Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 234


__ADS_3

Mentari sudah tidak malu-malu lagi keluar dari peraduannya. Dan setelah berperang dengan dua pria yang masih damai dengan lelapnya, Sarah akhirnya bisa sedikit menyeka keringatnya karena kedua pria itu sudah rapih dan wangi saat ini. Membuat sarapan sudah, dia sendiri mandi juga sudah. Dua pria itu juga sudah rapih dengan setelan masing-masing. Sebelum benar-benar memejamkan matanya lagi, Sam tadi sudah mengirim pesan kepada salah satu anak buahnya untuk mengirimkan satu stel pakaian kerja untuknya. Juga untuk memerintahkan supir pribadinya datang sebelum jam tujuh pagi di rumah Sarah.


Kini ketiganya tengah duduk bersila di atas karpet di ruang depan dengan sepiring nasi goreng di tangan mereka masing-masing. Sam tak henti-hentinya tersenyum sambil menikmati suapan demi suapan yang masuk ke dalam mulutnya. Bukan saja karena rasanya yang enak, tapi karena saat ini ia sedang disuapi oleh Sarah.


"Cih!", Sandi berdecak dengan mulut penuhnya. Ia juga lemparkan tatapan sinis dan jijik pada kelakuan calon kakak iparnya itu. Seperti tidak punya tangan saja, heh!


"Aku merasa seperti seorang suami yang sedang dicemburui oleh putraku sendiri!", ucap Sam setelah menerima satu suapan dari Sarah. Ia melirik ke arah Sandi dengan tatapan penuh kemenangan. Bahkan pria itu juga menaikkan kedua alisnya secara bersamaan dengan senyumnya yang meledek.


Jadi satu suapan masuk ke dalam mulut Sarah dari piringnya, lalu satu suapan lagi Sarah ambil dari piring Sam untuk ia masukkan ke dalam mulut pria itu. Saking kesalnya Sarah, ia sampai ingin memasukkan sepiring nasi goreng itu langsung ke dalam mulut pria konyol di sebelahnya.


"Lengkap sudah dirimu yang menyebalkan!", Sarah menggelengkan kepalanya pasrah dengan tingkah laku pria konyol itu.


Ingin marah-marah juga percuma, hanya menguras emosi dan tenaganya saja. Tapi hasil yang ia inginkan tak dapat terwujud, bukan! Mana ada Samnya itu akan menyerah untuk permintaan yang tidak dikabulkan. Mulutnya yang cerewet akan terus berdendang dengan suara sember yang menyakitkan telinganya. Jadilah ia menerima saja permintaan konyol pria itu u tuk menyuapinya. Padahal ia tau jika Sam sebenarnya sudah baik-baik saja.


"Jangan marah-marah terus! Lihat, kau makan sampai berantakan seperti ini!", Sam mengambil satu butir nasi yang tersisa di sudut bibir Sarah. Lalu dengan santainya ia masukkan ke dalam mulutnya sendiri.


"Sam,,, kau,,, kau,,,! Hah!", Sarah benar-benar kehabisan kata-kata untuk menghardik dan segala macamnya untuk membuat pria itu berpikir. Tapi jelas ia tak dapat menutupi rona merah yang otomatis menyemburat di pipinya yang putih. Dan Sarah pun memalingkan wajahnya karena benar-benar malu di depan adiknya itu.


Sandi juga sudah kehilangan kata-kata. Ia jadi merasa kenyang tiba-tiba melihat adegan romantis mereka untuk yang ke sekian kalinya. Sudah cukup! Sandi meletakkan piring yang masih tersisa setengah porsi nasi goreng miliknya.


"Aku berangkat dulu, Kak!", lalu remaja pria itu berpamitan pada kakaknya.


"Habiskan dulu sarapanmu!", Sarah melirik ke arah piring milik adiknya itu.


"Kenyang!", ia membulatkan matanya sambil melemparkan tatapan kesal pada pria yang sedang duduk santai sambil mengunyah makanannya.


"Wahh!! Jadi adik ipar tidak ingin berangkat bersama?!", Sam tersenyum tanpa rasa bersalah sedikitpun. Bahkan senyuman itu terkesan sangat manis.

__ADS_1


"Tidak, terimakasih!", jawab Sandi ketus lalu beranjak keluar rumah tanpa menoleh lagi ke belakang. Enggan, sangat enggan ia menikmati sajian romantis yang membuatnya jadi cepat kenyang lagi.


"Ini! Makan sendiri!", Sarah menyodorkan sendoknya pada piring Sam dengan wajah sebal.


"Tidak boleh setengah-setengah dalam melakukan pekerjaan!", Sam mengangguk berulang kali seraya memberi nasehat bijak. Ia juga memejamkan bola matanya.


"Hisshh! Kau ini!", sebenarnya Sarah hanya malas berdebat saja sekarang. Jika ia mau, ia sudah menendang pria ini karena telah berlaku seenaknya seperti ini. Baiklah, kali ini biar ia mengalah saja dulu.


Sam menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya di belakang. Tersenyum penuh kemenangan sambil menikmati suapan-suapan terakhir yang menjadi sangat sedap karena kali ini hanya ada mereka berdua saja.


pletak


"Aduh!", Sam mengaduh kesakitan sambil memegangi kepalanya.


"Senyum terus sampai wajahmu kaku!", dengan wajah kesalnya Sarah meletakkan kembali sendok yang baru saja ia gunakan untuk memukul kepala pria itu.


"Tadi kau baik sekali! Kenapa sekarang sudah berubah jadi galak lagi?", tanya Sam dengan wajah memelas.


"Suka! Tentu saja sangat suka!", Sam langsung memeluk Sarah dari posisinya itu dan berucap manja. Memeluk dengan erat sambil menengadahkan kepalanya.


"Haishh! Sam, kau ini!", sejenak Sarah memejamkan matanya untuk mengontrol emosinya saat ini.


"Aku sudah kehabisan kata-kata untuk semua tingkah lakumu, Sam!", tatapan Sarah melembut. Ia juga mengusapkan tangannya pada rambut pria yang dicintainya itu.


"Kalau begitu jangan berkata-kata lagi! Hemat energimu untuk meladeniku saat kita sudah menikah nanti saja", ucapan manja itu terdengar lebih seperti sebuah godaan. Sam menggerak-gerakkan tubuh Sarah yang masih ia dekap ke kanan dan ke kiri.


"Kau minta dipukul lagi, ya!", Sarah sudah melayangkan satu tinjuannya di udara untuk mengancam pria itu. Ia menggigit bibir bagian bawahnya untuk menahan gemas dan juga senyuman yang ingin muncul bersamaan.

__ADS_1


"Mau!", Sam menjawab tanpa beban plus wajah polos yang ia pasang.


"Cekk! Jangan bertingkah konyol terus, Sam! Akan bagaimana nanti jika kau sudah punya anak?! Aku tidak bisa membayangkannya sekarang", lagi Sarah mengusap rambut Sam dengan penuh kasih sayang.


"Jangan dibayangkan! Nanti itu, kita akan langsung praktek saja membuat anaknya! Hehe", masih belum berhenti juga pria itu berucap semaunya.


"Berhenti kubilang, kan!", perintah Sarah lagi setelah mendaratkan satu sentilan pada dahi Sam.


"Iya, iya aku berhenti! Tapi dengarkan aku kali ini!", Sam melepaskan pelukannya lalu menuntun Sarah untuk duduk berhadapan dengannya.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Dan ini sangat penting, Sarah!", Sam menggenggam kedua tangan wanita itu.


"Kau,,, berhenti dari pekerjaanmu, ya!", pintanya setelah wajah Sarah memiliki sebuah tanda tanya. Sam merasa ragu untuk mengutarakan hal ini sekarang. Tapi mau sampai kapan lagi ia mengungkapkan urusan penting seperti sekarang ini.


"Apa?", Sarah memiringkan kepalanya keheranan.


"Tapi kenapa?", sekarang Sarah sudah menundukkan kepalanya seolah merasa tidak percaya diri dengan dirinya sendiri.


"Sam, sejak aku lulus sekolah, aku sudah bekerja! Tak ada waktu kosongku jika tidak bekerja. Aku sudah terbiasa bekerja sedari dulu, Sam. Jadi ku harap kau bisa mengerti hal ini", tambahnya lagi mengungkapkan ketidaksetujuannya pada permintaan Sam tadi.


"Iya! Aku mengerti, sayang! Aku tidak melarangmu untuk bekerja. Hanya saja,,, tempat itu,,,,", ucapan Sam menggantung karena ia juga masih bingung bagaimana mengutarakan maksud yang sebenarnya.


"Apa? Kenapa dengan tempatnya?", Sarah menghempas tangan Sam dan mulai menunjukkan ketidaksukaannya.


-


-

__ADS_1


lanjut di episode selanjutnya ya,,


masih dalam tahap pengerjaan


__ADS_2