Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 181


__ADS_3

"Aku permisi kembali ke kamar dulu, ya! Kalian lanjutkan saja obrolannya", ucap Sarah tiba-tiba seraya berlari ke arah tangga. Tangannya kelihatan seperti bergerak menyeka air mata. Keempatnya memandangi punggung Sarah yang makin menjauh dengan pemikirannya masing-masing.


"An, bagaimana ini?", Krystal mulai khawatir dengan keadaan Sarah yang seperti itu. Dari sudut pandangnya, terlihat sekali bahwa Sarah sedang menangis selagi menaiki anak tangga. Bagaimanapun juga kondisi Sarah belum benar-benar baik saat ini. Mungkin untuk masalah traumanya sudah banyak perkembangan. Tapi untuk masalah yang satu ini, tak satupun dari mereka dapat mengerti dan memahami apa yang Sarah inginkan.


"Berikan waktu untuknya menenangkan diri dulu", Ken yang tiba-tiba menyahuti ucapan Krystal sambil memandangi kemana arah kepergian Sarah.


"Sayang!", Ken naikkan dagu istrinya agar wajah mereka berada di posisi yang sama. Ana menatap suaminya lekat, menunggu apa yang akan dikatakan oleh prianya itu.


"Sepertinya hukumanmu untuk Sam harus segera diakhiri. Apa kau tidak kasihan dengan sahabatmu yang kelihatannya sedang memendam perasaannya seperti itu?", Ken berucap lembut supaya Ana mau memahami apa maksud ucapannya. Dan ia juga menyelubungi maksud ucapannya karena merasa iba dengan perubahan sikap adiknya itu. Kedua insan itu sebenernya memiliki perasaan yang sama, hanya saja kenapa rasanya jadi rumit begini hubungan mereka.


"Benar, Ana! Sudahlah hukumanmu pada Tuan Sam. Aku melihat pria itu sudah banyak berubah sekarang. Ia jadi lebih dingin dan acuh terhadap semua orang. Apalagi ketika ada wanita-wanitanya datang untuk menemuimu, belum sampai pintu kantornya pun mereka sudah ditendang keluar oleh petugas keamanan. Dan untuk Sarah,,, hampir setiap malam aku mendengarnya menangis. Sepertinya dia sangat tersiksa dengan perasaannya yang sudah tumbuh untuk Tuan Sam. Entahlah An, tapi ku harap kau memiliki pemikiran yang bijak saat ini", Krystal menjelaskan keadaan yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Bukan bermaksud membela siapapun, tapi sepertinya lebih manusiawi jika membantu kedua makhluk yang memiliki perasaan yang sama itu saling meluruskan hubungan yang ada di antara mereka.


Ken sangat bersyukur dengan apa yang sepupu sari istrinya itu ucapkan. Ia tak perlu repot-repot membela adiknya sendiri di depan Ana. Karena jika orang lain yang melakukannya otomatis Ana akan lebih percaya. Tapi jika ia sendiri yang melakukannya, maka Ana hanya berpikir ini hanya bentuk kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Dan Ana tak akan menerima alasan itu. Ken tau, istrinya ini memang cukup keras kepala.


"Hey baby sayang! Ucapanmu terdengar sungguh manusiawi sekali!", Louis mecubit gemas dagu runcing milik kekasihnya itu.


"Sayaaang,,, kau sedang menggodaku, hemn?! Kau pikir aku masih sekejam dulu! Heh!", Krystal membulatkan matanya ke arah Louis sambil menatapnya sebal.


"Ayolah sayang, menggodamu adalah kesenanganku. Kau tau, kan?!", Louis mendaratkan satu kecupan di pipi kekasihnya itu untuk membujuknya.


"Hemnh,, kau ini menyebalkan!", Krystal mencubit lagi pinggang kekasihnya itu hingga membuat pria itu meringis kesakitan.


"Ternyata aku mengerti apa yang selama ini mereka keluhkan!", gumam Ken sendiri dengan suara pelan.


Ana yang mendengar hal itupun mengerti arah pembicaraan suaminya itu. Maksud suaminya adalah apa yang sering Sam dan Sarah keluhkan setiap kali melihat kemesraan mereka berdua. Keduanya selalu protes dan merasa jengah. Mungkin akhirnya Ken menyadari hal itu sekarang saat melihat adegan mesra dari sepupunya itu. Ia menutup mulutnya dengan tangan agar tawa kecilnya tak terdengar oleh suaminya.


"Baiklah, nanti aku akan memikirkannya lagi! Sekarang kami pulang dulu, ya", Ana memulai diri untuk berpamitan.


"Ayolah, An! Aku sudah datang, apa tidak sebaiknya kalian makan malam di sini bersama kami?", pinta Louis sambil menampilkan senyumnya.

__ADS_1


"Maaf, Lou! Suamiku kelihatannya sudah sangat lelah. Mungkin lain kali kita akan makan malam bersama. Aku janji!", Ana menolak secara halus permintaan temannya itu. Bukan karena apa-apa, tapi ia hanya tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nanti. Keempatnya pun mulai berjalan ke arah halaman parkir rumah mewah itu.


"Baiklah, hati-hati ya!", Krystal melambaikan tangan kepada Ana yang sudah duduk di dalam mobil bersama dengan Ken di sebelahnya.


"Ya,, kabari aku jika kau libur lagi!", sahut Ana saat mobil itu mulai berbalik arah.


"Oke!", Krystal membuat simbol dengan jarinya. Lalu dirinya maupun Louis melambaikan tangan pada Ana dan mobilnya yang mulai bergerak menjauh.


"Sudah makan?", tanya Krystal pada Louis seraya masuk ke dalam rumahnya.


"Beluummm! Aku ingin disuapi oleh kekasihku!", Louis berucap manja sambil menggoyangkan lengan kekasihnya itu.


"Huh! Kau ini manja sekali ya!", Krystal mencubit pipi Louis dengan gemasnya.


***


Wanita itu nampak berulang kali menyeka air matanya. Ia tau ini adalah perasaan rindu kepada orang itu. Ia tau jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat ingin menemui lelaki itu. Tapi,, pikirannya seakan tak mengijinkan tubuhnya untuk memenuhi apa yang hatinya inginkan saat ini. Kejadian tempo hari, isu dan gosip yang selalu ia dengar mengenai lelaki itu bahkan apa yang wanita asing itu ucapkan kepadanya sungguh menyakiti batinnya. Sarah belum bisa memaafkan hal itu saat ini. Sarah belum bisa menerima kenyataan bahwa pria yang mulai dicintainya memiliki banyak kekasih.


Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Sudah saatnya ia berangkat untuk bekerja di club malam milik Ana. Sampai saat ini Sarah masih bekerja di sana. Dokter menyarankan agar ia tetap menjalankan aktifitas sehari-hari seperti biasanya. Itu juga bentuk terapi bagi traumanya. Agar Sarah tetap keluar rumah dan berinteraksi dengan orang lain. Jika Sarah hanya berdiam diri di rumah maka yang ada ia hanya akan terus terpuruk dan termakan oleh trauma mendalam yang dideritanya. Hingga saat ini, perkembangan mulai ia rasakan. Ia sudah memaafkan dirinya atas semua kejadian yang membuatnya harus kehilangan ayah dan calon suaminya itu. Ia sudah merelakan hal tersebut, hingga kini hatinya merasa sedikit lega. Hanya tinggal satu yang ia rasa, perasaan cintanya yang mulai tumbuh untuk pria yang menurutnya itu tidak seharusnya.


Sarah telah bersiap dengan tas di bahunya. Ia sudah mandi dan sedikit berdandan untuk menutupi bekas matanya yang sembab. Lalu ia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum membuka kenop pintu kamarnya dari dalam. Ia harus mempersiapkan dirinya agar terlihat biasa saja di depan semua orang di bawah. Sarah tak ingin membuat mereka semua jadi mengkhawatirkan dirinya. Apalagi ibunya itu, Sarah sungguh tak akan tega.


"Ibu, Sarah berangkat dulu ya!", wanita itu mencium punggung tangan ibunya yang sedang berkutat di dapur membantu beberapa pelayan yang lainnya memasak makan malam.


"Tapi kau kan belum makan, nak! Makanlah dulu baru setelah itu berangkat", Ibu Asih membujuk putrinya yang terlihat sudah siap itu.


"Benar Sarah! Makanlah dulu bersama kami. Jika telat, aku yakin atasanmu tak akan memarahimu. Katakan saja kau habis makan malam dengan Ana. Pasti dia akan mengerti", Krystal tiba-tiba menyambar dari arah depan. Ia sudah menggandeng tangan Louis sekarang.


"Hey, itu sangat tidak profesional, kau tau! Memangnya mentang-mentang aku ini dekat dengan Ana lantas aku bisa seenaknya. Aku tidak ingin orang-orang semakin membicarakan diriku di belakang", Sarah hanya meneguk segelas air putih yang ibunya itu pegang. Sudah naik jabatan tiba-tiba seperti ini saja, karyawan yang lainnya sudah banyak berbicara tidak enak dengannya. Huh, Sarah sungguh sebal sebenarnya. Tapi yasudah, ia lebih baik tak menghiraukan kata-kata menyebalkan mereka itu.

__ADS_1


"Baiklah, terserah kau saja! Pak Fendi sudah siap mengantarmu di depan", selama Sarah tinggal di rumah ini Krystal selalu memaksanya untuk diantar oleh salah satu supir pribadinya. Bukannya tidak pernah menolak, tapi Krystal selalu menakut-nakutinya dengan membawa nama Sam. Agar Sam tidak menemukannya lah, agar bisa cepat kabur jika bertemu dengan Sam lah, dan masih banyak lagi alasan yang digunakan Krystal supaya Sarah tidak menolak usulannya ini.


"Emmhh,, iya! Baiklah semuanya, aku berangkat ya!", tak lupa ia mengangguk pada Louis sambil tersenyum sebagai isyarat pamitnya kepada kekasih temannya itu.


-


-


-


-


-


-


baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya


🌹Hey you, I Love you!🌹


Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan 😊


jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya 😁


terimakasih teman-teman πŸ˜‰


love you semuanya 😘


keep strong and healthy ya πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2