
Perjalanan siang itu terasa sangat lancar. Sam dan Sarah terlibat dalam beberapa perbincangan ringan yang kadang diselipi canda maupun amarah khas Sarah. Pria itu sampai saat ini bahkan entah sampai kapan selalu suka menggoda wanitanya itu.
"Sayang, kita makan siang dulu ya!", ujar Sam pada Sarah yang tangannya mengelus lembut kepala wanita itu dari belakang.
"Tapi nanti kita akan lama!", Sarah merasa tidak enak hati kepada mereka yang sudah sampai terlebih dahulu. Makan siang ini pasti akan memakan waktu kurang lebih satu jam jika mereka memilih untuk makan di restoran. Dan melihat jam yang tertera sekarang, ia merasa tidak sepantasnya mereka yang muda menjadi terlalu terlambat dibandingkan para orangtua.
"Tidak apa-apa! Aku akan melakukan reservasi sekaligus memesan menunya supaya kita bisa waktunya jadi lebih cepat", Sam tersenyum seraya memberikan solusi untuk masalah mereka.
"Baiklah!", wanita itu lupa jika calon suaminya ini bukan orang sembarangan. Tentu saja masalah apapun selalu ada solusinya. Maka dari itu Sarah setuju.
Sam mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya. Mata membelalak lebar saat ia mendapatkan sebuah pesan dari sekretaris yang mengatakan bahwa dirinya dan juga Sarah sudah jadi bahan perbincangan atas insiden yang tadi terjadi di kantornya dimana hal itu melibatkan Megan Aira. Sekretarisnya juga meminta maaf karena hal itu terjadi juga karena video yang ia tayangkan pada akun media sosialnya. Ia melirik ke arah Sarah yang sedang melihat ke arah luar jendela. Untung saja wanita itu belum memegang ponselnya.
Sam segera melihat berita online. Benar saja, beberapa topik mengenai Megan yang menjadi hujatan menjadi panas. Dan yang tak kalah ramai diperbincangkan adalah sosok Sarah yang menjadi pertanyaan para netizen. Mereka mempertanyakan identitas Sarah yang terlihat begitu keren saat memberi pelajaran kepada Megan Aira. Juga statusnya yang sepertinya begitu dekat dengan Sam yang merupakan seorang bos besar.
Pria itu tidak marah sama sekali atas berita-berita yang tayang dengan sangat cepat ini. Ia jadi tidak perlu repot-repot memperkenalkan Sarah ke muka umum, karena dengan masalah ini semua orang jadi mengenal siapa itu wanita yang telah dipilihnya.
Tapi Sam mengingat satu hal bahwa Sarah berbeda. Wanita sederhana ini belum tentu suka dengan ketenaran yang ia punya sekarang, meski ia belum mengetahuinya. Maka dari itu demi kenyamanan Sarah sendiri, Sam memutuskan untuk membeli makanan cepat saji dan memesan makanan secara drive thru.
__ADS_1
"Emmhh, Sarah! Bagaimana jika kita pesan makanan cepat saji saja agar lebih cepat. Kurasa benar katamu, kita pasti akan lama. Jadi kita bisa makan di mobil saja sambil menuju ke sana", Sam beralasan sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya. Ia berusaha memasang wajah setenang mungkin agar Sarah tidak bisa menangkap sesuatu yang ia sembunyikan ini.
"Oh! Yasudah, begitu juga bisa! Lagipula aku tidak enak pada mereka yang sudah sampai lebih dulu. Dan ini sudah terlalu siang!", Sarah mengangguk menyetujui ide yang Sam berikan. Wanita itu tidak menyadari bahwa pria di sebelahnya ini sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kalau begitu aku akan mengabari Ana dulu!", Sarah sudah akan mengambil ponselnya dari dalam tasnya.
"Jangan! Emmhh maksudku tidak perlu! Aku sudah mengabari kakakku tadi jika kita akan langsung ke sana. Jadi kau tidak perlu memberi kabar pada mereka lagi!", Sam segera mencegah Sarah untuk membuka ponselnya. Dengan alasan seperti ini ia berharap Sarah percaya meskipun wajahnya jadi terlihat sedikit gugup sekarang.
"Heh! Yasudah baiklah!", meski menangkap ada yang aneh dengan sikap Sam tapi Sarah tetap menurutinya. Lalu ia memandangi lagi wajah pria itu yang sedang tersenyum padanya. Sudahlah, sepertinya memang tidak ada apa-apa melihat wajah pria itu terlihat tenang lagi.
"Apa yang kau pikirkan, heh?", Sarah memukul kepala Sam saat melihat senyum aneh pria itu dari pantulan kaca. Pria itu pasti sedang berpikir macam-macam pikirnya.
"Aduh! Tidak ada, sayang! Aku tidak sedang berpikiran apa-apa", Sam menjawab sambil mengelus kepalanya.
"Aku curiga dengan senyum anehmu itu!", Sarah tidak menutupi apa yang menjadi pikirannya saat ini. Ia blak-blakan mengutarakan kecurigaannya.
"Ya ampun, sayang! Aku hanya memikirkan betapa cantiknya kau nanti saat memakai gaun pengantin untukku", dengan gemas pria itu menangkup kedua pipi Sarah dan menekannya hingga bibir Sarah terpaksa maju ke depan. Sudah seperti ikan. Sam berkilah dengan melakukan hal ini. Semoga saja Sarah akan kembali percaya.
__ADS_1
"Jangan mencari-cari alasan yang tidak masuk akal! Ayo cepat katakan apa yang kau pikirkan!", ucap Sarah meski kesusahan karena wajahnya saat ini masih ditekan dengan kedua tangan Sam.
"Memang benar, aku sedang memikirkan dirimu, sayang! Apa perlu kau masuk ke dalam otakku sehingga kau bisa tau semua isi pikiranku!", begini saja semoga wanita itu mau berhenti curiga. Toh memang biasanya Sam selalu konyol seperti ini.
"Omong kosong! Pasti kau sedang berpikiran cabul, kan!", tuduh Sarah seraya melepaskan tangan Sam dengan paksa. Ia memandangi wajah pria itu dengan ekspresi khas galaknya.
Ya ampun, Sam pikir Sarah akan benar-benar curiga jika Sam menyembunyikan sesuatu hal darinya. Sam pikir aktingnya sungguh buruk sehingga Sarah bisa mencium ada kebohongan dibalik senyumannya.
"Memangnya kalau iya kenapa? Aku sedang memikirkan malam pertama kita nanti!", Sam tambahkan saja sekalian agar wanita itu lupa dan mengalihkan pikirannya ke arah sini. Meskipun ia tau setelah ini tubuhnya pasti akan jadi bulan-bulanan wanita itu untuk pelampiasan kekesalannya.
"Saamm!!! Jaga otakmu, Sam!", Sarah memaki pria itu dengan sangat kencang. Supir pribadinya tidak merasa terganggu dengan hal ini. Ia justru menjadi senang, karena nonanya ini memang berbeda dari wanita-wanita yang biasa tuannya bawa.
"Ampun, Sarah! Ampuni aku, sayang!", meskipun jadi dipukuli berulang kali karena wanita itu kesal, tapi Sam tetap senang. Karena Sarah yang seperti inilah yang ia sukai sejak awal. Sarah yang galak dan selalu kesal, dan juga Sarah yang sangat menggemaskan.
Mobil itupun berbelok ke sebuah restoran cepat saji untuk membeli beberapa menu makan siang untuk mereka berdua. Tapi Sarah meminta kepada Sam untuk membelikan supirnya juga. Ia tidak enak jika makan hanya berdua, sedangkan ada satu orang lagi di antara mereka tapi tidak ikut makan bersama.
Sam tentu langsung menyetujuinya. Itu bukan permintaan yang sulit. Dan ia juga membenarkan opini yang Sarah ucapkan. Kebaikan hati Sarah membuat Sam tambah mencintai wanita itu. Sam pikir, mungkin karena mereka berasal dari kalangan yang berbeda, jadi Sarah menjadi lebih peka terhadap yang lainnya. Dan merekapun menikmati makan siang mereka sambil meneruskan jalur menuju Butik Aslan dimana yang lainnya sudah menunggu di sana.
__ADS_1