
Siluet-siluet mentari yang mulai menghangatkan pagi itu mulai menembus ke celah-celah jendela yang masih tertutupi gorden yang amat panjang itu. Sedikit sinarnya terasa menyilaukan sepasang mata yang sekarang masih terpejam. Kedua kelopaknya bergerak, mengerjap beberapa kali hingga akhirnya perlahan terbuka. Bola mata berwarna coklat itu akhirnya nampak jelas setelah kelopaknya terbuka dengan lemah.
Sudah satu bulan setelah hari pernikahan mereka, tapi Sam masih merasa bahwa ini adalah mimpi indahnya setiap kali ia baru saja membuka mata. Di kamarnya, di atas ranjang yang biasanya hanya ada dirinya saja, sekarang sudah ada makhluk manis yang selalu menemaninya sepanjang malam.
Makhluk yang meskipun tampilannya berantakan saat baru saja bangun tidur, tapi malahan membuatnya gemas. Rasanya tak cukup puas jika ia hanya memakannya tadi malam saja. Rasanya ia ingin selalu menjadikan makhluk itu sebagai sarapannya saja setiap hari.
Sam tersenyum kecil. Kini pandangannya sudah tidak kabur lagi. Dan ini bukan mimpi. Ini kenyataan indah yang telah disiapkan Tuhan untuknya. Sesosok indah telah ditakdirkan untuk mendampingi hidupnya yang biasanya tak tentu arah.
Sarah, wanita itu masih nikmat di alam mimpinya. Semalam Sam sudah membuatnya tidak tidur hingga dini hari. Dan karena terlalu lelah, maka tidurnya pun menjadi nyenyak sekali sampai saat ini.
"Untung saja sekarang hari Minggu! Jadi aku tidak telat ke kantor karena kau belum membangunkan aku!", pria itu terkekeh setelah melihat jam kecil yang berada di sebelah kepalanya.
Ini sudah jam delapan pagi. Dan istrinya ini masih lelap dalam tidurnya. Sepertinya tadi malam ia agak keterlaluan. Pria itu terkekeh mengingat hal itu. Bukan apa-apa, dengan Sarahnya, Sam selalu merasa rakus dan serakah setiap kali menyentuhnya.
Biasanya Sarah tidak akan lupa untuk bangun pagi-pagi sekali. Menyiapkan segala hal keperluan suaminya dan juga membuatkan sarapan untuknya. Sam sudah menjatuhkan pilihannya kepada wanita yang tepat. Wanita yang sangat tau tugasnya sebagai seorang istri. Memikirkan hal itu, pria itu pun tersenyum bangga sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Sarahnya.
"Emmh,, Pagi!", merasakan ada pergerakan, wanita itu pun akhirnya terbangun juga. Ia menyapa suaminya itu dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Mata wanita itu mengerjap beberapa kali menatap ke arah suaminya itu sambil tersenyum. Masih berat rasanya matanya untuk terbuka sempurna.
"Pagi, Sayang!", Sam tidak berpindah posisi, ia hanya mengubah gayanya dengan menggunakan tangannya untuk menyanggah kepalanya. Pria itu masih berbaring miring sambil terus memperhatikan sosok istrinya itu yang masih terlihat cantik meskipun rambutnya berantakan itu.
Sarah mendudukkan diri sambil menguap lebar dan meregangkan ototnya yang terasa kaku. Kedua tangannya merentang tanpa peduli akan terkena apa dan siapa nantinya. Dan benar saja, tangan kanannya mengenai wajah suaminya itu.
"Ah, maafkan aku! Apakah sakit?", tanyanya khawatir saat mengetahui bahwa ia tak sengaja memukulkan tangannya ke wajah Sam. Tangannya menyentuh wajah pria itu untuk memeriksa seberapa keras ia memukulnya. Dalam hatinya sedikit merasa bersalah.
"Tidak apa-apa!", pria itu tak merasa keberatan. Bahkan jika ia dipukul dengan keras pun, asal yang melakukan adalah Sarahnya, pasti tidak akan terasa sakit.
"Yang menyakitkan adalah jika kau pergi dari sisiku!", dan pria itu pun tersenyum luar biasa tampan di pagi hari yang cerah ini.
"Kau ini!", satu pukulan malahan Sarah sengaja daratkan pada pipi pria itu.
"Mulutmu selalu manis ya! Jangan-jangan kepada setiap wanita kau selalu seperti ini!", omelnya lagi seraya membuang wajahnya ke arah lain. Ia kesal.
__ADS_1
"Dasar playboy!", rutuknya lagi dengan suara pelan.
Sam terkekeh sendiri. Itulah Sarahnya, wanita itu bukannya merasa tersipu ataupun malu, tapi dia akan selalu marah lalu mengomelinya setiap kali dirinya berkata-kata. Padahal itu bukan hanya sebuah gombalan semata, memang sebuah ucapan yang benar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Sam serius. Hanya saja, dengan wajah status lamanya, pasti itu akan jadi terdengar seperti bualan belaka.
Pria itu tidak keberatan. Ia malahan merasa senang, karena dengan begini, bahkan tak ada satu lelaki pun yang dapat meraih istrinya itu. Lagipula, siapa lagi yang mau mempunyai istri galak seperti Sarahnya itu?! Hanya dirinya saja yang mau dan bersedia! Jika saja Sarah tau apa yang ada di dalam pikirannya, mungkin satu tinjuan sudah melayang ke perutnya. Hih,,,,
Mata wanita itu lantas menangkap bahwa pencahayaan saat itu sudah sangat terang. Bukan karena lampu kamar mereka yang masih menyala, tapi sinar matahari yang sudah merangkak naik bahkan sudah menembus gorden kamar itu. Bola matanya hampir saja keluar setelah menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.
"Saaammm!", pertama ia menjerit sebagai rasa terkejutnya seraya menoleh ke arah pria itu.
"Ini sudah jam berapa?", sekarang wanita itu bertanya dengan wajah panik namun ia paksa supaya terlihat tetap tenang.
"Jam setengah sembilan!", jawab Sam lelaki itu dengan ekspresi santai.
"Set,, setengah sembilan?!", Sarah mengulanginya lagi untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
"Ya!".
"Ya, sekarang memang sudah jam setengah sembilan. Memangnya kenapa, Sayang?", Sam melirik ke arah jam kecil di atas nakas dan menatap Sarah lagi dengan ekspresi santainya.
"Sekarang sudah jam setengah sembilan, dan kau tanya ke-na-pa?!", giginya merapat dengan ekspresi tidak sabar.
"Ya, memangnya kenapa? Apakah kau sudah lapar?", mata pria itu berkedip dengan polosnya.
"Sam,, sekarang sudah jam setengah sembilan dan kau masih berbaring di sini! Tidak,, ralat,,, kita masih berbaring di sini! Seharusnya kau itu sudah sampai di kantor, kan?!", suara Sarah yang garang itu melengking, menggema ke setiap sudut kamar, bahkan sampai seisi apartemen itu bergetar akibat teriakannya.
Sam hanya meringis sambil menahan telinganya yang terasa sakit. Tapi setelah itu ekspresinya berubah santai lagi.
"Ayo cepat bangun! Ayo cepat kau mandi, Sam! Dan aku akan membuatkanmu sarapan. Ayo cepat!", dengan waah paniknya wanita itu berusaha keras menarik lengan Sam agar pria itu mau bangun dari atas tempar tidurnya.
Dan Sarah makin kesal karena pria itu seakan membatu di tempat. Tidak mau menggerakkan tubuhnya sama sekali. Sam tetap pada posisinya semula, dan masih dengan wajah santainya itu.
"Ya sudah jika tidak mau bangun! Kau sendiri yang akan telat ke kantor! Aku mandi duluan!", Sarah beranjak dari ranjang dengan gaun malamnya yang tipis dan menerawang.
__ADS_1
Kepala Sam menggeleng pelan, sudut bibirnya naik merasa telah digoda pagi ini. Melihat pemandangan indah itu, tentu saja ia akan tertarik. Segera, Sam menarik tangan Sarah dengan kencang. Hingga wanita itu pun kembali ke atas ranjang. Sekarang Sarah malahan jatuh di atas tubuh suaminya yang bertelanjang dada itu.
"Sam, ini sudah siang! Jangan main-main lagi! Ayo cepat bangun! Nanti kau bisa terlambat!", Sarah memukulkan tangannya yang digenggam oleh pria itu ke dadanya. Masih mengomel, belum hilang kesalnya.
Ia sudah khawatir dan panik setengah mati, tapi pria itu malahan tetap santai seakan tidak ada masalah. Mengenai hal ini adalah tanggung jawabnya sebagai istri untuk mengurusi dan memenuhi semua kebutuhan suaminya. Biasanya ia tidak akan seceroboh ini. Gara-gara ulah suaminya itu ia jadi bangun kesiangan. Lalu sudah dipedulikan begini, suaminya itu malahan tetap santai.
"Ini memang sudah siang, tapi ini hari Minggu, Sayang!", masih mempertahankan genggaman tangannya pada tangan Sarah, lelaki itu menyentil hidung wanitanya dengan rasa gemas.
"Hari Minggu?!", tiba-tiba saja hati Sarah mencelos. Ada perasaan lega, tapi juga ada rasa malu karena baru saja ia mengomel tidak jelas karena merasa terlalu panik dan khawatir
"Iya! Apa kau sudah lapar?", lalu pria itu pun bertanya.
"Belum!", jawab Sarah yakin. Ya, karena memang ia belum merasa ingin makan.
"Tapi aku sudah lapar karena aku sudah bangun terlebih dahulu", Sam mengangguk dengan wajah polosnya.
"Kalau begitu,,,", Sarah bermaksud meminta Sam untuk melepaskannya agar ia bisa membuat sarapan untuk suaminya itu. Tapi Sam malahan menyelak ucapannya.
"Kalau begitu beri aku makan sekarang. Melihat gaun tidurmu membuat aku lapar!", dengan gerakan cepat Sam sudah membalikkan tubuh Sarah sehingga wanita itu berada di bawahnya.
"Apa hubungannya pakaianku dengan lapar, Sam?!", Sarah segera menggerutu tidak terima.
"Tentu saja ada!", tapi dengan ekspresinya yang meyakinkan Sam menjawab dengan senyuman menggoda.
Dan belum sempat Sarah mengeluarkan suara lagi, mulutnya sudah dibungkam dengan bibir Sam. Pria itu segera menyantap sarapan paginya yang agak kesiangan ini.
-
-
Hai, teman-teman semua 😊
mari kita mulai ekstra part dari cerita keluarga mereka ya😊
__ADS_1