
"Ini sudah jam berapa Ana? Dan kau belum bersiap-siap! Apa kau tidak kasihan dengan Tuan Ken, nanti dia akan lama menunggumu", ucap Sarah gemas sambil menyandarkan dirinya pada salah satu dinding kamar itu.
"Emmhh!", gumam Ana tak jelas sambil terus memandangi lepas pantai yang ramai dengan debur ombak.
"Sebenarnya apa yang sedang mengganggu pikiranmu saat ini?", tanya Sarah yang ikut duduk di bingkai jendela lebar itu.
"Bukankah ini yang kalian berdua harapkan selama ini?!", ucapnya lagi mengingat sepasang kekasih itu telah diterpa oleh banyak cobaan. Meskipun kini masalah yang ada belum juga terselesaikan. Tapi paling tidak, tujuan dari dibangunnya hubungan mereka sudah hampir tercapai. Lalu entah apa yang membuat Ana malah melamun seperti ini.
"Ayah! Aku rindu ayah!", ucap Ana tiba-tiba dengan suara parau.
Ternyata air mata sudah mengalir tanpa izin di pipinya yang putih mulus. Ana tengah merindukan sosok ayah yang seharusnya mendampingi dirinya pada saat momen bahagia seperti ini. Dulu ia selalu berangan-angan bahwa ia akan menikah didampingi oleh ayahnya. Bahkan ketika ayahnya koma dan Ken yang juga selalu berusaha membujuknya untuk menikah pun Ana bersikeras untuk melakukan ritual itu di hadapan ayahnya yang terbaring tak sadarkan diri. Tak apa jika mata ayahnya tidak mau terbuka, tapi paling tidak ada sosok itu di sampingnya. Tapi kini,, kenyataan pahit telah menimpanya. Dan bahkan di saat-saat paling membahagiakan seperti ini, Ana harus melewatinya sendiri. Tak ada sosok ibu maupun ayahnya yang mendampingi.
Perasaan itu benar-benar telah membuat sembilu luka yang belum jelas mengering malah terbuka kembali. Sakit yang menyayat sebagian besar hatinya, belum tentu semua orang dapat paham dan mengerti mengenai apa yang dirasakannya saat ini. Tapi apa mau dikata lagi, ini adalah takdir yang telah Tuhan berikan kepadanya. Dan yang ia bisa lakukan hanyalah sekuat tenaga menjadi bahagia, seperti apa yang diinginkan mendiang ayahnya.
Sebagai sahabatnya, tentu saja Sarah mengerti apa yang Ana rasakan saat ini. Tugasnya ia mulai dengan merangkul Ana dan memasukkannya ke dalam pelukan hangat, yang dapat menentramkan hati yang sedang diguncang oleh perasaan kehilangan. Sarah mengusap lembut kepala Ana hingga punggungnya. Memberikan ketentraman sampai akhirnya Ana selesai berkutat dengan perasaannya sendiri.
"Hey, berhenti menangis! Kau akan jelek nanti!", Sarah mengendurkan pelukannya saat dirasa tangisan Ana mulai reda. Lalu mereka terkekeh bersama.
"Ingat, kau masih punya kami yang sudah menganggapmu seperti keluarga sendiri! Terutama Tuan Ken, dia akan selalu setia membuatmu bahagia", jemari Sarah bergerak menghapus sisa air mata di sekitar wajah Ana.
"Terima kasih, sayang!", Ana kembali menghambur ke dalam pelukan Sarah.
"Lepaskan, hey! Aku masih normal, Nona!", gurau Sarah seraya mencoba melepaskan pelukan Ana.
"Jika aku yang memelukmu, kau marah. Tapi jika Sam yang memelukmu, kau pasti akan suka, kan?!", ledekan Ana sukses membuat wajah Sarah merah sempurna.
"Mana ada!", Sarah hanya bisa mengelak seadanya sambil memalingkan wajah supaya Ana tak melihat dengan jelas bagaimana rupanya saat ini yang ia yakini sudah seperti kepiting rebus.
"Berhenti mengelak, Sarah!", tukas Ana dan tertawa sepuasnya.
"tok, tok, tok!".
Sarah melangkah ke arah pintu dan membukanya. Terlihat beberapa pelayan berbaris dengan barang yang masing-masing mereka bawa, semua perlengkapan dari ujung kepala hingga ujung kaki yang akan Ana kenakan nanti.
"Permisi Nona, ini adalah penata rias yang akan membantu Nona Ana. Dan ini adalah gaun pengantin yang telah Tuan Ken persiapkan khusus untuk Nona!", salah satu yang sepertinya kepala pelayan di sana memperlihatkan sebuah gaun putih nan cantik pada Ana.
__ADS_1
Wajah wanita itu segera berseri, matanya berbinar hingga berkaca-kaca. Gaun ini adalah gaun yang pernah Ana buat sebagai coretannya dulu saat masih remaja. Bahkan ia sampai lupa telah menyimpan sketsa itu entah dimana.
"Permisi, Nona!", tiba-tiba seorang pelayan maju menerobos ke ambang pintu. Dia datang bersama satu pelayan lagi. Dan keduanya membawa kotak berwarna silver dengan pita besar berwarna senada di tengahnya. Yang satunya lebih besar daripada kotak yang satunya lagi
"Ini untuk Nona Sarah", kedua pelayan itu memberikan dua kotak itu ke tangan Sarah yang wajahnya masih diliputi keterkejutan.
"Tuan Sam harap, nona dapat memakainya nanti!", ucap pelayan itu lagi lalu segera undur diri dari sana dengan tergesa-gesa.
Ana dan Sarah memasuki ruangan itu diikuti dengan penata rias dan beberapa pelayan yang akan meletakkan barang-barang yang mereka bawa. Wajah Sarah terlihat menyelidik ke arah kotak yang ada di tangannya. Rasa penasarannya tak dapat ia hilangkan begitu saja.
"Apa sebenarnya yang ingin dia lakukan?!", gumam Sarah dalam hati.
"Jika kau tidak penasaran, maka aku yang akan membukanya!", goda Ana berpura-pura akan merebut kedua kotak itu dari tangan Sarah.
"Tidak,, tidak! Bagaimana pun juga ini adalah milikku sekarang!", seru Sarah seraya menjauhkan kotak itu dari tangan Ana.
"Baiklah, baiklah! Itu milikmu sekarang. Bahkan kau bisa memiliki pengirimnya jika kau mau!", goda Ana lagi yang sukses membuat wajah Sarah kembali merona.
"Ana! Hentikan! Siapa juga yang ingin memiliki pria bodoh dan gila seperti dia?!", Sarah mengelak terang-terangan namun wajahnya berkata sebaliknya.
"Ya, ya! Terserah apa katamu saja, Nona!", ucap Ana sambil terkekeh riang.
🌺Aku tau kau memang cantik, tapi aku ingin kau lebih cantik lagi hari ini ...
Jadilah pasanganku pada acara pernikahan kakak nanti...🌺
"Woww! Sam melakukan langkah besar rupanya!", ucap Ana setelah mengintip tulisan yang Sam berikan pada Sarah. Dan hal itu sontak mendapat respon cepat darinya.
"Berhenti menjadi penguntit Ana! Sudah,, sudah! Lebih baik kau segera memakai gaun pengantin mu. Karena Tuan Ken tidak memiliki kesabaran lebih untuk menunggumu!", akhirnya Sarah menyerah dengan kalimat-kalimat Ana yang terus saja menggodanya. Sarah mendorong tubuh Ana ke dalam ruang ganti untuk memakai gaun pengantinnya, meskipun sahabatnya itu tidak juga berhenti tertawa.
"Kau juga,, pakai gaun yang Sam berikan!", Ana menjulurkan kepalanya keluar pintu seraya tersenyum.
"Ini perintah!", tambahnya lagi dengan wajah serius.
***
__ADS_1
Setelah satu jam, nampak dua wanita sedang berdiri di depan cermin besar dimana masing-masing mengenakan gaun putih yang berbeda. Sarah telah mengenakan gaun yang Sam berikan tadi, dan rambutnya juga telah ditata sedemikian rupa oleh penata rias. Dan pemeran wanita utamanya juga sudah amat cantik bagai putri dari negeri dongeng.
Ana, wanita itu sudah mengenakan gaun pengantin yang ia rancang sendiri. Gaun indah itu ia rancang dengan lengan pendek menurun hingga melewati bahu. Terdapat bordiran bunga besar pada bagian dadanya, dan bordiran bunga kecil di seluruh bagiannya. Taburan swarovski juga mengelilingi bagian atas gaun itu dari depan hingga ke belakang. Gaun indah itu menjuntai jauh ke belakang. Dengan rambut yang sudah disanggul ke atas, Ana makin cantik bak seorang putri karena di kepalanya terdapat sebuah mahkota kecil bertabur swarovski. Untuk riasan wajah, Ana tetap berpesan untuk membuatnya tetap terlihat natural. Ya, tampilan Ana kali ini benar-benar mencerminkan dirinya, wanita sederhana namun tetap terkesan elegan.
"Wah, Ana! Kau benar-benar, benar cantik hari ini! Kurasa mata Tuan Ken akan perih karena tak berkedip saat melihatmu nanti. Tak akan cukup segala pujian yang akan kuberikan kepadamu! Ya ampun,, aku sangat bangga memiliki sahabat seperti dirimu! Paras dan hatimu benar-benar selaras cantiknya", puji Sarah seraya memeluk Ana dengan eratnya.
"Hey, lepaskan aku! Atau kau akan dimarahi calon suamiku karena merusak gaun dan riasanku. Kau tau bukan kalau calon suami ku itu,, seram!", ucapan Ana lantas membuat Sarah melepaskan rengkuhannya pada tubuh Ana sambil bergidik ngeri.
"Kau bilang siapa yang seram!", suara itu menggema ke setiap sudut ruang ganti itu.
"Tu,, tuan! Saya permisi dulu!", Sarah buru-buru beranjak dari sana. Tanpa melihat jelas ke depan, ia malah menabrak tubuh Sam yang ternyata berjalan lurus tepat di belakang Ken.
"Kau sepertinya sudah tak sabar untuk bertemu denganku!", ucap Sam menggoda setelah berhasil menangkap tubuh Sarah agar tak terjatuh.
"Lepaskan!", Sarah berusaha mendorong dada Sam dengan kedua tangannya agar tubuh mereka menjauh. Benar saja Sam langsung melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang wanita itu. Namun sesaat kemudian ia menggenggam erat tangan Sarah dan membawanya keluar dari sana. Dan wanita itu, Sarah tiba-tiba kehilangan kendali akan dirinya dan pasrah terbawa oleh Sam. Matanya terus menatap ke arah tangannya yang digenggam, karena saat ini tiba-tiba jantungnya terasa berdebar.
"Cantik!", ucap Ken seraya memeluk Ana dari belakang. Ia melingkarkan tangannya di perut Ana dengan begitu posesifnya. Lalu memberi beberapa kecupan pada bahu wanitanya itu.
"Hentikan! Aku takut kau tidak bisa mengendalikan dirimu sebelum acara pernikahan kita dimulai!", ucap Ana sembari melepaskan tangan Ken. Ia sangat tau prianya itu sudah memendam hasrat yang begitu lama disimpan demi menghormati dirinya sebelum mereka sah sebagai suami-istri.
Ken terkekeh mendengar peringatan yang Ana berikan, karena memang benar adanya bahwa ia tidak bisa tahan untuk tidak menyentuh Ana jika sudah berada dalam situasi yang mendukung seperti ini. Ia lalu menggandeng tangan Ana dan berdiri tepat di sampingnya.
"Apakah kau tak ingin memujiku, sayang?!", tanya Ken yang sedang berpose layaknya super model pria.
Ana menutup mulut dengan satu tangannya agar tawanya tak terdengar nyaring di telinga prianya itu. Presdir Ken yang terhormat selalu saja bertingkah konyol jika sedang bersama dirinya. Ya, hanya bersama dirinya.
Memang benar, pria tampan ini makin tampan dengan setelan jas putih yang senada dengan gaun yang Ana kenakan. Pada kemejanya juga menggantung dasi kupu-kupu berwarna hitam. Ana mencubit gemas dagu prianya itu, terlampau terpesona oleh penampilan Ken rupanya.
"Aku tak akan rela jika kau menjadi milik wanita lain!", ucap Ana pada pantulan Ken di cermin besar itu.
"Hey, harusnya aku yang mengucapkan kalimat itu lebih dulu!", balas Ken pada pantulan Ana di cermin.
Mereka terkekeh bersama hingga akhirnya tanpa sadar tubuh mereka saling berhadapan. Saling memberikan tatapan penuh cinta, hingga wajah mereka bagaikan magnet pada satu sama lainnya. Terus mendekat sampai bibir mereka hampir bersentuhan.
Tiba-tiba sebuah tangan menjulur menghalangi bibir mereka yang akan saling bertemu. Itu adalah tangan Ana, ia memutuskan untuk menghentikan tarik menarik dari magnet yang amat kuat itu. Kemudian menarik diri menjauh dari tubuh Ken.
__ADS_1
"Tahan untuk nanti, okeh!" ucap Ana riang seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Astaga!", Ken menepuk keningnya tak habis pikir dengan ulah kekasihnya itu. Tapi ia paham dan mengerti bahwa setelah ini, ia akan bisa menikmati santapannya kapan pun dan dimana pun ia menginginkannya. Lalu, mereka keluar dari ruang ganti itu dengan perasaan penuh sukacita.