
"Whaatt?!", Sarah menjerit tanpa suara. Ia merutuki dirinya sendiri saat tau siapa pria yang tengah bersamanya saat ini. Sam menyadari pergerakan Sarah, ia tersenyum saat kepala Sarah sudah tidak melihat ke arah wajahnya lagi.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Ana dan Ken sedang asik menonton televisi sambil mengobrol dan sesekali mereka tertawa bersama.
"Apakah kau tidak bekerja hari ini?", tanya Ana yang kini sudah bersandar pada bahu Ken sambil memakan beberapa cemilan.
"Tidak, aku malas!", jawab Ken singkat yang sedang mengetik sesuatu pada ponselnya.
"Hey, kau ini bosnya. Jadi kau harus memberi contoh yang baik pada karyawan mu, Ken", Ana membalikkan posisi duduknya menghadap Ken dengan bersila sambil menyangga dagunya dengan satu tangan.
"Nah kau tau bukan, aku ini bosnya. Maka aku memiliki otoritas untuk menentukan kapan aku akan libur. Lagipula ada Han di sana, aku sudah menyerahkan semua urusanku padanya", ucap Ken dengan nada congkaknya.
"Huh, sombong sekali kau!", gumam Ana pelan.
"Aku masih bisa mendengar mu, nona!", Ken yang sedang bersandar pada punggung sofa pun melirik tajam ke arah Ana.
"Dan sekarang tugasku di sini adalah untuk menjaga dan melindungi mu. Begitu isi perintah dari Tuan Danu Winata", Ken mengangkat tubuh Ana yang terasa ringan baginya hingga berada di pangkuannya.
"Hey!", teriak Ana yang kaget karena tiba-tiba diangkat oleh Ken.
"Dan tugasmu adalah menyenangkan hati pelindungmu ini agar secara sukarela mau menjaga dan melindungi mu tanpa imbalan", Ken makin merapatkan tubuh Ana yang berada di pangkuannya dengan tubuhnya yang masih santai bersandar pada sofa.
Ana menyanggah tubuhnya agar tak terlalu rapat dengan tubuh Ken dengan menyanggah kedua tangannya pada dada bidang Ken. Ia menatap sebal ke arah Ken.
"imbalan? menyenangkan hati mu? jadi kau tidak benar-benar tulus menjaga ku?", ucap Ana yang kini tengah memainkan salah satu telinga Ken tanpa bermaksud apa pun.
Tapi sebagai lelaki dewasa tentu Ken merasakan gejolak yang membuatnya ingin menerkam dan merasai wanitanya saat tanpa sadar Ana tengah memancing gejolak pria sejatinya untuk bangkit. Gejolak yang tak pernah ia rasakan pada wanita mana pun sebelumnya. Ken mencium Ana singkat.
"Apakah kau sedang menggoda ku?", Ken menyelipkan beberapa anak rambut ke belakang telinga Ana dan membalas perbuatan Ana padanya barusan.
Ana merasa bulu di sekitar tengkuknya berdiri. Ia merasa geli dan merinding saat Ken dengan lembut memainkan telinga Ana dan menyentuh dengan lembut di sekitar sana. Sejenak Ana menikmati sentuhan yang Ken berikan sampai memejamkan matanya. Dan Ken pun tersenyum melihat Ana yang hanyut dalam permainannya.
__ADS_1
Tapi sedetik kemudian, alarm waspada menyala pada benak Ana. Secepat kilat Ana membuka mata dan langsung membulatkannya lebar-lebar. Ia menatap tajam ke arah Ken. Dan seketika itu pula gerakan tangan Ken berhenti.
"Jadi begini kelakuan kakak ku rupanya", suara itu menggema dari ambang pintu rumah Ana.
Ken dan Ana refleks menoleh bersamaan ke arah asal suara. Di sana sudah ada Sam dan Sarah berdiri berdampingan sambil menahan tawa dengan tangannya.
Ken sengaja tak bergeming dari posisi wajahnya yang agak condong setelah melihat dua orang yang baru datang itu. Dia selalu mempunyai ide fantastis di saat-saat tak terduga.
Hingga saat Ana menoleh, bibir Ana tepat menyentuh bibirnya. Mereka terdiam sesaat, bahkan hubungan mereka yang sudah sampai tahap ini masih membuat jantung keduanya berdetak amat cepat. Ken lebih dulu menguasai dirinya, dan ia pun tersenyum masih dengan bibirnya yang bersentuhan dengan bibir Ana.
Ana masih memaku wajahnya. Kesadarannya belum kembali sepenuhnya, hingga Ken menjauhkan wajahnya lebih dulu.
"Kau lihat bukan! Dia lah yang sangat agresif terhadapku!", seru Ken memasang wajah tak bersalah dan merentangkan tangannya oada sandaran sofa.
Kesadaran Ana sudah kembali sempurna tepat saat Ken menyebutkan kata-katanya. Langsung saja ia mendaratkan pukulan kecil pada bahunya.
"Jadi kau wanita seperti itu rupanya?!", kali ini Sarah sudah tak sabar ingin mengejek sahabatnya itu. Sam dan Sarah pun meledak tawanya.
Ana memperhatikan keduanya secara bergantian. Ia melirik ke kanan dan ke kiri tanpa henti dengan tatapan ingin mengoyak seluruh isi tubuh mereka.
Ana mengangkat salah satu tangannya di udara. Kedua orang itu langsung memejamkan matanya erat-erat. Tanpa sadar Sarah mencengkram ujung jas milik Sam, sekilas Sam mengulas senyumnya. Tapi kemudian ia memasang wajah ketakutannya lagi, pasalnya ia sendiri telah merasakan kebuasan dari singa betina milik kakaknya ini.
Ternyata Ana membekap mulutnya sendiri dengan erat. Dari pandangan matanya belum bisa dibaca apa yang sebenarnya terjadi pada Ana saat ini. Ia bergerak ke arah Ken dan mendudukkan diri di sebelahnya. Kemudian dia membisikkan sesuatu pada telinga Ken. Kedua orang yang sedang berdiri itu menatap mereka dengan tatapan menyelidik. Dan tak lama tawa mereka pun pecah. Ken dan Ana tertawa hingga hampir menangis.
"Lihatlah tampilan mu di cermin, Sam! Kau sudah seperti korban kekerasan dalam rumah tangga!", ucap Ana di sela tawanya.
Sam dan Sarah pun saling melirik. Sam mencibir bibirnya ke arah Sarah.
"Ini akibat ulahmu! Aku jadi bahan tertawaan!", gerutu Sam pelan kepada Sarah.
"Salahmu sendiri sudah lancang mengambil keuntungan dariku!", ucap Sarah pelan menjawab tuduhan Sam.
FLASHBACK ON
__ADS_1
Sarah refleks langsung menendang Sam menjauh dari tubuhnya hingga Sam tersungkur ke lantai. Ia memeriksa apa yang dipakainya saat ini, dan merasa lega setelah mendapati semuanya masih lengkap. Ia menarik selimut yang berada di kakinya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Hey apa yang kau lakukan!", teriak Sam sambil mengaduh kesakitan dari samping ranjang.
"Kau! Apa yang kau lakukan kepadaku? Dimana Ana? Katakan? Dimana dia saat ini?", tanya Sarah menuntut. Wajahnya sudah merah menahan amarah.
"Kakak ipar sudah aman tentunya bersama kakak ku! Semalam kami khawatir jadi kami mengikuti mobil kalian, dan mendapati kalian para gadis tengah tertidur di pinggir danau. Jadi aku berinisiatif membawamu ke sini", jelas Sam dengan cepat.
"Lalu mengapa kau harus tidur,, ber,, sama,, ku lagi?!", tanya Sarah lambat-lambat karena merasa malu untuk mengucapkannya.
Sam mengembangkan senyumnya. Ia merasa Sarah yang sekarang dilihatnya sedang marah-marah sangat menggemaskan.
"Apakah kau tidak tau?! Pertama, ini adalah kamarku dan ini adalah ranjangku", ucap Sam sambil menepuk ranjangnya yang empuk itu.
"Kedua, kau sendiri yang menarikku untuk memelukmu saat tertidur. Padahal aku sudah bersiap untuk tidur di sofa", kali ini jelas Sam berbohong. Ia menahan senyumnya sambil terus mengawasi perubahan ekspresi wajah Sarah.
"Apa?! Mana mungkin aku..", ucap Sarah tak percaya dengan perbuatannyaseperti apa yang dikatakan oleh Sam. Ia yakin dirinya tidak akan sebodoh itu. Ditambah lagi ia tak memiliki perasaan apa-apa pada Sam. Jadi mana mungkin alam bawah sadarnya menuntun Sarah untuk menarik Sam ke dalam pelukannya.
"Memang itu kenyataannya! Kau lihat sendiri bukan?!", ucap Sam santai sambil mengedikkan kedua bahunya.
Sarah bangkit dari ranjang dan membawa satu bantal guling di tangannya. Ia lebih percaya dengan kebiasaannya yang selalu waspada. Tidak mungkin ia akan menyerahkan diri begitu saja pada Sam.
Ia menghampiri Sam dan langsung memberi satu pukulan pada kepalanya dengan guling itu. Dengan kekuatan lelakinya, Sam berhasil membuang guling itu ke ranjang. Sarah tak kehabisan akal, ia memukul kening Sam cukup keras hingga menimbulkan sebuah benjolan dengan warna biru keunguan. Sarah menyeringai puas.
Sam mengaduh kesakitan sambil meraba keningnya yang sakit. Ia merintih, merasakan nyeri melanda saat tangannya berhasil meraba bagian yang benjol akibat ulah Sarah.
"Itu hukuman untukmu, karena sudah dua kali kau mengambil keuntungan dariku!", ucap Sarah sambil menjulurkan lidahnya ke arah Sam.
Sam menatap tajam ke arah Sarah sambil berdecak kesal.
"Apa begini wujud wanita yang aku sukai?!", gumam Sam pelan sambil menahan senyumnya kemudian.
FLASHBACK OFF
__ADS_1