
Tiga wanita tengah bersama dan mengakibatkan sebuah kegaduhan di setiap kali mereka sudah mulai membuka suara. Hening yang biasanya melingkupi rumah besar itu, kini sudah berganti dengan keriangan.
"Ana, berhenti makan atau tubuhmu nanti akan menjadi sangat besar!", Krystal menakuti-nakuti sepupunya itu karena sejak pagi ada saja yang diminta. Ya meskipun selalu dihabiskan, sih.
"Benarkah? Tapi kan aku makan untuk dua orang. Satu porsi untukku, lalu satu porsi lagi untuk anakku. Lalu aku harus bagaimana jika, perutku juga selalu minta untuk diisi terus menerus!", Ana protes sambil memajukan tubuhnya. Lalu wanita hamil itu mengelus perutnya saat menyebutkan perihal anaknya yang masih sangat kecil itu.
"Benar Ana! Kau memang harus menjaga berat badanmu!", Sarah menambahkan namun tidak bermaksud menakut-nakuti. Ia murni ingin memberi saran dengan kejujuran.
"Jika tubuhmu semakin besar nanti, lalu bagaimana dengan suamimu?! Bukankah sebagai istri kita harus berusaha membuat suami selalu senang saat melihat kita?!", Krystal benar-benar memprovokasi Ana. Sayangnya, kejahilannya ini belum tercium oleh siapapun saat ini. Bahkan Sarah terlihat mengiyakan saja sambil acuh memakan makanan ringan yang ada di depan matanya.
Ana nampak berpikir. Benar juga apa yang Krystal katakan itu. Jika ia menjadi gemuk nanti, akankah Ken masih memperhatikan dirinya seperti sebelum-sebelumnya?! Ana jadi bertanya-tanya dalam hati.
Lalu ia lemparkan sepotong makanan ringan yang masih ia capit dengan dua jarinya ke sembarang arah. Wanita hamil itu sepertinya benar-benar memikirkan apa yang Krystal katakan. Ia tidak ingin Ken menjauhinya nanti jika ia menjadi gemuk. Tidak, bukan itu! Tapi ia tidak boleh menjadi gemuk. Itu baru benar!
Bagaimana jika nanti ia menjadi jelek dan tidak secantik sekarang?! Bagaimana jika Ken lalu tidak menyukainya lagi?! Dan yang lebih parahnya lagi, bagaimana jika nanti Ken memiliki wanita lain?! Tidak, tidak! Itu tidak boleh terjadi. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Karena bagaimanapun juga, suaminya yang luar biasa tampan dan kaya ini memiliki seribu antrian untuk bisa bersamanya. Jadi Ana tidak akan membiarkan satu celah pun bagi mereka.
Sadar tangannya kembali menyodorkan makanan ke mulutnya, Ana pun segera membuang stik kentang yang masih tersisa setengah bagian lagi di tangannya. Meskipun hamil, ia akan tetap menjadi cantik untuk suaminya itu. Ia berjanji.
***
Selama perjalan pulang menuju mansion milik Ken, Ana selalu terdiam. Jika Ken bertanya, hanya balasan singkat atau gumaman tak jelas yang keluar dari mulutnya. Ken pikir, Ana masih marah perihal masalahnya dengan Han di kantor tadi. Tapi, setelah Ken menanyakan hal ini, Ana menjawabnya dengan pasti bahwa itu bukan karena hal ini.
Lalu apa?! Lebih baik Ananya marah padanya dengan mengomel seperti tadi atau apa saja. Asalkan jangan diam. Karena Ken tak akan mengerti apa yang istrinya itu pikirkan saat ini.
Mereka sudah sampai di halaman rumah. Lalu Ana keluar dari mobil begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ken benar-benar dibuat bingung karenanya. Tapi memang sebaiknya Ken memberikan waktu bagi Ananya yang terlihat sedang memiliki banyak pikiran saat ini.
Membiarkan istrinya masuk ke dalam rumah dengan pandangan lurus ke depan. Ken lebih memilih untuk bertahan di depan pintu rumah sambil memikirkan asal muasal sikap aneh istrinya ini. Ya, semua ini dimulai sejak Ken menjemput Ana di rumah Krystal. Pasti di antara dua wanita itu tau masalahnya. Jadi Ken putuskan untuk menghubungi Sarah untuk menanyakan hal ini.
Tapi ia tak dapat menemukan kontak wanita itu lantaran memang selama ini selalu Sam yang mengurusnya. Toh Sarah juga bukan siapa-siapa bagi Ken, jadi bukan nomor penting yang harus ia simpan. Karena bagi Ken, hanya nomor Ana dan ibunya yang harus ia simpan dengan baik kontaknya. Selain rekanan bisnis yang merupakan wanita tentunya.
"Halo, Sam!", Ken berpikir untuk menghubungi Sam terlebih dahulu. Adiknya itu pasti sedang menjemput Sarah saat ini. Karena tadi saat ia menjemput Ana, Sarah mengatakan bahwa Sam akan terlambat untuk menjemputnya.
"Iya, Kakak! Ada apa?", Sam menjawab dari seberang saluran sana.
"Apakah kau sudah menjemput Sarah?", tanya Ken untuk mengetahui keadaannya.
"Iya Kakak, aku baru saja akan mengantarnya pulang. Ada apa, Kak?", tanya Sam sedikit penasaran.
"Tolong tanyakan pada Sarah dan Krystal, apakah mereka berdua tau kenapa Ana jadi pendiam setelah pulang dari sana? Apakah ada sesuatu yang mereka bahas sebelumnya? Sekarang Ana menolak bicara padaku, yang bahkan aku tidak tau apa sebenarnya kesalahanku", suara Ken terdengar sedikit frustasi. Sam jadi makin penasarannya dibuatnya.
Jiwa bergosipnya kembali meronta untuk dibangkitkan. Tapi meskipun saat ini ia sangat ingin tertawa mendengar suara kakaknya yang putus asa, dalam hatinya, Sam tetaplah merasa iba. Karena bagaimana pun juga, menghadapi seorang wanita tidaklah mudah. Dan ia sudah mengetahui hal itu setelah mengenal Sarah.
"Baiklah, tunggu sebentar!", Sam mengesampingkan ponselnya lalu mulai bertanya kepada dua wanita di hadapannya ini. Padahal tinggal sedikit lagi ia memiliki waktu berduaan dengan Sarah, tapi langkahnya harus terhenti di tempat mobilnya terparkir saat Ken meneleponnya.
__ADS_1
"Kakakku bertanya, apakah kalian tau kenapa Kakak iparku menjadi pendiam setelah pulang dari sini? Apakah ada hal yang baru saja kalian bahas dengannya?", Sam bertanya pada kedua wanita yang wajahnya juga sedang bertanya-tanya.
Belum menjawab, tapi kedua wanita itu saling melempar pandangan dengan tanda tanya pada satu sama lainnya. Mata Krystal terbuka lebar, menatap Sarah seolah dia telah mengetahui sesuatu. Krystal memang yang pertama kali sadar, karena ia merasa memiliki dosa sebab telah memprovokasi Ana sebelumnya.
Dan jika memang benar, maka ia tidak pernah menyangka jika Ana akan termakan oleh provokasinya itu. Karena Ana yang selama ini ia kenal adalah saudara perempuannya yang tangguh dan tidak akan mudah terprovokasi oleh seseorang.
"Sarah, jangan-jangan Ana percaya begitu saja mengenai ucapanku mengenai berat badannya?!", Krystal mengakui dosanya sambil meramas lengan Sarah penuh kecemasan.
"Maksudmu tadi itu kau sengaja?!", Sarah mulai menyipitkan matanya menatap Krystal dengan pandangan menuntut yang tidak suka. Krystal mengangguk jujur apa adanya.
"Ah! Krystal, kau ini benar-benar membuat kepalaku pusing sekarang!", Sarah meraup wajahnya kasar. Emosinya bercampur rasa panik dan khawatir.
"Maafkan aku, Sarah! Aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya iseng saja tadi. Karena ku pikir Ana selalu keren karena tidak akan dengan mudah termakan oleh omongan orang lain. Aku sungguh tidak bermaksud bergitu!", Krystal menundukkan kepalanya dengan sejuta perasaan bersalah yang kini datang menghantuinya.
"Astaga! Masalahnya adalah saat ini dia sedang hamil. Dan hormon wanita hamil sangat sulit diprediksi. Sudah begitu mereka akan lebih sensitif. Dan lagi,,, dan lagi,,, aku juga turut menambah bumbu ucapan-ucapanmu tanpa sadar. Haishh!", Sarah benar-benar frustasi saat ini. Masalahnya ia juga ikut andil dalam masalah ini. Meskipun sebenarnya ia hanya berkata jujur tanpa tau alasan dari ucapan Krystal.
"Sarah, aku benar-benar minta maaf!", keluhan Krystal terdengar sangat menyedihkan karena penuh permohonan.
"Sudahlah! Ini sudah terjadi. Yang perlu kita lakukan adalah meminta maaf pada Ana nanti!", Sarah mendesah. Sebenarnya ia masih bingung bagaimana menghadapi Ana nanti. Menjelaskannya pada sahabatnya itu bahwa apa yang Krystal tidaklah benar. Hanya sebuah candaan yang tak berarti. Itu adalah tugas mereka setelah ini.
"Sebenarnya ada apa?", Sam akhirnya bertanya membuat keduanya harus menatap wajah pria yang sedang dilanda rasa penasaran itu.
Akhirnya Sarah yang menceritakan apa yang menurutnya terjadi pada Ana sekarang. Dan apa penyebab yang membuat Ana menjadi seperti itu.
"Lalu kita harus bagaimana sekarang?", Krystal merasa makin frustasi dan putus asa. Rasa bersalahnya makin menggila saat Sam menghardik keduanya.
"Sayangku!", Sarah memiliki ide di kepalanya. Ia membelai lengan Sam dengan senyuman menggoda yang sudah pasti Sam tak akan bisa menahan godaannya.
"Kau saja yang jelaskan kepada kakakmu, ya!", mengelus-elus dengan penuh kelembutan yang sebenarnya dalam hati Sarah sangat enggan melakukannya.
Sungguh, jika bukan karena dirinya juga ikut andil dalam masalah Ana ini. Ia tak akan mau melakukan hal konyol ini. Biar saja Krystal yang memecahkan masalahnya sendiri. Paling juga Sarah akan memerintahkannya untuk datang minta maaf secara langsung pada Ana. Lalu menjelaskan apa maksud yang sebenarnya dari ucapan Krystal tadi.
Awalnya Sam hanya menoleh sedikit dengan lirikan tajam saat sebuah telapak tangan mulai menyentuh lengan atasnya. Tapi kemudian ia tidak tahan untuk menoleh dan melihat secara utuh kelakuan calon istrinya itu yang sedang mencoba merayunya. Haha! Kapan lagi ia bisa melihat wajah Sarah yang merah dan menggoda seperti ini?!
Kilatan kelicikan muncul di mata pria itu. Sam tidak akan melakukan hal ini dengan cuma-cuma. Ada hal yang harus Sarah bayar jika Sam mau menuruti permintaannya. Sudut bibirnya berkedut sambil menyingkirkan tangan Sarah pada lengannya.
"Baiklah! Tapi kau harus memberiku hadiah!", senyuman Sam benar-benar memabukkan. Bahkan Krystal saja saat ini sedang terpaku menatap punggung pria yang tengah menjauh itu.
"Hey, apa yang kau lakukan?!", Sarah meraup wajah Krystal dengan kasar sambil mengikuti arah pandangan wanita itu tertuju. Ada sedikit api cemburu ketika menyadari tatapan penuh pesona telah lancang muncul pada sorot mata sahabatnya itu.
"Aku tidak tau jika selama ini memiliki bos yang sangat tampan! Bahkan sepertinya dia lebih tampan dari Tuan Ken yang dulu ku kagumi. Bodohnya aku dulu hanya mengejar Tuan Ken saja! Harusnya aku dulu mengejar Tuan Sam juga, ya!", Krystal tersenyum aneh. Berbicara sambil menyunggingkan senyumnya, namun pandangannya tetap lurus ke arah punggung Sam.
Cih! Sarah berdecak kesal mendengar penuturan ngawur sahabatnya itu.
__ADS_1
"Oh, hai Louis! Kau baru datang?!", Sarah membuat suaranya agak keras sambil mencondongkan mulutnya ke dekat telinga Krystal.
"Ah, Louis?! Louis! Dimana Louis? Dimana kekasihku?", punggung wanita itu menegang saat mendengar nama kekasihnya disebutkan. Ia memutar tubuhnya lalu mengedarkan pandangan ke sekitar. Mencari-cari sosok yang namanya baru saja ia dengar tadi.
pakk
Sarah menepuk punggung Krystal sambil menggigit bibir bawahnya gemas.
"Jadi kau sudah ingat memiliki kekasih, hah?!", Sarah berkacak pinggang di depan wanita itu dengan wajah khas garangnya.
"Siapa bilang aku tidak memiliki kekasih?!", dengan suara polosnya Krystal mengelus punggungnya yang terasa nyeri akibat pukulan Sarah.
"Lalu apa yang baru saja kau katakan tadi?!Hah! Mulut lancangmu itu baru saja berangan-angan ingin mengejar ca-lon su-a-mi-ku juga. Dan kau mengatakan bahwa dia itu sangat tampan!", Sarah mendengus menunduk sedikit sambil menatap tajam wajah wanita itu.
"Haha! Ya ampun, Sarah! Itu kan hanya seandainya! Mana mungkin pikiran normalku menginginkan hal itu. Hey, aku sudah insyaf sekarang!", Krystal tak tahan untuk tidak tertawa mendengar sahabatnya yang merajuk itu. Ternyata sebegitu cintanya wanita itu pada bosnya.
"Apakah kau yakin?!", Sarah melirik penuh tuntutan.
"Hisshh, kau ini?! Coba kau lihat bagian mana diriku yang tak dapat dipercaya!", Krystal ikut berkacak pinggang. Sambil tertawa konyol ia mencondongkan dirinya ke arah Sarah agar wanita itu bisa menilainya dengan benar.
Sarah menipiskan bibirnya. Mengawasi semua ekspresi yang Krystal miliki saat ini. Benar memang, tak ada celah kebohongan sedikit saja hadir pada wajah aktris itu. Hanya kekonyolan yang dimiliki di senyumnya.
"Lalu bagaimana dengan masalah Ana ini?", tiba-tiba Krystal teringat dengan masalah sebenarnya yang sedang mereka hadapi saat ini.
Sarah tak menjawab. Ia juga bingung harus menjawab apa karena saat ini Sam saja masih berbicara dengan kakaknya. Wanita itu mengedikkan bahunya sambil melemparkan tatapannya ke arah pria yang berdiri tak jauh dari mereka. Krystal pun mengikuti arah pandangan Sarah. Keduanya menatap punggung Sam penuh harap.
***
Meniggalkan kedua wanita itu. Di sisi lain halaman rumah besaar itu, Sam baru saja menjelaskan duduk permasalahannya kepada Ken. Pria itu mengangguk beberapa kali dengan kening berkerut. Sayangnya, ekspresi khawatir itu tidak diketahui Sarah dan Krystal saat ini.
Karena pria itu yang menjelaskan kepada kakaknya perihal masalah yang menimpa kak iparnya, maka jadilah Sam yang menanggung semua omelan dan ceramah panjang dari Ken. Tau sendiri bagimana kakaknya itu jika sudah marah. Apalagi ini menyangkut istri tercintanya itu. Ponsel Sam terasa membeku meresapi hawa dingin yang Ken ciptakan akibat kekesalannya. Dan adiknya itu sempat merasa menyesal telah menuruti permintaan calon istrinya itu.
"Baik, Kakak! Iya aku akan menyampaikannya kepada mereka. Iya! iya! Iya, aku mengerti!", Sam mengangguk terus berulang kali.
"Hah!", pria itu mendesah setelah menyelesaikan panggilannya dengan Ken barusan.
Sam berjalan dengan langkah gontai ke arah dua wanita yang sedang menatapnya dengan penuh harap dan kecemasan.
"Jadi bagaimana?", Sarah dan Krystal tak sabar untuk bertanya ketika Sam sudah hampir sampai di dekat tempat mereak berdiri.
"Kakak sangat marah!", Sam terus saja mendesah dengan wajah yang lebih putus asa daripada wajah putus asa mereka tadi.
Sarah dan Krystal saling melempar pandangan. Tatapan mereka kian mengkhawatirkan. Bingung iya, tapi benar-benar sangat gugup keduanya menantikan jawaban dari Sam. Sampai-sampai Sarah dan Kystal saling berpegangan tangan dengan begitu erat.
__ADS_1