Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 76


__ADS_3

Ana berlari menuju ayahnya yang tak sadarkan diri sambil menangis sejadi-jadinya. Ia bersimpuh di lantai dingin rumah sakit dan menangis di lengan ayahnya. Mengapa ayahnya begitu tega mengatakan itu semua dengan mudahnya. Apakah begitu mudah baginya untuk pergi meninggalkannya. Sakit, sesak rasanya dada Ana saat ini. Ia tak sanggup membayangkan saat nanti ayahnya benar-benar akan pergi meninggalkannya sendirian.


Ken menghampiri Ana dan meraihnya ke dalam pelukannya. Ia membiarkan Ana menangis dalam dekapannya. Dadanya ikut sesak melihat wanitanya kembali terpuruk seperti ini. Ia mengusap lembut kepala Ana untuk menenangkannya.


Tuan Reymond bangkit dari duduknya di sofa dan berjalan mendekat. Ia melewati kedua pasangan itu dan memilih duduk di samping ranjang temannya. Ia menyandarkan dirinya di kursi, mencari posisi senyaman mungkin lalu menyilangkan tangannya di depan dada, matanya ia tujukan pada orang yang terbaring di hadapannya.


"Apakah kau tau, Ana? Ayahmu sangat mencintai ibumu, begitu pula dengan dirimu! Hatinya hancur saat ia harus mempersiapkan semua ini sendirian tanpa orang tau. Ia sudah paham akan sifat pamanmu yang dengki itu, maka sejak jauh-jauh hari ia sudah mengabari ku untuk mempersiapkan semua hal ini. Dia sangat menyayangimu, makanya ia tak pernah mengizinkanmu untuk tampil di muka umum. Ia tak ingin keluarga adiknya yang dengki itu membahayakan nyawamu. Maka dari itu, ia rela dijadikan target bagi adiknya agar kau tetap aman", tutur Tuan Reymond dengan ekspresi yang tak terbaca.


Ana meredakan tangisnya. Masih sesegukan, ia menoleh ke arah Tuan Reymond dengan wajah basah. Ana mencoba mendengarkan seluruh penuturan Tuan Reymond dengan jelas, begitu pula halnya dengan Ken.


"Meskipun tak menutup kemungkinan kau akan jadi target selanjutnya. Maka ia juga sudah menitipkan dirimu pada Presdir Ken yang terhormat ini, bukan?!", Tuan Reymond memberi jeda pada penuturannya dengan menyunggingkan senyuman.


"Bahkan ia sudah mempersiapkan pasangan yang tepat untuk dirimu, Ana. Ia tau siapa yang paling tepat untuk menjaga dirimu dari situasi yang akan tejadi nanti, contohnya seperti sekarang ini. Dan ternyata kalian sudah saling mengenal dan saling mencintai. Hal itu membuat ayahmu semakin lega tentunya. Ia merasa mungkin kalian memang ditakdirkan bersama", Tuan Reymond berhenti lagi dan menghembuskan nafasnya kasar sebelum melanjutkan penuturannya.


"Ia sangat mencintai ibumu, hingga ia merasa saat ini adalah waktu yang tepat untuknya untuk menyusul ke sana", Tuan Reymond berucap dengan berat hati.


Tangis Ana pecah lagi. Ia kembali menenggelamkan kepalanya pada dada Ken dan menangis sepuasnya di sana. Rasanya sangat sesak mendengar ucapan Tuan Reymond yang terakhir. Ia mencengkram jas milik Ken hingga kusut. Ia menahan rasa sakit dan nyeri di dalam hatinya kini.


"Hentikan, paman!", Ken tak sanggup lagi melihat Ana menangis seperti ini.


"Ana!", panggil Tuan Reymond lemah.

__ADS_1


Merasa tak mendapat respon, ia lalu melanjutkan ucapannya begitu saja. Ia juga ingin segera menyelesaikan semua pesan dari temannya itu. Agar selesai pula ia melihat putri kesayangan temannya itu menangis begitu menyedihkan.


"Danu berpesan, saat ini adalah giliranmu Ana!", Ana menoleh ke arah Tuan Reymond di tengah tangisnya.


"Giliranmu berperang dengan mereka. Karena ia tau bahwa kau mampu. Perusahaan itu jika jatuh ke tangan mereka, maka akan habislah sudah. Bagaimana pun juga, itu adalah peninggalan kakekmu. Jangan sampai perusahaan itu hancur lagi seperti sebelumnya oleh pamanmu. Danu juga meninggalkan Dragon Night padamu, karena itu adalah perusahaan yang ia rintis sejak ia masih di dunia bawah dulu", Tuan Reymond telah berdiri menghadap mereka.


"Ya, ayahmu adalah pemimpin geng mafia terbesar di negara ini sebelum ia dipanggil oleh kakekmu untuk menggantikan posisi pamanmu yang tak becus mengurus perusahaan yang hampir jatuh", jelas Tuan Reymond.


"Geng mafia? Ayah?", tanya Ana masih tak percaya.


"Harimau putih?", tanya Ken yang juga menampakkan wajah yang sama dengan Ana.


"Ya, selama ini ayahmu menyembunyikan semua ini dari keluarganya. Ia merasa akan sangat berbahaya jika keluarganya mengetahui siapa dirinya yang sebelumnya. Dan benar, harimau putih adalah geng mafia yang sempat ia pimpin. Tapi yang terakhir aku dengar adalah bahwa pamanmu mengetahui hal ini. Bram tau bahwa ayahmu adalah pemimpin harimau putih sebelumnya, maka dari itu Danu menitipkan dirimu pada Ken yang ia rasa memiliki kekuatan yang cukup jika suatu bahaya datang padamu kelak. Tapi jika tidak ada, maka anggap saja kau beruntung", jelas Tuan Reymond dengan wajah yang ia buat setenang mungkin.


"Tidak, ibumu tidak mengetahui apa pun. Ia hanya tau bahwa ayahmu memiliki sebuah club malam. Itu saja!", jelas Tuan Reymond yang seakan tau isi hati Ana.


"Ana, jangan memaksa apapun pada ayahmu. Mungkin dia sudah lelah menjalani hidupnya selama ini. Bayangkan saja, semenjak ditinggal ibumu ia berperan menjadi ayah sekaligus ibu agar kau tak kekurangan kasih sayang sedikit pun. Ia selalu meluangkan waktunya untuk memperhatikan dan menemanimu, bukan?! Butuh tenaga dan upaya untuknya mengemban kedua tugas itu. Biarkan dia memilih jalannya sendiri Ana. Hanya itu yang bisa aku sampaikan padamu saat ini", jelas Tuan Reymond. Kini ia beralih berdiri membelakangi mereka, lebih tepatnya berdiri di belakang Ken.


Ana terdiam, ia membayangkan kembali saat-saat bersama dengan ayahnya selama ini. Ya memang, meskipun Ana telah ditinggal ibunya, tapi ayahnya selalu memberikan yang terbaik untuknya. Kasih sayang dan perhatian tak pernah ia kekurangan sedikit pun walau sesibuk apapun ayahnya. Ana meneteskan lagi air mata sambil menghadap ke arah ayahnya. Tapi ia juga belum siap jika harus ditinggalkan olehnya. Ia masih memiliki banyak hal untuk ditunjukkan kepada ayahnya. Hatinya bimbang, ia masih berat untuk melepaskan ayahnya pergi. Ana menangis dalam diam sambil terus memegangi lengan ayahnya.


"Ken! Jika kau mencintainya, nikahilah dia! Tapi jika kau hanya bermain-main saja, pergilah segera sebelum kau jauh lebih menyakitinya!", Tuan Reymond memberi peringatan dengan merendahkan volume suaranya supaya hanya Ken yang mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Tentu saja aku mencintainya. Bahkan aku sudah melamarnya. Tapi Ana sendiri yang mengatakan bahwa ia belum siap untuk menikah denganku", sahut Ken penuh dengan nada ketegasan. Ia tak pernah main-main dengan kalimat yang ia ucapkan.


"Bagus!", Tuan Reymond menepuk bahu Ken. Lalu ia memposisikan dirinya berdiri di samping Ana yang sedang duduk di tempat tadi.


"Ana! Menikahlah dengan Ken! Ini adalah pesan terakhir ayahmu. Lagipula saat ini, hanya dia yang bisa menjagamu, nak!", ucap Tuan Reymond lembut. Ia mengusap-usap kepala Ana seperti mengusap kepala anaknya sendiri.


Ana nampak berpikir dan pandangannya tak luput dari ayahnya yang tak sadarkan diri itu. Ia menimbang-nimbang tindakan apa yang paling tepat untuk saat ini. Supaya semua tetap aman dan terkendali.


Ana menaikkan kepalanya ke atas. Memandangi Ken dan Tuan Reymond secara bergantian. Ia menghela nafasnya panjang sebelum mengucapkan apa yang ada di kepalanya saat ini.


"Beri aku waktu satu minggu. Jika ayah masih tidak bangun juga, maka aku akan menikah dengan Ken. Di sini. Di tempat ini, aku ingin ada ayah di sampingku saat aku menikah nanti. Dan pernikahan ini tidak boleh dipublikasikan", ucap Ana yang berusaha tenang.


"Kenapa tidak dipublikasikan? Apakah kau tidak mencintaiku? Apakah merupakan sebuah aib bagimu menikah denganku?", ucap Ken emosi. Ia tak habis pikir dengan aoa yang Ana ucapkan barusan. Ia memijat keningnya untuk meredakan pening yang tiba-tiba melanda.


"Ken, Ana belum selesai!", tegur Tuan Reymond yang diikuti oleh anggukan Ana. Ia mengerti bahwa Ana pasti memiliki alasannya sendiri saat ini.


"Ken, kau tau sendiri bukan. Banyak sekali yang menginginkan posisi sebagai Nyonya Muda Wiratmadja. Aku hanya mengetahui ada dua orang, entah berapa banyak di luar sana yang menginginkan posisi ini. Apakah kau tidak memikirkan diriku sedikit pun, heh?!", ucapan Ana jelas merupakan sebuah tamparan yang Ken lupakan.


Ia baru mengingatnya, bahwa benar apa yang Ana katakan. Banyak sekali yang ingin menjadi pendampingnya, bahkan dari berbagai kalangan. Ken paham apa yang Ana maksud, bahwa hal ini akan berdampak bagi Ken sendiri dan juga diri Ana.


"Tapi tinggu dulu. Dua? Siapa dua?", Ken bertanya dalam hatinya.

__ADS_1


"Ya, Joice Alexander dan Krystal Winata", jawab Ana perlahan dengan penuh penekan.


__ADS_2