Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 99


__ADS_3

Makan malam itu sunyi. Hanya terdengar dentingan alat makan yang saling bekerja sama menyiapkan sesuap makanan penuh nutrisi dengan nasi beserta sayur mayur juga lauk pauknya ke dalam mulut. Nyonya Rima tetaplah dengan pendiriannya bahwa ia tidak atau belum ingin untuk mengakui Ana sebagai kekasih Ken saat ini. Ia masih dengan sikap keras kepalanya untuk mempertahankan siapa yang ia pastikan pantas untuk berada di sisi Ken, putranya.


Sedangkan Tuan Dion, ia sangat tau seperti apa putra sulungnya itu. Ken bukan juga orang yang sembarang memilih seseorang untuk menempati bagian penting dalam hidupnya. Ia pikir Ken pasti sudah mempertimbangkan semuanya saat ia memilih Ana sebagai kekasihnya. Pasti Ken sudah menyelidiki latar belakang dan segala sesuatu tentang wanita anggun di hadapannya ini. Dan lagi, watak Ken yang sangat keras tak akan bisa digoyahkan dengan sepatah dua patah kalimat dari siapa pun ketika hatinya sudah teguh pada apa yang sudah ia putuskan. Persis sama seperti Tuan Dion dulu ketika muda.


Tuan Dion menipiskan bibirnya mengingat bagaimana dirinya saat muda dulu, juga saat ia bersikeras ingin mendapatkan Nyonya Rima sebagai istrinya. Sampai saat ini ia masih begitu mencintai istrinya itu dengan segala kelebihan dan kekurangannya.


Akhirnya Tuan Dion tak tahan dengan suasana kaku di meja makan ini. Ia meletakkan sendok maupun garpu yang ia pegang di meja dengan hati-hati. Kemudian menautkan kedua jemari tangannya untuk menyanggah dagunya.


"Ken, apa pekerjaanmu berjalan dengan lancar?", Tuan Dion mulai membuka pembicaraan.


"Sangat lancar, ayah. Saat ini aku sedang menyelesaikan beberapa urusan di kantor, karena minggu depan aku akan cuti", akhirnya Ken menemukan cela untuk membuka obrolan tentang tujuan utama di datang ke rumah besar ini.


"Cuti?!", seru Tuan Dion dan Nyonya Rima bersamaan.


Tak biasanya seorang Presdir Ken itu akan mengambilp00 cuti. Mereka sangat mengenal bagaimana Ken selalu gila kerja dan hanya mengambil libur pada akhir pekan seperti biasanya. Tak pernah sehari pun Ken mengambil kesempatan cuti untuk sekedar mengistirahatkan diri dari penatnya pekerjaan yang menantinya sehari-hari.


"Ya, cuti!", Ken menggenggam tangan Ana di bawah meja makan. Sangat jelas tangan Ana sudah dingin dan gemetar.


"Pekan depan, aku akan melangsungkan pernikahanku dengan Ana. Aku harap ayah dan bunda bisa menghadiri acara pernikahan kami", ucap Ken tenang dengan nada ketegasan di dalamnya.


"Ken!", seru Nyonya Rima kesal. Ia segera bangkit berdiri dan sudah siap merapalkan semua kata yang ada di dalam benaknya. Ceramah panjang lebar siap menanti mengisi rongga telinga putranya itu dengan geraman yang ia tahan.

__ADS_1


Tuan Dion memegang lengan istrinya untuk sekedar meredakan emosi yang siap meluap. Ia menenangkan istrinya itu dengan mengusap lembut lengannya dan memberi sedikit tekanan di sana supaya Nyonya Rima mau duduk kembali.


Hal itu langsung disetujui oleh Nyonya Rima tanpa sadar, akhirnya ia mendudukkan diri kembali sambil menggeram marah.


"Ken!", panggil Tuan Dion meminta penjelasan. Ia tak masalah dengan apa yang sudah Ken putuskan, namun perlu ada penjelasan dari apa yang baru saja ia katakan.


"Ayah, Bunda, aku sangat mencintai Ana. Hanya Ana yang mampu menyentuh hatiku sampai saat ini. Bukankah ayah dan bunda yang paling tau bahwa tak pernah ada wanita dalam hidupku. Dan sekarang saat aku sudah menemukannya, maka sudah ku putuskan untuk menjadikannya bagian dari hidupku selamanya", tutur Ken tenang.


"Ana adalah wanita baik-baik dan juga dari keluarga terpandang. Dia cantik dan juga cerdas. Bukankah begitu tipe wanita yang bunda inginkan?!", sekilas Ken menatap bundanya yang sedang menggeram marah.


"Tenang saja bunda, aku sudah sangat mengenal Ana. Hanya dia yang pantas menjadi pendampingku, menjadi istriku, menjadi Nyonya muda Wiratmadja. Hanya dia yang mencintaiku begitu tulus tanpa menginginkan apa pun dari keluarga ini. Tidak seperti wanita kebanyakan yang bunda kenal. Mereka kebanyakan hanya menginginkan status dan kedudukan untuk tujuan mereka".


"Dalam hidupku hanya ada dua wanita. Pertama adalah bunda dan yang kedua adalah Ana. Aku sangat mencintai Ana. Jadi tolong mengertilah!", Ken mengakhiri kalimatnya dengan mengecup punggung tangan Ana dan saling melempar senyuman dengan wanitanya itu.


"Drrapp!", suara kaki Ana yang dengan sigap sudah berdiri.


Ken berusaha menariknya kembali, namun Ana menahannya. Wanita itu menggeleng pelan sambil mengulas senyuman. Sebenarnya Ken khawatir jika Ana akan takut untuk menghadapi bundanya itu. Tapi entah, Ken belum bisa membaca apa yang akan Ana lakukan selanjutnya.


"Nyonya, mohon restui pernikahan kami. Aku akan sangat bahagia jika Nyonya mau memberi restu anda yang sangat berharga itu kepada kami", Ana membungkukkan badannya memberi penghormatan yang begitu tinggi. Ia menurunkan egonya yang sangat ingin menyambar semua kata-kata menyakitkan yang akan diucapkan oleh bundanya Ken itu.


"Ana!", seru Ken dengan nada lemah. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada Ana. Ken merasa Ana tak perlu melakukan hal seperti itu. Biar dia sendiri sebagai seorang lelaki yang menjadi tameng untuk hubungan mereka sendiri. Toh apapun keputusan bundanya, Ken tak peduli.

__ADS_1


Wanita itu menoleh ke arah Ken sambil menguraikan senyumnya yang menenangkan. Kali ini untuk pertama dan terakhir, Ana menunduk, ia sedikit menurunkan harga dirinya demi memperjuangkan masa depan hubungan mereka. Tapi setelah ini, jika wanita paruh baya itu masih keras kepala, Ana akan bersikap lebih tegas.


"Kau pikir hanya dengan cinta itu cukup?! Kau pikir dengan hanya menjadi seorang tuan putri saja cukup?! Kau tidak bisa dibandingkan dengan Joice yang lebih dari segi apapun sebagai seorang wanita...", sanggahan berapi-api itu terhenti oleh seruan Tuan Dion padanya.


"Bunda!", teriakan itu melengking di telinga yang masih berada di sana. Tuan Dion sudah geram dengan sikap arogan istrinya yang tak kunjung reda.


"Dengan siapa putramu akan bersama, biarlah dia yang menentukan sendiri. Dia sudah dewasa, membangun perusahaan yang begitu besar bahkan dia bisa. Apalagi berurusan dengan pendamping hidup, itu bukan lagi hal yang pantas kita pertanyakan kepadanya. Tugas kita sebagai orang tua adalah mendoakan yang terbaik untuk anak kita. Bukan memaksakan kehendak seperti saat putramu sekolah dasar dulu. Hentikan semua keegoisanmu, Bunda!", Tuan Dion kembali mendudukkan diri sembari menghela nafas panjang untuk meredakan gelombang perasaan yang tadi meluap.


"Tapi ayah, putra kita adalah seseorang yang sangat disegani oleh banyak orang. Maka dari itu, ia harus memiliki pendamping yang sebanding untuk dirinya. Wanita yang...", lagi-lagi ucapan Nyonya Rima terputus di tengah jalan.


"Hentikan!", suara tenang itu tidak sejalan dengan tatapan matanya yang tajam.


Ken menghela tubuh Ana supaya berdiri berdampingan dengannya. Ia mengecup lembut pucuk kepala Ana tanpa melepas sorot matanya yang terasa menikam.


"Bunda, dengan atau tanpa restumu, aku akan tetap menikah dengan Ana. Aku hanya akan menikah dengannya. Karena dia wanita satu-satunya dalam hidupku selain dirimu, Bunda!", dengan wajah tenang Ken mengucapkan kalimatnya dengan penuh tekanan. Namun tatapan tajamnya menyiratkan sebuah keputusan mutlak yang tak dapat dirubah oleh siapa pun.


Ken memutar tubuhnya dan segera mengajak Ana untuk meninggalkan tempat itu. Tapi, lagi-lagi Ana menahan tangannya dan memaku tubuhnya di tempat. Membuat Ken ikut menoleh ke arahnya.


"Dengan segala hormat aku telah memohon restu dari Nyonya yang begitu mencintai putranya ini. Tapi, kurasa bukan cinta yang anda tunjukkan kepada Ken. Hanya sebuah obsesi besar dan bahkan kau menganggap putramu bagai barang dagangan yang siap kau jual kepada siapa pun yang menurutmu cocok untuknya. Jika kau benar mencintai putramu, harusnya kau bahagia melihat putramu bahagia, Nyonya", Ana mengakhiri kalimat tajamnya dengan begitu tenang.


Ken dan Tuan Dion nampak terperangah oleh sikap yang Ana tunjukan kepada mereka. Ken tidak begitu terkejut dengan hal itu karena ia tau kekasihnya memanglah seorang wanita yang berbeda. Pria itu menipiskan bibirnya, ia tersenyum bangga.

__ADS_1


"Satu hal yang aku janjikan kepadamu, Nyonya! Akan aku pastikan Ken bangga memiliki istri seperti diriku!", Ana membalikkan tubuhnya bersisian dengan Ken dan melangkah pergi bersamaan.


__ADS_2