Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 137


__ADS_3

Siang telah menjelang ketika Ken tiba-tiba datang ke rumah besar Wiratmadja. Ekspresinya dingin tapi dari matanya ia bisa memberikan kesan semangat yang membara. Ia membuka pintu mansion mewah itu dengan kedua tangannya, lalu melangkahkan kakinya dengan elegan. Langkahnya panjang, tenang namun juga sedikit tidak sabar.


"Dimana Bunda?", tanyanya pada salah satu pelayan yang tengah membersihkan perabotan di ruang tamu.


"Nyonya Besar sedang berada di kebun belakang, Tuan muda!", pelayan itu menjawab sambil menundukkan kepalanya tak berani menatap majikannya. Begitu semua pelayan di rumah besar itu sangat menaati tata krama dan aturan yang ada. Tanpa merespon, ia langsung melesat menuju arah tempat dimana ibunya berada.


"Bunda!", panggil Ken pada sosok wanita paruh baya yang tengah duduk pada sebuah kursi panjang.


"Ken!", seru Nyonya Rima lemah dengan wajah lesu yang tak dapat disembunyikan.


"Ada apa Bunda?! Apa Bunda sakit?", tanya Ken khawatir dan mendudukkan diri di samping ibunya itu.


"Ini!", tangan gemetar wanita itu menyerahkan sesuatu kepada Ken. Itu adalah foto-foto Joice yang sedang berdiri di depan kamar hotel dan ada seorang pria di dalamnya. Lalu foto lainnya adalah pose intim antara Joice dan pria itu. Wajah pria itu disamarkan sehingga Nyonya Rima tak dapat melihat dengan jelas wajah pria yang sedang bersama calon menantu kesayangannya itu.


"Apa ini, Bunda?", tanya Ken seolah tidak tau menahu.


"Seseorang mengirimi Bunda paket. Dan setelah Bunda buka ternyata isinya adalah ini semua", jelas Nyonya Rima dengan wajah kecewa.


Ken mengeluarkan seluruh foto Joice dari kotak itu dan melihatnya secara bergantian. Lalu ada sebuah recorder tertumpuk di bawah foto-foto itu. Di sana terdapat sebuah perintah "putar", yang artinya si pengirim memerintahkan si penerima untuk membukanya. Ken menekan tombol play.

__ADS_1


Semua percakapan Joice saat melakukan panggilan dengan Relly terekam di sana. Terbongkar semua tabiat calon menantu kesayangan Nyonya Rima itu. Bersedia ditiduri pria lain demi bisa menyingkirkan calon istri pria yang diinginkannya, bahkan juga turut membahayakan nyawa pria idamannya itu sendiri. Borok itu terasa menampar wajah Nyonya Rima begitu keras. Dia tidak menyangka jika wanita yang ia anggap anggun dan memiliki martabat, nyatanya sama saja dengan wanita rendahan lainnya. Malu, ia tak memiliki wajah lagi untuk memandang putranya. Ia yang bersikeras menginginkan Joice untuk menjadi pendamping putranya, dan kini kenyataan ini membuatnya bingung harus mengatakan apa.


"Keterlaluan! Brengsek! Sialan!", Ken mulai berakting kesal. Ia membanting kotak beserta isinya itu ke lantai dan membuat isinya berhamburan. Nyonya Rima memandang nanar ke arah benda-benda yang jatuh tergeletak itu.


"Maafkan Bunda, Ken! Bunda sungguh tidak tau jika sifat asli Joice ternyata seperti ini! Sungguh Bunda benar-benar menyesal", ucap Nyonya Rima lirih tanpa sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tak sanggup menatap putranya.


"Ken sudah memberinya kesempatan, Bunda! Ken benar-benar kecewa!", Ken berucap seakan-akan ia benar-benar menyelami perkataannya.


"Maafkan Bunda, Ken! Bunda tau pernikahan kalian tinggal menghitung hari lagi, tapi Bunda akan menyerahkan segala keputusannya kepadamu. Bunda janji, Bunda tidak akan egois lagi. Bunda sungguh menyesal!", kini wanita paruh baya itu memberanikan diri menatap putranya agar Ken bisa melihat keseriusan dan ketulusan pada apa yang ia ucapkan. Ia juga tak mungkin membiarkan putranya menikah dengan wanita yang tidak tepat, karena kini baginya Joice hanyalah sosok yang menjijikan baginya.


"Apakah Bunda serius?", tanya Ken sungguh-sungguh dengan mata yang berbinar.


"Apapun?", lagi-lagi Ken harus memastikan bahwa ibunya itu berkata jujur dan tulus.


"Benar Ken! Apapun! Kenapa kau terdengar seperti tidak mempercayai Bunda, sih?!", Nyonya Rima sedikit tersinggung dengan tingkah putranya. Namun ia tidak sakit hati, karena ia pikir wajar bagi Ken bertanya seperti itu, mengingat bagaimana dulu ia terlalu memaksakan kehendaknya pada Joice. Dan bahkan wanita itu berani membahayakan nyawa putranya itu. Apalagi saat melihat Ken harus kehilangan Ana, hancurnya hati putranya itu terasa sampai ke dalam hatinya juga. Karena bagaimanapun juga, ia adalah ibu kandung Ken. Ia akan merasakan apa yang putranya rasakan, meski masih banyak ego di sana.


"Baiklah kalau begitu! Terima kasih, Bunda! Kuharap apapun keputusan dan langkah yang akan aku ambil Bunda akan selalu mendukungku!", Ken segera memeluk Nyonya Rima dan mengulas senyumnya.


"Kau adalah putraku, Bunda pasti akan selalu mendukungmu, sayang!", Nyonya Rima membalas pelukan putranya lalu mengusap lembut rambutnya. Sebagai seorang ibu, sebenarnya ia termasuk sosok ibu yang sangat menyayangi putra-putranya. Hanya saja sebagai manusia, setiap orang tua tak luput juga dari sebuah kesalahan. Sedangkan putranya itu sedang tersenyum penuh kemenangan, karena rencananya berhasil.

__ADS_1


"Ah ya, Ken! Bukankah siang ini kau harusnya ada jadwal untuk foto prewedding dengan Joice? Lalu harus bagaimana sekarang?", Nyonya Rima melepas pelukannya lalu menatap Ken dengan bingung.


"Aku sudah punya rencana, Bunda!", Ken tersenyum penuh arti.


Mata Nyonya Rima menyipit menatap putranya, menelisik ekspresi wajah Ken saat ini.


"Apa semua ini adalah rencanamu ,sayang?!", tanya Nyonya Rima dengan tatapan curiga.


Ken tak bisa menyembunyikan wajahnya yang bahagia karena sampai sejauh ini rencana yang mereka jalankan selalu berjalan dengan lancar. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lalu mengeluarkan senyum anehnya.


"Jadi benar kau yang mengirimi Bunda foto-foto ini, kan?", Nyonya Rima menghela nafas lalu tersenyum teduh kepada putranya.


"Maaf Bunda, Ken dan yang lainnya memang sudah merencanakan ini semua. Tapi ini juga demi kebaikan kita bersama. Ken harus menyelidiki seluk beluk calon istri Ken seperti dulu Ken menyelidiki Ana sebelum benar-benar mengenalnya. Mengapa Ken berani jatuh cinta pada Ana, karena menurut Ken dia adalah wanita yang sempurna tanpa celah. Dia tidak seperti wanita kebanyakan yang hanya menginginkan harta dan kedudukan yang Ken miliki saat ini. Bahkan dia tidak mengenal Ken sama sekali saat kami pertama bertemu dulu. Dan setelah mengetahui bagaimana Joice sebenarnya, Ken rasa Bunda juga harus mengetahui yang sebenarnya", jelas Ken panjang lebar.


"Apakah kau begitu mencintai wanita itu?", Nyonya Rima menggenggam jemari putranya erat. Rasa bersalah membentang di seluruh relung hatinya. Mengapa ia begitu egoisnya selama ini tidak memikirkan bagaimana perasaan putranya selama ini. Terlebih dia juga tau betapa sulitnya Ken dekat dengan wanita, hingga orang-orang berpikir bahwa ia tidak menyukai wanita dan bagaimana selama selama ini ia begitu dingin dan tertutup bahkan terhadap keluarganya sendiri. Tapi kini, Ken yang ada di hadapannya dengan sukacita mau berbagi obrolan dengannya. Hati Nyonya Rima menjadi hangat seketika. Hatinya sangat gembira melihat perubahan Ken yang semakin terbuka.


"Tentu saja, Bunda! Ken pernah bilang kan, Ken tak akan menikah dengan siapa pun kecuali, Ana!", ucap Kem serius seraya menatap dalam ke arah mata ibunya.


"Tunggu,, tunggu,, tunggu!", Nyonya Rima melepaskan genggaman tangannya pada jemari Ken lalu melipat tangannya di depan dada. Otaknya saat ini sedang bekerja mencerna semua ucapan Ken barusan. Ia menatap putranya itu penuh selidik.

__ADS_1


__ADS_2