraya tersenyum senang.
"Kau!", wanita itu menunjuk wajah suaminya itu dengan tatapan tajam. Berani-beraninya suaminya ini mengancamnya!
"Heh!", Sarah tidak mau mengakui jika saat ini dirinya tengah tersipu. Jadilah wanita itu melipat tangannya di depan sambil mengembungkan pipinya dan merengut kesal. Ia bermaksud menyamarkan rona merah di wajahnya saat ini.
"Hey, apa yang kalian bicarakan di belakang Ibu?", tiba-tiba Ibu Asih menoleh masih sambil berjalan.
"Tidak ada yang serius, Ibu! Aku hanya sedang memuji putri Ibu yang sangat cantik in,,, Auw,,, Auww!", sebelum menuntaskan ucapannya, pinggangnya sudah mendapatkan satu cubitan yang keras, perbuatan tangan istrinya itu.
"Sudah, jangan pedulikan dia, Bu!", tanpa rasa bersalah Sarah mengajak ibunya itu untuk berjalan lebih cepat lagi. Dengan senyum samar, ia meninggalkan suaminya itu yang sedang mengaduh kesakitan sambil mengelus pinggang.
***
Setibanya Sarah dan Ibu Asih di dapur, mereka mendapati Krystal sedang meminum segelas jus di sana. Wanita yang biasanya menjaga penampilannya itu, bahkan ketika di rumah. Saat ini hanya mengenakan piyama tidurnya saja dengan rambut yang digulung asal dan wajah yang hanya sedikit sekali polesan, bahkan Krystal seperti tidak memakai riasannya sama sekali. Sarah merasa wanita itu terlihat kacau daripada biasanya.
"Sarah, kau baru datang?", tanya Krystal seraya meletakkan gelas bekas pakainya ke tempat cuci piring.
"Ya, baru saja! Ada apa dengan dirimu? Berantakan sekali! Biasanya kan kau paling memperhatikan penampilanmu, bahkan saat sedang di rumah!", Sarah mendudukkan dirinya di bangku yang berada di sebelah sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kau ingin minum apa, Sarah? Biar Ibu buatkan!", Ibu Asih bertanya seraya mengambil dua buah gelas kaca.
"Sarah belum ingin apa-apa, Bu! Nanti Sarah akan buat sendiri saja!".
"Baiklah, kalau begitu! Ya sudah Ibu tinggal dulu, ya! Masih ada yang mau Ibu kerjakan!", Ibu Asih meletakkan kembali gelas-gelas itu. Sebenarnya tidak ada pekerjaan lagi yang tersisa, Ibu Asih hanya memberi ruang kepada dua wanita mudah itu untuk saling bicara. Karena sejak dua hari yang lalu, ia merasa Krystal sedang menyembunyikan sesuatu dari semua orang. Sejak hari itu Krystal nampak murun
"Kemana suamimu?", tanya Krystal seraya bersandar pada meja dapur.
"Sebentar lagi juga akan muncul! Kau hitung saja sampai tiga, suaranya yang mengesalkan itu akan langsung terdengar!", ucap Sarah acuh seraya menyanggah dagunya menggunakan tangan.
"Benarkah?", wanita itu membalikkan tubuhnya seraya melakukan hal yang sama seperti Sarah, hanya saja ia dalam posisi berdiri.
Sarah mengedikkan kedua bahunya sebagai jawaban.
"Satu!".
"Dua!".
"Tiga!".
"Sayaaangg! Kenapa kau meninggalkan aku seperti ini!", benar saja, begitu Krystal selesai menyebutkan angka terakhir, suara kencang pria itu langsung terdengar dari arah depan.
"Kadang aku masih tidak percaya jika suamimu itu adalah Tuan Sam yang aku kenal!", Krystal menggeleng tak berdaya. Karena pria itu adalah bosnya sendiri. Pria ramah dan santun yang juga begitu disegani oleh banyak orang seperti kakaknya. Bukan pria konyol yang selalu dimarahi oleh istrinya seperti ini! Sudah sekian lama mengenal orang itu, kadang Krystal belum bisa menerima sifat asli bosnya itu.
"Aku juga tidak percaya malahan menerima pria konyol itu sebagai suamiku!", begitu pun dengan Sarah, wanita itu juga menggeleng tak berdaya. Kelakuan suaminya itu selalu membuatnya sakit kepala.
-
-
**selamat membaca ya teman-teman 😊
jangan lupa ikutin juga novel kedua aku ya,,
"Hey, You! I Love You!"
buka aja profil aku, nanti kalian bisa langsung klik dari sana,,
__ADS_1
keep strong and healthy ya semuanya 🥰**