
"Nona, saya mohon!", pak supir sungguh memelas wajahnya. Ia juga menoleh ke arah Sam yang terus menyebut namanya lirih. Ia menoleh ke arah Sam lalu ke arah pak supir secara bergantian. Ia nampak ragu, bagaimanapun juga ia masih mengemban tanggung jawab saat ini.
"Sudahlah Sarah tidak apa-apa! Masalah di sini biar percayakan saja pada kami. Kau kabari Manajer Toni, pasti dia akan mengerti keadaannya!", Doni maju mencoba menengahi keadaan ini. Menurutnya ini adalah keputusan yang terbaik untuk mereka semua sekarang.
"Tapi,,,,", Sarah masih terlihat meragu.
"Tidak apa-apa, Sarah!", sahut seseorang lagi di belakang Doni. Lalu mereka semua juga ikut setuju dengan ide yang Doni berikan.
"Hissh", kepala Sarah sungguh sudah sangat pusing karena ini. Ia memijit keningnya yang sudah tujuh keliling itu.
"Baiklah! Aku akan mengambil tasku dulu!", Sarah berusaha melepaskan pegangan tangan Sam yang sangat kencang itu. Tapi rasanya sangat sulit, itu terlalu keras. Pegangan tangannya sangat keras seperti batu. Ia sampai meringis saking berusahanya.
"Biar aku ambilkan, okeh! Dimana tasmu?", Doni memberi tawaran untuk menolongnya yang kelihatan kesusahan.
"Di kantor, Don. Tapi ngomong-ngomong terima kasih, ya!", Sarah tersenyum tulus kepada temannya itu.
"It's okay!", sebenarnya Doni juga tidak enak hati karena semua berawal dari saran yang ia ajukan sebelumnya kepada Sarah. Akibat Sarah mendengarkan sarannya, maka ia harus menanggung masalah sampai sejauh ini. Maka hanya untuk urusan kecil seperti ini, bukan suatu masalah baginya.
Ada satu orang yang terlupakan, bahkan menjadi tergusur hingga ke belakang. Dia adalah Sisil yang sedang menatap benci ke arah wanita yang sedang duduk di sebelah Tuan Sam itu. Baru kali ini ia kalah telak oleh seorang wanita biasa. Bahkan jika dilihat dari segi perekonomian, Sarah masih berada di bawahnya. Lalu saat ini wanita itu malahan seperti memiliki tempat spesial tersendiri di hati salah satu orang paling berpengaruh di kota ini. Keberuntungan darimana, sungguh Sisil juga ingin mendapatkannya. Ia sudah terbakar rasa iri hati dan dengki. Bahkan kejadiannya yang melibatkan Ben dan Ana tempo hari tak membuatnya jera sama sekali. Wanita itu mengepalkan kedua tangannya di samping sambil menggeram marah.
***
Angin malam itu entah mengapa terasa berbeda kali ini bagi Sarah. Harusnya terasa sejuk dan menenangkan hati. Tapi kenapa sekarang malahan terasa panas dan sesak. Terutama di hatinya. Apa karena pria yang duduk di sebelahnya ini tengah memeluknya erat-erat dari samping?! Pria ini mungkin sudah menganggapnya sebagai guling saat ini. Hingga terlihat sangat nyaman tidurnya, bahkan sambil mengeluarkan senyumannya.
Huh! Ingin Sarah pukul saja rasanya orang ini jika sudah bangun nanti. Sungguh menyusahkan dirinya saja. Akhirnya Sarah hanya menoyor kepala itu, tapi lagi-lagi kepalanya kembali menempel ke lengan Sarah dengan eratnya. Seakan tak terjadi apa-apa, senyumnya terus terkembang di sana.
Sarah membuang pandangannya keluar. Ia setengah kesal, setengah bahagia saat ini. Malam ini akhirnya ia menemukan jawaban bagaimana Sam ternyata sangat mencintainya. Dan bagaimana ternyata perasaannya memiliki perasaan yang sama dengan pria itu.
Tapi,,, masih ada beberapa perasaan yang mengganjal di dalam dirinya. Masalah wanita-wanita yang biasa ada di sisi Sam, ia belum mengetahui bagaimana perkembangannya sekarang. Masih kah Sam seperti dulu, karena jika iya maka hal ini hanya akan menyakitkan saja untuknya. Lalu bagaimana dengan permintaan ibunya yang meminta Sarah menjauhi dia, Sarah bahkan belum memiliki jawaban dari pertanyaan itu.
Bagaimana ini dan itu, Sarah belum tau. Jika dipikirkan hanya membuat kepalanya pusing saja. Saat ini yang utama adalah menyelesaikan tugasnya dengan mengantarkan Sam ke apartemennya, lalu selesailah sudah urusannya. Nanti ya bagaimana nanti saja pikir Sarah. Ia masih malas berpikir saat ini. Akhirnya ia memilih untuk ikut memejamkan matanya sejenak mengistirahatkan hati dan pikirannya yang tiba-tiba harus dibuat bekerja keras.
Pak supir melihat tuannya tertidur begitu tenang dengan bibir yang membuat sebuah lengkungan itu, membuat hatinya merasa damai sendiri. Sudah satu bulan ini tuannya itu terlihat gusar dan tegang. Bahkan ia lebih terkesan dingin dan garang. Sungguh berubah banyak seperti Tuan Sam yang dulu ia kenal.
__ADS_1
Lalu saat melihat wanita yang berada di sebelah tuanya itu, ia merasa Sarah adalah wanita baik yang sangat cocok dengan kepribadian Tuan Sam yang memiliki sisi manja. Karena kelihatannya Sarah memilikinya sisi kedewasaan dan keibuan, dapat dilihat sari tingkah laku dan perangainya. Meskipun supir ini hanyalah seorang bawahan, tapi dari segi umur ia sudah lebih dulu memakan asam garam kehidupan. Ia bisa menilai sifat seseorang dengan baik sebagai seorang yang lebih tua. Lagipula terlihat sangat jelas bahwa Sarah berbeda dari wanita-wanita yang pernah tuannya bawa. Apalagi si Megan yang tadi sore itu, melihatnya saja sudah membuat pak supir bergidik ngeri. Ia juga berharap tidak bertemu dengannya lagi.
***
"Apa bapak tau berapa passwordnya?", tanya Sarah sambil terengah-engah. Mereka berdua memapah tubuh Sam dari area parkir sampai pintu apartemennya yang berada di lantai paling atas. Tubuh Sam ternyata cukup berat hingga membuat mereka kepayahan dan kelelahan.
"Maaf Nona, saya tidak tau! Mungkin tanggal ulang tahun Tuan!", jawab pak supir yang juga sedang menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Saat ini mereka membiarkan Sam terduduk di lantai dengan kepala yang bersandar ke dinding. Sarah tak peduli dengan lantai dingin apartemen ini, dirinya sudah cukup lelah sekarang. Biarkan saja pria itu membeku jika bisa, umpatnya sendiri. Saat ini mereka sedang mengambil nafas dan beristirahat sebentar sambil memikirkan berapa password untuk membuka pintu apartemen itu.
"Hah, aku mana tau tanggal berapa ulang tahunnya!", Sarah menggaruk kepalanya frustasi. Sudah sampai di sini, tapi ia masih mengalami kesulitan juga. Sarah terus menekan tombol-tombol itu secara random. Barangkali bisa terbuka secara tiba-tiba.
"Bagaimana dengan tanggal ulang tahun Nona!", sahut pak supir tiba-tiba dengan wajah cerah berbinar.
"Hey, bapak! Itu mana mungkin terjadi! Kami saja belum begitu lama kenal. Bagaimana mungkin dia tau hal-hal seperti itu tentang diriku!", Sarah menyangkal ucapan pak supir itu. Benar-benar tak mungkin pikirnya.
"Saya juga tidak tau, Nona! Hanya itu yang ada di kepala saya!", jawab pak supir jujur.
Berpikir lagi, berpikir lagi,,,, malam ini benar-benar menguras hati dan pikirannya. Malam ini Sarah benar-benar diuji kesabarannya. Tapi ide itu boleh juga, meskipun Sarah pikir itu tidak mungkin, bukan. Akhirnya Sarah tetap menekan tombol-tombol yang sama dengan tanggal lahirnya.
ttithh
"Saya benar-benar tidak tau, Nona!", buru-buru pak supir menjelaskan lebih dulu sebelum ia dituduh.
"Saya tidak mengatakan apa-apa, bapak! Tenang saja! Ayo bantu saya membawanya masuk ke dalam!", ajak Sarah sambil tersenyum. Sungguh Sarah tidak bermaksud menginterogasi supir itu. Ia hanya sedang heran saja, begitu.
"Emmhh, itu Nona! Saya benar-benar mohon maaf! Istri saya sedang sakit sekarang, tak ada yang menjaganya di rumah. Anak saya sedang kuliah di luar kota, jadi dia benar-benar sendirian di rumah. Saya sungguh sangat khawatir, Nona! Jadi mohon maaf sebelumnya, saya hanya bisa membantu sampai di sini saja ya, Nona", pak supir itu terlihat sangat khawatir.
"Hah, baiklah! Kau boleh pergi. Jaga istrimu dengan baik!", Sarah mendesah frustasi. Bagaimana mungkin juga ia tega menahan pak supir dengan alasan seperti itu. Ia hanya bisa mengijinkannya begitu saja. Sarah masih punya hati nurani tentunya.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu ya, Nona!", pak supir pamit meninggalkan Sarah yang sedang merangkul Sam di sampingnya. Tangan Sarah menggapai udara seakan tak rela dengan kepergian pak supir itu.
"Hah, sudahlah! Terima saja, Sarah! Terima saja!", wanita itu bergumam sendiri. Sarah mencoba menghibur dirinya sendiri.
Kemudian ia berbalik sambil membawa Sam yang sangat berat di dalam rangkulan tangannya. Lalu dengan susah payah ia menutup pintu apartemen itu dengan satu kakinya.
__ADS_1
"Ya, ampun! Kenapa kau berat sekali, sih!", Sarah mengerahkan seluruh tenaganya untuk membawa Sam ke bagian dalam apartemen yang sangat mewah dan luas itu.
"Masih sama!", gumam Sarah dan tak sadar Sam terlepas dari tangannya hingga menyebabkan pria itu jatuh ke lantai dengan bunyi suara yang khas. Dsn untungnya pria itu masih tertidur pulas, paling-paling hanya menggeliat kecil di sana.
"Hah!", Sarah lelah. Akhirnya ia hanya membiarkan Sam telentang di lantai sana. Dan dirinya sibuk mencari air minum karena merasa sangat haus dan lelah saat ini.
Setelah menenggak satu botol air mineral yang ia temukan di kulkas besar pria itu. Sarah kembali berusaha mengangkat pria itu ke arah kamarnya. Untung saja apartemennya hanya memiliki satu lantai, jadi Sarah tak perlu repot-repot membawanya naik melalui tangga.
Sudah begini pun tubuhnya masih berat saja, Sarah benar-benar frustasi dibuatnya. Ia harus memikirkan cara agar pria ini bisa sampai di kamarnya. Dan ah, ia memiliki ide cemerlang di otaknya.
"Hahaha!", sebelumnya Sarah sempatkan tertawa memikirkan cara apa yang akan ia gunakan nanti.
Dan,,, akhirnya Sarah menyeret tubuh Sam yang tergeletak di lantai bagaikan sebuah bangkai. Upss, tapi Sarah tak akan meminta maaf untuk hal ini. Yang penting ia bisa membawa pria itu sampai ke kamarnya. Masalah teknik itu bebas, kan. Hehe
-
-
-
-
-
baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya
πΉHey you, I Love you!πΉ
Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan π
jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya π
terimakasih teman-teman π
__ADS_1
love you semuanya π
keep strong and healthy ya π₯°