Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 61


__ADS_3

Mereka terlelap lagi ke alam bawah sadar mereka dengan kenyamanan yang baru saja mereka temukan.


***


Pagi hari telah tiba dengan matahari yang menyambutnya. Sinarnya sudah mulai memasuki dan menghangatkan kediaman Ana.


Ana sudah mandi dan terlihat rapi dengan gaun rumahannya dengan panjang selutut berwarna peach dan rambutnya yang di sanggul asal ke atas. Ia menuruni tangga dengan lari kecil sambil tersenyum ceria. Seakan ia sudah melupakan kejadian kemarin yang menyayat hatinya.


"Pagi ayah!", sapanya pada seseorang yang berada dibalik koran yang tengah dibacanya. Orang itu duduk di ujung kursi pada ujung meja tempat Tuan Danu biasanya duduk.


"Emmhh!", jawab orang itu singkat.


Ana yang melihat piring orang itu masih kosong pun mencoba menawari roti yang akan ia oleskan selai.


"Apa ayah mau roti?", tanya Ana yang belum menyadari apa pun.


"Emmhh!", jawaban sama yang orang itu keluarkan.


"Ayah sungguh menyebalkan! Mengapa menjawabku hanya dengan emm, emm, saja! Tapi apa ayah tau, semalam aku memimpikan Ken. Aku tiba-tiba merasa bahagia bertemu dengannya. Dan..dan..dan aku..", pipi Ana merona mengingat di mimpinya ia mengatakan pada Ken bahwa ia mencintainya dan juga mereka sempat berciuman dengan mesra.


"Dan kau berciuman dengannya bukan?!", ucap Ken yang kemudian melipat koran yang dibacanya.


Ana terkejut seketika, mulutnya menganga mencoba menerima bahwa yang ada di hadapannya ini adalah sebuah kenyataan. Ken ada di hadapannya sambil tersenyum manis padanya.


Hingga roti dan pisau yang ia gunakan pun jatuh mengenai piring menimbulkan bunyi nyaring dan menyadarkan Ana dari lamunannya.


"Apakah aku bermimpi lagi?", gumam Ana bertanya pada dirinya sendiri. Ia menepuk-nepuk pipinya untuk mencari tahu ini adalah kenyataan atau mimpi.


Ken yang melihatnya pun langsung bangkit menghampirinya. Ia meraih tangan Ana yang sedang menepuk pipinya dan menariknya hingga ke belakang tubuh Ken.


Kemudian ia membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada wajah Ana yang masih terduduk tak melawan. Langsung saja, Ken mengecup bibir Ana lembut.

__ADS_1


Ana membulatkan matanya saat ia menyadari bahwa ini bukan mimpi. Ini adalah kenyataan, Ken nyata berada di hadapannya dan sedang menciumnya. Ana tersenyum pada bibir Ken yang masih menempel dengan bibirnya. Ia memejamkan matanya dan melingkarkan tangannya pada leher Ken.


Menyadari gerakan Ana yang menerima perlakuannya pun, Ken mengangkat tubuh Ana hingga Ana pun terduduk di meja makan. Ken mulai menyesap bibir Ana dan melumatnya lembut. Ana membalas gerakan bibir Ken hingga mereka terbuai dalam alunan kasih sayang yang menyenangkan.


Bi Rani yang akan sedang melewati ruangan itu pun membuang pandangannya ke arah lain. Sambil terus berjalan ia tersenyum dalam diam. Ia turut bahagia melihat nonanya yang ia asuh sejak kecil sudah menambatkan hatinya pada pria yang tepat. Karena selama ini pun, Tuan Danu kerap menceritakan perihal Ana dan Ken padanya.


Ana menggigit kecil bibir Ken untuk menyudahi pagutan mereka. Pasalnya Ana hampir saja kehabisan nafas. Dadanya naik turun menandakan bahwa saat ini nafasnya sedang tersengal.


Mereka saling manutkan kening sambil mengatur deru nafas mereka yang masih belum normal. Ana dan Ken pun saling melempar senyuman.


"Sekarang kau percaya kan bahwa ini bukan mimpi?", tanya Ken yang sudah memberi jarak pada wajahnya dan wajah Ana.


"Emm,, emm", Ana mengangguk sambil tersenyum. Ia menundukkan kepalanya dengan rona merah di pipinya.


"Aish!", kemudian dia mendesah pelan.


"Ada apa?", tanya Ken dengan alis yang sudah berkerut.


"Menurutmu?!", ucap Ken sambil mengedikkan bahunya.


"Emm,, lalu bagaimana bisa kau semalam ada di rumahku hingga pagi ini?", tanya Ana bingung.


"Lalu apa kau tak mempertanyakan bagaimana kau bisa selamat sampai di rumah?", tanya Ken santai yang kini sudah melipat tangannya di depan dada dengan gaya congkaknya.


"Emm,, emm, hehe!", Ana memainkan jemarinya karena merasa sedikit gugup bagaimana harus menjawab pertanyaan Ken karena ia sendiri juga tidak tau jawabannya.


"Memangnya bagaimana aku sampai di rumah?", tanya Ana lambat-lambat yang menyuarakan keraguan dalam kalimatnya.


"Tanya ayahmu!", jawab Ken datar.


"Ahh,, lalu dimana ayah sekarang?", tanya Ana refleks saat menyadari ayahnya tak ada. Ia menyapu ke sekeliling rumah, namun tak mendapati suara maupun hawa ayahnya.

__ADS_1


"Ayahmu pergi keluar kota, jadi paman menitipkan mu padaku", jelas Ken seraya melangkah ke arah kursinya lagi.


"Oh, baiklah kalo begitu. Bagaimana kalau kita sarapan dulu sekarang?!", ajak Ana yang sudah memegangi roti dan pisau yang ia gunakan untuk mengolesi selai tadi.


"Sebenarnya aku sudah kenyang, tapi karena kau memaksa jadi buatkan saja aku satu!", ucap Ken datar.


"Kenyang? Memangnya kapan kau makan?", tanya Ana yang keheranan. Pasalnya saat Ana datang piring Ken masih kosong.


"Baru saja!", ucap Ken sambil memonyongkan sedikit bibirnya dengan nada menggoda.


"blush!", pipi Ana memerah dan sudah seperti tomat.


"Huh, kenapa pagi ini sudah panas sekali!", gerutunya sambil mengipasi wajahnya dengan satu tangan.


Ken memperhatikan Ana sambil terkekeh ringan. Jika melihat Ana yang seperti ini rasanya Ken ingin menerkamnya lagi dan memasukkannya ke dalam kamar. Bisa dibayangkan sendiri apa kelanjutannya jika raja singa sudah ada maunya.


"Cepat berikan aku satu! Atau aku akan memakan mu lagi sekarang", ucap Ken sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Baiklah, baiklah!", dengan cepat Ana menaruh selembar roti dengan selai coklat ke piring Ken. Ia tak ingin menjadi santapan si raja singa lagi.


***


Sinar matahari mulai menyakiti sepasang mata yang mulai mengerjap akibat silaunya. Pria itu mulai mengerjapkan matanya sambil mengumpulkan kesadarannya. Saat matanya terbuka, ia langsung disuguhkan pemandangan indah dari wajah wanita yang begitu polos saat masih terlelap. Sam tak mengubah posisinya yang masih mendekap Sarah. Ia terlihat menikmati posisi mereka saat ini. Sam menyunggingkan senyumnya sambil terus menatapi wajah Sarah yang cantik saat tertidur menurutnya.


Baru saja Sam akan mengusap pipi Sarah, tiba-tiba wanita itu menggeliat kecil. Sam tak bergeming, ia malah pura-pura tidur lagi dengan memejamkan matanya.


Sarah merasa tidurnya kali ini benar-benar nyaman. Ada sebuah tangan menjadi bantalannya dan tubuh seorang lelaki yang mendekapnya memberikan kehangatan untuknya. Ia masih mengerjapkan matanya seraya mendorong kepalanya hingga menempel pada dada bidang lelaki itu dan mempererat rangkulan tangannya. Sam menahan senyumnya sambil memejamkan mata.


"Tunggu, tunggu! Ini tidak benar! Aku tidak sedang berkencan dengan siapa pun saat ini. Jadi siapa pria yang sedang bersamaku sekarang?!", gumam Sarah dalam hati.


Sarah membuka sebelah matanya sambil mendongak ke atas untuk melihat siapa gerangan pria yang sedang mendekapnya selama tertidur semalam.

__ADS_1


"Whaatt?!", Sarah menjerit tanpa suara. Ia merutuki dirinya sendiri saat tau siapa pria yang tengah bersamanya saat ini. Sam menyadari pergerakan Sarah, ia tersenyum saat kepala Sarah sudah tidak melihat ke arah wajahnya lagi.


__ADS_2