Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Ekstra Part 20


__ADS_3

Seorang pria dengan masker hitam sedang melakukan panggilan telepon saat ini. Wajahnya tidak terlihat karena penutup wajah dan topi hitam yang dipakainya.


"Sekarang saya sudah dalam perjalanan menuju bandara, Nyonya! Baik, terima kasih, Nyonya!", lelaki itu pun menutup panggilannya. Kemudian meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket yang ia kenakan saat ini.


Pria itu melirikkan bola matanya ke spion tengah disela-sela dia serius mengemudikan mobil itu. Ia melihat ke bangku penumpang yang berada di belakang. Ia ingin memastikan bahwa orang yang ia bawa masih tidak sadarkan diri. Benar, saat ini Krystal masih terjerat di dunia alam bawah sadarnya. Namun kali ini kondisinya berbeda, tangannya sudah diikat ke belakang dan kakinya juga diikat, tubuh wanita itu meringkuk di kursi belakang. Setelah itu ia menatap lurus ke depan lagi, kembali serius mengemudikan mobilnya menuju tempat tujuan.


***


Semua orang masih berkumpul di rumah Krystal saat ini sambil menunggu kabar. Tak ada satu orang pun yang terlihat santai. Semuanya nampak cemas, termasuk Sandi yang baru saja pulang bekerja.


"Ibu, aku harap Kak Krystal bisa segera ditemukan!", harapnya pada Ibu Asih yang duduk tidak tenang di sampingnya.


"Ya, Ibu harap juga begitu!", Ibu Asih menipiskan bibirnya sambil membalas dengan harapan yang sama.


"Makanya lebih baik kita banyak berdoa!", tambah lagi Ibu Asih sambil menyentuh lengan putra bungsunya itu. Mereka yang tidak memiliki apa-apa untuk membantu hanya bisa memanjatkan beribu doa supaya Krystal bisa segera ditemukan.


Adam yang baru saja menelepon orangnya pun mendengar perbincangan ibu anak itu. Matanya sendu, ia juga berharap hal yang sama pastinya. Sekarang ini Krystal adalah tanggung jawabnya selama ayahnya tidak ada. Dia tidak akan bisa memaafakan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada adik tersayangnya itu. Kini Adam, Sam dan juga Ken sedang sibuk mengerahkan seluruh orang-orangnya untuk menemukan Krystal.


"Ken!", seru Ana agak kencang pada suaminya itu. Namun wajahnya masih menatap ponselnya itu dengan ekspresi terkejut. Tangannya melambai-lambai ke samping, berusaha menepuk bahu suaminya yang sedang melakukan panggilan dengan anak buahnya. Rasa tidak percaya membuat Ana enggan untuk menoleh barang sedetik pun. Ia seperti harus terus melihat pesan itu untuk memastikannya lagi.


"Ada apa, Sayang?", pria itu segera menutup panggilannya, lalu beralih ke istrinya dengan wjah penasaran.


"Lihat ini! Cepat kau tarik semua orang-orangmu, Ken!", seru Ana sambil menunjukkan pesan yang baru saja diterimanya.


Adam dan Sam mendengar ucapan Ana yang agak keras itu. Mereka berdua pun menjadi penasaran dan mendekat. Ketiga pria itu membaca pesan di ponsel Ana dengan berhimpitan saking penasarannya. Tentu saja itu terjadi karena ibu hamil itu mengatakan untuk menarik semua orang yang sedang mencari Krystal saat ini. Sebenarnya ada apa?! Ini sungguh aneh, bukan!


"Ada apa, Ana?", tanya Sarah penasaran yang kemudian mengekori Sam.


"Nanti kau akan tahu sendiri!", ujar Ana sambil tersenyum misterius.


"Kau ini!", Sarah pun hanya bisa mendengus tak berdaya. Huh! Dia sebenarnya juga sangat penasaran. Tapi tidak mungkin pula jika dia ikut berkerumun dengan para pria itu. Jadilah, ia hanya bisa sabar.


dug


Tak sengaja kepala Ken berbenturan dengan kepala adiknya. Sam terlalu bersemangat untuk membaca pesan yang berada di ponsel kakak iparnya itu. Makanya ia tidak sadar sampai kepalanya mengenai kepala kakaknya itu.


Ken memang tidak berbicara, tapi hanya dengan tatapan matanya saja jelas raja singa itu sedang memarahinya. Ken menatap Sam seperti ia akan memakan adiknya itu.


"Maaf, Kakak! Aku tidak sengaja! Ini gara-gara Adam yang terus mendorongku!", ucap Sam berusaha membela diri, meskipun kenyataannya tidak begitu.


"Apa-apaan kau, Sam?!", pungkas Adam tidak terima karena dirinya jadi disalahkan. Padahal jelas-jelas antara tubuhnya dengan tubuh orang aneh itu masih berjarak. Jadi dimana letak dia yang mendorong orang itu?! Berdekatan saja dia enggan, apalagi menempel dengan orang itu! Adam takut tertular aneh seperti dia! Ia memandang Sam dengan dengan tatapan sengit.


"Memang iya! Kau saja yang tidak sadar jika sudah mendorongku!", Sam balik menatap Adam sengit. Dia tidak bisa membiarkan kebohongannya terbongkar begitu saja. Ia tidak ingin kemudian kena marah raja singa itu.


"Diam!", bentak Ken lalu kepada adiknya itu. Memangnya dia pikir kakaknya ini bodoh atau bagaimana?! Tentu saja Ken tahu jika adiknya itu sedang mengada-ngada. Karena ia jug tahu bagaimana jiwa penasaran adiknya itu selalu meronta-ronta jika mendengar sebuah kabar baru. Rasanya ingin sekali segera mengetahui kebenarnannya. Tentu saja ia sangat tahu sifat adiknya yang konyol itu.


Sam langsung menundukkan kepalanya sambil merengut. Usahanya sia-sia! Tetap saja kakaknya itu dapat mengetahuinya! Kadang ia suka lupa harus membodohi siapa. Tentu saja kakaknya dan kakak iparnya itu adalah pengecualian. Ada lagi istrinya, mereka semua adalah orang yang tidak dapat ia bodohi. Harusnya Sam tahu itu!


"Kau segera tarik semua orang-orangmu!", perintah Ken pada Adam sambil mematikan layar ponsel Ana. Ia malas menghiraukan tingkah adiknya itu.


"Tapi kenapa?!", tanya Adam yang sangat keheranan. Dia belum sempat membaca isi pesan itu gara-gara ocehan Sam tadi. Lalu ia kembali menatap sengit orang itu.


"Kenapa matamu itu?!", Sam kembali membalas tatapan sengit Adam. Ia juga kesal karena belum melihat isi pesan di ponsel kakak iparnya. Jiwa penasarannya haus informasi sekarang.


"Kau juga tarik semua orangmu!", perintah Ken jug kepada adiknya itu.Namun nada bicaranya lebih tegas daripada saat berbicara dengan Adam barusan. Sam merengut sebentar, kakaknya itu memang selalu kejam. Sebenarnya siapa yang adiknya di sini?! Kenapa orang lain diperlakukan dengan lebih baik daripada dirinya! Huh!

__ADS_1


"Tapi kenapa, Kak? Tidak bisakah Kakak memberitahu kami lebih dulu?", kali ini Adam setuju dengan ucapan orang aneh itu. Ia menganggukkan kepalanya bersamaan dengan Sam.


"Kita bicarakan di perjalanan!", jawab Ken dengan raut wajah yang sama misteriusnya dengan Ana. Bahkan sudah berulang kali bertanya pun, Ana belum mau memberitahukan hal itu kepadanya. Ken lalu merangkul bahu istrinya itu seraya berkata.


"Ayo! Kita semua harus pergi ke suatu tempat!", ajaknya kemudian. Sepasang suami istri itu memulai langkah mereka sambil saling memandang dengan tatapan yang tak terbaca.


"Ya, ada apa?", Ken mengangkat sebuah panggilan sambil lalu.


"Mobil yang dinaiki Nona Krystal sudah ditemukan, Tuan! Terparkir di rumah kosong! Tapi sudah ditinggalkan sejak beberapa saat yang lalu. Dari jejak yang kami telusuri, sepertinya mereka mengganti mobil di tempat itu", jelas anak buah yang Ken perintahkan untuk mencari keberadaan Krystal.


"Ya sudah tidak apa-apa! Tarik semua orang mundur! Tidak perlu lagi melakukan pencarian!", titah Ken dengan santainya.


"Tapi Tuan,,, ", sebelum orang itu menyelesaikan pertanyaannya, Ken sudah menutup panggilan itu secara sepihak.


***


Di tempatnya, orang itu menatap ponselnya dengan ekspresi kebingungan yang ekstrim. Beberapa menit yang lalu mereka diperintahkan untuk menemukan Nona Krystal secepat mungkin. Dan taruhannya adalah gaji mereka bulan ini. Jika lebih dari setengah jam Ken tidak mendapat kabar, maka mereka tidak akan mendapatkan gaji mereka bulan ini. Lalu,,, setelah berusaha sekeras mungkin untuk segera mendapatkan insformasi, tuan mereka hanya mengatakan untuk menyudahi semua itu dengan mudahnya. Oh, sungguh! Nikmatnya orang-orang yang berkuasa!


***


"Ada apa sebenarnya?", tanya Ibu Asih kepada siapa pun di ruangan itu.


"Sebaiknya kita pergi sekarang, Ibu!", ajak Sam kepada ibu mertuanya itu.


"Tapi ada apa sebenarnya?", tanya Ibu Asih lagi belum puas. Karena memang ia tidak mendapatkan jawaban apapun.


"Nanti kita bicarakan di perjalanan!", ucap Sam berusaha menenangkan ibu mertuanya itu dengan senyumannya.


"Itu tadi Kakak yang bilang!", pungkasnya dengan cepat sebelum ibu mertuanya itu bertanya lagi. Karena sesungguhnya ia memang tidak mengetahui apa pun. Semua informasi ditelan sendiri oleh kakak dan kakak iparnya itu.


"Tunggu sebentar, Ken!", Ana mendadak menghentikan langkahnya. Ia juga melepas tangan suaminya itu dari bahunya.


Ken mengerti dan mengiyakan keinginan istrinya. Yang lain kemudian berjalan ke arah depan, selain Ana, Sarah dan Adam yang membelakangi langkah mereka.


***


Sudah dua jam, ini sudah hampir tengah malam. Tapi Louis tidak mendapatkan kabar apa-apa lagi. Orang-orangnya juga sudah mengabarkan hal yang sama mengenai posisi mobil yang membawa Krystal. Lelaki itu makin pusing dan menggila ketika orangnya mengatakan bahwa mobil itu sudah kosong. Sama seperti yang dikatakan oleh orang suruhan Ken. Jika orang itu telah mengganti mobil untuk menuju suatu tempat lagi.


Sam benar-benar dibuat frustasi. Karena bahkan Manajer Felix pun tidak dapat dihubungi. Ken, Sam, bahkan, Adam yang merupakan kakak dari kekasihnya itu tidak ada yang bisa dihubungi satu pun. Akhirnya pria itu pasrah, dengan atau tanpa bantuan mereka, ia harus bisa menemukan kekasihnya itu.


Malam ini Louis menggila sendirian mencari Krystal ke penjuru kota. Bahkan ke sudut yang kemungkinan tidak terjamah oleh seseorang. Setelan jasnya yang semula rapih, sekarang sudah berantakantak karuan. Wajahnya juga sudah benar-benar kusut, putus asa karena sampai menjelang pagi ia belum mendapatkan kabar baik dari orang-orangnya. Krystal seakan ditelan bumi.


***


Ketika mentari mulai keluar dari peraduannya, barulah Louis melanjutkan langkahnya untuk mendatangi rumah Krystal. Pria itu sangat berharap jika alasan semua orang tidak dapat dihubungi itu karena kekasihnya sudah diketemukan. Tapi sayang seribu sayang, ketika ia sampai di sana, hanya kabar tidak baik yang ia dengar.


"Semua orang belum kembali sejak semalam, Tuan!", pelayan itu memberi jawaban dari pertanyaan Louis.


Louis menurunkan pandangannya. Ia segera membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan cepat. Sebenarnya apa yang terjadi sampai semua orang juga belum kembali?!


Yang pria itu pikirkan adalah jika semu orang sudah pergi ke tempat dimana mereka akan melakukan rencana mereka untuk melamar Krystal. Lalu mereka semua mencari kekasihnya itu dan belum kembali hingga pagi ini.


Maka dari itu ia memutuskan untuk menyambangi kediaman Ana dan Ken. Mungkin saja ada Ana di sana, wanita itu, kan, sedang hamil. Mungkin saja temannya itu sedang berada di rumah dan tidak ikut dalam pencarian. Ia berharap jika temannya itu mengetahui sesuatu. Lelaki itu langsung tancap gas meninggalkan tempat itu.


"Padahal, kan, aku belum selesia bicara!", gumam pelayan itu dengan wajah bingung. Ia memiringkan kepalanya dengan wajah polos. Ia belum sempat mengatakan jika semua orang mengatakan kan melakukan perjalanan yang sangat jauh. Dan mungkin tidak akan kembali dalam waktu beberapa hari. Belum sempat ia mengatakan itu semua, tapi Tuan Louis sudah berjalan begitu saja.

__ADS_1


"Yaaahh!", pelayan wanita itu menghela nafas tak berdaya. Ia berharap Tuan Louis akan segera mendengar kabar ini juga. Ia juga berharap agar nonanya segera ditemukan.


***


Belum sempat masuk ke halaman mansion mewah milik Presdir Ken yang terhormat itu, mobil yang Louis kendarai berpapasan dengan mobil Han yang baru saja keluar dari halaman rumah mewah itu. Keduanya pun memutuskan untuk saling menyapa di luar gerbang.


"Selamat Pagi, Tuan Louis!", sapa Han santun.


"Selamat Pagi juga, Tuan Han! Apakah ada Tuan Ken atau Ana di dalam?", ucapnya tidak berbasa-basi lagi. Wajah kacaunya juga menunjukkan ketidak sabaran. Louis tahu, jika ada Han maka biasanya ada Ken juga.


"Mereka semua tidak ada di rumah saat ini! Aku baru saja diperintahkan Tuan Ken untuk mengambil berkas penting di meja kerjanya. Semalam Tuan mengatakan harus pergi ke negara F secara mendadak", jelas Han.


"Lalu apa dia mengatakan apa tujuannya pergi ke sana?", tanya Louis yang semakin tidak sabar lagi ketika nama negara tempat keluarga dan perusahannya itu berada. Entah mengapa ia menjadi sangat khawatir saat ini.


"Tuan mengatakan untuk menemukan Nona Krystal. Hanya itu saja yang disampaikan oleh Tuan Ken kepada saya", jawan Han lagi seraya mengangguk kecil.


"Baiklah, terima kasih kalau begitu! Aku pergi dulu!", Louis buru-buru pergi meninggalkan Han yang masih mematung di tempatnya.


Pria itu berpikir, bukankah Louis itu adalah kekasih dari Nona Krystal?! Lalu apa yang terjadi sampai Tuan Ken tidak mengabari orang itu?! Hah! Entahlah! Ia tidak mau menambah beban pikirannya lagi. Karena ia saja sudah pusing dengan pekerjaan yang begitu banyak dibebankan kepadanya selama bosnya itu tidak ada di tempat. Ia pun memilih untuk segera berangkat ke kantor saja.


***


Louis segera memesan perjalanan yang tercepat untuk menuju negara F. Kepalanya benar-benar dipenuhi beban pikiran saat ini. Sebenarnya siapa yang menculik kekasihnya itu. Apa yang mereka inginkan?


Mungkinkah itu adalah rival bisnis ayahnya yang ingin merebut atau mungkin menghancurkan perusahaannya dengan Krystal sebagai taruhannya?! Memikirkan hal ini kepalanya makin terasa berdenyut. Dunia bisnis memang kejam, ia tahu itu! Tapi ia tidak megharapkan akan terjadi sesuatu kepada kekasihnya itu.


Louis memejamkan matanya dengan keras sambil berdoa dalam hati, semoga Krystal selalu dalam lindungan Tuhan, sehingga saat ini ia masih baik-baik saja. Pria itu menyalahkan dirinya terus menerus karena gagal melindungi kekasihnya itu. Ia telah gagal menepati janjinya kepada Tuan Bram, ayah dari Krystal sendiri.


Ia menatap ke luar jendela pesawat, baru saja ia menyesal karena tidak menggunakan jet pribadinya. Ia terlalu panik sampai baru memikirkan hal ini sekarang. Sudahlah, semua sudah terlambat untuk disesali. Wajah pucat itu terus menggumamkan nama Krystal selama beberapa jam di dalam pesawat itu.


***


Waktu berlalu begitu cepat sehingga Louis telah tiba di bandara pada sore hari. Lelaki itu sudah meminta supir dari keluarganya untuk menjemputnya di sana. Di negara ini dia bukan orang terkenal, jadi ia tidak perlu menggunakan atribut aneh untuk menutupi wajahnya.


"Kita langsung ke rumah!", perintahnya pada supir pribadinya yang sudah menyalakan mesin mobil.


"Baik, Tuan!", orang itu pun mengangguk patuh.


Pandangan Louis kembali menerawang keluar jendela. Tatapan itu terlalu jauh memandang keluar sana, tapi tidak jelas apa yang ia lihat. Yang jelas, ia harus segera mendiskusikan hal ini dengan orang tuanya. Mungkin saja mereka tahu sesuatu dan bisa membantunya menemukan Krystal. Ia tidak peduli dengan apapun lagi, bahkan ia tidak makan sejak kemarin malam karena hal ini. Louis tidak peduli, yang ada dipikirannya saat ini hanyalah menemukan kekasihnya itu.


***


Louis turun dari mobil sambil menyeret kopernya. Tubuhnya sudah lunglai dan lelah. Tapi pria itu tetap memaksakannya. Yang terpenting ia bisa segera menemukan Krystal. Hanya itu saja yang ia pikirkan sampai saat ini.


Sayup-sayup ia mendengar keramaian dari arah dalam rumahnya. Ia berjalan mendekati pintu besar rumahnya itu dengan perlahan sambil berusaha menangkap dengar apa yang semua orang itu bicarakan saat ini. Lagipula, tidak biasanya juga rumahnya begitu ramai selain sedang ada acara atau arisan mamanya saja. Alis Louis berkerut dalam kala ia mendengar ucapan tidak mengenakan dari mulut mamanya itu.


"Aku harap Louis bisa secepatnya menikah denganmu, Sayang!", suara itu yang ia dengar bersama suara tawa yang lainnya.


Dan Louis segera berpikir jika orang tuanya itu sedang menjodohkan dirinya dengan seseorang. Dan yang paling Louis paling tidak suka jika masa depannya dicampuri oleh orang lain, bahkan jika itu adalah orang tuanya sendiri.


brak


"Mama!", serunya dengan nada tidak senang seraya membuka pintu dengan kasar.


-

__ADS_1


yang ini aku bikin 2400 kata lebih ya teman-teman,, sebagai balasan karena kemaren aku enggak update karena ketiduran 🤭


selamat membaca semuanya 😘


__ADS_2