Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 188


__ADS_3

"Sekarang tidur, ya!", Sarah mengelus rambut pria itu dengan penuh kasih sayang seperti kepada seorang pria kecil yang belum cukup dewasa. Dan dibalas dengan anggukan patuh dari pria itu.


Setelah terdengar suara nafas yang teratur, maka Sarah memutuskan untuk membersihkan dirinya yang sangat bau di dalam kamar mandi.


Sarah melenggang memasuki kamar mandi yang letaknya masih di sekitar kamar itu. Ia memindai dirinya dari atas sampai bawah, dimana hampir seluruh bagian tubuhnya terkena cipratan muntahan pria itu. Bahkan rambutnya pun juga terkena. Ya ampun, jika pria itu sadar, ingin sekali Sarah melampiaskan kekesalannya saat ini juga. Mungkin Sam sudah akan terkena bogem mentah pada perutnya, supaya pria itu muntah darah sekalian.


Sarah melepaskan seluruh pakaiannya, bajunya dan juga celananya. Sarah berpikir, apa yang harus ia lakukan sekarang, sedangkan seluruh tubuhnya sudah bau karena tidak langsung membuka bajunya saat terkena muntahan tadi. Sehingga bau itu sudah meresap sampai ke kulitnya.


Akhirnya mau tak mau ia memilih untuk mandi dan membersihkan dirinya sebaik mungkin untuk menghilangkan bau menjijikan itu di seluruh tubuhnya. Dengan terpaksa, ia memakai sabun yang sama, shampoo yang sama, hanya sikat gigi saja, Sarah tidak mungkin memakai sikat bekas mulut pria itu. Ia menggosok seluruh tubuhnya sambil bersenandung di dalam sana. Menikmati kesegaran dari air hangat yang keluar dari shower kamar mandi itu. Tak lupa ia juga mencuci pakaiannya yang terkena muntahan tadi.


Setelah selesai dengan ritualnya, barulah Sarah sadar bahwa ia sudah melupakan sesuatu. Ia tidak membawa handuk saat melenggang ke dalam sini. Lalu ia menyapu ke sekitar kamar mandi yang cukup luas ini, senyum Sarah terkembang saat ia melihat sebuah handuk putih tergantung di dekat pintu kamar mandi. Sarah mengendus handuk itu, baiklah ia tak peduli itu handuk baru atau bekas pakai pria itu. Yang terpenting saat ini ia bisa mengeringkan seluruh tubuhnya.


Sarah memungut pakaiannya yang sudah ia cuci untuk ia jemur pada sebuah besi panjang tempat dimana handuk yang ia pakai tadi tergantung di sana. Setelah urusannya benar-benar selesai, maka Sarah putuskan keluar dari kamar mandi itu dengan handuk yang melilit sampai ke dadanya. Lalu ia pun membuka pintu kamar mandi.


"Yakin, aku akan keluar dalam keadaan seperti ini? Bagaimana jika nanti dia bangun? Bagaimana jika nanti Sam langsung menerkamku?", Sarah menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil menghilangkan pikiran buruknya. Wanita itupun mulai melangkahkan kakinya.


Tapi baru selangkah ia malahan berhenti. Pakaian apa yang akan ia pakai setelah ini. Tidak mungkin kan dirinya hanya menggunakan handuk ini selagi menunggu pakaiannya menjadi kering?! Hal ini sungguh mengundang bahaya bagi dirinya sendiri.


Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, akhirnya ia menemukan sebuah walkin closet yang berada di seberang tempatnya berdiri. Jadi ia harus melewati tempat tidur Sam barulah bisa sampai ke tempat dimana banyak pakaian pria itu tersimpan di sana. Baiklah, Sarah hanya bisa berhati-hati saat ini.


Sambil memegangi lilitan handuknya agar tidak terlepas. Ia berjinjit agar suara langkah kakinya tidak terdengar oleh telinga pria yang tengah memejamkan matanya itu. Dengan perlahan tapi pasti, Sarah sudah sampai di dalam walkin closet itu.


Ruangannya tidak terlalu besar seperti yang berada di dalam film-film yang pernah ia tonton. Namun hanya segini saja, Sarah sudah membelalak matanya melihat deretan pakaian mewah yang belum sempat dilihatnya saat dulu dibawa ke sini oleh Sam. Karena saat itu Sam sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk ia kenakan sebagai ganti gaun yang ia pakai pada malam harinya saat makan malam di rumah besar Wiratmadja. Jadi ia tak sempat melihat-lihat bagaimana mewahnya apartemen itu sebenarnya.


Dari tempat tidur, pria itu bangkit dari tidurnya. Ia perlahan membuka matanya dan merasakan pening di kepalanya. Kepalanya terasa berat hingga perlu beberapa kali dirinya mengerjap hingga matanya terbuka sepenuhnya.


"Siapa di sana?", gumamnya sendiri saat melihat seseorang berada di dalam walkin closetnya.


Tubuh Sarah terhalangi oleh pintu lemari yang sedang ia buka sehingga hanya menampakkan sepasang kakinya yang telanjang saja. Wanita itu sedang memilih pakaian apa yang akan ia pakai. Tapi mau bagaimana memilih, jika isi lemari yang ia buka hanyalah kemeja semua. Yasudah, Sarah akhirnya menyambar dengan asal kemeja pria itu untuk ia pakai. Lalu ia menutup kembali pintu lemari besar itu yang di depannya merupakan sebuah cermin besar.


"Sarah?", Sam mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memperjelas penglihatannya barusan. Benarkah itu adalah wanita yang selama ini telah ia cari-cari?! Benarkah itu wanita yang telah membuatnya setengah gila? Kepalanya terasa masih pusing sehingga ia harus benar-benar meyakinkan matanya. Tapi diluar pemikirannya yang sedang menerka-nerka, wanita itu tiba-tiba membuka handuknya hingga jatuh ke kakinya. Sarah dengan acuhnya memakai kemeja yang ia ambil tanpa menoleh lagi apakah Sam sudah tersadar atau belum. Pikirnya lelaki itu baru saja memejamkan mata, jadi mana mungkin secepat itu dia bangun.


Nafas Sam seakan berhenti, degub jantungnya benar-benar menjadi sangat cepat saat ini dan bahkan wajahnya telah berubah menjadi berwarna merah merekah.


Dengan cepat ia kembali merebahkan tubuhnya lagi saat Sarah mulai berputar-putar memperhatikan pantulan dirinya di cermin yang sedang menggunakan kemeja kebesaran miliknya. Sejujurnya Sarah takut jika tiba-tiba Sam terbangun dan melihatnya memakai pakaiannya seperti ini. Pasti pria itu akan berpikir Sarah sedang mencoba menggoda dirinya. Padahal kan tidak sama sekali. Ini ia lakukan hanya karena faktor keadaan. Yang jelas Sarah sudah berjanji, begitu pakaiannya agak kering, ia akan langsung bergegas dari tempat ini.


Dari posisinya yang sudah terlentang kembali. Sam meraba dadanya dimana jantungnya sedang memompa dengan begitu cepatnya. Apalagi mengingat pemandangan indah yang baru saja ia lihat, membuatnya menjadi kepanasan tiba-tiba. Ia sudah pernah menyaksikan banyak wanita tanpa busana berdiri di hadapannya, tapi rasanya tidak seperti ini. Keinginan memiliki Sarah datang jauh dari dalam lubuk hatinya, bukan lantas karena nafsunya saja. Tapi yang jelas kali ini, Sam benar-benar harus ke kamar mandi dan mendinginkan tubuhnya terlebih dahulu. Tapi mau bagaimana, itu sulit. Jika dirinya tiba-tiba bangun, pasti Sarah akan curiga dan segera memutuskan untuk pergi meninggalkannya sekarang juga. Sam tidak menginginkan hal itu terjadi. Ia masih ingin Sarah di sini.

__ADS_1


Tapi tunggu dulu, ada yang aneh saat ia meraba tubuhnya. Sam menaikkan selimut yang menutupi sebagian lagi tubuhnya untuk mengintip keadaan. Polos, tubuhnya tidak memakai baju saat ini, hanya celana boxer saja yang tertinggal. Sebenarnya apa yang terjadi?! Siapa juga yang telah membuka seluruh pakaiannya tadi?! Tapi kepalanya masih terlalu pusing untuk memikirkan hal ini.


"Baiklah, aku tinggal hanya menunggumu pakaianku sedikit kering lalu aku akan segera pergi dari sini!", mendengar Sarah bergumam sambil berjalan menuju ke arahnya, Sam segera memejamkan matanya lagi. Ia tak ingin Sarah pergi dari sini. Sam masih ingin memeluk Sarah, ia masih sangat merindukan wanita ini. Maka, dengan matanya yang terpejam ia berusaha mencari cara.


Sarah mendudukkan dirinya di pinggir ranjang di sebelah Sam yang sedang tertidur. Cukup lama ia memandangi wajah pria itu. Sepertinya Sarah memang baru menyadari ketampanan yang Sam miliki. Baik Ken maupun Sam, kedua kakak beradik itu sama-sama tampan, hanya saja mereka memiliki ciri khasnya masing-masing. Jika Ken terlihat seperti pangeran kutub yang sangat dingin dan tak bisa disentuh. Maka Sam adalah kebalikannya, ia memiliki ketampanan yang memabukkan karena kehangatan yang selalu ia berikan.


Sedikit ragu tangan Sarah terulur untuk menyentuh wajah itu. Wajah yang tak pernah ia perhatikan, karena yang memilikinya selalu membuatnya kesal. Wajah yang ternyata sangat kokoh dan tegas, hingga banyak wanita yang mabuk kepayang karenanya. Yah bukan dia seorang, Sarah mengakui itu. Tapi,, dengan keyakinan pria ini, bisakah dirinya yang hanya akan menjadi satu-satunya bagi pria ini?! Bisakah seperti itu? Tidak itu mungkin akan sulit. Banyak saingannya bertebaran dimana-mana. Sarah takut tidak bisa menghadapi mereka. Dirinya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan mereka-mereka orang.


Tangannya mengambang di udara sambil mengabsen setiap lekukan di wajah pria itu. Alisnya yang tebal seperti ulat bulu, hidung mancungnya, rahangnya yang tegas dan kokoh, dagunya, dan juga bibir itu yang pernah menyesap manisnya bibirnya sendiri. Sarah segera menggelengkan kepala, agar kembali kepada kewarasannya. Lalu ia menghadap ke depan lagi sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah. Tepat saat itu juga bibir Sam menyunggingkan senyumannya. Sam memiliki ide di kepalanya.


Sarah menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil menggosok rambutnya. Tepat saat ia menoleh ke kanan, tangan Sam dengan cepat meraih remot ac di atas nakas di sebelah kiri Sarah. Dibalik tubuh wanita itu, Sam mematikan pendingin ruangan itu. Awalnya belum terasa memang, jadi Sarah belum menyadari apa-apa saat ini dan memilih untuk mengambil ponsel di tasnya lalu mengecek beberapa pesan yang masuk, termasuk pesan dari Manajer Toni dimana tadi ia susah meminta izin dan menjelaskan keadaan ini. Sukurlah dia mengerti.


Lalu wanita itu sibuk memainkan ponselnya saja hingga tubuhnya merasa sedikit panas dan gerah seperti saat berada di rumahnya. Tapi jika di rumahnya, maka Sarah akan memilih untuk menggunakan tank top dan celana hotpants kesukaannya. Kemudian menyalakan kipas angin dan ia akan merasa baik-baik saja. Tapi sekarang berbeda, ia sekarang berada di rumah seorang pria. Tempat ini sungguh sangat berbahaya sebenarnya. Jadi,, dengan waspada Sarah menoleh ke belakang dan mendapati Sam yah masih tertidur nyenyak. Ia tak menyadari pria itu tengah menyembunyikan remot ac di bawah pergelangan tangannya.


Setelah merasa cukup aman, Sarah membuka dua kancing kemeja yang ia pakai, lalu ia kibas-kibaskan kemejanya sehingga membuatnya sedikit berangin. Sarah merasa sedikit sejuk, namun tangannya mulai terasa pegal. Akhirnya ia menghentikan gerakan tangannya dan memilih untuk melanjutkan memainkan ponselnya kembali.


Di saat Sarah kembali lengah, Sam menghidupkan kembali pendingin ruangan itu dan mengaturnya agar terasa lebih dingin lagi dari sebelumnya. Lengkungan di bibir Sam benar-benar sempurna saat ia telah selesai mengingat semua kejadian tadi saat ia tengah mabuk. Jadi wanita ini masih peduli terhadapnya. Hati Sam menjadi hangat saat ini.


Karena kelelahan, ditambah lagi hawa dingin yang mulai datang, mata Sarah seakan sedang diusap lembut oleh belaian angin di kamar itu. Sekuat tenaga ia menahan rasa kantuknya, tapi mau bagaimana rasanya matanya sudah tidak kuat lagi untuk dibuka. Akhirnya tanpa sadar, ia memilih untuk meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu merebahkan tubuhnya di samping tubuh Sam yang terbalut selimut. Sarah menghadap ke depan membelakangi Sam.


Sarah tertidur dengan kaki telanjangnya yang meringkuk. Ia menahan dingin yang menyergap tubuhnya, sampai membuatnya sedikit menggigil. Saat ia membalikkan tubuhnya sehingga menghadap ke arah Sam. Ia merasakan kehangatan dan kenyamanan di sana, hingga akhirnya Sarah merapat ke tubuh Sam yang terbalut selimut.


Sam puas dengan rencananya. Tapi ia tak ingin nanti Sarah membencinya, jadi ia hanya membiarkan tubuhnya dipeluk oleh wanita itu sebagai sumber kehangatan. Jadilah keduanya terpejam dengan saling memeluk satu sama lainnya. Tak lupa Sam telah mengembalikan suhu ruangan ke angka yang seperti biasanya. Lalu jadilah ia akan bermimpi indah malam ini, karena berhasil membawa wanita yang dicintainya itu ke dalam dekapannya.


***


Pagi ini terasa amat cerah bagi sepasang suami istri itu. Keduanya nampak sangat harmonis dengan saling menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang mereka satu sama lain. Setelah berhasil memarkirkan mobilnya di sebuah gedung bertingkat, ia sempatkan dulu untuk mengelus perut istrinya yang masih rata. Di sana terdapat benih cinta yang telah ia tanam untuk ia besarkan nanti. Sesekali pria itu mendaratkan beberapa ciuman pada perut istrinya itu, hingga membuat wanita itu kegelian.


"Sayang, hentikan!", Ana mengusap kepala suaminya sambil tersenyum menahan geli yang menjalar karenanya.


"Apakah kau masih mual? Ini masih pagi, biasanya jika pagi belum berganti, kau masih bolak-balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutmu?", Ken mengusap pucuk kepala istrinya lalu menghadiahi wanita itu satu kecupan pada keningnya.


"Aku sudah tidak apa-apa, sayang! Mungkin karena hari ini aku terlalu senang", ucap Ana riang sambil memeluk tubuh Ken yang berada di sebelahnya.


"Jagalah kesehatanmu dan bayi kita! Satu bulan lagi aku ingin kita mengadakan resepsi pernikahan sebelum perutmu menjadi lebih besar lagi. Aku ingin memperkenalkan pada dunia bahwa hanya kau yang merupakan istri sahku, dan hanya aku yang merupakan suami untuk dirimu!", Ken mencubit dagu Ana dengan gemasnya.


"Sebenarnya aku tidak memerlukan pesta mewah itu. Bagiku dengan bisa memilikimu seutuhnya saja sudah membuatku sangat bahagia", Ana membelai lembut rahang kokoh suaminya.

__ADS_1


"Tapi aku dan keluargaku sangat ingin memperkenalkan dirimu sebagai menantu keluarga Wiratmadja. Kami bangga memiliki dirimu sebagai bagian dari keluarga kami", tutur Ken seraya menangkap tangan Ana yang berada yang berada di wajahnya. Lalu ia menghadiahi satu kecupan di punggung tangan wanita itu.


"Baiklah, demi dirimu dan juga mereka, keluargaku!", Ana menempelkan kepalanya pada bidang suaminya sambil tersenyum.


"Terima kasih, sayang! Aku sangat mencintaimu", Ken kembali menghadiahi istrinya itu dengan kecupan bertubi-tubi pada pucuk kepala itu.


"Aku juga sangat mencintaimu!", balas Ana di dalam pelukannya.


"Tapi sayang, dimana Ayah dan Bunda? Kenapa mereka masih belum sampai juga?", Ana mendongakkan kepalanya selagi bertanya.


"Mungkin sebentar lagi", jawab Ken dengan tenang.


"Lalu apakah nanti mereka akan marah?", tanya Ana agak khawatir dengan keadaan yang ada saat ini.


"Jangan terlalu banyak berpikir, sayang! Kita lihat saja nanti, ya!", Ken menenangkan kekhawatiran istrinya sambil mengusap-usap lembut pucuk kepala istrinya itu.


-


-


-


-


baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya


🌹Hey you, I Love you!🌹


Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan 😊


jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya 😁


terimakasih teman-teman πŸ˜‰


love you semuanya 😘


keep strong and healthy ya

__ADS_1


-


__ADS_2