Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 287


__ADS_3

Malam berlanjut dan pesta telah usai. Sejak acara pelemparan bunga, para pengiring pengantin telah mengasingkan diri dari keramaian yang ada. Keempat orang itu, Krystal, Louis, Han dan juga Risa, memilih untuk berbincang bersama di salah satu meja yang telah disediakan untuk jajaran tamu VIP dan juga VVIP.


Keempat orang itu sesekali mencicipi berbagai hidangan yang ada sambil terus mengakrabkan diri. Senangnya Krystal kini mempunyai satu teman baru lagi. Dan untuk para lelaki, seputar bisnis yang mereka perbincangkan sejak tadi.


Mereka semua memilih untuk kembali ke kamar masing-masing. Belum kembali ke rumah, karena besok masih ada acara sarapan bersama keluarga. Dan karena kini Sarah pindah kamar ke tempat suaminya, Krystal pikir akan membosankan jika dia hanya seorang diri saja di dalam kamar yang besar itu.


"Apa kau yakin tidak ingin ku temani? Heh!", Louis yang saat ini berjalan beriringan dengan kekasihnya itu sedang berusaha keras untuk membujuknya.


Pria itu mencium punggung tangan Krystal yang berada di dalam gengamannya itu. Lalu alisnya naik turun berusaha menggoda kekasihnya itu dengan senyum menawan yang dimilikinya.


Saat ini, Louis dan Krystal sedang berjalan bersama menuju kamar kekasihnya itu. Louis akan menemani Krystal ganti pakaian, lalu rencananya wanita itu akan tidur di kamar Ibu Asih. Rasanya malam ini wanita itu tidak ingin tidur sendiri.


"Jangan menggodaku!", wajah Krystal yang cemberut, ia buang ke arah samping.


Louis terkekeh melihat tanggapan wanita itu.


"Yang menikah itu Sarah dan Tuan Sam, bukan kita!", Krystal mengucapkan kata-katanya penuh penekanan. Ada beberapa makna yang terkandung sekaligus di dalam sana.


Pria itu terkekeh lagi. Ia cukup cerdas untuk cepat tanggap dengan apa yang dimaksudkan oleh kekasihnya itu.


Benar memang, jika bersama di dalam kamar yang sama dengan kekasihnya itu. Yang ada Louis malahan akan menjadikan ini malam pengantin bagi pengiring pengantinnya.

__ADS_1


Dan jika Louis sangat menginginkan Krystal, maka wanita itu meminta Louis untuk segera menikahinya.


"Memangnya aku pernah mengatakan tidak akan menikahimu, Sayang!", pria itu mencubit gemas hidung Krystal sampai memerah.


"Lagipula jadwal kita sampai akhir tahun ini masih sangat padat. Tunggu sampai jadwal kita agak longgar, dan aku akan segera menikahimu, membuatmu selamanya menjadi milikku", tambahnya lagi dengan tenang sambil menatap lurus ke depan. Sekilas mata pria itu menunjukkan keseriusannya.


"Baiklah! Kau atur saja sendiri!", berpura-pura kesal, tapi wanita itu menyembunyikan senyumannya yang samar.


Krystal tentu mengerti dengan pekerjaan yang mereka jalani. Tapi mendengar secara langsung kekasihnya itu mengucapkan janjinya pun sudah membuat Krystal bahagia. Karena ia sangat mengenal Louis, meskipun di luar pria itu terkesan santai, tapi pria itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Louis selalu menepati apa yang keluar dari mulutnya. Dan hal itu sudah cukup menunjukkan kesungguhan Louis untuk hubungan yang ia miliki dengannya.


***


Kali ini pasangan pengantin baru juga sudah sampai di kamar mereka. Keduanya masih mengenakan pakaian raja dan ratu yang mereka gunakan pada saat perayaan resepsi pernikahan mereka tadi.


Ada perasaan lega karena serangkaian acara pernikahan mereka telah selesai semua. Tentu saja perasaan bahagia begitu besar keduanya rasakan lantaran kini mereka telah secara resmi bersama. Tapi yang lebih besar saat ini adalah rasa gugup yang menghampiri kedua pasangan itu. Tentu saja untuk menghadapi malam pertama mereka, apalagi memangnya.


Jika Sarah memilih untuk menyibukkan diri di depan meja rias dengan riasan di wajahnya. Maka Sam memilih untuk mengalihkan perhatiannya dengan hal yang lain.


Seperti siang tadi, Sarah memilih untuk mengubah penampilannya sendiri. Menghapus riasan dan juga mengganti gaun pengantinnya. Ia merasa bisa melakukannya sendiri. Lagipula sekarang ada suami yang bisa membantunya. Meskipun ia masih sangat malu untuk mengutarakan maksudnya.


Sam, pria itu sudah melepaskan jasnya memang. Pria itu sedang duduk di sofa sambil berkutat dengan benda pipih di tangannya. Ia sedang membalas ucapan selamat yang masuk dari para klien dan juga rekan bisnisnya. Sembari menunggu Sarah membersihkan riasannya. Sam juga sudah berpesan, jika istrinya itu membutuhkan bantuan, Sarah langsung memanggilnya saja.

__ADS_1


Benar saja, riasan sudah selesai terhapus semua. Ada banyak kapas dengan warna-warna cerah juga gelap yang mengotori sucinya warna putih yang dimilikinya. Cukup melelahkan dengan hanya menghapus topeng itu saja. Lalu sekarang ia harus melepaskan gaun yang panjang, berat dan merepotkan ini.


Ingin memanggil suaminya, namun ia merasa canggung. Ini berurusan dengan membuka gaun. Membuka sampul yang akan menampakan isinya. Sungguh meggiurkan pasti menurut suaminya itu.


Padahal ia sudah berusaha memantapkan hatinya sejak tadi untuk siap dengan hal ini. Bahkan ia sempat sangat yakin tadi bahwa ia sudah siap.


Tapi siapa sangka jika sudah tiba saatnya, ia malahan menjadi ciut begini nyalinya. Bagaimana pun juga kan Sam sudah menjadi suaminya. Jika Sam menuntutnya untuk melakukannya malam ini juga, itu pun tidak ada sisi salahnya sama sekali. Karena Sam memiliki hak sebagai suami. Dan ia mempunyai tanggung jawab sebagai istri.


Ah, sudahlah! Lebih baik ia berusaha sendiri saja dulu untuk membuka gaun putih yang menyebalkan ini. Dan mengenai hal itu, mau tidak mau Sarah memang harus melakukannya dengan Sam. Jika suaminya itu menginginkannya malam ini juga.


Wanita itu berdiri, meraih resleting gaunnya di balik punggungnya yang agak terbuka dengan susah payah. Berhasil! Namun Sarah hanya mampu meraihnya. Tangannya tak sanggup bergerak lebih jauh lagi untuk menurunkan resleting itu. Jadilah beberapa kali wanita itu mendesah kesal. Tapi tak menghentikan niatannya untuk berusaha sendiri dulu.


Sam, pria yang sedari tadi berusaha berkonsentrasi untuk tidak memiliki niat untuk melihat istrinya itu, akhirnya harus melihat ke arahnya lantaran mendengar keluhan Sarah yang terdengar tidak jelas beberapa kali di telinganya.


Sam bangun dari tempat duduknya. Ia maju selangkah demi selangkah ke arah istrinya yang sedang kesusahan itu. Ada rasa tidak tega melihatnya kesusahan. Tapi ada rasa yang lain yang membuatnya haraus menelan air liurnya dengan susah payah karena bagian atas punggung istrinya itu seperti sedang mengeringkan tenggorokannya.


Pria itu pun membuang nafasnya melalui mulut. Sebagai seorang lelaki apalagi ia sudah menjadi seorang suami, ia sangat tau jika dirinya itu memang sudah menginginkan ini sejak lama, sejak ia tau bahwa ia mencintai Sarah.


Rasanya ia sudah ingin menjadikan Sarah yang sudah resmi menjadi istrinya itu benar-benar menjadi miliknya seutuhnya. Tapi tentu saja, ia tidak ingin memaksa, dan ia tidak ingin Sarah melakukannya karena terpaksa.


Setelah menetralkan jiwa lelakinya yang siap meronta, perlahan ia telah sampai di belakang punggung istrinya itu. Tangannya langsung bergerak memegang resleting yang sedang dipegang oleh istrinya itu.

__ADS_1


"Kenapa tidak bilang?! Biar kubantu!", Sam berbisik di telinga istrinya itu dengan nafas hangat yang membuat istrinya itu terkejut setengah mati.


__ADS_2