Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 211


__ADS_3

Muncullah sungut di kepala Sarah saat mendengar jawaban Sam yang sudah pasti itu. Ia benar-benar marah atas kebodohan pria jni.


"Saaaammm!", Sarah berteriak sekencang-kencangnya dengan emosi yang melingkupi dirinya.


Pletak


Sarah tak tahan untuk tidak memukul kepala pria bodoh itu. Ia menghela nafas dengan bahu yang merosot turun ke bawah. Memang salahnya juga sudah memberikan tugas kepada orang yang tidak semestinya. Ia jadi yakin bahwa keturunan elit ini, tidak pernah memiliki pengalaman dalam mengurusi pekerjaan rumah sedikitpun.


"Duduk di sini dan diam! Biar aku saja yang membersihkan rumah", perintah Sarah tegas sambil membawa kotak obat untuk ia letakkan kembali di kamarnya. Ia melakukan penekanan bahwa pria itu harus benar-benar tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.


Sudah satu jam Sarah bergerak ke sana dan ke sini. Ia mengulang semua yang Sam kerjakan dengan cara yang benar. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya berulang kali dengan tatapan kagum luar biasa pada wanitanya itu. Peluh bercucuran lagi di sekitar dahi dan wajahnya. Sarah merutuki hal ini, ia jadi lengket lagi karenanya. Ia bersumpah akan mandi lagi setelah ini, dan tidak ada satu orangpun yang boleh mengganggu waktunya menyegarkan diri nanti.


"Angkat kakimu!", perintah Sarah kasar. Ia dengan sengaja menyenggol kaki Sam dengan pel lantai yang dipegangnya saat ini.


Selalu menggemaskan melihat wajah Sarah yang sedang marah. Rentetan peluh yang berbaris untuk turun dari dahinya membuat Sam menjadi tidak tega. Ingin meraih tisu, tapi jauh sekali dari jangkauannya. Ia mencoba menurunkan kakinya satu saja untuk mempermudah tangannya meraih tisu yang berada di atas nakas sana.


"Siapa suruh kau turunkan kakimu! Angkat, atau aku potong kakimu ini!", dengan kasar Sarah memukul kaki Sam yang sudah menyentuh lantai.


"Iya, baik-baik! Jangan galak-galak ya, sayangku! Nanti wajahmu cepat tua dan keriput!", Sam terkekeh setelah menyampaikan ejekannya. Ia tak berniat memberi tau Sarah apa yang sebenarnya ingin dilakukannya.


"Diam! Mau aku sumpal mulutmu dengan lap pel ini?!", dengan wajah khas garangnya Sarah menodongkan rambut-rambut nenek sihir pada kepala pel lantai itu ke wajah Sam.


"Tentu saja aku mau,,, dengan bibirmu!", S menyingkirkan alat kebersihan itu dari depan wajahnya. Lalu ia memajukan diri dan berbisik lembut di telinga Sarah.

__ADS_1


"Kau!,,,", Sarah akan memukul pria itu dengan lap pel yang ia pegang. Tapi sayang, tenaga Sam yang jauh di atasnya bisa menahan gagang pel itu dengan kuat.


"Keringatmu banyak sekali, sayang!", siapa sangka jika ternyata Sam tiba-tiba mengusap dahi wanita itu yang penuh keringat dengan menggunakan dasinya. Wajah Sarah pun melembut jadinya. Ia terdiam membiarkan saja pria itu melakukan hal mengejutkan yang begitu manis baginya.


"Tadi aku mau mengambil tisu di sana, tapi kau malah melarangnya. Jad aku hanya bisa menggunakan ini untuk menghilangkan keringatmu yang banyak ini", jelas Sam dengan lembut sambil sesekali menatap ke arah mata Sarah. Kini keduanya memancarkan kehangatan pada tatapannya.


"Kau tidak bilang!", wanita itu membela diri tapi tidak sekeras tadi. Suaranya sudah terdengar melembut saat ini.


cup


"Maaf aku tidak bisa membantumu, dan yang ada aku malah merepotkanmu", ucap Sam tulus setelah mendaratkan satu kecupan singkat di bibir wanitanya itu. Tangannya berhenti mengusap karena keringat di kening Sarah sudah hilang semua.


"Iya tidak apa-apa! Memang sudah seharusnya tugas seorang wanita mengurusi masalah seperti ini", ia menurunkan tangan Sam yang masih memegangi dasinya. Lalu wanita itupun beranjak berdiri.


Betapa bangganya pria itu memiliki wanita yang begitu bertanggung jawab sebagai seorang wanita sebagaimana mestinya. Semua tugas wanita Sarah bisa melakukannya. Tapi entahlah kalau urusan ranjang, karena Sam belum pernah mencoba dengannya. Uupss,, bisa digorok leher Sam jika Sarah tau apa yang sedang ia pikirkan saat ini.


"Iya aku tau!", Sarah juga tersenyum namun buru-buru ia melarikan diri dari hadapan pria itu lantaran gurat kemerahan mulai mencuat pada setiap saraf di pipi Sarah. Wanita itu melanjutkan kegiatannya sambil membelakangi pria itu, karena ia tak ingin jadi bahan lagi oleh Sam yang ia yakini bahwa pria itu tak akan cukup puas untuk menggodanya nanti.


"Cih! Wanita itu memang menggemaskan sekali! Ayolah cepat kita menikah saja, Sarah! Aku sudah tidak tahan ingin melahap imutnya dirimu itu", sambil membanting dasinya ke samping Sam menggerutu pada dirinya sendiri sambil tersenyum.


Pekerjaan hampir selesai saat Sandi tiba di rumah. Ia baru saja pulang kerja. Senyumannya terukir saat melihat lampu rumahnya sudah menyala. Waktu sudah lewat petang dan menuju malam. Suara perutnya pun tiba-tiba bersahutan dengan suara perut milik seseorang. Ia melihat sepatu pria tertata rapih di teras rumahnya.


"K,,kau! Siapa kau?!", telunjuk Sandi mengarah kepada Sam dengan tajamnya. Wajahnya begitu waspada.

__ADS_1


"Kakak!", serunya lagi dengan kencang memanggil kakaknya yang tak terlihat di matanya.


"Jangan berteriak! Aku Sam, calon kakak iparmu! Kakakmu sedang mengepel di belakang. Sini duduk dulu dengan kakak ipar, kita bincang-bincang dulu sebentar!", Sam menebak jika pria yang baru datang ini adalah adik dari Sarah. Lalu dengan santainya Sam menepuk kursi di sebelahnya sambil mengurai senyum hangat pada pria yang akan menjadi adik iparnya itu.


"Kakak ipar?!", wajah Sandi berbentuk tanda tanya tapi ia tetap mendudukkan dirinya di tempat yang Sam tunjuk.


"Ya,,,", tiba-tiba Sarah datang dari arah belakang dengan membawa lap pel dan juga ember di tangannya. Dan Sam belum sempat meneruskan jawabannya untuk calon adik iparnya itu.


"Wahh,, adik laki-laki Kakak sudah pulang rupanya!", Sarah tersenyum samar penuh arti. Bibirnya menipis, tapi matanya menohok tajam ke arah adiknya itu.


"Hehe,,, iya, Kak!", perasaan Sandi sudah tidak enak melihat senyum aneh kakaknya itu. Pria itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil membalas senyum Sarah. Sam yang berada di sebelahnya memilih untuk menyandarkan punggungnya, ia akan menikmati adegan selanjutnya setelah ini.


"Dasar pemalas! Selama Kakak tidak ada di rumah apa kau tidak pernah membersihkan rumah, heh! Debu tebal, lantai kotor begini apa tidak bisa kau meluangkan waktu untuk menyapu walau hanya sebentar saja! Kau ini manusia atau laba-laba sih, bagaimana bisa betah tinggal di rumah yang begitu berdebu seperti ini?! Jadi anak lelaki harus tau kebersihan juga, kau tau!", Sarah tak berhenti memaki Sandi seraya memukuli adiknya itu dengan gagang pel lantai yang di pegangnya.


"Ampun, Kak! Ampun! Iya Sandi tau Sandi salah!", adiknya menyilangkan tangannya di atas kepala membuat tameng sederhana untuk menghindari serangan Sarah yang bertubi-tubi.


Sam membungkam mulutnya yang hendak tertawa. Itu persis dirinya ketika setiap kali wanita itu akan memberikan hukuman untuknya. Ternyata menikmati pemandangan ini tidak buruk juga. Sam jadi tau mengapa Ana dan Ken akan tertawa jika Sarah sedang menghukumnya. Ternyata begini rasanya melihat wanita itu sedang marah. Sungguh sangat menyenangkan rupanya.


"Heh!", Sarah menarik tangannya. Wajahnya masih memberengut kesal menatap adiknya itu dengan nafas khas orang menahan emosi, pendek-pendek dan tegas terdengar hembusan udara itu.


"Apa? Mau dipukul juga?", ancam Sarah begitu galak saat melihat Sam sedang berusaha menahan tawanya. Pria itu langsung menurunkan tangannya dengan cepat, lalu menegakkan tubuhnya. Sikapnya bersiap bahwa ia akan mematuhi apapun yang akan Sarah katakan setelah ini. Pria itu tidak berani jika wanitanya sudah terbuai emosi. Sam menggeleng dengan cepat untuk menjawabnya.


"Kakak, aku lapar!", ucap Sandi dengan manjanya saat Sarah baru saja masuk setelah meletakkan perlengkapan kebersihannya di teras rumah. Ia sudah merasakan hal ini sejak

__ADS_1


"Yasudah, kau beli sana! Sekalian untuk kita bertiga! Sekarang aku mau mandi, jadi tolong jangan menggangguku lagi. Jika ada yang berani mengganggu aku, maka akan langsung ku penggal lehernya!", Sarah sudah melangkah tak jauh dari mereka. Wanita itu tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah wajah mereka dengan tatapan yang menusuk sampai ke hati.


__ADS_2