Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 231


__ADS_3

"Kenapa Sarah bisa pingsan? Apakah dia sakit? Tapi kurasa tubuhnya tidak panas!", Sam menggaruk kepalanya sambil berpikir keras.


Pria itu belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa wanita yang tengah memejamkan matanya ini sedang berusaha keras agar tidak ketahuan. Kepalanya benar-benar sudah mau pecah menghadapi pria konyol itu. Jadilah ia memiliki ide kilat untuk pura-pura pingsan. Semoga saja dengan hal ini, Sam akan memiliki kewarasannya kembali.


"Coba aku cek lagi!", Sam kembali memastikan dengan meletakkan punggung tangannya pada leher Sarah.


Seperti tersetrum oleh sentuhan tangan yang terasa nyaman, punggung Sarah menegang. Tangannya di samping sudah mengepal mempertahankan diri agar tetap diam. Semoga saja Sam tidak menyadari hal ini. Semoga saja!


Sayangnya salah, Sam melihatnya. Tubuh wanita itu yang tiba-tiba tersentak oleh sentuhannya, sangat jelas di mata Sam. Apalagi sekarang mata Sarah yang memiliki kerutan tambahan, lantaran wanita itu tengah berusaha keras untuk tetap memejamkan matanya. Tangannya yang membuat sebuah tinju di samping pun Sam melihatnya. Dan itu semua membuat Sam menyeringai, tersenyum jelek dengan pikiran yang dia punya. Ingin bermain, maka ia akan mengikutinya.


"Sarah, kenapa denyut nadimu tidak terasa?! Sarah bangunlah! Bangun Sarah! Ku mohon bangun, sayang!", Sam menyentuh pergelangan tangan Sarah lalu berpura-pura menangis saat ini. Tapi ia sempatkan membuka satu matanya untuk melihat reaksi wanita itu.


Mana mungkin! Sarah jadi panik sendiri sekarang. Apakah benar denyut nadinya tidak terasa lagi?! Tapi ia masih merasa tubuhnya bernafas dengan baik. Mendengar Sam terus saja memanggil namanya sambil menangis membuat dirinya sangat ingin memastikan sendiri bagaimana dengan denyut nadinya yang Sam bilang berhenti. Tentu saja tidak bisa bukan?! Saat ini ia sedang berpura-pura pingsan, jadi mana mungkin ia tiba-tiba bangun lalu memeriksa tangan dan detak jantungnya. Sam pasti akan curiga. Ya ampun apa yang harus ia lakukan?!


Melihat wajah panik Sarah yang sedang memejamkan matanya itu, Sam berusaha keras menahan tawanya. Ia alihkan dengan menambah kencang panggilannya pada Sarah.


"Sarah! Kumohon bangunlah! Bangun Sarah?", jerit Sam terdengar cukup meyakinkan kesedihannya saat ini. Tubuh Sarah pun sedikit diguncang untuk lebih meyakinkan lagi.


"Jika kau pergi meninggalkan aku, maka siapa lagi yang akan menjagaku dari wanita-wanita penggoda itu. Apalagi siluman rubah yang paling susah dicegah, bagaimana aku bisa menghindar dari si Megan Aira itu tanpamu, Sarah. Jika nanti aku tergoda lagi olehnya bagaimana?! Apalagi kan dia memiliki tubuh yang sangat seksi?! Aduuhh,,,,", setelah merengek dan memancing Sarah dengan hal yang membuatnya marah, Sam ternyata berhasil membuat wanita itu membuka matanya. Dan bukan hanya itu saja, ia juga mendapatkan satu pukulan keras di kepalanya.

__ADS_1


"Jadi jika tidak ada aku maka kau akan tergoda oleh siluman rubah itu lagi, hah!", Sarah berteriak saking kesalnya mendengar penuturan Sam di saat dirinya masih berpura-pura pingsan. Ia berkacak pinggang sambil menekuk lututnya di kursi panjang, sehingga membuat dirinya menjadi lebih tinggi dari Sam dan terlihat dominan.


"Siapa suruh kau mengerjai aku duluan, heh!", memangnya hanya Sarah saja yang bisa marah. Sam menunjukkan bahwa ia juga bisa. Pria itu memalingkan wajahnya sambil melipat tangannya di depan dada.


"Lalu apa kau sadar seberapa menyebalkannya dirimu, heh?!", Sarah masih kesal tapi ia ingin Sam melihat ke arahnya. Ia sedikit mendorong bahu Sam agar menghadap ke arahnya, namun ternyata pria itu menolak dan tetap memalingkan wajahnya dari Sarah.


"Tidak! Aku tidak sadar!", biar saja kali ini pikir Sam. Tanggung sendiri akibatnya ya, sudah mengerjai si tukang jahil ini!


"Sam! Sam! Saaamm!", Sarah merengek sambil terus berusaha membuat pria itu melihat ke arahnya.


Selama ini, selama Sarah mengenal Sam dan menjalin sebuah hubungan, pria itu tidak pernah marah sedikit pun kepadanya. Bahkan ketika dirinya berusaha mendorong Sam menjauh, pria itu tidak pernah sakit hati padanya. Tapi melihat Sam yang sekarang tengah mengabaikannya sungguh membuat hatinya tiba-tiba merasa nyeri.


"Sam, kau marah?", tanya Sarah begitu lirih sambil menundukkan kepalanya. Terasa begitu menyesal ia telah mengerjai pria itu tadi.


"Sarah!", serunya dengan suara yang sangat lembut. Ia menyentuh jemari wanita itu dan menggenggamnya.


"Aku tidak marah!", ucapnya lagi setelah Sarah menoleh ke arahnya dengan tatapan sendu.


"Tapi barusan kau mengabaikan aku!", ucap Sarah sambil sesekali menarik cairan hidungnya yang siap meluncur kapan saja.

__ADS_1


"Maaf, itu salahku karena mengabaikanmu!", Sam menarik Sarah ke dalam pelukannya. Membiarkan wanita itu menangis dalam dekapannya.


"Kau bahkan tidak pernah marah padaku selama ini, Sam! Jadi,, jadi,, saat kau kesal dan mengabaikan aku seperti ini, aku,,, aku merasa sangat bersalah dan sedih", Sarah terus terisak di depan dada prianya. Tangannya mencengkram kuat kemeja yang Sam gunakan, kemeja yang sekarang sudah basah kuyup oleh air matanya.


Ya ampun! Kenapa wanita ini jadi tambah sedih begini?! Sungguh penyesalan besar menusuk ke dalam hati pria itu. Sam tak pernah ingin membuat Sarah menangis, tapi kenyataannya malahan ia membuat wanitanya ini menangis sekarang. Hati Sam pun ikut diiris-iris mendengar tangisan Sarah yang begitu sedih. Ia mengelus punggung wanita itu sambil menatap lurus ke depan, tatapan yang penuh ironi.


"Sudah, jangan menangis lagi, ya! Sebenarnya,,,,", Sam menggaruk alisnya sebelum berusaha jujur dengan apa yang ia maksud barusan. Ia meringis bingung juga bagaimana harus mengawalinya.


"Sebenarnya,,, sebenarnya aku juga tidak bermaksud begitu! Tadi aku hanya,,, hanya ingin membalas mengerjaimu saja!", Sam masih meringis sekarang. Lalu mendadak tangisan itu berhenti dan tubuh Sarah menjadi kaku.


"Sam!", suara bernada rendah itu tiba-tiba membuat tubuh Sam meremang. Padahal Sarah belum juga mengangkat kepalanya.


"Sarah, aku,,, aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu sedih!", Sam kini mengusap pucuk kepala wanitanya dengan perasaan bersalah.


Lalu tiba-tiba Sarah menghentikan gerakan tangan Sam di kepalanya sambil menengadahkan kepalanya untuk melihat ke arah pria itu. Tatapan tajam khas Sarah yang garang, membuat Sam meringis ngeri.


"Jahat, jahat, jahat! Sam kau jahat sekali!", setengah berteriak Sarah memukul-mukul dada pria itu. Bukan dengan ekspresi marah yang Sam sudah prediksi, tapi justru ekspresi sedih yang seperti tadi keluar lagi dari wajah itu.


Untuk beberapa detik Sam tertegun dan membiarkan Sarah terus memberikan dadanya beberapa pukulan. Lalu dengan gerakan cepat, pria itu sudah menangkap kedua pergelangan tangan Sarah. Ia juga berhasil mendorongnya hingga tersudut ke pinggiran kursi panjang itu.

__ADS_1


"Sam!", posisi ambigu ini ingin sekali Sarah mengomentarinya. Namun tatapan prianya yang begitu dalam membuatnya hanya mampu menyebutkan nama pria itu saja. Belum lagi suara yang keluar seperti suara serak yang tertahan.


Pria itu berada di atas Sarah dengan kedua tangan yang mengunci kedua tangan wanita itu. Menatap dengan serius dan intens. Entah, Sarah tak dapat membaca tatapan pria itu saat ini. Tatapan itu tidak panas seperti biasanya saat mereka berada di posisi ambigu lainnya. Namun juga tidak dingin ketika pria itu sedang serius dan marah. Sarah sungguh tak mengerti arti tatapan Sam ini. Tapi yang jelas, posisi mereka makin ambigu karena Sarah merasa jarak di antara tubuh mereka semakin dekat.


__ADS_2